|
Humanisme
Humanisme berasal dari Barat dan mengalami perkembangan dalam lingkungan pemikiran filsafat Barat. Karena itu, untuk mengkaji dan menganalisis gerakan humanisme beserta pengaruhnya pada dasar-dasar epistemologi Barat sudah seharusnya kita merujuk ke berbagai ensiklopedia Barat yang akurat agar kajian bisa dilakukan secara ilmiah dan bebas dari berbagai kecenderungan subyektif. Dalam rangka ini, kita mengutip berbagai ensiklopedia yang tersedia, antara lain Encyclopedia of Philoshopy karya Paul Edward yang menjelaskan tentang humanisme sebagai berikut: Humanisme adalah sebuah gerakan filsafat dan literatur yang bermula dari Italia pada paruh kedua abad ke-14 kemudian menjalar ke negara-negara Eropa lainnya. Gerakan ini menjadi salah satu faktor munculnya peradaban baru. Humanisme adalah paham filsafat yang menjunjung tinggi nilai dan kedudukan manusia serta menjadikannya sebagai kriteria segala sesuatu. Dengan kata lain, humanisme menjadikan tabiat manusia beserta batas-batas dan kecenderungan alamiah manusia sebagai obyek. Pada arti awalnya, humanisme merupakan sebuah konsep monumental yang menjadi aspek fundamental bagi Renaisans, yaitu aspek yang di jadikan para pemikir sebagai pegangan untuk mempelajari kesempurnaan manusia di alam natural dan di dalam sejarah sekaligus meriset interpretasi manusia tentang ini. Istilah humanisme dalam pengertian ini adalah derivat dari kata-kata humanitas yang pada zaman Cicero dan Varro berarti pengajaran masalah-masalah yang oleh orang-orang Yunani disebut paidea yang berarti kebudayaan. Pada zaman Yunani kuno pendidikan dilakukan sebagai seni-seni bebas, dan ketentuan ini dipandang layak hanya untuk manusia karena manusia berbeda dengan semua binatang. Kaum humanis bertekad untuk mengembalikan kepada manusia spirit yang pernah dimiliki manusia pada era klasik dan kemudian musnah pada zaman pertengahan. Spirit itu tak lain ialah spirit kebebasan yang telah menjustifikasi klaim-klaim mengenai otonomi manusia dan yang telah merestui manusia untuk mencari kemampuan membuat alam natural dan sejarah sebagai wilayah kekuasaannya serta menguasainya tatkala manusia melihat dirinya dibuat tak berdaya oleh faktor alam dan sejarah. Humanisme yang kembali kepada era klasik bukan berarti mereformasi era klasik, melainkan bertujuan menghidupkan dan mengembangkan potensi dan kemampuan yang pernah dimiliki dan dikerahkan oleh orang-orang terdahulu. Di saat yang sama, kaum humanis telah melenyapkan sebagian kepercayaan dan keyakinan masyarakat abad pertengahan. Faktor yang menstimulasi kaum humanis menaruh perhatian kepada kesusasteraan klasik (syair, makna-makna ekspresif, moral, dan politik) ialah keyakinan mereka bahwa kesusasteraan ini sanggup mendidik manusia agar bisa memanfaatkan kebebasan dan ikhtiarnya secara efektif.[1] Kebebasan dan Ikhtiar Pemujaan kepada kebebasan adalah salah satu tema terpenting yang menjadi pusat perhatian kaum humanis. Namun, kebebasan yang mereka maksud ialah kebebasan yang bisa diterapkan di alam natural dan di tengah masyarakat. Kebebasan sedemikian ini berseberangan dengan cara berpikir yang diterima pada abad pertengahan, yaitu anggapan bahwa imperium, gereja, dan prinsip-prinsip feodalistik adalah para pengawas tatanan yang berlaku di dunia, dan manusia harus tunduk mutlak kepadanya. Sedemikian diterimanya anggapan ini sehingga tertutup kemungkinan terjadinya perubahan padanya. Institusi-institusi inilah yang menanamkan doktrin bahwa segala urusan, baik yang menyangkut materi maupun spiritual yang diperlukan manusia –mulai roti yang menjadi bahan makanan sehari-hari hingga masalah hakikat spiritualitas- berada dalam tatanan dimana manusia bergantung kepadanya, sementara para pemuka agama adalah para penafsir dan pengawasan tatanan yang menguasai dunia tersebut. Humanisme membela kebebasan manusia untuk merancang sendiri kehidupannya di dunia dengan cara yang merdeka. Humanisme memandang instruksi-instruksi tradisional para pemuka agama bukan sebagai perintah yang akan membantu berbagai urusan yang mesti dilaksanakan, melainkan sebagai kendala dan rintangan bagi manusia.[2] Terlihat bahwa gerakan humanisme adalah merupakan solusi untuk menghadapi intimidasi dan despotisme para pemuka gereja abad pertengahan. Humanisme bertekad untuk mengembalikan kepada manusia hak kebebasan yang telah dinistakan secara total oleh para elit agama di gereja. Pada awal kebangkitannya, kaum humanis berjuang untuk mematahkan kekuatan orang-orang yang mengaku sebagai perantara yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, langit dengan bumi, namun di saat yang sama mereka selalu mempraktikkan ketidakadilan. Kaum humanis memperjuangkan otoritasnya untuk mengurus kehidupannya sendiri, dan karena itu mereka akhirnya memberikan penekanan secara ekstrim kepada otonomi dan haknya untuk menguasai diri mereka sendiri. Gianozo Manetti (1348-1459 ), Marsilo Ficino (1433-99M), dan Pico Della Mirandola dalam menganalisis kebebasan telah menjunjung tinggi otoritas manusia untuk membentuk, mengubah, dan memperbaiki dunia. Pico juga telah mengekspresikan ‘keimanannya’ kepada manusia dengan kalimat-kalimatnya yang masyhur. Kalimat-kalimat itu dia lukiskan sebagai kalimat yang diungkapkan tuhan kepada manusia sebagai berikut: “Wahai manusia, aku tidak mentakdirkan kalian dengan suatu martabat, atau citra, atau keistimewaan tertentu, sebab kalian sendirilah yang harus mendapatkan semua ini melalui keputusan dan ikhtiar kalian. Apa yang tercakup di dalam undang-undang yang aku tentukan adalah batasan-batasan yang ada pada watak makhluk-makhluk lain. Adapun kalian, kalian sendirilah yang menentukan nasib kalian, tanpa ada tekanan monopolistik dalam bentuk apapun, dengan kekuatan ikhtiar yang telah aku anugerahkan kepada kalian. Aku menempatkankan kalian di dalam posisi sentral dunia sehingga dari titik ini kalian bisa melihat dengan lebih baik apa yang ada di dunia ini. Aku tidak menciptakan kalian sebagai makhluk yang melangit atau yang membumi, yang fana atau yang baka, sebab kalian bisa seperti seorang guru yang absolut dan bisa mencetak dirinya sendiri sesuai bentuk yang dipilihnya.” Masalah inilah yang pada tahun-tahun berikutnya dibahas oleh Charles Bouille (sekitar 1475-1553), seorang humanis Prancis, dalam bukunya yang berjudul De Sapiente. Dalam buku ini dia mensejajarkan manusia yang cerdas dengan Phyromitos[3]. Kesejajaran ini terletak pada akal yang diberikan kepada manusia agar bisa menyempurnakan tabiatnya. Dengan penelitian-penelitian teoritis yang efektif, dan dengan keyakinannya yang ekstrim, Bouille mengupas soal kelayakan dan kapabilitas manusia untuk membentuk kehidupannya sendiri di dunia. Keyakinan inipun menjadi semakin tajam dengan kemajuan-kemajuan skeptisisme yang dicapai humanisme di luar Italia pada abad setelahnya. Para penganut skeptisisme saat itu ialah Michael de Montaiyne (1533-79), Pierre Charron (1541-1603), dan Francisco Sanchez. Alhasil, keyakinan yang berlebihan kepada kelayakan manusia untuk membentuk kehidupannya sendiri di dunia telah menjadi dasar keyakinan baru humanisme dalam menghadapi paradigma yang berlaku pada abad pertengahan.[4] Pandangan ini tidak menyebut-nyebut soal peranan dan kekuasaan Tuhan dalam takdir manusia, yakni manusia yang sudah ditakdirkan Tuhan sebagai makhluk yang memiliki kekuatan dan ikhtiar. Bahkan, menurut Bouille yang termasuk salah seorang pemikir humanis, manusia sepenuhnya sejajar dengan Phyromitos yang telah menciptakan manusia beserta akalnya yang sepenuhnya sejajar dengan akal Phyromitos. Di lain sisi, pandangan ini ternyata malah tidak memberikan peluang untuk mendukung nilai-nilai kemanusiaan, sebagaimana yang disebutkan di dalam Encyclopedia Britanica saat menjelaskan tentang humanisme sebagai berikut: Pemikiran humanistik yang berasal dari para penganut nilai-nilai kemanusiaan telah menghindari metode-metode tetap filsafat, prinsip-prinsip dan keyakinan agama, dan argumentasi-argumentasi ekstraktif mengenai nilai-nilai kemanusiaan.