Blanc et Noir
By monogatari - Letizia S. Margo

MUNAFIK. Sebuah kata yang menggambarkan sifat yang dibenci semua orang. Menunjukkan kepura-puraan, kepalsuan, kebohongan. Sesuatu di dalam seseorang yang dibenci oleh orang lain. Tapi, benarkah begitu?

 Karena menurutku tidak.

 Hai, kenalkan. Namaku Valent, siswi kelas sepuluh di sebuah SMU ternama di kota Bandung. Aku punya satu kakak laki-laki dan satu adik perempuan. Kakakku adalah seorang ‘idola’. Dia juara kelas, atlit basket, vokalis band sekolah, dan wajahnya tampan. Sedangkan adikku, yah… dia lebih daripada itu. Waktu SMP ia masuk ke kelas akselerasi, sehingga sekarang ia setingkat denganku. Yang membuat situasi lebih parah, dia masuk ke SMU yang sama denganku DAN masuk ke kelas akselerasi juga. Dengan kata lain, ia akan lulus SMU lebih cepat daripadaku.

 Kadang aku menyalahkan orang tuaku untuk menurunkan gen dan sel otak yang begitu sempurna kepada mereka. Bukannya aku merasa rendah diri, tapi dengan lingkungan seperti ini, siapa yang tidak? Walaupun harus diakui akupun dikaruniai banyak bakat dan talenta, sungguh tidak mudah hidup dengan dibanding-bandingkan dengan dua orang manusia hebat ini. Orang tuaku, mengingat mereka adalah dokter dengan gelar professor, berharap yang terbaik dari kami. Dan kau tahu, kan, kalau ada yang sempurna, yang baik tak terlihat, kalau kau mengerti maksudku. Prestasiku tertutup oleh piagam, piala, dan sertifikat kakakku dan adikku.

 Ah, sebelum aku melanjutkan lebih jauh, tentu kata-kataku pada awal cerita ini membuatmu heran. Bukannya menyombong, tapi aku suka menganalisa sesuatu. Nah, berkaitan dengan cita-citaku sebagai sosiolog, aku ingin menceritakan kepadamu tentang hasil analisaku sendiri terhadap kehidupanku, terhadap manusia, dan kehidupan masyarakat.

 Mungkin kamu berpikir bahwa kondisiku sekarang terasa mengada-ngada dan fiktif. Mungkin kamu berkata kepada dirimu sendiri bahwa ini tak akan terjadi padamu atau keluargamu. Atau bahkan kamu tidak akan berpikir ini terjadi di kehidupan nyata.  Tapi, biar kutegaskan kepadamu. Ini terjadi. Ini terjadi di kehidupan nyata. Ini terjadi di mana-mana. Berlawanan dengan prinsip umum bahwa ‘tidak ada orang yang sempurna’, sebenarnya banyak orang di dunia ini yang ‘sempurna’. Setidaknya di permukaan.

 Kita mengenal semuanya di dunia ini dibagi dua. Baik dan buruk, jahat dan baik, laki-laki dan perempuan, dan sebagainya. Katakan saja “Hitam” dan “Putih”. Hanya hitam dan putih, monokrom.

 Masyarakat adalah masyarakat yang ‘putih’, dengan moral baik, peraturan-peraturan dan tata tertib yang baik. Dalam masyarakat umum, hanya yang baik yang diterima. Baik dalam arti tidak menyimpang atau berbeda dari sebuah figur yang diset dalam masyarakat.

 Tapi, apakah semua manusia itu baik? Apakah semua manusia itu ‘putih’? Apakah semua manusia itu bersih? Tidak, tentu saja tidak. Tidak ada manusia yang benar-benar jahat, dan tidak ada yang benar-benar baik. Tentu mereka yang ingin diterima di masyarakat lebih menonjolkan sisi putih mereka, bukannya sisi hitam yang dianggap buruk oleh masyarakat. Itulah sebabnya semua orang yang baru kaukenal akan memberikan kesan bahwa ia orang baik (kecuali kalau ia bersikap apa adanya tanpa berusaha menjaga imej baik) dan setelah kau kenal dengan baik, kau mulai menyadari sisi-sisi buruknya.

 Ini juga yang menyebabkan kenapa orang lebih sering bertengkar dengan teman dekat, orang tua atau anak, suami atau istri, pacar, dan orang-orang dekat seperti adik kakak. Karena semua orang tidak bisa berpura-pura selamanya. Mungkin kau bisa menjaga imej baikmu setelah satu, dua, atau sepuluh pertemuan. Mungkin kau bisa mempertahankan kesan baik dari orang yang baru kau kenal. Tapi ke orang-orang terdekatmu, kau akan lebih bersikap terbuka dan apa adanya. Terkadang, sikapmu yang jujur ini bertentangan dengan mereka dan menyebabkan pertentangan atau pertengkaran.

 Dalam bahasa Inggris dikenal istilah ‘guilty pleasure’ atau kesenangan yang salah. Jangan berpikiran negatif dulu. Misalnya kamu adalah seorang lelaki berusia 27 tahun dengan wajah tampan dan pergaulan baik. Tapi  pada kenyataannya, kamu punya guilty pleasure yaitu kamu menyukai film-film anak-anak seperti Spongebob Squarepants atau Doraemon. Ini adalah sisi hitam yang biasanya kamu tutupi dari mata teman-temanmu sesama anggota geng motor.

 Sisi putih diketahui juga sebagai pemenuhan label masyarakat. Hal-hal seperti usia, gender, prestasi di sekolah, nilai rapor, gaji seorang karyawan, kedudukan, jabatan, gelar dan lain sebagainya. Semua yang digunakan untuk menstratifikasi masyarakat atau menggolongkan masyarakat  adalah label. Manusia sekuat tenaga memenuhi label-label ini tanpa sadar, supaya diterima di masyarakat. Manusia berusaha membuat dirinya menjadi ‘pasir’ agar bisa sesuai dengan sebuah wadah yang disebut ‘masyarakat’. Justru karena sifat pasir yang selalu mencocokkan dirinya dengan wadahnya, maka pasir tidak mempunyai bentuknya sendiri. Karena itu, ‘manusia pasir’ tidak mempunyai dirinya sendiri. Hanyalah pasir yang terbentuk oleh label-label yangn adal di masyarakat. Sebaliknya, jika manusia mengeraskan dirinya menjadi batu yang solid, yang tidak berubah apapun yang terjadi, maka justru ia akan mengalami kesulitan menjejalkan dirinya ke masyarakat. Apabila ia adalah batu yang berbentuk kubus sedangkan masyarakat adalah wadah yang berbentuk bola, maka ia tak dapat masuk ke wadah tersebut. Manusia tidak bisa menjadi diri sendiri, jika ia hanya hidup dalam terangnya sisi putih. Tapi ia juga tidak bisa hidup tanpa adanya wadah jika ia terus keras seperti batu.

 Itulah sebabnya kenapa ada 2 sisi. Ada anak teladan yang selalu dipuji guru, dan ada anak nakal yang ditegur guru.

 Semua manusia mempunyai dua sisi. Blanc (putih) dan Noir (hitam).

 Yah, mungkin sekarang kau sulit memahaminya. Aku pun tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Baca saja cerita ini terus untuk mengerti maksudku.

