![]()
|
![]() |
|||
![]() |
||||
![]() |
||||
![]() |
![]() |
Pengamen “Putus cinta… gak sama dengan putus tali kolor… ditarik talinya makin kendor…” Ingin rasanya aku mematahkan gitar pengamen itu menjadi dua dan menjejalkannya ke tenggorokannya. Dengan kasar aku membuka jendela mobilku dan melemparkan beberapa keping uang recehan ke tepi jalan. Dia mengeluarkan beberapa umpatan saat dia memungut uang receh yang kulemparkan. Aku tak memedulikannya dan menutup jendela mobilku. Ke mana aku pergi, aku tak tahu. Aku hanya ingin menghapus sebuah kenangan. Kenangan yang melekat dengan kuatnya di benakku. Kenangan Lana yang selalu duduk di kursi penumpang di sebelahku. Seminggu yang lalu Lana meninggalkanku, pacarnya yang sudah bersamanya selama tiga tahun. Tidak, bukan meninggal. Walaupun, kadang-kadang aku berharap itulah yang terjadi. Setidaknya yang kurasakan akan berbeda dengan perasaanku sekarang. Marah karena dikhianati, kecewa karena dibohongi, sepi karena ditinggalkan, sedih karena kekosongan. Masih terngiang-ngiang di kupingku alasan bodohnya untuk meninggalkanku. “Maafkan aku, aku sudah… tidak bisa mengerti jalan pikiranmu lagi. Lebih baik kita tidak bertemu dulu untuk sementara...” Lalu dia akan menyebutkan namaku dengan suaranya yang lembut. Nada yang selalu dapat meluluhkan kekerasan hatiku. “Jason.” Dia akan selalu memanggil, dengan nada memohon. Dengan satu kata itu saja, dia dapat menghilangkan semua rasa kesal amarah yang rasanya tak pernah absen dari hatiku. Ia jarang sekali memanggil namaku dengan lengkap. Biasanya ia selalu memanggilku “Jay”. Itu hanya menunjukkan berapa jauh jarak diantara kita sekarang. Lana selalu mengatakan bahwa ia menyukai namaku. Katanya, ‘Jason’ artinya ‘penyembuh’ dalam bahasa Yunani. Sambil tertawa, aku akan mengatakan bahwa nama yang cocok bagiku adalah ‘Odysseus’, artinya ‘pemarah’ Kami menekuni bidang yang sama, etimologi dan linguistik. Dulu, kami tak terpisahkan. Bunyi klakson dari mobil di belakangku segera membuyarkan lamunanku. Setengah sadar setengah tidak, aku menjalankan mobilku menuruni jalan. Tak sampai dua ratus meter dari sana, mobilku sudah terhenti oleh lampu merah. Beberapa orang pengamen mulai menghampiri mobilku. “Tertegun ku memandangmu … Saat kau tinggalkanku ... menangis. Bodohnya ku mengharapmu… Jelas sudah tak kau pedulikan cintaku” Temperamenku mulai naik. Aku tidak pernah menyukai pengamen. Benalu tak berguna yang bisanya hanya menyanyi dengan suara yang pas-pasan. Apalagi, lagu-lagu yang mereka lantunkan seolah menyindirku. Lana selalu tertawa kalau aku mengatakan ini. “Mereka hanya pengamen.” Katanya selalu “Jangan terlalu dipikirkan. Mereka tidak mengenalmu, bagaimana caranya mereka menyindirmu? Kamu ada-ada saja.” Lalu ia akan tertawa seraya mengelus kepalaku. Aku tersadar dari lamunanku. Begitu lampu berubah hijau, kuinjak gas tanpa pikir-pikir lagi. Untuk sementara, jalanan lancar dan aku belum menemukan adanya pengamen. Aku menyalakan iPodku yang terhubung ke radio mobil untuk mengisi kesunyian yang biasanya diisi oleh canda tawa Lana. “It’s sad, it’s sad… It’s a sad sad situation and it’s getting more and more absurd… It’s sad… so sad… Why can’t we talk it over? Oh it seems to me… Sorry seems to be the hardest word…” Aku meringis. Lagu yang paling tidak ingin kudengar pada saat seperti ini. Lagu yang membuatku merasa sangat