luar, tak bisa kubanyangkan apa bila nanti saat di universitas aku tak bisa menggunakan computer, atau bahkan sekedar mengetik naskah, atau mengirim e-mail, selama ini aku hanya mempelajari teorinya secara diam-diam tak pernah menyentuh benda itu sekalipun, bahkan aku ragu akankah kami nantinya menginjakkan kaki di universitas dengan alasan ini.
***
Subhanallah decak kagum terucap saat ku tak sengaja melihat goresan emas dengan ukiran grafik indah murni karya hamba Allah itu, betapa Agungnya Allah menciptakan kelihaian tangan bocah itu, hanya dengan bermodalkan kuas dan tomat busuk sebagai catnya, ku lalui jalan itu dan ku temukan bocah itu lagi kali ini ia berbaju debu.
Lagi.. aku berfikir dengan paradigma berbeda, betapa beruntungnya aku memiliki keluarga dan teman yang sangat peduli di madrasah ini, apakah aku salah untuk menuntut kebebasan demi mimpiku ini ya Allah?
Betapa susahnya mengubah interpretasi mereka terhadap perselisihan technologi dan Islami, kedua hal ini selalu menjadi hal yang diperdebatkan, technologi seni itu tak salah dan Islam sesungguhnya tidak menyusahkan tapi justru memudahkan jalan, hal ini takkan mengubah kesempurnaan Islam, aku hanya ingin menyadarkan subjektifnya paradigma tua itu.
“Islam tak pernah menyusahkan umatnya, keinginan untuk menjadi lebih baik merupakan kewajiban bukan pilihan”, kutipan itulah yang aku ingat dari Alm ayah waktu itu, indahnya surga bukan di lihat dari seberapa dekat kita dengannya tapi seberapa ingat kita dengan-Nya apapun profesi dan minat kita.
Kupejamkan lagi mataku untuk kesekian kalinya, malam galau tanpa pikiran, tak pernah kurasakan hal ini sebelumnya, kusebut lagi nama-Nya dalam benakku, hingga mata itu menutup bersambut dengan pelupuk tertungkup peluh, hindarkan pecahnya keputusan itu, Teringat kisah bocah dengan tomat busuknya itu, luar biasa.
***
Hasil desainku itu telah selesai, bergegas ku menyalin desain itu hingga 10 kali, walau kertas buram itu telah bercampur tangis dan peluhku hal itu tak akan mengubah makna dari desainku ini. Ku tinggalkan buku kecil di sebelah kertas buram itu.
Aku tak pernah ingin mengubah diriku karena ini lah aku,
Istikarahku telah menuntunku temukan jalanku
Kini harap ku telah berlabuh jauh
ku susul harap itu sebagai mimpi yang kutunggu
kugunakan buku tekhnologi dan pensil Islami kau ajarkan padaku
hingga kan ku lukis desain dunia yang ku tinggalkan di mejamu, wahai ibuku Ummi Sahni
maafkan aku, percaya dan lihatlah aku, kan kubawa aplikasi dunia sederhana dengan Islam indah dimata-Nya hanya untukmu .
anakmu, Arthabilla daputri
milana dwi artha