 Seperti yang kukatakan pada awal cerita ini. Munafik adalah sifat yang menunjukkan kepura-puraan, kepalsuan dan kebohongan. Kemunafikan juga berarti perbedaan antara perkataan dan perbuatan. Misalnya, seseorang berkata A itu buruk, A itu jelek. Tapi, dia sendiri melakukannya. Tanyalah teman di sebelahmu, bagaimana pendapatnya tentang kemunafikan atau orang yang munafik. Tentu, aku yakin, kamu akan mendapatkan respon negatif. Ya, semua orang benci munafik, setuju? Munafik itu berbohong, dan berbohong itu tidak baik. Ya kan?

 Tapi, sebenarnya tidak begitu. Sebenarnya, semua orang itu munafik. Ya, baik kamu, aku, orang tuamu, orang yang kaucintai, semua orang itu munafik. Tapi, sebelum kau membanting buku ini dan berpikir kamu sudah membuang waktu, tolong bacalah buku ini sampai habis untuk mengerti maksudku.

 Tak hanya itu, munafik sebenarnya adalah sifat yang paling disukai orang lain. Sebaliknya jujur itu tidak baik. Kejujuran akan membawamu kepada masalah, percayalah padaku. Aku akan membuktikannya setelah…

 “Kak, ada telepon.” Panggil adikku dari bawah. Aku mengangkat wajahku dari layar komputer dan berhenti mengetik kombinasi essay-cerpen-otobiografi-ku.

 “Halo?” aku menjawab telepon itu.

 “Val? Hei! ‘Pa kabar!” terdengar suara ceria Lucy, teman sekelasku.

 “Oh, hei Luce. Can I help you?” tanyaku sok Inggris.

 “He-eh, biasa.” Aku bisa mendengar dia sedang tersenyum lebar di sana. Ada maunya nih… Aku tahu dia belum punya kelompok untuk tugas Biologi. Aku tahu besok hari pengumpulannya dan nilai ini penting untuk kenaikan kelas. Tapi, supaya ia tidak merasa tidak enak, aku harus pura-pura tidak tahu.

 “Kenapa?” Aku menghela nafas.

 “Mmmm… soal tugas Biologi… “ Tuh kan? Benar kan?

 “Oh iya, aku jadi ingat. Masih ada satu bagian yang belum dibahas. Kamu mau jadi kelompokku?” aku segera mendapat ide.

 “Ya! Ya! Aku mau sekali!” suaranya terdengar lega. Aku memberi tahu apa yang harus ia kerjakan, dan menjelaskan lagi tentang kriterianya.

 Aku menutup telepon dan menghela nafas dengan lega. Dengan begini, aku dan dia tidak merasa tidak enak, dan dia juga dapat nilai. Masalah selesai, walau aku harus sedikit berbohong dan berpura-pura dan membuat alasan untuk anggota kelompokku yang lain. Tapi, sedikit ‘bohong putih’ tidak apa-apa ‘kan? Coba bayangkan betapa tidak enaknya aku kalau tadi aku harus jujur dan menasehatinya tentang ini.

 Aku kembali duduk dan meneruskan karyaku. Sampai mana tadi… Ah. Tentang kejujuran dan masalahnya.

 Kita mengenal adanya ‘berbohong untuk kebaikan’ atau ‘white lies’. Nah, aku yakin kita semua pernah berbohong. Baik itu ‘bohong putih’ atau hanya sebuah kebohongan biasa, aku yakin kita semua pernah berbohong. Seperti yang kukatakan sebelumnya, pada situasi tertentu, lebih baik berbohong. Some things are better left unknown, menurut peribahasa Inggris yang artinya ‘Beberapa hal lebih baik dibiarkan tidak diketahui orang.’

 Biar kucoba membaca pikiranmu saat ini. “Kamu prejudis sekali!”, ya kan? Iya, yang sedang kaubaca sekarang ini terdengar sangat prejudis kan?

 Tapi aku mengatakan pendapatku sejujurnya.

 Lihat, aku sedang bersikap jujur dan kamu sudah sebal pada tulisanku ini, ya kan?

 Kau mungkin berpikir betapa menyebalkannya orang ini. Tapi jangan salah, justru karena semua sifat-sifat yang kau anggap menyebalkan itu aku menjadi anak yang disukai di sekolahku.

 Aku tidak selalu sembunyi-sembunyi dan manipulatif seperti ini. Waktu aku masih SMP, aku masih naif dan jujur setiap saat. Aku tidak mau berbohong hanya untuk menyenangkan orang lain. Dulu aku berprinsip kuat dan blak-blakan. Dulu aku naif dan percaya semua yang terlihat di permukaan. Dulu aku adalah ‘batu’. Temanku banyak sekali dan mereka semua ramah kepadaku.

 Lalu aku mendengarnya.

 Waktu itu, aku sedang ganti baju olahraga di dalam toilet anak perempuan. Lalu terdengar suara-suara gaduh dari luar saat beberapa anak masuk untuk ganti baju juga. Aku mengurungkan niatku untuk keluar saat mendengar namaku disebut.

 “… iya, tuh, si Val. Gila, nancep banget kalo ngomong!”

 “Iya! Emangnya dia siapa sih? Kalau bukan buat otaknya, gue sih males temenan ama dia!”

 “Mentang-mentang dia pinter dia jadi ngerasa tau segala! Dia ga sempurna tau, sadar ga sih dia?

 “Tau ga, dia tuh maksa banget! Gue aja ga kuat temenan sama dia!”

 “Iya, tapi aku tidak berpura-pura dan cari muka ke sana-sini. Aku mungkin blak-blakan, tapi aku selalu mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak menyembunyikan perasaanku dari siapa-siapa. ” Aku berkata sinis sambil membuka pintu toilet lalu keluar. Saat aku melihat ekspresi muka mereka satu-satu, aku sadar bahwa sifat diriku yang lama sudah hilang entah ke mana.

 Mereka terlihat takut padaku dan tidak berani mengatakan apa-apa sepanjang pelajaran. Aku berjalan keluar lapangan sekolah setelah pelajaran olahraga, lalu pulang menggunakan angkutan umum.

 Sesampainya aku di rumah, aku segera naik ke atas ke kamar kakakku. Dia sedang memainkan gitarnya di atas tempat tidur. Aku duduk di sebelahnya lalu bersandar ke bahunya. Ia meletakkan gitarnya lalu menghela nafas dan mengacak-acak rambutku.

 “Tumben ada masalah.” Katanya seraya tersenyum.

 Tanpa bisa ditahan lagi emosiku meledak keluar. Aku menceritakan kejadian tadi siang kepadanya dengan kesal dan kecewa. Aku tak menyangka mereka hanya berpura-pura padaku. Aku tak menyangka mereka sebenarnya berpikir demikian. Aku tak menyangka…

 “Jadi, lebih baik mereka mengatakannya langsung kepadamu?” tanyanya setelah aku berhenti meledak-ledak.

 Aku terdiam. Ragu-ragu.

 “Sebenarnya kamu hanya mencari alasan saja. Kamu bukannya marah karena mereka mengatakannya di belakangmu. Kamu marah karena mereka menemukan kesalahanmu dan kamu tidak bisa menerimanya.”

