|
Medan
(WASPADA)
TAK
DISANGKA ribuan warga kota Medan dari berbagai kalangan
memadati Jambur Namaken Padangbulan Medan, menyaksikan
pertunjukan kelompok musisi beken Sumut dipimpin Erucakra
Mahameru dan artis Karo yang tergabung dalam Jast
Entertainment, pada acara 'Semalam Bersama Music Etnis
Kolaborasi Millenium 2001', pekan lalu.
Acara
dihadiri Kepala Kejaksaan Tinggi Sumut Purnama Munthe, SH,
anggota DPRD Medan DR. Bangkit Sitepu, Presdir PO Medan
Jaya Kim Tarigan, sejumlah anggota DPRD Sumut dan DPRD
Tanah Karo, tokoh masyarakat Karo, pengusaha Karo asal
Jambi dan undangan lainnya.
Dalam
pertunjukan 'akbar' tersebut, musisi yang tampil yakni
Bahagia Surbakti, Luter Tarigan, Harto Tarigan, Sastrawan
Tarigan, Juliana Tarigan, Ira Bona Pinem, Mery Tarigan,
Darto Sitepu, Rita Mariani Tarigan, Mery Tarigan, Sora
Juwita br Karo dan Masita br Karo, Mulia Ginting, Fakta
Ginting, Jalik Perangin-angin dan Bani
Surbaktil.
Selain
itu juga tampil musisi perkolong-kolong Keleng Barus,
Anita Sembiring, Berlian Karo-karo dan Samuel Sembiring
dengan vokalis Sastrawan Tarigan. Bintang tamu yang
melengkapi acara kolaborasi itu Erucakra Mahameru, Anton
Sitepu Cs, Tomblok Cs, Fragmen Perlanja Sira dan Jasa
Tarigan Group.
Beberapa
musisi yang mendapat applaus penonton diantaranya Ira Bona
Pinem yang menyanyikan lagu 'Kelam-kelam dan Amak
Tayangen', Juliana Tarigan dengan lagu 'Siersalah Tetap
Salah', Luter Tarigan dengan lagu 'Belo La Ertangke' dan
adu perkolong-kolong Samuel Sembiring (dari Desa Batu
Karang) dengan Berlian Karo-karo (dari Desa Naman).
Di
penghujung pertunjukan tampil kolaborasi musisi beken dan
musisi Karo bernama "The Rite of Musician",
dibagi dalam lima bagian komposisi dimana alat-alat musik
dimainkan 'saling menyahut' oleh Erucakra Mahameru, Anton
Sitepu, Hasfan, Jasa Tarigan dan Sirtoyono.
Tema
itu diangkat karena dalam tradisi masyarakat Karo fungsi
musik tidak hanya sebatas iringan atau pelengkap, tetapi
mempunyai peranan penting sebagai mediator antara hubungan
sesama manusia dan hubungan dengan dunia supranatural.
Komposisi
diawali permainan alat musik Surdam Baluat (etnis Karo)
dengan Ney (alat tiup dari Persia), Samelong (etnis
Padang) dan Synthesizer (Dron).
Bagian
kedua ditampilkan alat musik Kulcapi disertai vokal
(Mang-mang-Melogenik) ditambah Synthesizer, sedangkan
bagian ketiga ditampilkan perkusi (gendang indung dan
gendang dua) dengan pola interaksi dan tanya jawab.
Bagian
keempat muncul alat tiup Sarunei digabung dengan gendang
dan perkusi Kulcapi, sedangkan bagian pemungkas seluruh
alat musik tersebut dimainkan dalam tempo cepat 'dibalut'
Synthesizer.
Usai
acara, Erucakra Mahameru kepada Waspada menyatakan senang
melihat antusiasnya penonton menyaksikan pertunjukan
kolaborasi tersebut. Dia berharap event semacam ini dapat
diperbanyak untuk 'menggaet' kunjungan turis mancanegara
ke daerah ini, dan sebagai sarana melestarikan budaya
Karo.
Hal
senada disampaikan Jasa Tarigan, yang juga dosen
Etnomusikologi USU. Katanya kecintaan terhadap music
tradisional perlu terus digalakkan sehingga music
Indonesia tidak menjadi tamu di negeri sendiri.
Berdasarkan
data penjualan album rekaman lagu Karo baik dalam kaset
dan CD, kata Tarigan yang juga pimpinan sebuah perusahaan
rekaman tersebut, penjualan lagu Mbiring Manggis yang
dibawakan Juliana Tarigan, ternyata 'meledak' di pasaran
mencapai 600.000 copy. "Ini menunjukkan musik
tradisional Karo masih eksis di Indonesia, khususnya di
Sumatera Utara." (cdmp)
|