|
Di bawah gemuruh guruh dan siraman hujan yang membasahi gymnasium
Medan International School Simalingkar pada Senin malam (12/3),
Pementasan Musik Silengguri (The Rite Of Musician) bersama musisi
budayawan Anton Sitepu,Erucakra Mahameru,Hasfan Nasution,Jasa
Tarigan,dan Sirtoyono bermula kembali untuk yang ketiga kalinya.
Pada kesempatan ini, pementasan Silengguri (The Rite Of Musician)
dihadirkan khusus lewat program acara Music Camp yang diselenggarakan
setiap tahunnya oleh Medan International School Simalingkar.
Pementasan kali ini jauh berbeda dari sebelumnya. Dekorasi panggung
dan kostum lebih dituangkan ke dalam bahagian dari Komposisi
Silengguri. Seiring kata pengantar yang disampaikan oleh Edward
Vanness selaku pengajar di Medan International School kepada siswa-siswi Music Camp yang datang dari berbagai International School Manca
Negara, Anton Sitepu, konseptor utama Silengguri meletakkan beberapa
carik daun sirih di atas permukaan lingkaran kain putih yang juga
difungsi perankan ke dalam bahagian komposisi musik secara berurutan.
Silengguri ketigapun berawal.
Suasana gymnasium terasa sangat hening tanpa sepatah katapun. Sayub-sayub terdengar desah alat tiup tradisi Persia Ney (Kontribusi musisi
budayawan Manca Negara Mark Renne) mulai dipancar kumandangkan oleh
Anton di tengah silih gemuruh guruh yang terasa kian membumi.
Erucakra Mahameru pada fase selanjutnya memoles getar alur-alir sayub
guruh yang membalut sekat alam malam itu dengan mengillustrasikan
awal fase gerak tari Anton lewat sentuhan alat musik Elektronik
Synthesizer. Derai hujanpun merintik derap di cakrawala. Suasana yang
penuh misteri.
Dari lembah gelombang fase bunyi yang cukup dalam dan terkesan luas,
Jasa Tarigan menghentakkan ritem Gendang Indung dan Gendang Dua Karo
pembelah gaung,yang sebelumnya ia awali dengan gelincir SurdamBalopatnya menyusup masuk ke sentral dimensi bunyi yang telah
dihadirkan oleh Anton dan Erucakra. Satu persatu secara silih
berganti hentakan dan gelincir bunyi-bunyian alat musik ini semakin
mengunci keberadaan ruang dan waktu.
Suasana semakin terbangun oleh hadirnya Gendang Tradisi Melayu
Sirtoyono yang menampar dan memercikkan aroma dan warna bunyi yang
lain pula. Yang selanjutnya terus mengikat dan bersahut lewat balutan
bunyi Sampelong Sumatra Barat yang direntang hembus oleh Hasfan
Nasution. Pertemuan gerak dan musik adalah satu peristiwa yang
mendapat sorotan penting dari penonton. Dinamika momen yang sangat di
luar dugaan.
Derai hujanpun mulai meredup di sela usainya pertunjukkan Silengguri
yang diiringi dengan derai sambutan luar biasa penonton yang umumnya
terdiri dari wisatawan,budayawan, dan siswa-siswi Manca Negara.
Pengalaman pertunjukkan Silengguri kali ini bukanlah sekedar
pandangan keterikatan tentang apa yang disebut Intrans (Trance).
Mungkin ia dapat digambarkan sebagai kebebasan dalam menoleh
keberadaan estetis pada kelahiran Tradisi Seni dan Budaya.
Pada awal kesempatan ini, Edward Vanness mengatakan kepada siswa-siswi Music Camp tentang diversitas budaya yang ada di Sumatra Utara
khususnya kota Medan. Erucakra Mahameru,seusai pertunjukkan,
berbicara sekilas tentang kuatnya sentralisasi budaya Karo dalam jiwa
musisi seniman dan budayawan Sumatra Utara pada khususnya, sebuah
inti bahasa RASA yang tidak pernah putus dalam sejarah, ungkapnya.
Silengguri yang diangkat dari budaya klasik Karo merupakan kedekatan
musisi pada sebuah masa kepada instrumennya, sekilas Anton Sitepu
menguraikan. Kedekatan tanpa batas dan jarak ini bergerak dalam jalur
Vertikal(Ketuhanan) dan jalur Horizontal
(Kemanusiaan).
Selanjutnya,pertunjukkan yang direkam di atas pita DAT (Rekaman
Digital Live 2-Track) ini, setelah dievaluasi, dapat menjadi aset
dokumentasi sejarah seni budaya daerah yang bernilai tinggi. Dimana
juga kemunculan rentak Gendang Melayu dan tiupan Sarunei yang
mempunyai frekuensi bunyi yang sangat tinggi dari Karo (Dokumentasi
Rekaman) cukup menghasilkan kontras bunyi yang luar biasa.
Hal ini kemudian menghadirkan pertanyaan pada segelintir musisi
budayawan Sumatra Utara dan Manca Negara tentang sebuah konteks baru
dalam sejarah tradisi musik,budaya dan teknologi. Akhirnya,
Silengguri merupakan sebuah kontribusi konseptual seni yang dirancang
dalam keterpaduan Global Etnis Komunitas Seni, Budaya, dan Sains yang
bergelar ; Trilian Art And Science Community.
|