[5] Naturalisme Di mata kaum humanis, naturalisme berarti bahwa manusia adalah bagian dari alam dan alam itu sendiri adalah habitat manusia. Struktur manusia berasal dari alam, dan struktur yang dimaksud ialah jasmani, indera, dan berbagai keperluan dimana manusia tidak bisa memisahkan dirinya dari faktor-faktor natural atau mengabaikannya. Kendati kaum humanis memuji ruh manusia karena kekuatan ikhtiarnya, namun mereka tidak mengabaikan jasmani dan segala yang berkaitan dengannya. Ketentraman dan nilai kenikmatan fisik di mata kaum humanis dan sentimen mereka terhadap praktik asketisisme abad pertengahan memperlihatkan antusias kaum humanis mencari nilai-nilai baru sehubungan dengan aspek-aspek naturalistik manusia. Di dalam buku Voluptate karya Lorenzo Valla (1407-57) disebutkan bahwa kenikmatan adalah keuntungan monopolistik manusia dan merupakan titik final monopoli aktivitas manusia. Undang-undang yang mengatur berbagai persoalan kota disusun tak lain karena demi profitabilitas yang pada gilirannya akan melahirkan kenikmatan. Demi tujuan inilah pemerintah memberikan pengarahan kepada rakyatnya. Ketakwaan tidak akan memiliki peranan apapun dalam kenikmatan. Kenikmatan atau setidaknya profitabilitas adalah tujuan final industri-industri kebebasan seperti kedokteran, ilmu hukum, syair, dan retorika yang diupayakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan vital….. Pengukuhan posisi kenikmatan dalam kehidupan moralitas telah mendesak kaum humanis untuk membela ajaran epicurisme yang mengkaji filsafat ateisme pada abad-abad pertengahan. Menurut pandangan Epicurus, akal adalah panglima bagi manusia.[6] Prinsip-prinsip humanisme menunjukkan bahwa paham kemanusiaan ini bermaksud mempromosikan kenikmatan-kenikmatan jasmani untuk menghadapi sistem gereja yang memberikan perhatian secara berlebihan kepada masalah-masalah spiritual. Kaum humanis bahkan memandang kenikmatan-kenikmatan fisik itu sebagai tujuan final aktivitas manusia sampai-sampai humanisme secara prinsipal menilai peranan puritan dan ketakwaan sebagai faktor negatif bagi proses pencaharian kenikmatan dan keuntungan. Dari sisi lain, sebagian humanis berkeyakinan bahwa akal manusia yang menurut mereka sejajar dengan akal Tuhan memiliki kekuatan untuk menguasai manusia dan sistem kemanusiaan. Selain mempertimbangkan watak alamiah manusia, kaum humanis juga mempertimbangkan karakteristik sosial dan politik manusia. Adalah Bruni yang menterjemahkan buku Etika Nicomachean dan buku Politik dan Ekonomi karya Aristoteles. Segenap kaum humanis tertarik kepada titik distingtif doktrinasi etika Aristoteles, guru logika klasik, dimana dia menyebut keutamaan dan kehinaan manusia sebagai binatang politik. Karena mengukuhkan nilai uang sebagai satu keharusan bagi kehidupan individual dan sosial, kaum humanis merekomentasi etika Aristoteles. Mereka memandang pelecehan terhadap uang, seperti yang termanifestasi di dalam disiplin asketisisme abad pertengahan, sebagai aksi pengabaian terhadap tabiat manusia. Dengan demikian, terbukalah jalan bagi Nicolo Machiavelli yang notabene sosok humanis dalam banyak aspek. Machiavelli dengan tegas mensterilkan dunia politik dari segala teori metafisik atau agamis. Teorinya dikemukakan untuk menunjukkan tiadanya kefanatikan dalam otoritas yang ditampilkan kepada insan-insan politik dalam berbagai situasi.[7] Psikologi Humanistik Psikologi modern pada abad ke-20 didasari keyakinan bahwa manusia adalah wujud yang tunggal yang tiada bandingannya. Sesuai karakteristik inilah terapi yang harus dilakukan para psikolog dan psikater kepada manusia. Gerakan ini mengalami perkembangan dalam menentang dua aliran utama, behaviorisme dan psikoanalisis, dalam psikologi abad kedua puluh. Kaum humanis meyakini bahwa setiap individu bertanggungjawab atas kehidupan dan perbuatannya, dan bahwa dalam setiap zaman manusia bisa mengubah pendapat dan perilakunya melalui pengetahuan dan kehendak yang inovatif. Para psikolog humanis menaruh minat kepada perkembangan individual yang paling sempurna dalam berbagai wilayah kecintaan, perbuatan, penilaian diri sendiri (self worth), dan kemerdekaan mentalitas. Menurut perspektif ini, pertumbuhan dan kematangan dipandang sebagai proses dimana pribadi seseorang terbentuk dan akan mengikuti tatanan nilai-nilainya sendiri. Asosiasi para psikolog humanis mengemukakan lima syarat prinsipal sebagai berikut: 1. Manusia menempati potensi-potensinya. 2. Manusia memiliki esensi dirinya dalam bidang kemanusiaan. 3. Manusia berpengetahuan. 4. Manusia memiliki daya selektif. 5. Manusia memiliki kehendak. Psikolog AS Abraham H.Maslow (1908-70 ) yang dikenal sebagai salah satu pengarah rancangan psikologi humanis mengusulkan serangkaian peringkat kebutuhan atau stimulan untuk mencapai perfeksi, yaitu kebutuhan-kebutuhan psikologis, keamanan, hasrat dan cinta, penghormatan, dan aktualisasi diri. Menurutnya, kepribadian bisa mencapai peringkat teratas ketika kebutuhan-kebutuhan primer ini banyak mengalami interaksi satu dengan yang lain, dan dengan aktualisasi diri seseorang akan bisa memanfaatkan faktor potensialnya secara sempurna. Pengertian ‘diri’ menurut kacamata sebagian besar psikolog humanis ialah satu titik aksial. Dalam stuktur kepribadian yang dikemukakan dalam teori psikoterapi Carl Rogers (kelahiran 1402), berbagai masukan yang ada pada diri seseorang tentang dunianya sesuai dengan pengalaman pribadinya. Masukan-masukan ini mengarahkannya secara mutlak ke arah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dirinya. Rogers menegaskan, dalam pengembangan diri seorang pribadi akan berusaha keras demi aktualisasi diri (self actualisation), pemeliharaan diri (self maintenance), dan peningkatan diri (self inhancement). Mengikuti tulisan-tulisan Jean Paul Sartre (1905-80) dan para filsuf eksistensialis, sejumlah besar psikolog humanis menerima teori eksistensialistik mengenai signifikansi adanya makna kehidupan. Ludwig Binswanger (1881-1957), psikater Swiss dan pelopor lama psikologi eksistensialis, menitik beratkan konsep perancangan dunia (world design) yang menjadikan totalitas wujud manusia sebagai titik perhatian. Menurut teori Beans Vanger, manusia bukanlah hasil habitatnya melainkan pencipta habitatnya. Psikolog AS Rollo May (kelahiran 1909) berpendapat bahwa kita tidak menyadari karakteristik fundamental manusia sebagai wujud yang mengenyam pengalaman, dan bahwa pengalaman ini termanifestasi untuknya. Menurutnya, kesadaran manusia terhadap kefanaannya akan mempengaruhi kehidupan manusia. Psikolog lain dari AS, Clark Moustakes, berpendapat bahwa kesendirian seseorang akan mempengaruhi pribadi dan perilakunya. Dia menulis, selagi eksistensi kesendirian (existential louneliness) merupakan bagian yang tak dapat dihindari dalam pengalaman manusia, maka kesunyian yang berasal dari keterasingan dan pengingkaran diri ini bisa menciptakan guncangan keras. Dari catatan di atas terlihat bahwa para psikolog humanis melihat pribadi manusia sebagai wujud yang sepenuhnya terpusat kepada dirinya sendiri. Menurut pandangan ini, setiap orang adalah sosok yang tunggal dan bukan dalam bentuk individu-individu dari satu spesis yang sama. Karena itu, setiap individu terkonsentrasi sepenuhnya kepada dirinya sendiri, bahkan dalam hal yang menyangkut tatanan nilai yang menguasai perilakunya. Perspektif para humanis terlihat juga