|
Dikutip
dari Harian Waspada,
29 November 2001
|
Kabanjahe
(Waspada):
Virus Septichaemie Epizootical (SE) menyerang ternak penduduk di Desa Mbalmbal Petarum, Kec. Laubaleng, Kab. Tanah Karo. Diperkirakan dalam waktu sebulan ini ratusan ternak sapi dan kerbau milik penduduk akan mati.
Kepala Sub Dinas Peternakan Kab. Karo Ir Iskandar Sembiring, MM, yang di konfirmasikan Waspada di kantor Dinas Pertanian Kab. Karo Kabanjahe, Selasa (27/11), membenarkan hal itu. Dia menyebutkan, sesuai dengan laporan petugas dari Subdin Peternakan yang ada di lapangan, jumlah ternak sapi dan kerbau milik penduduk yang mati akibat terserang virus SE 120 ekor.
Katika Waspada menanyakan tentang jumlah ternak yang mati sesuai dengan laporan masyarakat sejumlah 700 ekor, Iskandar Sembiring menyatakan hal itu memerlukan data yang akurat tentang kebenarannya. ''Saya hanya memperoleh laporan dan data dari petugas kami yang ada dilapangan,'' ujar Sembiring.
Disebutkannya, serangan virus yang mematikan ternak tersebut mulai diidentivikasi 29 Oktober 2001 di Desa Buluh Pancur, dengan matinya tiga ekor ternak sapi milik penduduk. Namun sebelumnya diduga virus itu telah menyerang ternak penduduk di Desa Perbulan, yang mengakibatkan dua ternak sapi mati. Hal itu kemudian berkembang ke Desa Buluh Pancur, Lingga Muda dan kawasan pengembalaan ternak di Mbalmbal Petarum.
Untuk mengantisipasi perkembangan penyakit virus itu, pihak Subdin Peternakan menerjunkan enam orang tenaga untuk mengadakan suntikan vaksin terhadap ternak sapi dan kerbau maupun ternak lainnya yang belum terinfeksi, serta mengadakan pengobatan ternak yang diduga telah terserang virus SE.
Namun upaya yang dilakukan pihak pemerintah itu sepertinya tidak banyak menolong ternak dari virus itu. Terbukti dalam waktu sebulan saja ratusan ternak sapi maupun kerbau mati dengan siasia.
Dari 500 ekor ternak yang ada di kawasan pengembalaan ternak Mbalmbal Petarum dan 1000 ekor ternak milik masyarakat lainnya, baru sekitar 850 ekor saja yang telah di suntik vaksim. Dikhawatirkan jumlah ternak yang akan mati akibat serangan virus tersebut akan terus berkembang dan meningkat jumlahnya. Apa bila hal itu tidak ditanggulangi dengan lebih serius dan terpadu.
Menyinggung tentang asal penyakit virus itu, Iskandar menduga akibat perubahan iklim dan faktor lainnya yang kurang mendukung, seperti pakan ternak yang kurang baik, perkadangan yang tidak memadai dan cara pemeliharaan ternak. Virus itu sendiri kata Iskandar, di duga telah ada sebelumnya di kawasan itu, namun dia tidak mengalami pengembangan dan berjangkit apa bila keadaan tidak mendukungnya untuk menyerang ternak.
Dalam rangka mengantisipasi perkemabangan virus itu lebih meluas, ternak yang mati langsung di bakar maupun di kubur. Kebijakan lainnya yang dilakukan pemerintah adalah mengadakan isolasi ternak yang keluar dan masuk Kec. Laubaleng dan Mardingding serta mengadakan vaksinasi ternak yang sehat dan mengobati ternak yang sakit.
(a25)
|