Rumah Adat Karo

Komentar & Saran
Kirim ke:
[email protected]

Ke halaman depanTentang KamiLayanan KamiHubungi KamiEmail GratisRuang NgobrolMilis TanahkaroDownload ProgramLinks

 

SILENGGURI
Ritual Musisi 

Dikutip dari Harian Waspada, 18 Maret 2001

Di bawah gemuruh guruh dan siraman hujan yang membasahi gymnasium Medan International School Simalingkar pada Senin malam (12/3), Pementasan Musik Silengguri (The Rite Of Musician) bersama musisi budayawan Anton Sitepu,Erucakra Mahameru,Hasfan Nasution,Jasa Tarigan,dan Sirtoyono bermula kembali untuk yang ketiga kalinya. Pada kesempatan ini, pementasan Silengguri (The Rite Of Musician) dihadirkan khusus lewat program acara Music Camp yang diselenggarakan setiap tahunnya oleh Medan International School Simalingkar. 

Pementasan kali ini jauh berbeda dari sebelumnya. Dekorasi panggung dan kostum lebih dituangkan ke dalam bahagian dari Komposisi Silengguri. Seiring kata pengantar yang disampaikan oleh Edward Vanness selaku pengajar di Medan International School kepada siswa-siswi Music Camp yang datang dari berbagai International School Manca Negara, Anton Sitepu, konseptor utama Silengguri meletakkan beberapa carik daun sirih di atas permukaan lingkaran kain putih yang juga difungsi perankan ke dalam bahagian komposisi musik secara berurutan. Silengguri ketigapun berawal. 

Suasana gymnasium terasa sangat hening tanpa sepatah katapun. Sayub-sayub terdengar desah alat tiup tradisi Persia Ney (Kontribusi musisi budayawan Manca Negara Mark Renne) mulai dipancar kumandangkan oleh Anton di tengah silih gemuruh guruh yang terasa kian membumi. Erucakra Mahameru pada fase selanjutnya memoles getar alur-alir sayub
guruh yang membalut sekat alam malam itu dengan mengillustrasikan awal fase gerak tari Anton lewat sentuhan alat musik Elektronik Synthesizer. Derai hujanpun merintik derap di cakrawala. Suasana yang penuh misteri. 

Dari lembah gelombang fase bunyi yang cukup dalam dan terkesan luas, Jasa Tarigan menghentakkan ritem Gendang Indung dan Gendang Dua Karo pembelah gaung,yang sebelumnya ia awali dengan gelincir SurdamBalopatnya menyusup masuk ke sentral dimensi bunyi yang telah dihadirkan oleh Anton dan Erucakra. Satu persatu secara silih berganti hentakan dan gelincir bunyi-bunyian alat musik ini semakin mengunci keberadaan ruang dan waktu. 

Suasana semakin terbangun oleh hadirnya Gendang Tradisi Melayu Sirtoyono yang menampar dan memercikkan aroma dan warna bunyi yang lain pula. Yang selanjutnya terus mengikat dan bersahut lewat balutan bunyi Sampelong Sumatra Barat yang direntang hembus oleh Hasfan Nasution. Pertemuan gerak dan musik adalah satu peristiwa yang mendapat sorotan penting dari penonton. Dinamika momen yang sangat di luar dugaan. 

Derai hujanpun mulai meredup di sela usainya pertunjukkan Silengguri yang diiringi dengan derai sambutan luar biasa penonton yang umumnya terdiri dari wisatawan,budayawan, dan siswa-siswi Manca Negara. 

Pengalaman pertunjukkan Silengguri kali ini bukanlah sekedar pandangan keterikatan tentang apa yang disebut Intrans (Trance). Mungkin ia dapat digambarkan sebagai kebebasan dalam menoleh keberadaan estetis pada kelahiran Tradisi Seni dan Budaya. 

Pada awal kesempatan ini, Edward Vanness mengatakan kepada siswa-siswi Music Camp tentang diversitas budaya yang ada di Sumatra Utara khususnya kota Medan. Erucakra Mahameru,seusai pertunjukkan, berbicara sekilas tentang kuatnya sentralisasi budaya Karo dalam jiwa musisi seniman dan budayawan Sumatra Utara pada khususnya, sebuah inti bahasa RASA yang tidak pernah putus dalam sejarah, ungkapnya. 

Silengguri yang diangkat dari budaya klasik Karo merupakan kedekatan musisi pada sebuah masa kepada instrumennya, sekilas Anton Sitepu menguraikan. Kedekatan tanpa batas dan jarak ini bergerak dalam jalur Vertikal(Ketuhanan) dan jalur Horizontal (Kemanusiaan). 

Selanjutnya,pertunjukkan yang direkam di atas pita DAT (Rekaman Digital Live 2-Track) ini, setelah dievaluasi, dapat menjadi aset dokumentasi sejarah seni budaya daerah yang bernilai tinggi. Dimana juga kemunculan rentak Gendang Melayu dan tiupan Sarunei yang mempunyai frekuensi bunyi yang sangat tinggi dari Karo (Dokumentasi Rekaman) cukup menghasilkan kontras bunyi yang luar biasa. 

Hal ini kemudian menghadirkan pertanyaan pada segelintir musisi budayawan Sumatra Utara dan Manca Negara tentang sebuah konteks baru dalam sejarah tradisi musik,budaya dan teknologi. Akhirnya, Silengguri merupakan sebuah kontribusi konseptual seni yang dirancang dalam keterpaduan Global Etnis Komunitas Seni, Budaya, dan Sains yang bergelar ; Trilian Art And Science Community.

Copyright ©2001 Sibayak.Org
Tanah Karo Simalem Home Page

Hosted by www.Geocities.ws

1