menempatkan sebab pelaku (‘illaf fai’iliah) dan sebab tujuan (‘illah gha-iah) di dalam diri manusia sehingga individu bisa mengaktualisasikan segenap potensi dirinya tidak hanya dalam bentuk yang terasing dari sebab-sebab di luar, tetapi bahkan juga dalam posisi yang mengemban tujuan dari perwujudan dirinya, dan individu ini sepenuhnya bertumpu pada dirinya sendiri dalam proses aktualisasi diri, pemeliharaan diri, dan peningkatan diri. Dan eksistensi kesendirian ini menurut para psikolog bisa menimbulkan keguncangan di luar batas. AgamaPada tahun-tahun terakhir jargon humanisme lazim digunakan dalam pengertian tatanan nilai yang mengaksentuasikan kompetensi kepribadian setiap individu manusia. Namun jargon ini tidak mengandung keimanan kepada Tuhan. Dan kendati dalam humanisme terlihat bingkai transparan yang berlandaskan paham ateisme, namun para humanis juga menggunakan berbagai format religius untuk mempromosikan norma-norma kemanusiaan. Contohnya, pada abad ke 19 Auguste Comte, seorang positivis Prancis, sengaja mendirikan agama kemanusiaan yang berlandaskan ateisme hanya dengan tujuan membenahi situasi sosial. Kecuali itu, serangkaian doktrin humanistik yang berasaskan ateisme juga terlihat mendapat minat dari kalangan elit agama Kriten sehingga mereka menganggap kekristenan sebagai agama humanistik. Carl Barth, teolog Protestan abad ke 20 berkebangsaan Swiss, meyakini humanisme tidak akan ada tanpa Injil. Para teolog Katolik Roma juga mengklaim bahwa Kristen Katolik adalah agama humanis sebab Katolik menegaskan bahwa manusia di mata Tuhan adalah makhluk yang tiada bandingannya.[8] Kendati memiliki pandangan sedemikian rupa mengenai asketisisme dan ketuhanan, humanisme tidak memiliki tokoh yang anti agama atau anti Kristen. Kecenderungan untuk membela nilai dan kebebasan manusia telah mendorong kaum humanis untuk berdiskusi mengenai Tuhan, kekuatan-Nya, serta masalah-masalah kontemporer mengenai ruh, keabadian ruh, dan kebebasan ruh yang biasanya tetap dikemukakan dengan tipe-tipe tradisional abad-abad pertengahan dan terlimitasi oleh paradigma masa itu. Betapa pun demikian, dalam humanisme pembahasan-pembahasan ini menemukan makna baru, sebab menurut mereka pemahaman dan keyakinan adalah demi daya inovatif manusia di dunia, dan daya ini juga mereka pertahankan di dalam areal keagamaan. Gianozzo Manetti dalam buku Tokoh-Tokoh Besar Humanisme (De Dignitate et Excelentia Hominis) menyebutkan bahwa kitab-kitab suci bukan hanya merupakan satu statemen untuk kebahagiaan transendental, melainkan juga untuk kebahagiaan di muka bumi. Menurut Manetti, agama ialah kepercayaan kepada nilai perbuatan manusia yang akan mendapat pahala di dalam kehidupan akhirat kelak. Sebagaimana Lorenzo Valla dan kebanyakan tokoh lainnya, Manetti berpandangan bahwa tugas fundamental agama ialah menyokong manusia dalam kehidupan hukum dan aktivitas politik.[9] Walaupun tidak memberikan penekanan terhadap keimanan kepada Tuhan, kaum humanis tetap memandang harus konsisten kepada doktrin-doktrin keagamaan, kendati agama itu ternyata berlandaskan ateisme dan dicetuskan oleh seorang manusia semisal Auguste Comte. Sebab mereka meyakini tatanan sosial akan porak poranda tanpa adanya komitmen kepada serangkaian prinsip agama, baik yang berdasarkan monoteisme maupun ateisme. Karena itu, di sini kaum humanis bisa diklasifikasikan menjadi dua kelompok: penyembah Tuhan dan ateis. Namun, perlu disebutkan bahwa dalam pandangan kaum humanis penyembah Tuhan-pun, yang menjadi orientasi ialah nilai dan kebebasan manusia, sedangkan pengenalan Tuhan beserta kekuatan-Nya hanya dipandang sebagai instrumen, dan bahwa komitmen kepada ajaran dan instruksi-instruksi agama hanya merupakan instrumen dengan peranannya yang superfisial. ToleransiPandangan-pandangan religius humanisme sarat dengan spirit toleransi. Istilah toleransi menjadi popular akibat pengaruh peperangan bermotifkan agama pada abad-abad ke 16 dan 17. Tolerensi membawa pengertian mengenai kemungkinan hidup rukun antar penganut berbagai agama, yaitu agama-agama yang tetap berbeda satu dengan yang lain dan tak mungkin diubah menjadi satu keyakinan. Oleh sebab itu, para humanis memastikan spirit persaudaraan sebagai satu pandangan kolektif yang prinsipal dalam semua keimanan agama dan memungkinankan terwujudnya perdamaian agama secara universal. Di satu sisi, menurut kaum humanis, ketentraman hidup beragama juga bersentuhan dengan persatuan yang urgen di dalam filsafat dan agama. Leonardo Bruni melontarkan pernyataan apakah Saint Paul telah mengajarkan sesuatu yang lebih dari ajaran-ajaran Plato? Berdasarkan pandangan para bapa gereja –dimana para humanis juga turut memberikan kontribusi dalam pandangan ini- , Kristen juga dengan mudah menerapkan rasionalisme yang diajarkan oleh filsafat kuno, sebab akal yang didukung oleh filsafat ini adalah akal yang termanifestasi di dalam kalimat Allah. Dari sisi lain, Pico Della Mirandola yang paling banyak mendapat inspirasi dari teori toleransi telah menjadi tokoh pembawa pesan baru perdamaian yang mengundang perhatian segenap agama dan filsafat dunia. Pidato tentang martabat manusia (Oration on Dignity of Man) yang awalnya disebut lagu perdamaian mengajukan proposal untuk merancang dasar perdamaian secara universal dengan memperlihatkan kesingkrunan antara pikiran platonisme dan paham aristoteles. Pico bahkan menggagas kompromisasi dua paham ini dengan aliran-aliran filsafat lain, cabala (ajaran mistik Yudaisme), magis, kependetaan (pateristic),dan skolastik. Gagasan penyesuaian filsafat dengan kekristenan dan wahyu keagamaan berkaitan dengan Pico Mirandolla. Sebagaimana Pico, tak sedikit kaum humanis yang meyakini pluralitas ideologi sedemikian ini berasal dari satu sumber dan satu ilham yang pertama, dan semua ini berjalan dalam satu jalur yang unilateral. Kembali kepada akar-akarnya adalah kembali kepada perdamaian religius para nenek moyang manusia dan merupakan penuntasan sentimen dan fanatisme agama. Dalam toleransi humanistik, segenap pemeluk ideologi diseru kepada persatuan ideologis, baik ideoligi filsafat maupun agama, termasuk agama-agama monoteis, idolatris, dan khurafat. Dengan demikian, demi persatuan toleransi ini sama sekali tidak mempertimbangkan apa yang menjadi titik perbedaan, dan tidak ada satupun prinsip yang konstan yang bisa dijadikan orientasi perdamaian antar ideologi dan agama. Paham semacam ini jelas absurd dan bersifat artifisial. Ajaran-Ajaran Humanisme Ideologi-ideologi dibawah ini adalah ajaran-ajaran yang terbentuk berdasarkan paham humanisme: 1.Komunisme, karena di dalam ideologi ini humanisme bisa menghapus keterasingan manusia dari dirinya akibat kepemilikan swasta dan sistem masyarakat kapitalisme. 2.Pragmatisme, karena pandangan yang menjadikan manusia sebagai orientasi, sebagaimana pandangan Protagoras, telah menjadikan manusia sebagai kriteria segala sesuatu. 3. Eksistensialisme yang telah memberikan argumentasi bahwa tidak ada satupun alam yang sebanding dengan alam subyektivitas manusia.[10] Dengan demikian, sebagian besar ajaran filsafat panca Renaisans secara mendasar telah dipengaruhi pikiran humanistik. Contohnya, komunisme yang sebagian besar pandangannya tertuangkan kepada masalah kerakyatan, pragmatisme yang ajarannya bersandarkan kepada esensi perbuatan manusia, personalisme yang meyakini spirit manusia memiliki daya pengaruh yang terbesar, dan eksistensialisme yang banyak memberikan penekanan kepada wujud aktual manusia, semuanya memandang manusia sebagai satu wujud yang bertumpu pada esensinya sendiri serta wujud dimana dirinya adalah pelaku dan tujuannya sendiri. KonklusiDalam bab ini kita dapati gambaran global mengenai prinsip-prinsip pemikiran humanisme dimana yang terpenting ialah poin-poin sebagai berikut: 1. Manusia adalah standar dan kriteria segala sesuatu. 