 Hatiku mencelos. Dalam hati sebenarnya aku sadar bahwa mereka benar. Aku hanya malu. Benar-benar malu. Aku tidak sadar bahwa kelakuanku dibenci. Aku malu karena selama ini salah mengartikan sikap mereka. Aku pikir karena setelah sikapku begini dan mereka tetap baik kepadaku aku kira sikapku itu baik.

 “Tidak ada bedanya apakah mereka mengatakannya di depanmu atau di belakangmu. Itu tidak merubah fakta bahwa mereka berpikir demikian terhadapmu.”

 “Tapi… kalau saja mereka mau jujur…” belaku.

 “Kalau mereka jujur,” potongnya “bahwa mereka tidak menyukaimu dan sikapmu secara terang-terangan, apa kamu akan lebih senang?”

 Dengan kesal aku terpaksa mengakui bahwa dia benar. Bukannya berubah, tentunya aku justru menjauhi mereka dan berpikir bahwa mereka hanya iri

 Aku ingat sikapku biasanya. Jika aku tidak suka seseorang, maka aku tidak akan berpura-pura mendekatinya. Aku bersikap jujur dan menjauhinya. Aku menyadari bahwa sikapku melukainya, tapi aku tidak peduli. Kalau saja aku bersikap biasa-biasa saja, dan sedikit menghindari perasaan tidak sukaku, maka perasaannya tidak akan terlukai.

 “Kakak…”

 “Hmm..?”

 “Kok jujur banget siih… bukannya dihibur… aku jadi ngerasa salah nih…”

 “Karena aku tidak mau memanjakan kamu. Hidup tuh bukannya semanis madu. Kalau aku hanya mengatakan kata-kata yang menyenangkan kamu dan membela kamu, sampai kapanpun kamu akan hidup di dunia ‘bayangan’ kamu sendiri.”

 Semua kata-kata kakakku hari itu menjadi peganganku mulai saat itu. Dunia bayangan yang kuciptakan sudah hilang. Apa yang kukira kenyataan ternyata hanya bayangan saja. Aku melihat dunia ‘yang kuinginkan’, bukan kenyataan. Mulai hari itu, aku hidup dalam ‘kenyataan’. Sepahit apapun itu, semanis apapun itu, aku memilih hidup dalam ‘kenyataan’.

 Kadang aku masih berpikir apakah aku menyesali pilihanku itu.

 “Val!” panggil kakakku dari ambang pintu kamarku. Aku cepat-cepat men-save pekerjaanku dan men-close jendela Microsoft Word itu.

 “Kenapa Kak?” sahutku sambil pura-pura mengganti lagu yang diputar di WinAmp. Lagu Greenday mengalun menggantikan suara lembut Aya Matsuura.

 “File essayku masih ada di komputer kamu kan? Pinjem USB dong! Mau aku kopi ke laptop. Besok Kakak presentasi.”

 “Oh, masih kok. Bentar ya, USB-nya aku ambil dulu. Kakak cari dulu aja file-nya.”

 Aku membiarkannya membuka folder demi folder komputerku untuk mencari file PDF essaynya tentang Bioteknologi. Aku mengopinya ke komputerku untuk kujadikan referensi tugas Biologiku.

 “Hee… apa ini?” ia tersenyum jahil saat melihat file [CONFIDENTIAL – DON’T TOUCH!!.doc] di salah satu folderku.

 “Aaaaa!! Jangan dibuka!” jeritku panik. Kalau dia membaca cerpenku, aku bisa dibunuhnya. Kalau dia tahu aku akan menuliskan rahasianya dan mempublikasinya, dia akan meng-hack komputerku habis-habisan saat aku sedang di sekolah. Aku tahu itu akan terjadi. Itu SUDAH PERNAH terjadi.

 Dengan santai ia membuka file itu tanpa menggubris jeritanku. Microsoft Word terbuka.

 Password: _

 “Password?” Kakakku mengerenyitkan dahi “Sampai segitunya? Apa sih isinya? Jadi penasaran…”

 Aku menghela nafas lega. Untuk sesaat aku lupa aku sudah melakukan langkah-langkah antisipasi.

 “Udah… cepetan cari file kakak… nih USB-nya!” kataku kesal karena sudah panik tanpa alasan.

 “Yee, judes. Ngusir kakakmu tersayang nih?”

 “Iya, adikmu tersayang lagi sibuk.”

 Selesai mengkopi file-nya, ia mengacak-acak rambutku lagi (salah satu kebiasaannya -_-) dan berkata, “Anak kecil, cepetan tidur, udah malem!”

 “Baru jam 9! Anak SD juga belom tidur kalii!” protesku.

 Aku cepat-cepat membuka kembali file tadi dan melanjutkan cerpen-essay-otobiografi-ku lagi.

 Password: ******* **_

 Ya, begitulah kakakku. Walaupun mungkin sikapnya yang baik dan ramah itu pura-pura sekalipun, tapi aku suka sikapnya itu…

 Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat lalu menghapus apa yang baru saja kutulis.

 Walaupun mungkin sikapnya yang baik dan ramah itu pura-pura sekalipun, tapi aku suka sikapnya itu.

 Aku tidak suka ini. Jangan! Jangan berprasangka! Bentakku kepada diriku sendiri. ‘Kenyataan’ tidak selalu buruk. ‘Kenyataan’ tidak selalu jelek!

 Atau setidaknya… itulah yang ingin kupercaya.

 Melihat ‘kenyataan’ bukan berarti semua mencurigai semua yang kelihatannya seperti ‘bayangan’, ya kan?

 Kadang-kadang… aku ingin mempercayai bahwa dunia itu ‘indah’.

 Di sebuah film yang pernah kutonton, aku mendengar sebuah kalimat.

 “This world is not beautiful, therefore it is.”

“Dunia ini tidak indah, karena itu dunia indah.”

Kino no Tabi ~ The Beautiful World

 Memang, kenyataannya dunia itu tidak indah. Justru karena dunia itu tidak indah, maka manusia menciptakan ‘dunia’ mereka sendiri, dunia ‘bayangan’ mereka yang indah. Mereka bahagia dengan mempercayai ‘bayangan’ dunia indah yang mereka buat.

 Dan betapa aku iri pada mereka.

 Mempercayai sesuatu itu sulit. Benar-benar sulit. Terutama kalau kamu sudah pernah dibohongi. Tapi… sebenarnya aku tidak bisa berkata begitu karena aku juga adalah seorang pembohong. Aku tidak bisa menuntut kepercayaan dari orang lain dan membuat diriku percaya kepada orang lain.

 Ketidakbisaan itulah yang sangat menyakitkan.

 Untuk tahu bahwa kau tidak bisa bergantung pada orang lain, itulah yang sangat menyakitkan.

 Semua manusia mempunyai ego. Seperti apapun manusia itu, ia pasti mempunyai egonya masing-masing. Hanya saja, ada yang memaksakan egonya terhadap orang lain ( biasa disebut sebagai egosentris, egomania, atau mudahnya lagi, egois), dan ada yang memilih untuk tidak membiarkan egonya muncul ke permukaan dan mengalah. Tapi, orang yang mengalah sekalipun tetap bertahan pada egonya dalam dirinya sendiri. Pada dasarnya, orang lebih mementingkan dirinya sendiri. Ini adalah insting yang sudah terbentuk sejak lahir. Hanya saja, sifat ini tertutupi oleh proses sosialisasi yang dialami saat mereka muda. Ada anak-anak yang diajari untuk tidak egois dan mau berbagi dengan  yang lain, tapi ada juga yang tidak. Ini semua bergantung pada proses sosialisasi yang diberikan kepada mereka oleh orang tua mereka.

