|
PERTEMPURAN
DENGAN BELANDA
Batukarang
Jatuh
Karena
kedudukan musuh
di Kabanjahe maka disusun benteng pertahanan terdepan,
yang merupakan garis pertahanan sepanjang jalan Surbakti-Lingga
Julu (Kabanjahe Selatan) dan sepanjang jalan Kandibata-Kacaribu
(Kabanjahe Barat) sedangkan pucuk pimpinan (Pos
Komando) Garamata berkedudukan di Beganding (Kabanjahe
Tenggara) untuk memudahkan pelaksanaan komando.
Ultimatum
Garamata kepada Guillaume yang sudah menduduki Kabanjahe
untuk kedua kalinya tidak mendapat tanggapan, bahkan
mendatangkan marsuse Belanda lebih banyak lagi. Serdadu
pengawalnya sudah diperkuat lagi dari sebelumnya.
Patroli-patroli
Belanda menghadapi perlawanan pasukan Urung mengakibatkan
terjadinya tembak-menembak. Dimaklumi memang bahwa daya
tempur pasukan Simbisa/Urung terbatas pada tembak lari
atau sergap “bacok lari”, kemudian berbaur dengan
masyarakat setempat. Begitu pula benteng-benteng
pertahanan dengan senjata pedang, parang, tombak, bedil
locok dan senapang petuem yang terbatas tidak mendukung
untuk bertahan lama. Adapun tembak-menembak terjadi tidak
seimbang dan pihak Belanda memiliki senjata yang lebih
mutakhir sedangkan di pihak Simbisa/Urung mempunyai
senjata yang kalah jauh dari perlengkapan lawan.
Satu
demi satu benteng pertahanan pasukan Simbisa/Urung dapat
dikuasai musuh, seperti benteng pertahanan LIngga Julu,
meminta korban jiwa, termasuk pimpinan pasukannya tewas
tertembak. Sementara benteng pertahanan Kandibata yang
dibantu pasukan dari Aceh Tenggara ditarik ke garis
belakang. Benteng Mbesuka dan Tembusuh di Batukarang,
(15/9/1904) dikuasai Belanda. Mujur atas dorongan para ibu
dengan sorak sorai beralep-alep merupakan dorongan
semangat tempur tetap tinggi. Pasukan Urung terpaksa
membayar mahal dan tidak kurang dari 30 orang tertembak
mati, seorang diantaranya perwira. Seusai pertempuran
pasukan Urung menyingkir ke Negeri, 3 km dari Batukarang
yang dipisah oleh Lau Biang yang bertebing terjal.
Negeri
sebagai tempat menyingkir Garamata dan pasukannya jadi
sasaran serangan mendadak oleh pasukan Belanda, seusai
Batukarang diduduki, Nd. Releng br Ginting isitri Garamata
menderita luka tembak sembari Garamata dan pasukannya
menduduki Singgamanik dan sekitarnya.
Liren
dan Sekitarnya Jadi Basis Perlawanan
Walaupun
pasukan Simbisa/Urung sudah berpencar, keesokan harinya
ditetapkan Kuala menjadi daerah tempat berkumpul. Pasukan
Belanda terus melakukan pengejaran, maka pasukan
Simbisa/Urung berangkat menuju Liren, Kuta Gamber,
Kempawa, Pamah dan Lau Petundal sebagai basis pertahanan.
Dijelaskan
bahwa daerah ini termasuk Dairi yang berbatasan dengan
aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Tanah Karo. Medannya
bergunung-gunung, lembah yang dalam dan terjal, kurang
subur, berpenduduk jarang sehingga cocok menjadi basis
gerillya tetapi lemah dalam dukungan logistik.
Sebagai
daerah penyingkiran semua rencana diatur dari basis ini
baik untuk kontak hubungan dengan daerah tetangga maupun
mengganggu patroli-patroli Belanda yang secara rutin
melewati Liren dan daerah sekitarnya.
Perang
Gerillya
Garamata
dalam pengarahannya kepada pasukan Simbisa/Urung membuat
pesan dari pedalaman antara lain, teruskan perjuangan
melawan Belanda dimana saja semampu yang dimiliki dengan
motto: “namo bisa jadi aras, aras bisa jadi
namo” (namo=lubuk, aras=arus air
yang deras). Artinya sekarang kita kalah, besok kita
menang.
Pada
kesempatan lain Garamata berangkat ke Singkil dengan
tujuan menemui teman seperjuangannya Sultan Daulat tetapi
tidak ketemu. Tidak ada keterangan diperoleh selain Aceh
Selatan dan Aceh Tenggara sudah dikuasai Belanda sehingga
hubungan antara kedua pihak menjadi terputus. Perlu
dijelaskan bahwa waktu hendak kembali ditengah jalan
ketemu dengan marsuse Belanda, Garamata dapat
mengelabuinya dengan menyamar sebagai pengail.
Dalam
perjalanan pulang ke Lau Petundal, Garamata singgah di Lau
Njuhar, tidak lama kemudian pasukan Belanda datang
mengepung. Posisi Garamata dalam bahaya dan diatur
bersembunyi dalam satu rumah.
Sementara
itu Garamata dipersiapkan menyamar seperti seorang
perempuan yang baru melahirkan dengan muka disemburi pergi
kepancuran, dengan demikian loloslah Garamata dari
serangan Belanda.
Opportinuteits
Beginsiel
Pendudukan
Belanda atas Batukarang dengan mengerahkan sebanyak 200
orang marsuse Belanda bersenjata lengkap ternyata belum
memulihkan keamanan. Patroli Belanda tetap mendapat
perlawanan walau tidak secara frontal.
Betapapun
usaha yang diupayakan untuk menangkap tokoh-tokoh Urung
terutama Garamata tidak berhasil sehingga semua rencana
Belanda memperkuat kedudukannya seperti membuka jalan dari
Kabanjahe ke Alas, mengutip blasting, menjalankan roda
pemerintahan selalu terganggu/tidak dapat dijalankan. Maka
dikeluarkan opportinuteits beginsiel terhadap Kiras Bangun
atau Garamata bersama pengikut-pengikutnya.
Mengingat
banyaknya rakyat korban akibat tindakan marsuse Belanda
yang semakin membabi buta seperti peristiwa di Kuta Rih
disamping itu disadari bahwa pasukan tidak dapat bertahan
lebih lama mengingat keadaan yang sudah parah, terutama
disebabkan hubungan dengan Alas, Gayo, Singkil sudah
tertutup, pada saat mana Belanda menawarkan opportinuteits
maka Garamata bersama anak buahnya berunding untuk
mengambil keputusan. Dengan pertimbangan prikemanusiaan
dan untuk menghindari rakyat korban lebih banyak maka
penawaran Belanda atas opportinuteits beginsiel diterima
dengan berat hati dan bertekad untuk menyusun kekuatan
sehingga pada suatu saat dapat bangkit kembali mengusir
Belanda.
Ternyata
Belanda tidak mentaati tawaran sendiri karena Garamata
tetap dihukum dalam bentuk pengasingan di salah satu
tempat di perladangan Riung selama 4 tahun.
|