2. Penekanan terhadap urgensi kembali kepada peradaban era klasik untuk menghidupkan kembali dan mengembangkan potensi dan kekuatan yang diyakini orang-orang terdahulu. 3. Penekanan secara berlebihan kepada kebebasan dan ikhtiar manusia akibat kebencian kepada intimidasi dan kediktatoran para penguasa abad pertengahan. 4. Pengingkaran terhadap status para rohaniwan sebagai perantara antara Tuhan dan manusia. 5. Penyerahan sepenuhnya kekuasaan dan penentuan nasib, dan kekuasaan despotisme harus ditolak mentah-mentah. 6. Manusia adalah sentral alam semesta. 7. Akal manusia sejajar dengan akal Tuhan. 8. Penolakan sistem-sistem tertutup filsafat, prinsip dan keyakinan-keyakinan agama, serta argumentasi-argumentasi ekstraktif mengenai nilai-nilai kemanusiaan. 9. Penolakan terhadap praktik-praktik asketisme, dan perhatian mesti dipusatkan kepada faktor jasmani dan kenikmatan-kenikmatan fisik. 10. Akal manusia adalah pimpinan manusia, dan status agama sebagai komando harus ditiadakan. 11. Kenikmatan-kenikmatan jasmani adalah tujuan final segala aktivitas manusia. 12. Manusia adalah binatang politik. 13. Dunia politik harus diceraikan dari segala pandangan metafisik atau agama, dan manusia adalah aktor yang memiliki wewenang mutlak dalam dunia politik. 14. Dalam psikologi, setiap manusia diteliti sebagai satu spesis tunggal, dan bukan sebagai satu individu yang merupakan bagian dari satu spesis manusia. Atas dasar ini, manusia berwenang untuk semata-mata mengikuti tatanan nilainya sendiri. 15. Aktualisasi diri, pemeliharan diri dan peningkatan diri mesti dipelajari dalam setiap individu. 16. Manusia adalah pencipta lingkungannya dan bukanlah hasil lingkungannya. 17. Manusia harus terkonsentrasi sepenuhnya kepada dirinya. 18. Kelayakan kepribadian setiap individu bisa terbentuk tanpa keimanan kepada Tuhan. 19. Keberadaan agama dipandang sebagai faktor superfisial yang diperlukan demi popularitas nilai-nilai kepribadian manusia dan perbaikan sosial, namun agama ini bisa jadi merupakan agama produk manusia ala August Comte. 20. Penekanan terhadap persatuan antar segenap agama, baik agama yang berpangkal dari Nabi Ibrahim maupun agama khurafat. Prinsip-prinsip diatas adalah fondasi-fondasi humanisme. Hanya saja, dalam persepsi monoteistik seperti yang popular di kalangan teolog Kristen, humanisme yang bermakna prikemanusiaan tidaklah bersebarangan dengan keimanan religius. Sehubungan dengan ini, para humanis beragama mengemukakan poin-poin sebagai berikut: 1. Humanisme dengan pengertian prikemanusiaan tidak bertentangan dengan agama, karena manusia menurut konsep Tuhan adalah makhluk yang tiada taranya. 2. Pembelaan nilai dan kebebasan manusia tidak berbenturan dengan agama Kristen. 3. Berdasarkan ajaran agama, manusia juga memiliki daya kreativitas yang tiada bandingannya. 4. Kitab suci Ilahi bukan hanya menjamin kebahagiaan di alam akhirat, tetapi juga di alam dunia. 5. Menurut agama-agama Ilahi, keyakinan kepada nilai perbuatan manusia akan menjamin kesuksesan amal perbuatan dan pahalanya di akhirat. 6. Akal yang dikemukakan dalam Yunani kuni tak lain adalah kalimat Allah dalam Kristen. Perlu diingat, kalangan humanis beragama juga memandang manusia, nilai, dan kebebasannya sebagai tujuan, dan bahwa pengenalan Tuhan dan kekuasaannya adalah satu jembatan untuk mencapai kepada tujuan tersebut. Maka dari itu, esensialitas manusia di depan Tuhan akhirnya terkemukakan, dan ini bisa dinilai sebagai titik distingtif pemikiran kaum humanis monoteis dan beragama. Kesimpulan globalnya, humanisme tidak bertentangan dengan kepatuhan kepada agama jika pengertiannya ialah kepercayaan kepada nilai-nilai kemanusiaan, serta kedudukan, martabat, ikhtiar, dan kebebasan manusia. Dengan kata lain, muatan humanisme di sini tidak keluar dari wilayah agama. Akan tetapi, jika manusia dalam pengertiannya yang hakiki dan merupakan khalifatullah ternyata dipandang sebagai tujuan final oleh paham humanisme, kemudian pengenalan Tuhan dan kepatuhan kepada ajaran agama dipahami semata-mata sebagai sarana dan instrumen untuk mencapai tujuan itu, maka humanisme akan berada di luar lingkungan agama. Adapun anggapan humanistik yang mensejajarkan rasio manusia dengan rasioTuhan jelas sangat kontras dengan makrifat dan ketaatan beragama.
Sejarah Ringkas HumanismeMukaddimah Untuk mengkaji setiap fenomena secara lebih cermat, diperlukan telaah latar belakang kemunculan dan pertumbuhannya. Kajian mengenai gerakan filsafat humanisme juga demikian. Bab ini akan mentelaah sejarah ringkas kemunculan dan terbentuknya paham humanisme. Mula-mula bab ini akan menjelaskan situasi yang dominan pada abad pertengahan dan yang telah menciptakan arus perlawanan terhadapnya. Setelah itu, bab ini baru akan menerangkan keadaan era Renaisans yang telah membidani lahirnya humanisme. Ringkasan Mengenai Abad Pertengahan Pada abad pertengahan masyarakat memandang dunia ini sarat dengan kekuatan-kekuatan transendental. Dalam persepsi mereka, setiap kejadian yang luar biasa dan menakjubkan memiliki makna tertentu sehingga mereka menantikan munculnya kekuatan-kekuatan ini dan berusaha menciptakan semacam mukjizat. Kehidupan orang-orang yang pada abad pertengahan mereka sucikan dan yang mereka anggap sebagai sumber keagungan tanah kelahiran mereka, serta karya-karya lukis dan patung para seniman telah membuat dunia seakan penuh dengan keajaiban. Syarat utama keajaiban-keajaiban ini ialah sakralisasi. Masyarakat menganggap setan dan para tentaranya sebagai wujud nyata yang dekat dengan mereka. Oleh sebab itu, masyarakat selalu memerlukan Tuhan dan tempat-tempat ibadah untuk berperang melawan setan dan tentaranya, dan karena itu pula peninggalan-peninggalan suci dan berkah gereja serta keutamaan doa dan semangat altruisme dianggap sebagai penolong dan pendukung mereka yang terbaik. Gigi Santo Peter, darah Santo Basil, rambut Santo Denys, sobekan kain baju Santa Maria yang terdapat di atas pedang besar Roland yang bernama Durendal, jasad Santo Markus yang dicuri oleh para pelaut Venezuela dan dibawa ke gereja mereka yang penuh dengan permata, dan rumah gadis Santa Maria yang terbang secara ajaib di atas angkasa laut hingga ke Loreto, semua ini adalah benda-benda yang dijadikan masyarakat sebagai jimat-jimat guna mempersiapkan alam ini untuk pertempuran antara manusia dan setan. Masyarakat sangat antusias mencari peninggalan-peningggalan suci seperti ini sampai-sampai raja Prancis Louis Agung yang kalah dalam Perang Salib masih tetap bergembira dan menganggap serangannya sukses kendati dia gagal menyaksikan tanah suci, sebab dia merasa telah membawa sepotong salib yang asli. Roh-roh jahat bersemayam di jahanam yang tempat yang sangat menakutkan, namun anggapan masyarakat awam tidak menentukan dimana letaknya dan malah membiarkannya tidak jelas. Hanya saja, mereka beranggapan bahwa ruh-ruh itu dekat dengan manusia dan menanti orang yang tidak melaksanakan tugasnya di depan Tuhan. Banyak hal yang ditambahkan menyangkut jahanam. Bahkan segala sesuatu yang dianggap menyeramkan oleh masyarakat karena pengaruh yang berasal dari masyarakat Yunani dan Sumerian banyak didekorasi. Dari sisi lain, langit sangatlah jauh dan lebih lebih jauh dari kubah kelabu dan bintang-bintang yang terjauh, tetapi kekuatan Tuhan menjangkau seluruh makhluk-Nya…..Langit dan jahanam adalah dua perkara pasti karena penuaan dan kematian tidak bisa lari darinya. Maka dari itu, rintihan dan keguncangan tidak akan berguna. Perasaan ini tidak mendorong amal perbuatan masyarakat, dan secara umum hanya berpengaruh pada kebiasaan dan pikiran mereka.