bersalah atas situasi ini. Ya benar… sebenarnya aku… Sebenarnya aku tak bisa hidup tanpanya. Lana sudah mengambil terlalu banyak bagian dalam hidupku. Aku harus mengakui, tiga tahun bersamanya adalah tahun-tahun terbaik yang pernah kulewati. “Apa yang terjadi pada kita?” itu yang Lana katakan saat air matanya tidak terbendung lagi. Benar Lana, apa yang terjadi? Kita terlalu banyak bersama? Itukah? Bukankah normal bagi orang yang saling mencintai untuk bersama? Apakah salah kalau aku selalu ingin berada di dekatmu? Kau mengatakan aku terlalu posesif. Tapi, wajarlah aku marah kalau kamu memperlakukan orang lain sama seperti kamu memperlakukan aku. Aku kira… aku spesial bagimu… ya kan? Aku berbeda dari yang lain. Bukankah itu yang selalu kaukatakan padaku? Kamu tidak pernah lelah mengatakan betapa sayangnya kamu padaku. Salahkah aku kalau aku mengkehendaki semua perhatian itu untukku? Tidak Lana, aku pun sudah tidak bisa mengerti jalan pikiranmu. Mungkin memang lebih baik kita berpisah. Saat aku berpikir demikian, lagu itu habis dan berganti lagu lain. “Salahkah aku mencintaimu… memilikimu… menyayangimu…? Jangan paksakan kita untuk selalu bersama… Jangan paksakan kita untuk selalu mencinta… Bila kita harus berpisah sudah… Biarkan ini semua berakhir sudah… Cinta memang tak harus milikinya…” Mungkinkah aku melupakannya dan meninggalkan kenangan ini? “Ya, kalau kamu berhenti memikirkannya.” Kata suara kecil dalam diriku. Seolah-olah setuju, aku mematikan iPodku dan untuk sesaat hanya keheningan yang memenuhi mobilku. Aku menyetir tak tentu arah. Hanya berputar-putar dan mengikuti arus mobil yang melaju. Pikiranku kosong, untuk beberapa jam saja aku dapat melupakan Lana. Lampu merah mencegatku lagi, dan beberapa pengamen kembali menghampiri mobilku. Aku tidak menghiraukan mereka. Beberapa saat setelahnya, sebuah mobil berhenti di sebelahku. Mobil antik berwarna hijau limau dan unik. “Jay, jay! Lihat tuh! Mobilnya Mr. Bean!” Aku tersentak. Aku menoleh ke kursi penumpang, namun tidak ada siapa-siapa. Aku merasakan keringat dinginku mengalir. Aku terdiam beberapa saat. “Ya Tuhan…” aku membenturkan kepalaku pelan pada setir “Seburuk itukah keadaanku tanpanya?” ŠŠŠ Setelah itu aku berusaha membunuh kesunyian dengan menyalakan radio. Aku memutar-mutar tuning mencoba mencari acara radio yang dapat menolongku. “… nda sedang mendengarkan acara Oldie Only, dua jam penuh hanya dengan tembang-tembang jadul favorit Anda! Lagu pertama Kupu-kupu Kertas request dari…” Aku menghela nafas lega. Setidaknya ini akan mengalihkan pikiranku dari Lana. Lagu itu mengalun beberapa menit, tapi tiba-tiba terpotong. “Yaaaah, ternyata waktu kita sudah habis. Acara selanjutnya Heartbreak Café buat kamu-kamu yang lagi sediiiiih sekarang. Mungkin ditinggalin doi? Yah, introspeksi deh. Siapa tahu kamu juga yang salah… Anyway, lagu pertama kita…” “AaaaaaaRRrrrGh!!!” erangku marah dan memukul kaca jendela mobilku keras-keras. INI KONSPIRASI! Para pengamen, iPodku dan stasiun radio brengsek ini berkonspirasi untuk mengacaukan perasaanku. Tanganku bergerak untuk mematikan radio laknat itu, namun tanganku terhenti. Untuk sesaat aku mengira aku mendengar suara Lana. Lagu ini… lagu yang sering kudengar bersamanya. Aku selalu berkata suaranya mirip dengan penyanyinya. Lembut dan sedikit manja. “Selepas kau pergi tinggallah disini ku sendiri… Kumerasakan sesuatu yang t’lah hilang di dalam hidupku Dalam lubuk hatimu ku yakin kaupun sebenarnya tak inginkan lepas dariku Tahukah kau kini ku terluka Bantu aku membencimu… Ku terlalu mencintaimu Dirimu begitu… Berarti untukku… Kau telah mencinta Dan dicintai kekasihmu Ini tak adil bagiku Hilanglah damba tinggallah hampa Lupakanku dalam tidurmu Yang pernah mencintaimu Kau memang tercipta Bukanlah untukku”