 Begitu juga dengan dunia ‘bayangan’ ini. Dunia yang kusebut-sebut sebagai dunia bayangan adalah dunia yang dipenuhi ego seseorang. Dunia di mana segalanya berjalan lancar-lancar saja bagi orang itu. Kebanyakan orang lebih senang hidup dalam dunia ego mereka sendiri, sampai ada sesuatu yang memberikan ‘distorsi’ pada dunia mereka. Pada kasusku, contohnya pembicaraan di toilet itu. Sejujurnya, kalau saja aku tidak mendengar mereka membicarakan kejelekanku di toilet waktu itu, aku akan terus hidup dalam dunia egoku yang menyatakan bahwa sikapku dan diriku itu adalah yang paling baik di dunia.

 Selama ini aku hidup di dunia bayangan. Mungkin kau juga. Tapi, sejujurnya, orang-orang yang hidup di dunia bayangan itu adalah yang paling bahagia.

 “Kakak, belum tidur?” aku mendengar suara mengantuk adikku dari pintu.

 “Belum. Memangnya udah jam berapa sih?” sahutku sambil refleks menyimpan dan menutup karyaku.

 “Ya ampun, Kakak?? Udah jam 1 pagi! Besok kakak piket kan?” sentak adikku terkejut.

 “Hah? Udah jam segitu??” aku terlonjak dari tempat dudukku lalu cepat-cepat mematikan komputerku.

 “… Orang yang aaaneh…” adikku tersenyum jahil lalu kembali ke kamarnya.

 Aku memandangnya kesal, lalu naik ke tempat tidur. Tak kusangka aku begitu terbenam dalam tulisan… eh… ketikanku.

 Keesokan harinya di sekolah, seperti biasa aku menyapa teman-temanku di kelas. Mereka semua tersenyum dan ramah kepadaku. Kadang aku bertanya-tanya. Apakah mereka memang begitu karena diriku, atau apakah mereka sama dengan teman-temanku waktu SMP?

 Lagi-lagi aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Teman sebelahku memandangku dengan heran. Aku tersenyum dan mencoba menghilangkan rasa prejudisku kuat-kuat.

 Aku harus belajar percaya.

 Waktu istirahat, aku naik ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas yang tertinggal. Waktu aku melewati ruang kesiswaan, refleks aku membenarkan bajuku yang tidak rapi. Tapi, tanganku terhenti saat aku melihat kakakku di dalam, mukanya serius sekali.

 Sesaat aku mengira dia terpilih sebagai “Manusia Tersempurna” versi majalah Hai atau semacamnya, tapi lalu aku menyadarinya.

 Dia pasti ketahuan.

 Aku sudah pernah bilang sebelumnya kan? Bahwa ada orang yang sempurna, walaupun itu cuma di permukaan.

 Kakakku adalah salah satu dari yang sempurna di permukaan. Ya, dia atlit basket, juara kelas, dan vokalis utama band sekolah.

 Tapi, di sisi lain ia mempunyai dosa yang dipendamnya. Di balik kedoknya sebagai murid sempurna, sebenarnya ia dan pacarnya, Kak Aireen, sudah berhubungan intim lebih dari sekali.

 Sebuah sisi yang ia sembunyikan mati-matian.

 Ia sudah berusaha menahannya kuat-kuat, aku tahu. Aku mengetahui fakta ini waktu aku melihat barang-barang di kamarnya dan di lemarinya. Aku tak berani menanyakannya, mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu bukan urusanku.

 Tak kusangka dia sendiri yang mengakuinya kepadaku.

 Waktu itu hujan turun dengan lebat. Aku bermalas-malasan sebentar di sofa, lalu naik ke atas ke kamarku di lantai dua untuk main game di komputerku. Saat aku melewati kamar kakakku, dari celah pintu aku melihat sosoknya terduduk di lantai. Matanya menerawang dan pandangannya kosong.

 Karena khawatir, aku memberanikan diri masuk ke kamarnya dan menepuk bahunya.

 “Kak…?”

 Ia hanya terdiam sambil menoleh ke arahku. Di depannya aku melihat ada handphone.

 Aku tidak tahu kenapa, tapi aku mengerti apa yang sedang terjadi.

 “Boleh duduk?” tanyaku pelan.

 Ia mengangguk tanpa mengatakan apa-apa.

 Aku duduk di lantai di sebelahnya dan menggandeng tangannya.

 “…Mau cerita?” tanyaku lagi. Pegangan tangannya pada tanganku menguat.

 Keheningan menyambut pertanyaanku. Aku tidak ingin memaksanya, jadi aku memilih diam. Ia akan cerita kalau ia ingin cerita.

 Setelah beberapa lama, kata-kata pengakuan meluncur keluar dari mulutnya. Ia mengakui bahwa ia dan pacarnya memang sudah berhubungan layaknya suami istri, berulang kali ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hal yang normal antara pasangan dan tidak akan pernah meninggalkannya dan bahwa ia sangat mencintainya.

 Bagaimana dia merasa bersalah selama bertahun-tahun.

 Bagaimana ia selalu menyembunyikan hal itu dan terkadang menjaga jarak di sekolah. Tentu saja, statusnya sebagai ‘idola’ terus terjaga.

 Tapi rasa bersalah itu tidak pernah hilang.

 Dan baru saja Kak Lyona menelponnya melalui ponselnya sendiri bahwa sudah berapa lama ia tidak datang bulan. Ia menelpon sambil menangis mengatakan bahwa ia takut kalau ia hamil.

 Aku terdiam memandangnya, terkejut. Aku tak tahu harus berkata apa. Apa yang harus kulakukan? Menghiburnya? Berbohong dengan mengatakan bahwa itu bukan salahnya? Menasehatinya dan membuatnya terpuruk lebih dalam?

 Masalah ini jauh lebih serius dari masalahku dulu. Aku tak tahu cara mengatasinya, apalagi menasehati orang lain. Aku tak bisa menasehatinya, dan aku tak tahu kata-kata penghiburan apa yang bisa kukatakan kepadanya.

 Jadi aku memilih diam.

 Menit-menit berlalu dalam keheningan. Selama aku masih kebingungan tentang apa yang harus kukatakan, aku tahu ia sedang berkutat dengan perasaan bersalah dalam lubuk hatinya. Aku tahu ia menyesal. Aku tahu kebiasaannya ini salah dan harus dihentikan. Tapi bagaimana?

 Aku menghela nafas dan merangkul bahunya yang lebih lebar dariku untuk menenangkannya. Aneh rasanya bagaimana kakak yang lebih tua setahun dan jauh lebih tinggi dariku sekarang terlihat begitu rapuh dan lemah.

 Lalu aku tersadar. Yang kulakukan sekarang adalah memikirkan hal apa yang ia ingin aku katakan pada situasi ini. Bukan kata hatiku yang sebenarnya, bukan nasihat, yang ia perlukan saat ini adalah simpati. Yang ia perlukan adalah seseorang yang mengerti luka hatinya. Yang harus kulakukan sekarang adalah berada di sisinya, sebagai adik yang setia.

 Jadi itulah yang kulakukan. Aku duduk di sebelahnya, bersandar sedikit pada bahunya. Menepuk-nepuk pundaknya dan diam bersamanya.