[11] Pada abad pertengahan manusia sepenuhnya berada dalam posisi pasif dan merasa tidak memiliki daya apapun tanpa ada kekuatan gaib. Bahkan untuk menyelamat diri dari kejahatan pun tidak ada jalan lain untuk mereka kecuali mengandalkan peninggalan-peninggalan suci. Rasionalisasi secara logis dan konseptual terhadap keyakinan mereka dan segala sesuatu yang terjadi menyangkut urusan dunia mereka anggap sebagai pembangkangan terhadap ketundukan kepada kekuatan-kekuatan gaib yang menguasai alam. Manusia abad pertengahan meyakini dirinya berada di tengah konflik yang terlihat dalam berbagai bentuk antara dua kota setan dan Tuhan. Konflik ini adakalanya terjadi dalam bentuk pertikaian antara dua ajaran moral dimana yang satu berbasiskan alam natural dan yang lain berbasiskan ketuhanan, kadang juga terjadi dalam bentuk pergumulan antara filsafat rasional dan filsafat samawi, konflik antara keindahan jasmani dan keindahan ruhani, dan pertentangan antara kebanggan yang fana dan kebanggaan yang abadi, dan akhirnya masyarakat abad pertengahan menyaksikan dirinya berada di tengah konflik antara institusi dunia dan institusi gereja. Adakalanya kedua institusi ini berkompromi, namun antara mereka tetap ada perbedaan naluriah. Konfrontasi antar mereka telah mewarnai berbagai generasi dan masa sampai tiba saatnya mereka membuat garis tengah dan membagi wilayah tempat mereka berperang….. Pertikaian antara kota setan dan Tuhan ini terjadi tak lain karena adanya perbedaan fundamental pada diri mereka. Dengan demikian, setiap kota akan membuahkan hasilnya sendiri serta merefleksikan karakteristik hakikinya sendiri.[12] Dalam paradigma abad pertengahan, dua wilayah agama dan dunia terpisah total satu dengan yang lain sehingga tidak ada peluang bagi ekspansi satu terhadap yang lain atau pembauran antar keduanya. Seorang manusia kalau tidak ‘melangit’ haruslah ‘membumi’, atau kalau tidak meyakini kekuasaan alam gaib terhadap segala urusan hidupnya, maka dia harus memutuskan hubungan secara total dengan Tuhan dan ruh-ruh kudus, dan jika dia menghargai jasmani dan urusan materinya maka dia bukan lagi seorang ruhaniwan dan berarti telah memutuskan hubungan dengan kota Tuhan. Kata Augustine, siapapun yang mahir dalam kesenian, perang, dan filsafat adalah orang yang bejat dan sesat, karena dia berasal dari kota setan dimana kebahagiaannya tak lebih dari sekadar topeng yang menipu, dan keindahannya hanya merupakan wajah alam kubur. Kota inilah yang tidak diterima oleh Tuhan dan fitrah manusia. Karena orang yang sombong dan angkuh adalah merupakan kepekatan hari dan orang yang memiliki pengetahuan tentang segala yang harus diketahui oleh orang-orang terpuji. Dan ketika melihat kota setan ini tenggelam ke dalam kesesatan dan kesombongannya, maka semua sudut kegelapannya akan terlihat.[13] Dengan demikian, kerangka berpikir yang dominan pada abad pertengahan dan tekanan kuat para elit gereja yang menganggap dirinya pengawas tatanan yang menguasai dunia dan telah menginterogasi ideologi para ilmuan dan menyeret mereka ke pengadilan serta menganggap kegiatan ilmiah sebagai campurtangan setan, kemudian faktor-faktor lain yang berada di luar pembahasan ini telah menjadi latar belakang munculnya Renaisans yang telah melahirkan teriakan protes terhadap kondisi yang dominan pada abad pertengahan. Renaisans dan Berbagai Arus Pemikirannya Renaisans bukanlah gerakan kerakyatan, melainkan gerakan para tokoh dan pakar yang dimotori oleh para pendukung kebebasan berpikir, khususnya keluarga Medici dan para Paus humanis. Petrarch dan Baccaccio di abad 14 secara pemikiran bersentuhan dengan era Renaisans, namun karena perbedaan faktor politik zaman mereka pengaruh langsung mereka tidak lebih sedikit dari pengaruh para humanis abad ke 15. Metode perlakuan para tokoh Renaisans terhadap gereja tidak mudah untuk dijelaskan. Sebagian mereka yang berpikiran bebas terlihat mengambil sikap mendua. Kendati sangat tersiksa oleh kejahatan para paus pada zamannya, mereka tetap menerima dengan lapang dada pelayanan para pemimpin agama Katolik tersebut. Mereka turut menyelenggarakan acara-acara peminyakan suci dan berkompromi dengan gereja karena ancaman kematian seakan ada di depan mata. Sejarawan Kicardini pada tahun 1529 menuliskan: Tak seorang yang sepertiku sedemikian membenci ketamakan, kerakusan, kebobrokan orang-orang gereja. Kebencian ini bukan hanya karena semua keaiban itu memang memuakkan, tetapi juga karena mereka semua yang termasuk orang-orang yang mengaku memiliki hubungan khusus dengan Tuhan sangat tidak pantas. Selain itu juga karena keaiban-keaiban ini berbenturan satu dengan yang lain dimana sebagian darinya hanya mungkin terjadi pada orang-orang yang memiliki karakteristik yang sangat luar biasa. Meski demikian, posisi yang saya miliki menyangkut beberapa orang paus telah mendesak saya untuk menghendaki kebesaran mereka hanya demi kepentingan diri saya sendiri. Jika tidak ada masalah ini, maka saya mencintai Martin Luther seperti saya mencintai jiwa saya sendiri. Ini bukan karena kita ingin melepaskan diri kita dari undang-undang yang dibebankan ke pundak kami oleh kekristenan –dalam pengertian yang ditanamkan kepada masyarakat umum-, melainkan supaya kami bisa menyaksikan suatu hari dimana prajurit yang pandir itu bisa menunjukkan kedunguan mereka sendiri sehingga mereka terpaksa hidup tanpa keaiban atau jika tidak mereka harus hidup tanpa kekuasaan.[14] Pernyataan tegas ini memperlihat alasan mengapa kaum humanis tidak bisa memulai reformasi. Lebih dari itu, sebagian besar mereka tidak bisa menemukan garis tengah antara keyakinan penuh dengan pikiran bebas. Keadaan seperti keadaan Martin Luther tidak memungkinkan mereka, sebab mereka tidak memiliki kecenderungan-kecenderungan abad-abad pertengahan kepada hikmat ketuhanan.[15] Situasi sebelum era Renaisans sedemikian buruknya sehingga para elit gereja yang mengumbar klaim-klaim keagamaan justru tak segan-segan melakukan praktik-praktik tirani, ketidakadilan dan glamorisme serta menjadikan agama sebagai media untuk meraih kekuasaan dan kedudukan duniawi. Bahkan orang-orang yang saat itu ingin mendapatkan kekuasaan harus menjalin relasi dengan mereka serta harus tunduk kepada kebesaran dan keagungan kedudukan mereka. Para elit gereja seakan-akan raja-raja untuk langit dan bumi. Pintu sorga dianggap tertutup bagi rakyat yang tidak tunduk kepada mereka, dan bahkan rakyat yang tidak tunduk juga diasingkan dari dari jabatan-jabatan duniawi. Tak cukup dengan mengaku sebagai pengampun dosa, para penguasa di gereja juga mengaku bahwa penjualan tanah sorga ada di tangan mereka. Dalam situasi sedemikian inilah Martin Luther membahanakan teriakan protes dan pernyataan bahwa kunci keselamatan hanyalah kehendak Tuhan dan bahwa keselamatan bisa dicapai tanpa adanya perantara insitusi-institusi sedemikian rupa. Diantara sekian banyak acara-acara gereja, Luther hanya menerima upacara pembaptisan. Menurutnya, pengampunan bukanlah pekerjaan para penguasa gereja. Tuhan ada di semua tempat dan menyaksikan segala keadaan. Karena itu, hanya Tuhanlah yang mengetahui hamba-hambanya yang salih, dan bukan para elit gereja. Luther menegaskan ikhtiar dan kebebasan manusia. Kemunculan Humanisme Di bawah komando keluarga Medici atau setidaknya pada zaman merekalah para humanis mulai menarik perhatian dan mewarnai opini masyarakat Italia. Kaum humanis menggiring perhatian rakyat dari agama ke filsafat dan dari langit ke bumi. Kekayaan pikiran dan seni masa-masa kesyirikan dikembalikan kepada sebuah generasi yang terpukau. Sejak zaman Ariosto Ludovico, orang-orang yang gila ilmu pengetahuan ini mulai tenar dengan nama kaum humanis, sebab mereka membaca telaah kebudayaan klasik tentang humanitas (berkaitan dengan dunia manusia) atau humanuras (kesusasteraan yang lebih manusiawi, dan bukan berarti kesusasteraan yang lebih berprikemanusiaan, melainkan berarti kesusasteraan yang lebih banyak berkaitan dengan dunia manusia). Jadi, tema kajian yang paling tepat ialah manusia itu sendiri dengan kemampuan yang terpendam di dalam dirinya, dan keindahan jasmani dengan segala kesenangan dan penderitaan panca indera dan perasaannya dan dengan segala kekuatan akalnya yang menakjubkan. Poin-poin inilah yang mendapat perhatian penuh seperti yang pernah terjadi dalam kesusasteraan dan seni Yunani dan Romawi kuno.