LIFE
By monogatari -
 Letizia S. Margo
inspired by true person

Alexis memandang piring lebar di depannya. Dua buah telur mata sapi dan sebuah sosis goreng terletak di dalamnya. Saking kreatif (atau euweuh gawe)nya mamanya, telur mata sapinya dibentuk jadi mata, dan sosisnya jadi mulut tersenyum.

 “Telor lagi? Gak ada yang laen ya, Ma?” protesnya kepada mamanya yang masih sibuk di depan penggorengan.

 “Telur itu sehat, Alex.” Sahut mamanya sambil tangannya terus bekerja.

 “Aku makan roti aja deh.” Cetusnya kemudian seraya meraih tempat roti.

 Papanya yang sedari tadi tidak berbicara menurunkan korannya dan melihat piring Alex yang masih penuh “Alex, jangan buang-buang makanan.”

“Nanti kumakan, tenang aja.” Balasnya membela diri.

“Oh gitu? Kalo begitu, cepat. Sudah hampir jam setengah tujuh.” Kata papanya cuek dan kembali ke korannya.

 Alex berteriak terkejut “Hah?? Serius? Aku makan sambil jalan deh! Dah Pa, Ma.”

 “Eh! Tunggu dulu! Sarapan kamu gimana?” mamanya menunjuk sarapan Alex yang belum tersentuh.

 “Aduuuuh… telat niih… buat papa atau mama aja deh… Alex pergi dulu ya!”

 Alexis segera menyambar tasnya dan terbang keluar jendela. Ya gak lah, lewat pintu.

 Mama Alex geleng-geleng kepala lalu memandang Papa Alex dengan sejuta arti…

 “Ya udah Ma, jual di E-Bay aja, siapa tau laku berapa.” kata papa sekenanya.

 Mama Alex geleng-geleng kepala lagi. Orang tua sama anak sama kacaunya.

 ***

 Alex berlari di koridor dengan penuh semangat. Hari ini, HARI INI PASTI, dia gak boleh telat. Bisa diganyang ntar. Mampus dah dia gak boleh ulangan, apalagi ini buat nilai rapot.

‘Ne no ne ne no net… ne net… ne no ne no net…’

Berbunyilah bel sekolah yang mirip lagu es krim Waltz. Tinggal beberapa langkah lagi… Ayo Alex kamu bisa! Tunjukkan semangatmu! Bawa pulang medali untuk Indonesia! (naon seh…)

Sampai! Semua anak sudah ada di dalam kelas. Bu Gurunya tercinta sudah stand by di meja guru. Dengan kata lain, yang dapat mendefinisikan ketelatan dia sekarang hanyalah welas asih sang guru.

 Alex hanya bisa cengengesan dengan maksud membuat sang guru ngerasa kasian sama dia, yang tampangnya udah mirip orang sembelit dua hari.

Sang guru tersenyum, manis banget.

 “Silahkan kamu ke ruang piket.”

 JEGER.

 ***

Setelah dimarah-marah, dicela-cela, disindir-sindir, dan diberi-beri tugas, akhirnya dia sukses pulang dengan selamat setelah menulis essay panjang. Tiga sampai enam paragraf, satu paragraf satu halaman dengan memperhatikan kalimat topik dan tanda baca. Kalimat topiknya juga tidak boleh terlalu sempit, misalnya “Keterlambatan Alex Karena Dua Telur Mata Sapi dan Sosis Goreng”.

Akhirnya pulanglah Alex pada pukul tiga sore. Lapar, belum makan siang, kehabisan uang dan perbekalan, pokoknya menyedihkan. Sampailah ia di rumah. Dibukanya tudung saji. Cuma ada notes merah muda norak yang sudah pasti, tanpa diragukan, fakta mutlak ditulis oleh mamanya.

Alexis sayang, Mama pergi ke salon. Pulang sekitar jam 5. Papa ke kantor seperti biasa, pulangnya nanti malam. Mama gak sempat bikin apa-apa, kamu goreng telor aja ya, Lex? Sarapan kamu udah Mama jual ke E-bay. Papa yang suruh, salahin Papa.”

Terus ada tulisan ‘Mama’ pakai bolpen pink yang diukir-ukir terus dikasih bunga yang banyak. Alex ngeliatnya sampe ilfil.

Telor lagi, telor lagi. Gue bisulan baru tau rasa tuh.

Sebenci apapun Alex pada telur, tetap saja dia memilih makan telur daripada mati kelaparan. Dituangkannya minyak pada penggorengan yang ada di atas kompor.

 Setelah yakin bahwa minyaknya sudah cukup panas (dengan memegangnya… ya gak lah!), Alexis mengambil sebuah telur dari tumpukan telur lainnya. Heran, tiba-tiba rumah ini jadi seperti istana telur, pikirnya. Sengaja ia pilih telur yang di berada di tumpukan bawah, supaya kalau busuk bisa dia serahkan semuanya ke pemerintah demi menemukan serum flu burung (Ga nyambung? Emang…). Memecahkannya, lalu menuangkan isinya ke penggorengan.