 Aku tersadar dari lamunanku saat pintu ruang kesiswaan terbuka dan kakakku berjalan keluar. Saat ia melihatku di depan pintu, matanya menunjukkan bahwa ia terkejut.

Tapi lalu ia memalingkan muka dan menolak melihat mataku.

Aku tahu kenapa ia memalingkan mukanya.

Karena ia tidak ingin adiknya melihat sosok kakak yang dikaguminya dibanjiri rasa bersalah.

Karena ia malu atas perkataan-perkataan bijak yang pernah dikatakannya seakan-akan ia tahu segala, padahal situasinya sendiri tidak jauh lebih baik.

Karena ia tidak ingin aku membaca pikirannya saat itu.

Tapi, aku tidak peduli dengan semua itu.

Aku tersenyum dan menggandeng tangannya. Ia memandangku dengan heran.

“Habis ini aku pelajaran Agama. Pinjam Alkitabmu dong!” kataku sambil menariknya ke kelasnya.

Ia terkejut sebentar, lalu tersenyum. Senyum itu senyum lega. Senyum karena aku tidak memojokannya. Dan aku senang karena aku bisa melegakannya.

Aku tidak ingin memikirkan apa-apa. Aku tidak perlu memikirkan apa yang harus kulakukan atau apa yang akan terjadi kalau hal itu kulakukan.

Aku hanya melakukan apa yang ingin kulakukan.

Aku ingin membuat kakakku lepas dari beban perasaan bersalahnya.

Keesokan harinya, gosipnya sudah menyebar. Sudah beberapa orang menanyakan hal yang sama tentangnya. Aku tidak pernah menjawabnya. Yang paling tidak dibutuhkan pada saat ini adalah menambah rasa bersalahnya.

Aku menggigit bibirku pelan saat orang ke-15 kembali menanyakan kakakku. Hampir aku membentak mereka semua kalau tidak melihat adikku di ambang pintu kelas, memanggilku.

“Kak, Kak Kev kenapa?” tanyanya dengan ekspresi khawatir “Aku dengar dari teman sekelasku, katanya…”

“Ya, ya, ya. Aku sudah tahu.” Aku memotong kalimatnya, “Dengar, Chris, apapun yang kaulakukan, jangan terbawa gosip. Nanti di rumah akan kujelaskan sejelas-jelasnya. Tapi, jangan berkata apa-apa dulu ke anak-anak lainnya. Kasihan Kak Kevin. Dia udah pusing habis-habisan gara-gara masalah ini.”

Ia mengangguk tanda mengerti. Kadang-kadang untung juga punya adik yang jenius.

Aku menghela nafas lega dan masuk kembali ke kelas. Begitu aku duduk, salah seorang teman sekelasku datang dan bertanya kepadaku, “Val, jadi itu bener?”

“Apanya?” aku berpura-pura tidak tahu.

“Gosip itu.” Jawabnya tidak sabar.

“Yang mana? Ada banyak gosip di sekolah ini.” Sahutku setengah menyindir.

“Katanya kakakmu ngehamilin si Lyona.” Sambungnya.

“Kalau benar bagaimana?” tanyaku lagi.

“Yah… tidak apa-apa sih. Cuma ingin tahu saja.”

Keingintahuan bisa membunuh, itu yang pernah kudengar. Dan kalau misalnya membunuh tidak dilarang oleh hukum, aku sudah membunuhnya. Kalian semua memojokkan kakakku dan membuat rasa bersalahnya menjadi-jadi hanya karena ‘ingin tahu’?

“Aku belum tahu pastinya.” Aku mengangkat bahu “Aku belum bisa beritahu apa-apa.”

Sepertinya dia tidak puas dengan jawabanku, tapi protesnya terpotong oleh bunyi bel masuk. Aku tersenyum kepadanya, senyum yang mengatakan “Tidak ada wawancara lagi, pergi sana!”. Hanya saja aku sangat pintar menyembunyikannya. Aku sangat manipulatif, ingat?

Menjelang waktu istirahat, temanku Emma lari ke kelasku dan memberitahuku, “Val! Gawat banget! Kakak kamu lagi diadilin nih sekarang! Di ruang guru! Cepetan!”

Mataku membelalak terkejut dan mengikutinya lari ke ruang guru. Sesampainya di sana, aku mengintip dari jendela dan melihatnya sedang duduk terdiam di kursi di ujung meja. Di kiri kanannya berjejer guru-guru yang bermuka serius.

Kasusnya harusnya tidak seserius ini kalau saja kakakku bukan murid teladan sekolah ini.

Aku tidak pernah menyangka statusnya akan memberatkannya seperti ini.

Aneh bukan? Sesaat kamu mengaguminya dan sesaat kemudian kamu merasa kasihan kepadanya.

Sistem masyarakat itu benar-benar kejam. Sekali seseorang menyandang label ‘sempurna’ maka ia menjadi suatu sosok yang diwajibkan tak bercela. Ia hidup bukan lagi untuk dirinya sendiri, tetapi untuk memenuhi harapan orang lain atas dirinya. Sekali sosok yang sempurna itu bercela, maka kekaguman masyarakat menjadi kebencian yang ditujukan kepadanya. Sekali pasir itu menunjukkan bahwa ia mengandung kerikil-kerikil tajam padanya dan mulai tidak sesuai dengan wadah itu, maka wadah itu segera membuang pasir itu.

Aku ingat adikku pernah mempunyai masalah yang serupa.

Itu terjadi saat ia pertama kali masuk ke kelas akselerasi di SMA ini.

Karena waktu SMP-nya juga ia akselerasi, maka wajar saja kalau sekarang ia juga paling muda. Guru-guru semuanya mempunyai harapan yang cerah pada dirinya. Begitu juga orang tuaku. Tapi, semua temannya iri padanya.

Harus kuakui, aku pun iri padanya.

Maksudku, dia mendapat semua perhatian. Dia dan kakakku. Aku benar-benar mengalami superiority complex  yang parah dengan berada dalam keluarga ini. Tidak aneh kalau aku iri pada adik yang lebih muda dua tahun dariku tapi selalu mendapatkan lebih, bahkan sejak lahir.

Aku harusnya malu atas pikiranku ini.

Tapi adikku itu benar-benar… SEMPURNA. Aku tidak mengerti keadilan di dunia ini. Beberapa orang dilahirkan dengan banyak sekali kekurangan, dan ada manusia yang sebenarnya ‘SEMPURNA’.

Lalu aku mengetahui bahwa pikiranku itu salah. Hidup ini adil, sangat adil sampai kau sakit dibuatnya. Tidak ada sesuatu apapun yang sempurna. Termasuk adikku.

Aku ingat waktu dia masih kelas 6 SD, dia pulang dengan memar besar di wajahnya. Waktu itu, rasa iriku sudah ada. Aku tidak begitu mempedulikannya akibat rasa iri itu. Tapi, justru itu membuatku lebih iri dari sebelumnya. Aku iri karena pada usia segitu, ia jauh lebih tegar dan kuat dariku.

Ternyata masalahnya lebih berat dari yang kubayangkan. Kau tahu, setiap ada yang lebih baik dari seseorang, maka kecemburuan otomatis akan timbul di bawah sadarnya. Kecemburuan ini tidak akan muncul, dan jarang sekali disadari oleh seseorang itu. Kecemburuan itu hanya… ada.