[16] Erasmus adalah salah seorang pelopor humanisme yang telah melakukan reformasi keagamaan dalam menghadapi eksklusivitas dan monopoli para elit gereja. Dia berjuang keras untuk menghapus peranan para penguasa gereja sebagai perantara antara Tuhan dan manusia. Dia mengatakan, “Jalan itu mudah dan terbuka untuk siapa saja. Bekal perjalanan kalian hanya jiwa yang bersih dan lapang serta adanya keimanan yang cemerlang dan murni di dalam hati kalian.”[17] Erasmus berpendapat bahwa kitab suci harus disosialisasikan kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah. Dia mengecam keras penyimpangan-penyimpangan teologis yang dilakukan kalangan ahli, yaitu para elit gereja. Dia mengatakan, “Dunia berada dibawah kekuasaan para rahib yang bergaya pengemis. Walaupun mereka adalag abdi-abdi istana Roma, namun kekuatan dan jumlah mereka yang cukup banyak telah membuat takut pribadi Paus dan bahkan para raja….. Saya tidak mengutuk semua ini, walaupun sebagian besar dari mereka layak mendapat kutukan. Hanya demi keuntungan dan kekuasaan otoriter, mereka telah menjebak hati rakyat secara piawai. Mereka bicara dengan tanpa rasa malu, dan perlahan-lahan mereka mengeluarkan AlMasih dari wilayah kekristenan. Nasihat-nasihat mereka tak lebih dari dosa-dosa yang terjadi dalam setiap perkataan tanpa rasa malu mereka. Mereka memberikan pengampunan dengan kalimat-kalimat yang bahkan tidak patut untuk orang-orang yang buta huruf…”[18] Dari sisi lain, Erasmus juga berusaha menciptakan ikatan yang erat antara era klasik dan ajaran-ajaran Kristen. Dia melontarkan pertanyaan, “Bukankah filsafat AlMasih, yang disebutnya sendiri sebagai kelahiran kembali, tidak lain adalah pengembalian fitrah manusia yang pada zaman azali sudah diciptakan dengan bentuk yang sesuai? Oleh sebab itu, dalam buku-buku kaum politeis banyak kita temukan sesuatu yang sesuai dengan ajaan-ajaran AlMasih. Kaum stoicisme, Socrates yang mengenal Plato, Aristoteles dalam buku politiknya, dan bahkan Epicurus, semuanya membuktikan adanya keselarasan ini.” Menurut Erasmus, ajaran-ajaran era klasik menunjukkan kesucian fitrah manusia. Karena itu tidak sepatutnya ajaran-ajaran itu dihindari dengan alasan mengandung politeisme. Erasmus termasuk pencetus pandangan mengenai kompromisasi atau pandangan tentang tolerasi.[19] Dia pernah mengatakan, “Dunia Kristen pada akhirnya akan kembali kepada ketakwaan yang benar, para teolog dan pemberi nasihat akan menyingkirkan pertikaian mereka untuk kemudian melaksanakan tugas mereka yang sebenarnya, dan itu ialah pengajaran segala sesuatu yang berdasarkan kemufakatan umum di dalam AlMasih.”[20] Di dalam suratnya kepada Gerard dia menyatakan, “Apakah dengan dalih adanya kebejatan kita harus menyensor segala sesuatu yang mengandung ekspresi yang memikat dan puitis.” Mengutip kata-kata otentik Santo Jerome, Erasmus mengatakan, “Para petinggi itu hanya mengenakan tirai untuk menutupi ketidak berbudayaan mereka, akibatnya mereka memandang hina segala sesuatu yang membuat mereka pessimis terhadap perolehannya Kalau mereka ini memperhatikan surat-surat Jerome dengan cermat, setidaknya mereka akan tahu bahwa ketidak berbudayaan, pengultusan, dan kecerdasan sama-sama bukan sumber pencemaran.”[21] Menurut kacamata Erasmus, karya-karya para penulis besar, baik yang beragama maupun yang kafir, sebenarnya tenggelam dalam rahasia-rahasia kalimat dan merupakan latihan yang akan membersihkan jiwa manusia serta menggiring fitrah manusia kepada suatu tujuan yang baik dan suci.[22] Adapun Martin Luther, murid Erasmus yang juga menentang kekuasaan gereja, mengkritik gurunya. Dia mengatakan, “Hari-hari ini aku tengah mempelajari (pikiran) Erasmus, tetapi pikiranku malah semakin jauh darinya. Saya menyayangkan sikapnya yang tidak memperlihatkan pelimpahan Tuhan dan AlMasih di luar…… Dia malah lebih banyak menekankan manusia ketimbang Tuhan.[23] Luther bukan satu-satunya orang yang heran kepada sikap Erasmus yang tampak tidak mengindahkan sebagian masalah dogmatis dalam tradisi Kristen. Keheranan ini semakin membengkak ketika Erasmus menyatakan kesiapannya untuk menyatakan keraguannya terhadap masalah-masalah tersebut. Kecenderungan seperti ini mana mungkin sejalan dengan segala penafsiran otentik kitab-kitab Injil Yasus?[24] Pada abad-abad pertengahan, manusia diposisikan sebagai makhluk yang pasif dan tak punya ikhtiar apapun di depan para elit gereja. Akibatnya, pada era Renaisans lahirlah sebuah gerakan dengan misi mengembalikan kebebasan manusia yang telah dinistakan. Mula-mula gerakan ini memprioritaskan reformasi keagamaan, dan setelah beberapa lama secara ekstrim gerakan ini menentang segala sesuatu yang dipaksakan dengan atas nama agama. Pencorengan citra agama yang dilakukan para penguasa gereja pada abad pertengahan telah menimbulkan sebuah gerakan bernama humanisme yang bermula pada era Renaisans, sebuah gerakan yang manganggap kebahagiaan manusia hanya bisa dicapai dengan kembali kepada era klasik, atau dengan kata lain era politeisme. Kaum humanis meyakini bahwa manusia pada era klasik telah mengandalkan potensi-potensi wujudnya tanpa keterikatan kepada agama, gereja, dan para penguasa gereja. Jalan kembali kepada era klasik bisa ditempuh melalui perhatian kepada kebudayaan dan kesusasteraan klasik. Kaum humanis memandang penekanan kepada ilmu logika dan ilmu-ilmu teoritis seperti ilmu metafisik sebagai sikap yang kurang patut. Mereka hanya berminat kepada kepada bidang-bidang yang berfungsi langsung di dalam kehidupan masyarakat, seperti retorika dan cabang-cabangnya termasuk politik, sejarah, dan syair. Selain itu, mereka juga tertarik kepada bidang dialektika atau seni dialog. Secara lebih umum, kaum humanis terikat kepada pemikiran mengenai kedudukan dan potensi manusia di dunia tanpa mempertimbangkan nasib manusia di alam azali.[25] Bath yang berperan sebagai pembela ajaran politeisme, dalam pembelaannya mengatakan, “Saya yakin tidak ada satupun pengetahuan kecuali yang sifatnya mendunia (inilah nama yang mereka sebutkan untuk pengetahuan orang-orang di era klasik), atau paling tidak fondasinya adalah tulisan-tulisan yang menduia ini…..Kecederungan manusia kepada ketakwaan dan keselamatan tidak hanya ada pada orang-orang Bani Israil, tetapi dalam batas tertentu juga pada para penguasa politeis.”