Dia bengong. Yang keluar dari telur itu bukanlah kuning atau putih telur yang biasa.

Yang keluar adalah sebentuk makhluk menyeramkan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Warnanya kemerah-merahan menjijikkan. Badannya tertutup lendir seperti darah dan berbulu pendek-pendek. Terlihat sayapnya yang masih belum terbentuk dengan sempurna. Paruhnya membuka menutup seperti mengambil nafas. Ia mengeluarkan bunyi mendesis mengerikan saat bersentuhan dengan minyak panas.

Alex terperanjat lalu refleks segera mematikan apinya. Dia diam terpaku di situ. Lama sekali, terus memandang anak ayam itu.

Apa… apa ini?

 Anak ayam itu tidak bergerak lagi. Sebentar, hidupnya sebentar sekali. Dia lahir ke dunia di atas sebuah penggorengan.

Manusia adalah makhluk yang hanya bisa hidup dengan membunuh makhluk lainnya.

 Sebenarnya semua makhluk pun begitu.

 Jika kita lahir di dunia untuk membunuh…

Kenapa hanya manusia yang diberikan hati nurani? 

Alexis menggali sebuah lubang kecil di halaman belakang rumah. Dituangkannya anak ayam itu dari penggorengan ke dalam lubang itu.

***

Mama Alex memasuki dapur pagi-pagi sekali, sambil menguap lelah. Ngantuk memang, malas memang, tapi kalau bukan dia yang bikin sarapan, siapa lagi? Kewajiban seorang ibu memang… oh *air mata terharu*

 Dia tersentak saat melihat anak semata wayangnya sedang berkutat di depan kompor.

 “ALEX??” Mama Alex menjerit histeris “NGAPAIN KAMU DI DAPUR PAGI-PAGI GINI!??”

Alex kaget mendengar suara mamanya yang mirip penyanyi seriosa. Untung panci di tangannya gak ngacleng. Setelah detak jantungnya normal lagi, akhirnya dia menjawab “Masak, masa gak kelihatan sih?”

Si Mama masih terbengong-bengong. 17 tahun anaknya hidup, belum pernah sekalipun dia bangun sepagi ini. Apalagi buat masak. Otomatis mamanya menaruh tangannya di dahi Alex. “Lex, Lex sayang, kamu gak papa? Gak masuk angin kan? Kemarin kamu pulang lewat pohon gede mana?”

Diem-diem si Alex keki juga. Udah dipanggil Lex-Lex kaya nama anjing, masa cuman gara-gara masak dikira kesambet sih? “Alex gak papa, Ma. Habisnya kalo Mama yang masak sarapan telor mulu sih, ga papa kan kalo Alex pengen variasi?”

Mama Alex ber-ooooh panjang lalu manggut-manggut, sambil melirik isi panci yang dari tadi diaduk-aduk Alex. “Bikin apa Lex?”

 “Havermout.” Sahutnya sambil tersenyum senang “Sehat loh.”

Buset, anak gue kesambet setan mana nih. Tapi diam-diam, Mama Alex tersenyum. Anaknya terlihat lebih dewasa sekarang. Entah apa yang terjadi, tapi Alex terlihat lebih dewasa dan bertanggung jawab (anak mama smart!) pikir sang Mama.

Tepat pukul 05.45, jam biologis sang Papa bekerja. Dia turun ke dapur buat menagih koran wajibnya. Dia kaget melihat keluarganya udah kumpul di dapur. Yang lebih parahnya, yang ada di depan kompor itu Alex, bukan mamanya.

 “Hoh?” Papa Alex terbengong-bengong “Papa yang kesiangan, kalian yang kepagian, ato ini cuman mimpi?”

“Mimpi.” Jawab Mama Alex dan Alex bareng-bareng. Udah tau masih nanya lagi.

“Ooooh, mimpi toh. Bagus, bagus.” Sahut sang Papa gaya Pak Tino Sidin terus naek lagi. Kayanya dia mau tidur lagi biar bangun dari mimpi. Mama Alex geleng-geleng kepala lagi. Lama-lama ngagorolong tuh kepala.

 Beliau terus mengawasi Alexis mengaduk-aduk panci di depannya. Setelah beberapa saat, ia memecah keheningan “Sebenarnya ada apa sih Lex?”

“Ada apa apanya Ma?” Alexis balas bertanya, biarpun sebenarnya dia sudah tahu apa yang mamanya maksudkan.

“Kamu gak pernah bangun sepagi ini. Kalaupun pernah juga paling buat nonton film jadul di tivi kabel. Gak mungkin hanya karena bosen sarapan telor kamu sampe bela-belain gini.”

 Alex terkejut. Ternyata mamanya tahu obsesinya atas film-film River Phoenix--- bukan, ternyata mamanya tahu apa yang sebenarnya dipikirkannya. Akhirnya, ia menceritakan kejadian kemarin. Bagaimana seekor anak ayam menetas –ditetaskan, lebih tepatnya - di atas penggorengan.

© monogatari 2006

Hosted by www.Geocities.ws

1