Yang dibutuhkan oleh kecemburuan itu hanyalah pemicu. Perlu sesuatu untuk meledakannya, maka kecemburuan itu akan muncul ke kesadaran seseorang, bukannya bersembunyi di alam bawah sadar orang itu.

Rupanya, kali ini seluruh teman sekelasnya memusuhinya. Hari ini hasil ulangan umum dibacakan. Sepertinya, dia meraih nilai sempurna untuk semuanya, LAGI.  Salah satu teman sekelasnya menjadi sebal (benci?) kepadanya, dan berhasil memprovokasi anak-anak yang lain untuk memusuhinya. Sistem mengucilkan yang tradisional, pikirku, selalu berguna untuk seumur itu.  Teman-temannya yang biasa tidak berani membelanya. Ia marah dan dengan berani melawan teman sekelasnya itu. Mereka berkelahi (padahal adikku itu cewek lho!) dan adikku berhasil mengalahkannya. Mengerti kan kenapa aku menyebutnya sempurna? Dia punya kepercayaan diri yang tidak pernah habis, walau aku tahu itu sangat beralasan.

 Hari itu aku baru menyadari, beban apa saja yang sudah ditanggungnya. Pandangan-pandangan iri dan dengki dari teman-teman sekelasnya. Pujian-pujian palsu dari orang di sekelilingnya. Beban-beban yang diberikan oleh orang-orang dewasa yang seolah memaksanya memenuhi harapan dan mimpi-mimpi mereka.

 Sungguh menyebalkan bagaimana mereka pikir mereka bisa merencanakan masa depan seseorang yang sepenuhnya bukan urusan mereka.

 Kali itu bukan yang terakhir kalinya. Ini terjadi lagi saat dia pertama kali masuk ke kelas akselerasi di SMU. Perlakuan dingin diterimanya dari teman-teman sekelasnya.

 Tapi kali ini ia menangis dan menangis di pelukanku.

 Semua rasa iriku terbang menghilang begitu saja. Hatiku tertusuk saat aku melihatnya menangis. Walaupun aku sempat merasa iri padanya, aku tetap menyayanginya sebagai adik. Aku rasa kau sudah kuberitahu kalau dia adalah anak yang kuat dan tegar. Tidak pernah ia menangis walaupun hal seperti ini terjadi. Aku pun tidak mengerti kenapa. Tapi setelah kutanya penyebabnya, ini karena anak laki-laki yang ia sukai di kelas itu juga ikut memusuhinya.

Aku ingat ia menangis dan berkata sambil terisak-isak, “Jika aku tahu akan begini jadinya, lebih baik aku jadi anak yang biasa-biasa saja.”

Manusia itu aneh, aneh sekali. Manusia tidak pernah puas, tidak pernah sekalipun. Kata peribahasa, “Dikasih hati minta jantung.”. Hal itu disebabkan tidak ada sesuatu apapun di dunia ini yang sempurna, kecuali Yang Maha Kuasa. Kamu mungkin mengatakan akan puas kalau sudah memiliki ponsel. Tapi tidak begitu. Kamu akan menginginkan lebih. Begitu ponsel terasa biasa bagimu, kamu akan meminta PDA. Begitu PDA merupakan hal biasa untukmu, kamu menginginkan laptop. Karena tidak ada satupun benda fana di dunia ini cukup untuk memuaskanmu. Begitu juga adikku, penghargaan yang diterimanya sebagai murid ‘sempurna’ tidak memuaskannya. Ini disebabkan karena penghargaan adalah sesuatu yang ‘biasa’ baginya. Ini adalah masalah kebosanan. Kamu pun akan bosan kalau kamu bolak-balik dikatakan pintar atau genius terus-terusan selama 15 tahun kamu hidup. Lama-lama kamu akan iri kepada orang-orang ‘biasa’ yang tidak usah pusing memikirkan apa-apa. Coba kalau anak biasa yang tidak pernah memenangkan apa-apa tahu-tahu memenangkan sebuah pertandingan?  Atau anak yang tidak pernah diperhatikan tahu-tahu menjadi seseorang yang populer di sekolahnya? Tentu ini menjadi hal yang istimewa baginya. Sesuatu itu istimewa karena jarang ada. Tapi, karena adikku sudah terlalu sering mengalaminya, maka hal ini kehilangan keistimewaannya.

Dia kesulitan menemukan teman, dan kadang-kadang ia takut berhubungan terlalu dekat dengan seseorang.

Situasinya yang sekarang membuat ia memandang sekelilingnya sebagai musuh.

Tidak mudah merubah pandangannya. Tidak mudah membuat ia mempercayai orang lain lagi. Menyedihkan rasanya kalau kau masih muda, tapi hidupmu sudah dipenuhi kecurigaan. Aku merasa sangat munafik, saat aku menasehatinya untuk mempercayai orang lain, padahal pada waktu itu pun aku sangat prejudis (walaupun lebih seringnya dugaanku benar sih).

“Val!” panggil Emma menyadarkanku dari lamunanku.

“Hah? Kenapa?” aku menoleh ke kiri dan kanan, mengira ada guru yang memergoki kami.

 “Kok kamu malah bengong sih? Itu Kak Lyona udah datang, guru-guru udah lengkap. Sebentar lagi pengadilannya mulai!”

 Cepat-cepat aku mengalihkan perhatianku ke dalam ruang guru. Aku melihat kepala sekolah kami berbicara beberapa hal yang tidak bisa terdengar dari luar. Saat mereka menunggu jawaban dari kakakku, sayup-sayup aku mendengarnya berbicara.

“Sebelum saya mengatakan apa-apa, saya berharap saya diijinkan mengundang seorang ‘saksi’ bagi saya.”

 Guru-guru itu sibuk berbisik-bisik satu sama lainnya, lalu kepala sekolah mengangguk membolehkan.

 Kakakku berdiri dan bergerak ke atas pintu. Emma menarik-narik tanganku sebagai tanda untuk kabur, tapi aku hanya diam terpaku saat dia membuka pintu dan menatap lurus-lurus ke mataku.

 “Val.” Katanya sambil tersenyum, “Kamu penasaran kan? Masuklah.”

 Sebelum aku bisa mengatakan apa-apa, aku mengikutinya masuk dan meninggalkan Emma di luar. Kakakku mengambilkan kursi untukku dan duduk di kursinya.

 “Jadi, Kevin, menjawab pertanyaan barusan.” Kata salah seorang guru, “Apa yang terjadi antara kamu dan Lyona?”

 “Peristiwa ini bisa mencoreng nama kalian berdua secara permanen, bahkan bisa memecatmu dari sekolah ini.” Lanjutnya.

 “Apalagi mengingat fakta bahwa kamu, Kevin, sudah mencetak banyak prestasi di berbagai bidang, baik secara akademis dan non-akademis.” Sambung guru lainnya.

 “Padahal kami berharap padamu, dan kamu sudah mengharumkan nama sekolah kami pada beberapa acara dan pertandingan. Rekormu di bidang bahasa masih belum terkalahkan.”

 “Dan kamu juga, Lyona. Prestasimu tidak kalah dari Kevin. Kamu adalah anggota OSIS, Ketua 1, tidak kurang. Semua programmu sukses, dan kamu adalah pemimpin yang sangat baik.”