[26] Pada masa kemunculan humanisme, dalam waktu singkat karya-karya sastra dan filsafat Yunani klasik sudah diterjemahkan ke bahasa Latin. Semua ini tentu karena banyaknya para ilmuan dan murid-murid mereka yang aktif di Italia. Terjemahan-terjemahan ini memiliki kecermatan yang lebih tajam ketimbang terjemahan yang dilakukan pada abad ke 12 dan 13. Guvarino menerjemahkan sebagian karya Strabon dan Plotarckh ke bahasa Latin. Sedangkan Travarsori menerjemahkan karya-karya Divagnos Lairitos, Valla menerjemahkan karya-karya Herodotus, Tosidid, dan Iliad Homer, Proti menerjemahkan karya-karya Polybius, dan Ficino menerjemahkan karya-karya Plato dan Platinus. Diantara sekian karya-karya klasik itu, karya-karya Plato yang paling banyak memukau para humanis. Kaum humanis mengapresiasi dan cemburu menyaksikan kebebasan orang-orang Yunani zaman Socrates yang bisa dengan leluasa mengupas berbagai persoalan agama dan politik yang paling sensitif. Carlo Masopini sedemikian besar mengapresiasi kebudayaan klasik era politeis sampai-sampai dia berangan untuk berpaling dari kekristenan….Tokoh humanis Italia yang paling berkarya dan kontroversial ialah Pod Ju Bratcolini…yang menulis surat-surat kepada Paus Martin V untuk melakukan pembelaan sengit terhadap dogma-dogma gereja, tetapi kemudian dalam sebuah pertemuan ekslusiv dengan segenap karyawan istana Paus dia tak segan-segan menertawakan keyakinan-keyakinan Kristen. Dia menulis surat-suratnya dengan bahasa Latin yang tidak fasih namun memikat. Lewat surat-surat ini mencemooh ketidak sucian para ruhaniwan. Dia keberatan melakukan perbuatan ini selagi dia mampu….. Kekristenan, baik dari aspek teologi maupun moral, sudah kehilangan pengaruhnya terhadap sebagian besar kaum humanis Italia. Kebebasan berpikir dan aktivitas masyarakat Yunani era Pericles atau masyarakat Romawi zaman Augustine sedemikian membangkit kecemburuan mayoritas kaum humanis sehingga mengguncangkan keyakinan-keyakinan mereka sebelumnya kepada prispi-prinsip Kristen menyangkut kerendahan diri, hasrat kepada dunia, dan ketakwaan. Mereka sendiri keheranan mengapa jiwa, raga, dan akal mereka harus tunduk kepada komando gereja sementara orang-orang gereja sendiri bersenang-senang dan memuja dunia… Bagi kaum humanis selang waktu sepuluh abad antara Constantine dan Dante merupakan masa yang tragis dan penyimpangan dari jalan yang benar. Legenda mengenai Santa Maria dan orang-orang suci lainnya terhapus dari benak mereka untuk kemudian digantikan dengan lagu-lagu dua jenis Horace, sedangkan gereja-gereja dengan segela kemegahannya mereka anggap sebagai barbarisme……Inilah secara umum sikap kaum humanis dimana kekristenan seakan-akan merupakan mitos yang hanya bisa kompromi dengan kebutuhan-kebutuhan moral dan imajinasi masyarakat kecil, tapi bagi mereka yang berpikiran bebas tidak perlu memandang kebutuhan-kebutuhan ini dengan serius. [27] Dengan kata lain, di mata sebagian kaum humanis, agama dan pencerahan pemikiran merupakan dua kutub yang saling bertentangan, agama adalah milik masyarakat awam, sedangkan bagi para pemikir kepatuhan kepada agama merupakan perilaku yang menyalahi kebebasan berpikir. Mereka bukannya melenyapkan bencana akibat penyalahgunaan agama, yaitu kerakusan dan despotisme sistem gereja yang telah membendung nilai, ikhtiar, dan kebebasan manusia abad pertengahan, tetapi malah sekaligus menyerang dan mencabut akar-akar agama dan keberagamaan. Kehidupan kaum humanis mencerminkan keyakinan-keyakinan mereka yang sebenarnya. Dalam praktiknya, tak sedikit diantara mereka yang memberlakukan kriteria-kriteria moral era politeisme, itupun banyak dari segi hawa nafsunya, bukan dari sisi stoicismenya.[28] Satu-satunya keabadian yang mereka kenal ialah keabadian berupa terekamnya karya-karya besar mereka. Tanpa peranan Tuhan, keabadian seperti ini bisa dipersiapkan untuk seseorang dengan kekuatan pena yang akan membuahkan nama baik atau buruk. Setelah Cozimo satu generasi kemudian datang menampilkan para seniman yang andil dengan membuat lukisan atau patung-patung para pemilik nikmat (keabadian) tersebut, atau dengan mendirikan bangunan-bangunan megah dengan nama mereka demi mengabadikan mereka. Harapan untuk mendapatkan keabadian seperti ini adalah salah satu stimulan terkuat yang telah memotivasi kreativitas dalam seni dan kesusasteraan Renaisans. Akhirnya humanisme berhasil mempengaruhi segala seni karena kebangkitan humanisme lebih memfokuskan rasio ketimbang perasaan. Sebelumnya, gereja adalah sponsor utama gerakan seni dimana tujuan utamanya adalah sosialisasi kisah-kisah Kristen para jemaat yang buta huruf serta dekorasi Tuhan. Santa Maria dan anaknya, penderitaan dan tersalibnya Kristus, para nabi dan rasul, para bapa gereja dan orang-orang suci lainnya tentu merupakan obyek utama gerakan seni patung, lukis, dan bahkan aliran-aliran seni lainnya yang lebih kecil. Tetapi kemudian, perlahan-lahan kaum humanis mempromosikan makna keindahan yang lebih bernuansakan hawa nafsu kepada masyarakat Italia sehingga pujian kepada postur tubuh yang indah, baik lelaki maupun perempuan, apalagi dalam keadaan telanjang, akhirnya menjadi tradisi di kalangan terdidik.[29] Awalnya, kaum humanis menjadikan seni sebagai media untuk mempengaruhi perasaan kalangan awam dan tak berpendidikan, karena pada awal-awal kebangkitan humanisme kesenian masih ada di tangan kalangan agamis yang menjadikan kekristenan sebagai tema-tema seni. Ketika para humanis merasakan kebutuhannya kepada seni, maka seni akan diarahkan kepada obyek-obyek materialistik, kebendaan, dan sesuatu yang profan. Karena itu, semaraklah pembuatan patung-patung atau lukisan-lukisan telanjang yang mempertontonkan keindahan fisik wanita dan pria. Dengan demikian, sedikit sekali faktor spiritual yang terlihat dalam gelanggang seni humanistik. Sebaliknya, seni dipertontonkan dengan mengerahkan kecenderungan naturalistik yang semata-mata memfokuskan kepada keindahan-keindahan materi. Sebagian besar kaum humanis sudah tidak lagi berpikir tentang alam transendental. Karena mengira pahala hanya terbatas pada kehidupan dunia, kaum humanis berusaha membuat patung-patung orang-orang yang sukses sebagai hadiah untuk mereka. Oleh sebab itu, seni humanistik banyak mengacu kepada apa yang apa yang mereka saksikan dan jarang sekali memperlihatkan hasrat kepada ide-ide yang gaib dan tak tampak oleh mata. Dengan kata lain, seni humanistik lebih merupakan seni realisme yang tidak ada hubungannya dengan hakikat. Arus kecenderungan humanistik bahkan juga telah mengimbas sebagian para pemuka gereja. Tak kurang, Nicholas V (1447-1455), Paus humanis yang pertama, menyerahkan jabatan-jabatan kerohanian kepada para tokoh ilmuan dan sangat menghormati kepakaran dan pengetahuan mereka tanpa mengindahkan pertimbangan-pertimbangan lain. Lorenzo Valla yang notabene penganut ajaran Epicurus dan yang telah membuktikan kepalsuan dokumen anti Constantine, mencemooh prosa terjemahan resmi kitab suci Vulgate, menuduh Augustine sebagai ateis, justru diangkat sebagai ajudan khusus Paus. Pengangkatan ini jelas memberi semangat kepada humanisme dan diprioritaskannya humanisme daripada keberagamaan dengan segala iman dan keyakinannya hingga dikuasainya Roma pada tahun 1527. Aplaus untuk humanisme kendati telah membuat masyarakat utara benar-benar terpesona, kata Bertrand Russel, bisa jadi terpuji, sebab kebijakan haus perang dan gaya hidup amoral sebagian Paus memang tidak bisa dibela dari segala aspek, kecuali dari aspek politik permainan kekuasaan yang mutlak. Reformasi yang dimulai pada masa penobatan Louis X (1512-13) merupakan hasil yang alami dari kebijakan tidak agamis para Paus era Renaisans.[30] Boleh jadi putusnya hubungan kaum humanis dengan gereja agaknya telah menempatkan mereka di bawah kekuasaan rasio, namun kenyataannya tidak demikian. Sesuai pernyataan Russel, sebagian besar kaum humanis ternyata mempertahankan mitos-mitos yang pernah diyakini masyarakat era klasik. Astrologi, khususnya di kalangan yang berpikiran bebas, sedemikian digemari sehingga lebih lebih popular ketimbang masa-masa klasik. Dampak pertama pembebasan dari kekangan gereja bukan berupa adanya masyarakat yang berpikir secara benar, melainkan terbukanya benak masyarakat untuk kembali kepada segala hal-hal yang nonsens dan absurd. Dari segi moralitas, keterlepasan dari gereja ini juga menimbulkan dampak yang sedemikian tragis. Undang-undang moral klasik akhirnya kehilangan nilanya.