Masih teringat olehku pembicaraan kami setahun lalu “Kenapa sih kamu suka banget sama lagu ini? Ini kan lagu patah hati!” protes Lana. “Suaranya mirip kamu.” Aku tertawa dan menepuk kepalanya “Lagian, rasanya seperti dimarahin anak kecil.” “APA MAKSUDNYA??” ia memanyunkan bibirnya, tapi itu hanya membuatku tertawa lebih keras. Setelah beberapa saat, ia menyenderkan kepalanya ke bahuku. “Tapi… berbeda dengan lagu itu…” ia tersenyum lirih “Kamu tidak akan pergi ke mana-mana kan?” Tiba-tiba aku tersadar. Semua ini karena ketololanku. Akulah yang salah. Aku yang harus minta maaf pada Lana. Yang menderita karena perpisahan ini bukan hanya aku saja, tapi Lana juga. Akulah yang marah karena hal kecil, akulah yang bersikap kekanak-kanakan. Lana yang harus sabar menghadapiku, tapi aku tidak pernah menghiraukannya. Masih pantaskah aku bilang aku mencintainya? Berkali-kali aku mengumpat diriku sendiri. Aku membanting setir ke kanan dan memutar mobilku. Mobil-mobil dibelakangku mengklakson marah, tapi tidak kuhiraukan. Aku harus ke tempat Lana, secepatnya. Aku memacu mobilku secepat mungkin. Pikiranku sibuk menyusun kalimat demi kalimat yang akan kukatakan pada Lana untuk memohonnya kembali. Tanpa kusadari, ada pengamen yang sedang menyebrangi jalan. Kecepatanku tidak memungkinkanku untuk mengerem. Refleks aku membanting setir dan mobilku membentur tiang jembatan dengan keras. Ya Tuhan, aku benci pengamen. Hal terakhir yang kuingat adalah kaca mobilku yang pecah, kepalaku yang berdarah karena membentur setir, serta kakiku yang terjepit, tak bisa bergerak. Kemudian semuanya gelap. ŠŠŠ Samar-samar aku mencium sebuah aroma. Aroma yang sangat kukenal. Aroma cologne Lana yang selalu ada di dekatku. Saat perlahan kubuka mata, aku melihat sosok Lana yang menangis sambil memegangi tanganku. Beberapa orang berbaju putih mengatakan sesuatu kepadanya lalu sosok Lana mulai menjauh. Bukan, aku yang dibawa pergi. Tanganku mencoba menggapai sosoknya, namun hanya rasa sakit yang luar biasa yang merespon usahaku. Rasa sakit yang meyakinkanku bahwa ini bukan mimpi. Aroma samar yang kurindukan itu berganti dengan bau disinfektan. Kemudian kesadaranku menghilang lagi. ŠŠŠ ”KAMU TOLOL YAAH???” bentak Charlie sahabatku tanpa basi-basi “Orang macam apa kedua kakinya patah gara-gara ngebut, padahal udah tahu kita lagi sibuk-sibuknya?? Skripsi gimana mas, GIMANA??” “Udah, udah… orang lagi sakit kok digituin siih…” Rangga membelaku, biarpun dengan kejamnya ia melahap buah-buahan hadiah dari kerabatku “Iya maaaaf…” sahutku dengan nada memelas. “Habisnya gimana, gue kan ga mau nabrak orang (biarpun cuma pengamen), bisa-bisa seumur hidup ga tidur.” Charlie menghela nafas, menyerah menghadapiku “Mau gimana lagi, kamu yang salah sih.” “Maksudnya?” aku mengangkat alis. Setelah beberapa saat, aku tersadar. “Oh.” “Aku sudah tahu.” Sambungku. “Aku memang berencana meminta maaf kok. Aku hanya… perlu waktu menyiapkan kata-kata yang tepat.” “Semoga sepuluh