 “Sebenarnya kamu berdua adalah anak yang baik, jadi kenapa?” tanya kepala sekolah “Kenapa ini sampai terjadi?”

 Lalu mereka diam menunggu jawabannya.

 Aku benar-benar kasihan pada Kak Lyona. Ia terlihat sangat terpukul dan wajahnya pucat.

 “Karena aku sama sekali bukan anak yang baik.” Kakakku tersenyum sambil memegang tangan Kak Lyona di bawah meja.

 “Semua manusia mempunyai kelebihan dan kelemahan. Walaupun aku tidak mengatakan bahwa fakta itu membenarkan tindakanku.”

 “Bapak dan Ibu sekalian, saya benar-benar harus mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah Bapak dan Ibu berikan kepada saya. Selama ini saya sudah mencoba memenuhi harapan Anda. Saya mencetak banyak prestasi seperti yang Anda sekalian katakan, dan mungkin nilai saya tidak buruk.”

 “Tapi yang Ibu dan Bapak lupakan adalah anak yang di depan Ibu dan Bapak sekarang adalah manusia. Saya bukan manusia yang sempurna. Saya pun punya kesalahan. Saya pun punya kelemahan.”

 “Akan tetapi, saya tidak akan mengatakan kalau ini kesalahan.” Ia tersenyum lagi dan meremas tangan Kak Lyona pelan. Kak Lyona tersenyum dan rona wajahnya mulai kembali.

 “Saya mempunyai kelemahan yang sangat besar.”  Sambungnya sambil menatap mata para guru satu per satu, dan melanjutkan, “Saya terlalu mencintai Lyona, itu kelemahan saya.”

 “Mungkin sosok saya terlihat seperti anak yang sempurna bagi Anda dan teman-teman saya. Mungkin sosok saya terlihat seperti anak baik yang patut diteladani. Mungkin sosok saya terlihat seperti tokoh panutan. Mungkin sosok saya terlihat seperti idola bagi teman-teman saya. Tapi, itu bukan saya yang sebenarnya. Itu adalah sosok yang ingin saya perlihatkan supaya saya diterima dalam masyarakat. Satu-satunya yang dapat melihat sisi gelap saya dan menerimanya adalah Lyona. Satu-satunya yang benar-benar mengerti saya adalah dia. Itulah sebabnya saya begitu mencintai dia.”

 “Saya tidak akan malu untuk mengatakan,” lanjutnya sambil memandang Kak Lyona, “bahwa saya sama sekali tidak merasa bahwa ini adalah kesalahan. Hal ini sudah saya pikirkan masak-masak.”

 “Akan tetapi, saya berpikir dengan hati saya.”

 “Saya mengikuti hati saya. Saya tahu hubungan ini salah menurut moral dan peraturan masyarakat. Mungkin logika saya juga mengatakan demikian. Tapi, lalu kenapa? Ada kalanya Anda harus berpikir dengan hati, bukan dengan kepala.”

 “Akhir kata, saya ingin mengatakan bahwa saya rela bertanggung jawab untuk apapun yang akan terjadi. Anda boleh mengeluarkan saya kalau mau, tapi…”

 “Saya juga akan bertanggung jawab.” Potong Kak Lyona tiba-tiba. “Kevin benar bahwa ini bukan suatu kesalahan. Kami mungkin sudah menentang masyarakat, tapi kami tidak menentang perasaan kami.”

 Mereka berpandangan dengan hangat dan aku hampir bisa merasakan perasaan mereka dari tempatku duduk.

 Lalu suasana hening untuk beberapa saat. Udara terasa berat dan aku menitikkan keringat walaupun ruang guru itu memakai AC.

 Lalu kepala sekolah menghela nafas dan berdiri, “Maaf, Anda bertiga diminta meninggalkan ruangan. Hasil persidangan ini akan dirapatkan oleh para guru terlebih dahulu dan keputusan akan disampaikan secepatnya. Tolong persiapkan diri untuk dipanggil kembali sewaktu-waktu untuk memberikan kesaksian lagi. Anda sekalian diijinkan pulang.”

 Di luar, aku menghela nafas lega karena suasana yang menegangkan itu sudah berlalu. Aku melihat ke arah Kak Kevin dan Kak Lyona yang sedang berpegangan tangan. Mereka benar-benar terlihat serasi dan membuatku ingin tersenyum melihatnya.

 Walaupun dalam hati aku bertanya-tanya apa yang akan terjadi setelah ini, tapi aku memikirkan perkataan kakakku.

 “Saya berpikir dengan hati saya.”

 Aku mengerti bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Kau mungkin mati-matian mencintai seseorang, kamu mungkin rela mati bagi seseorang. Untuk orang luar yang tidak mengerti hatimu, ini berada di luar logikanya. Cinta adalah salah satu yang tidak bisa dimengerti oleh logika. Dan yang lainnya lagi, adalah iman.

 Tidak ada yang pernah melihat Tuhan dalam sosoknya yang sebenarnya. Tidak ada yang tahu secara pasti seperti apa Tuhan itu. Ada yang menggambarkannya sebagai cahaya. Ada yang menggambarkannya sebagai gembala. Kamu tidak tahu pasti seperti apa sebenarnya Tuhan itu.

 Tapi kamu percaya kepadaNya.

 Karena kamu beriman kepadanya, maka hal itu adalah kebenaran bagimu.

 Kebenaran tiap orang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa Tuhan orang Kristen-lah yang benar dan umatnya yang akan menerima keselamatan. Tapi mungkin umat lain berkata bahwa kebenaran adalah bahwa umat Kristen adalah kafir dan umat yang sesat.

 Kebenaran bisa berubah. Oleh sebab itu, aku tidak bisa mengatakan semua yang kukatakan kepadamu ini adalah hal yang benar. Hanya saja, apa yang kuceritakan padamu sekarang ini adalah hal yang kuanggap benar.

 Dan sejujurnya, aku berharap kalau aku salah.

Aku menghela nafas panjang dan mengagumi karyaku sejenak. 45 halaman, tidak buruk. Aku tersenyum pada diriku sendiri.

 Sekarang hanya tinggal menambah sedikit bagian penutup yang baik, dan aku bisa menyerahkannya ke percetakan besok. Berharap aku mungkin beruntung untuk mempublikasikan buku ini.

 Saat aku hendak melanjutkan kembali karyaku, adikku menghambur ke kamarku sambil terengah-engah. Aku melirik jam. Jam dua. Memang sudah waktunya dia pulang sih, tapi secepat ini?

 “Kak, kak! Coba dengar! Ada kabar yang bagus sekali!” kata Christie dengan muka merona merah sehabis berlari. Wajahnya terlihat sangat ceria dan senang.

 “Ada apa nih? Kamu dapat pacar baru ya?” tanyaku dengan senyum jahil.

 Tanpa permisi dia menjatuhkan dirinya ke tempat tidurku dan berguling-guling di atasnya. Lalu ia melihatku dan menggeleng.

 “Jaauuuuuuuuuuuuhhh lebih baik dari itu.” Sahutnya sambil tertawa bahagia.

 “Ada apa siiiih? Aku jadi penasaran nih!” aku mulai tak sabar dan beranjak dari kursiku di depan komputer dan duduk di tempat tidur juga.

 “Coba tebak.” Dia tersenyum lebar, pasti tidak sabar untuk menceritakannya padaku.