[31] Kesimpulan Dari penjelasan di atas tampak bahwa gerakan humanistik merupakan manifestasi dari perlawanan dan protes para cendikiawan Italia terhadap pemerintahan diktatorial para elit gereja dan kaum feodalis. Mengenai ciri-ciri kondisi saat itu, ada beberapa poin yang bisa dicatat sebagai berikut: 1. Manusia dipandang sebagai makhluk pembuat dosa dan kekejian. 2. Kemampuan danikhtiar manusia tidak diindahkan. 3. Manusia tidak memiliki kelayakan menjalin hubungan dengan Tuhan tanpa peranta, karena itu manusia memerlukan perantara para pemuka gereja. 4. Penyalahgunaan agama telah menjadi faktor stagnasi dan kejumudan. 5. Ilmu dan akal dianggap bersebarangan dengan agama oleh para elit gereja. Ativitas di bidang keilmuan mereka anggap sebagai campurtangan syaitan di dalam urusan alam dunia dan bertolak belakang dengan pengabdian kepada Tuhan. 6. Agama dan dunia, kenikmatan ruhani dan jasmani, alam baka dan alam fana, serta alam natural dan alam supranatural, adalah dua kutub yang kontras dan sama sekali tidak memiliki titik persamaan satu dengan yang lain. 7. Sifat pemarah Tuhan ditekankan secara berlebihan, sedangkan sifat-sifat pemaaf dan pengasih Tuhan dilupakan. 8. Para penguasa gereja menekan dan mengintimidasi rakyat, serta menginvestigasi keyakinan masyarakat. Dengan kata lain, kebebasan rakyat dinistakan, baik dari aspek perbuatan maupun pemikiran. 9. Para pemuka gereja mengaku memiliki hubungan spesifik dengan dengan Tuhan. Mereka menyeru rakyat supaya berkonsentrasi kepada urusan-urusan spiritual, sedangkan mereka sendiri hanyut ke dalam sifat-sifat haus kekuasaan, tirani, dan ketidak adilan. 10. Para elit gereja tidak hanya mengaku memiliki hak dan urusan samawi, pengampusan dosa, dan penjualan tanah sorga tetapi juga menjadi pihak yang harus lobi orang-orang yang ambisius dan haus jabatan duniawi. Dalam lingkungan sedemikian inilah Renaisans, yang merupakan hasil protes para cendikiawan humanis dan yang telah membidani dan memelihara pertumbuhan humanisme, terbentuk. Ciri-ciri Renaisans antara lain ialah sebagai berikut: 1. Renaisans bangkit bukan dari rakyat melainkan dari para tokoh serta seniman pendukung Renaisans. 2. Para elit gereja menjadi sasaran kebencian karena telah memperagakan praktik-praktik kelaliman, ketidakadilan, dan ambisius. Mereka dilawan agar tidak lagi memonopoli urusan jasmani dan ruhani. 3. Keyakinan bahwa manusia tidak memerlukan perantara untuk menjalin hubungan dengan Tuhan menjadi popular. 4. Ikhtiar dan kebebasan manusia mendapat penekanan. 5. Agama menjadi sasaran protes, sedangkan kekayaan pemikiran dan seni masa-masa politeis Yunani kuno dipandang sebagai model yang tepat untuk membina dan mengembangkan potensi manusia. 6. Masyarakat diwarnai kecenderungan secara berlebihan kepada ilmu-ilmu yang memiliki akses langsung di tengah masyarakat seperti tehnik, retorika, politik, sejarah, dan dialektika. Ilmu logika dan teoritis serta ilmu mengenai metafisik dihindari. 7. Terdapat kecenderungan kepada keindahan-keindahan dan kenikmatan jasmani yang tadinya terabaikan. 8. Perhatian terkonsentrasi kepada kemampuan akal manusia yang tadinya dipandang bertolak belakang dengan agama oleh para pembesar gereja. 9. Kandungan syair banyak diperhatikan dari aspek amoralnya. 10. Tuhan dan urusan ketuhanan terabaikan karena manusia dan urusan kemanusiaan mendapat penekanan secara ekstrim. 11. Tradisi-tradisi keagamaan disorot dengan sikap skeptis dan dogma-dogma agama ditentang. 12. Pendidikan-pendidikan berbau feodalisme menjadi marak. Pengetahuan-pengetahuan profan menjadi perhatian sebagaimana perhatian yang diberikan masyarakat era klasik kepadanya, sementara hal-hal yang mengarah keapda kenikmatan hawa nafsu pada era politesme klasik justru dijadikan sebagai kriteria moralitas. 13. Kebendaan dan faktor duniawi dijadikan obyek kesenian, sementara spiritualitas dijauhkan dari sentuhan seni. Seni-seni patung dan lukis antara lain dijadikan media untuk memuja keindahan bentuk tubuh wanita dan pria. 14. Alam gaib dilupakan sementara alam fisik dijadikan sebagai satu-satunya obyek perhatian. Dalam era Renaisans, sebagian kaum humanis mengambil sikap yang moderat dalam masalah kebebasan berpikir. Tetapi sebagian lain adalah kelompok yang sudah tidak lagi memiliki kecenderungan kepada agama. Mengenai kaum humanis beragama, kita bisa sebutkan ciri-ciri mereka sebagai berikut: 1. Mereka mengupayakan reformasi keagamaan yang antara lain dengan cara menghapus peranan para penguasa gereja sebagai perantara antara Tuhan dan manusia. 2. Mereka memandang penafsiran-penafsiran para pemuka gereja mengenai kitab suci banyak diwarnai dengan tendensi-tendensi untuk memegang kekuasaan. 3. Ajaran-ajaran era klasik mereka anggap sebagai jaran-ajaran yangs ejalan dengan fitrah sebagaimana ajaran Kristen. 4. Mereka mengajukan gagasan toleransi demi keharmonisan antar berbagai agama. 5. Menurut mereka, agama adalah agama untuk dunia fana ini. Adapun ciri-ciri para humanis yang tak beragama ialah: 1. Mereka melepaskan agama dan memilih dunia karena agama dan dunia mereka pahami sebagai dua kategori yang kontras satu dengan yang lain. 2. Mereka menganggap kekristenan sebagai semacam mitos, dan menentang sikap rendah diri, ketakwaan, dan keterikatan batin kepada dunia akhirat. 3. Mereka menentang keabadian yang dijanjikan Tuhan. Keabadian di mata mereka ialah berupa karya-karya monumental di dunia. Nama baik, lukisan, dan patung-patung orang-orang yang berkarya besar mereka anggap sebagai manifestasi keabadian tersebut. 4. Keyakinan kepada astrologi, khurafat, dan kekuatan-kekuatan magis mereka jadikan sebagai nati keyakinan kepada alam supra natural. [1] Encyclopedia of Philosophy, Paul Edwards, jilid IV hal. 69, 70. [2] Ibid. halaman 70 [3] Dalam mitos-mitos Yunani disebutkan bahwa Phyromitos adalah telah menciptakan manusia dan memberinya akal dan kemampuan berbicara, membaca, dan menulis. [4] Ibid. jilid IV halaman 70. [5] Encyclopedia Britanica, cetakan ke 15, jilid IV halaman 137 [6] Encyclopedia of Phylosophy jilid IV halaman 70. [7] Ibid. [8] Encyclopedia Britanica jilid IV, halaman 137-138. [9] Encyclopedia of Philosophy IV, 71 [10] Encyclopedia of Philosophy IV, 72 [11] Saer-e Takamul-e Aql-e Nouin ( Evolusi Akal Baru) oleh Herman Randall terjemahan (Persia) oleh Abol Qasim Painde jilid I halaman 37-40. [12] Hosea, VI,6. [13] Ibid, halaman 25 [14] Dikutip dari buku Renissance in Italy, bagian IV, bab II [15] Sejarah Filsafat Barat, Bertrand Russell, terjemahan (Persia) oleh Daryabandari, buku ketiga halaman 18-19. [16] Will Durant dalam buku The Story of Philosophy edisi Persia terjemahan Safdar Taqi Zadeh dan Abu Thalib Sharimi, jilid V halaman 88. [17] Erasmus, karya James Mack Konica terjemahan bahasa Persia oleh Abdullah Katsiri, hal 72. [18] Ibid, halaman 105. [19] Ibid, halaman 75 [20] Ibid, halaman 115 [21] Ibid, halaman 102 [22] Ibid, halaman 40 [23] Ibid, halaman 102 [24] Ibid, halaman 113. [25] Ibid, halaman 15 [26] Ibid, halaman 23-24 [27] The Story of Civilisation…, halaman 98 [28] Menurut paham stoicisme, ikhtiar manusia akan terwujud apabila hawa nafsu sudah dikalahkan oleh akal. Amal baik dan budi luhur merupakan perkara yang sejalan dengan akal. Para penganut paham ini menentang sikap menuruti hawa nafsu [29] Ibid. [30] The Story of Philosophy, Bertrand Russel, edisi Persia terjemahan Najaf Daryabandari halaman 14-15. [31] Ibid, halaman 20-21 Tulisan ini saya kutip dan saya terjemahkan dari buku Naqd bar Mabna-e Makrifat Syenashie Humanisti (The Humanistic Epistemology: A Critical Aproach it's Root) karya Ny. Maryam Shani' Pour (penulis Iran).
|
||