detik cukup untuk menyiapkan pidatomu, karena Lana sudah ada di luar.” Rangga tersenyum kecil sambil melirik ke pintu. “Dia sudah ada di sana sejak kamu masuk ke sini.” “Aku panggil masuk ya?” katanya sambil mengisyaratkan Charlie untuk keluar bersamanya. Aku panik, tidak pernah kusangka akan setiba-tiba ini. “Tu-tu-tunggu dulu!” “Udah deh, ga usah sok keren, apa adanya aja.” Charlie menjitak kepalaku “Tahu nggak dia takut banget masuk ke sini, karena takut kamu masih marah?” Seolah rasa bersalahku belum cukup, Rangga menambahkan “Bikin cewek nangis itu dosa berat, Son. Bisa disiksa seribu tahun di neraka. Apalagi cewek macam Lana hanya ada satu dalam sejuta.” “Kalo kamu nggak mau, buat gue deh, Son.” Charlie tersenyum jahil. “Enak aja!” protesku keras “Gak bakal gue kasih! Langkahin dulu mayat gue!” “Bercanda, bercanda…” ia tertawa “Tapi bagus deh, tuh kamu udah bisa jujur.” Wajahku serta merta memerah. Charlie dan Rangga bertukar senyum, lalu keluar. Beberapa saat kemudian, Lana masuk. Aku menunduk, tak berani menatap langsung ke matanya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Beberapa saat kemudian, aku melihat tubuhnya bergetar. Ia menangis...? “BUODOOOH!!!” pekiknya kencang sambil memukulku. Garis bawahi: memukul, bukan menampar. Menonjok, lebih tepatnya. Aku terkejut setengah mati. Bukan sakit yang menyerangku, tapi rasa takut. Tidak pernah kulihat Lana semarah ini. Lalu ia tertunduk lagi. Kali ini aku yakin ia menangis. “La-Lana?” takut-takut aku mencoba merengkuhnya. “Kamu tahu berapa lama aku ketakutan di luar sana? Lima hari, Jay. LIMA HARI. Aku terus ketakutan SERATUS DUA PULUH JAM. Waktu ada telepon yang mengatakan kamu kecelakaan, jantungku nyaris loncat keluar dari mulut, tahu! Aku pikir kamu ga akan selamat! Aku pikir kamu akan mati! Aku pikir kita ga akan ketemu lagi! Aku pikir… aku pikir…” air matanya mengalir di pipinya dan menetes ke bajunya. “Aku pikir pertemuan terakhir kita harus sesedih itu.” Aku memandangnya penuh rasa bersalah dan sedih. Aku menggapai tangannya, lalu memeluknya “Aku minta maaf.” “Aku juga.” Isaknya dalam pelukanku. “Tapi Lana, kamu lupa satu hal. Aku pernah berjanji padamu.” Sahutku sambil menyeka air matanya. Ia mendongak memandangku, menunggu lanjutan kalimatku. “Aku tidak akan pergi kemana-mana.”
”Dan bila mentari esok kan bersinar lagi Kehilanganmu”
Saat senyum Lana mulai merekah kembali, aku menyadari arti hadirnya bagiku.
Kadang-kadang kita melihat orang di sekeliling kita apa adanya, tanpa pernah berpikir “Bagaimana seandainya kalau…” dan baru menyadari betapa penting kehadirannya setelah kehilangannya.
Mungkin hari ini, mungkin besok, tapi akan tiba saatnya kita tidak akan bisa lagi ada bersama mereka yang kita cintai.
Sampai saat itu tiba, jangan sampai ada penyesalan di dalam hatimu.
ŠŠŠ
“Eh, Jay. Tahu ga? Waktu kemarin aku naik angkot, ada pengamen yang nyanyiin lagu original bikinan dia sendiri!” senyum ceria Lana kembali mengembang. “Oh ya? Kayak gimana lagunya?” aku bertanya bertepatan dengan berhentinya mobilku di lampu merah. Seperti biasanya, ada pengamen yang berusaha menarik untung. “Putus cinta… ga sama dengan putus tali kolor… ditarik talinya makin kendor…” “Kayak gitu!” Lana tertawa dan menyerahkan selembar lima ribuan untuk pengamen itu.
ŠŠŠ C’EST FINI ŠŠŠ © monogatari 2006 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||