 “Lebih baik dari dapat pacar?” aku pura-pura berpikir sejenak, lalu menjawab dengan kocak, “Astaganaga! Kamu dilamar??”

 “Yeee!! Kakak pikirannya cowok melulu! Bukan! Tebak yang bener dong!” protesnya sambil cemberut. Aku ingin menjahilinya sebentar, jadi aku sengaja pura-pura berpikir lama.

 “Sudah deh! Aku kasih tahu saja!” akhirnya ia menyerah. Aku tersenyum penuh kemenangan, lalu menunggunya menceritakannya.

 Ia berhenti sejenak, lalu tanpa bisa menahan senyum lebarnya, ia berkata:

 “Aku keluar dari kelas akselerasi!”

 Untuk sejenak aku tidak mengerti apa yang dikatakannya.

 Saat berikutnya, aku menyangka aku salah dengar.

 Selanjutnya, aku hanya terdiam sambil melongo.

 “Kamu nggak salah??” mataku membelalak dan aku nyaris berteriak saat suaraku kembali.

 “Nggak dong!” ia tersenyum dengan muka tanpa dosa.

 “Gimana ceritanya? Cerita dong!” aku makin penasaran.

 “Kakak tahu kan kalau di aksel ada tes bersama?”

 Aku mengangguk.

 “Jadi aku sengaja membuat kesalahan pada setiap tes! Nilaiku jatuh habis-habisan. Reaksi guru-guru juga sama seperti reaksi Kakak barusan!’

 Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Aku bahkan tidak tahu apakah keputusan ini adalah benar atau tidak. Aku tidak tahu reaksi orang tuaku begitu mendengar ini.

 “Mmm… Christie, kalau aku boleh tahu…” tanyaku ragu-ragu “Kenapa kamu melakukan itu?”

 “Aku hanya anak biasa. Aku ingin diperlakukan biasa. Aku tidak ingin dibedakan dari yang lainnya. Kalau soal alasannya…” Ia tersenyum dan menjawab, “Karena perasaanku berkata demikian. Dan aku tahu itu tidak salah karena aku merasa sangat lega setelah mendengar hasilnya.”

 Perasaan?

 Lalu aku tersadar. Cepat-cepat aku bangkit dari tempat tidurku dan menuju ke komputerku.

 “Kak…?” panggil adikku sedikit heran.

 Aku menghiraukannya dan terus membaca ulang karyaku yang sudah cukup panjang itu.

 Perasaan. Pikiran. Logika. Insting. Iman.

Kepercayaan.

 Aku mengerti sekarang.

 Aku menghapus paragraf demi paragraf pada tulisanku, menyadari kesalahanku yang fatal. Aku terus menulis dan mengetik, menghapus dan men-delete tulisan demi tulisan seperti kesetanan.

 Manusia tidak bisa diukur dengan mudahnya seperti itu. Selama ini, aku berpikir dengan kepalaku. Aku menjadi besar kepala karena mengira aku tahu segala. Aku menjadi sombong karena mengira aku mengerti.

 Manusia tidak semudah ‘hitam’ dan ‘putih’. Manusia tidak sesimpel itu. Tidak, setiap manusia memiliki warnanya masing-masing. Itulah sebabnya manusia tidak dapat dianalisa seperti mesin. Karena manusia mempunyai perasaan, yang membuatnya berbeda dari yang lainnya.

 Ideologi seseorang mungkin sama. Pendapat seseorang mungkin sama. Moral orang mungkin sama. Analisaku mungkin 90 persen benar.

 Tapi kesalahanku yang fatal adalah menyangka bahwa manusia adalah produk pabrik.

 Manusia bukan boneka yang dibuat secara massal dan diberi kode berupa ‘label’ pada mereka.

 Setiap manusia berbeda. Dan seharusnya aku memandang mereka secara berbeda juga. Tidak semua orang sama seperti yang kupikirkan. Semua ini hanyalah prejudis belaka.

 Aku tidak mengerti lagi apa yang kulakukan. Setelah menyimpan tulisan itu untuk kesekian kali, tiba-tiba aku berubah pikiran.

 Aku malu, sungguh. Malu sekali. Aku mengira aku mengerti, aku mengira aku benar. Aku mengira analisaku sangat akurat dan benar.

 Sebenarnya aku hanya sedang memuaskan ego-ku sendiri. Dengan pikiran bahwa aku dapat menganalisa orang lain, aku mencoba menanamkan ide bahwa pada kenyataannya aku lebih baik dari orang lain di sekelilingku.

 Aku membuka folder My Documents dan melihat file tulisanku. Aku menggerakan panah cursor dan mengklik file itu. Tulisannya menjadi biru gelap. Aku menekan tombol Delete.

 Are you sure you want to delete this file?

Yes / No

 Aku menggerakkan cursor ke arah ‘Yes’.

 Lalu ada tangan yang menghentikanku.

 Aku mendongak ke atas dan melihat kakakku di belakangku.

 “Kak...? Sejak kapan kamu di sini?” tanyaku heran.

 “Sejak tadi.” Jawabnya acuh tak acuh “Yang lebih penting, apa yang sedang kaulakukan?”

 “Tidak ada.” Aku mengalihkan lagi pandanganku ke layar komputer, berpura-pura melakukan hal lain.

 “Val, jangan kira aku tidak tahu.” Katanya lagi “Meng-hack komputermu itu semudah membalikkan telapak tangan.”

 Aku sedikit tersentak, tapi berpura-pura acuh. “Tahu apa?” sambungku berlagak pilon.

 “Itu, cerpen-essay-otobiografimu.” Sahutnya sambil tersenyum jahil.

 “Oh.” Komentarku singkat “Begitu.”

 “Kalau kau ingin tertawa atau marah, boleh kok.” Sambungku lagi.

 “Untuk apa?’

 “Aku sudah sok tahu. Prejudis. Memalukan sekali.”

 “Lalu? Apa yang salah dengan itu?” tanyanya sambil meletakkan tangannya di bahuku.

 “Val, seperti yang kaukatakan, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Semua orang membuat kesalahan. Tapi, menurutku ini bukan kesalahan.” Cetusnya sambil tersenyum “Kamu hanya menyampaikan pendapatmu. Kamu hanya mengatakan apa yang ada di hatimu. Kamu hanya… menjadi dirimu. Tidak ada yang salah dengan itu.”

 “Semua yang kautulis, tidak ada satupun yang salah. Akupun harus mengakui kalau memang demikian adanya. Tapi, kamu juga benar waktu mengatakan manusia bukan produksi massal yang bisa dianalisa seperti mesin.”

 “Jadi apa yang harus kulakukan?” tanyaku kemudian.

 “Lakukan apa yang menurut perasaanmu benar.” Jawabnya sambil tersenyum “Ikuti hatimu, bukan pikiranmu, bukan ego-mu, bukan logikamu.”

 “Hanya hati.”

 Aku terdiam beberapa saat. Aku bergerak ke halaman paling awal pada tulisanku dan menambahkan judul:

“Blanc et Noir”

      di bawah permukaan, di balik hati

“oleh VALENT CHRISTIAN”

 

Aku tersenyum puas.

Aku percaya pada hatiku.

 Dan aku tidak menyesal.

 

-C'EST FINI-

      

Hosted by www.Geocities.ws

1