Rumah Adat Karo

Beri Komentar & Saran Anda Tentang Halaman Ini

Ke halaman depanTentang KamiLayanan KamiHubungi KamiEmail GratisRuang NgobrolMilis TanahkaroDownload ProgramLinks

 

Guruh Soekarno Putra:
Ikatan Emosional Bung Karno Sangat Dekat Dengan Warga Karo

Dikutip dari Harian Waspada, 11 Juni 2001

Berastagi (Waspada)

Ikatan emosional Bung Karno dengan masyarakat Karo sangat dekat sehingga ajaran-ajaran tokoh proklamator dan Presiden RI pertama itu, sampai saat ini masih tetap berakar dan melekat dihati sanubari seluruh rakyat Karo. 
Demikian ditegaskan Guruh Soekarno Putra ketika memberikan kata sambutan pada saat berlangsungnya peletakan batu pertama pembangunan monumen Bung Karno dan pemugaran rumah tempat pengasingan "Bapak Bangsa Ini" bersama dua rekannya, Sutan Syahrir dan Haji Agus Salim di Desa Lau Gumba/Sempa Jaya sekitar 0,5 km dari pusat kota turis Berastagi, Minggu (10/6). 

Guruh Soekarno Putra yang memberikan kata sambutan tanpa menggunakan konsep, pagi itu terlihat jelas tidak bisa menutupi rasa harunya. Bahkan sempat meneteskan air mata menyaksikan inisiatif dan kepedulian rakyat Karo untuk melakukan pembangunan monumen sekaligus pemugaran rumah tempat pengasingan tokoh proklamator Bung Karno yang ada di daerah wisata Berastagi itu. "Untuk penghargaan ini semua, saya atas nama keluarga Bung Karno menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh rakyat Karo," ujar putra bungsu Bung Karno ini. 

Bung Karno pernah berpesan, "Bangsa yang Besar Adalah Bangsa Yang Menghormati Jasa Pahlawannya" dan "Jangan sekali-kali Meninggalkan Sejarah". Pesan tokoh pendiri bangsa itu, menurut Guruh Soekarno Putra, sampai saat ini masih tetap dipegang teguh oleh rakyat Karo. Bukti rakyat Karo sangat menghargai pahlawannya dan tidak pernah meninggalkan sejarah adalah dibangunnya monumen dan dipugarnya rumah tempat pengasingan Bung Karno pada hari ini, kata putra tokoh proklamator RI tersebut. 

Pada kesempatan itu, Guruh Soekarno Putra juga mengatakan, Kabupaten Karo yang dikarunia Tuhan Yang Maha Esa dengan alam yang subur, indah dan sejuk kiranya perlu tetap dilestarikan. 

Untuk itu dia meminta kepada Pemkab setempat agar tetap menjaga kelestarian lingkungannya. Dan kepada generasi muda Karo Guruh Soekarno Putra mengimbau agar tetap melestarikan kebudayaan Karo. Sebab katanya, dengan melestarikan kebudayaan Karo, maka kita telah ikut melestarikan kebudayaan bangsa. 

Sementara itu, Ketua Umum Panitia Pembangunan Monumen dan Pemugaran Rumah Pengasingan Bung Karno, Sinar Perangin-angin pada kesempatan itu mengatakan, pembangunan monumen dan pemugaran rumah tempat pengasingan Bung Karno ini adalah atas inisiatif seluruh masyarakat Karo dimanapun berada. Pada awalnya, katanya, ide ini dicetuskan oleh Prof. DR. H. Alinafiah Sitepu bersama ketua DPRD Sumatera Utara, H. Ahmad Azhari yang menghubungi ibu Megawati Soekarno Putri (Wapres RI) di Jakarta dan mendapat persetujuan dari Taufik Kiemas. 

Kemudian kata Sinar Perangin-angin yang juga Bupati Karo ini, Pemkab setempat merespon ide terobosan yang berharga ini dan dilanjutkan pembentukan panitia di hotel Danau Toba sekaligus mencari data-data sejarah yang akurat dan obyektif untuk dijadikan sebagian bahan acuan untuk pelaksanaan pembangunannya. 

Disebutkan Sinar Perangin-angin, Bung Karno adalah merupakan tokoh proklamator, pemimpin rakyat dan sekaligus sebagai pendiri bangsa. Jiwa heroik Bung Karno terobsesi bagi masyarakat Karo yang juga penuh dengan jiwa heroik dalam mengusir penjajah. Hal ini katanya, dapat dilihat bahwa di Kabupaten Karo yaitu, di Kabanjahe terdapat "Makam Pahlawan" yang merupakan makam bagi pahlawan pejuang kemerdekaan dan pejuang mempertahankan kemerdekaan. 

"Di Indonesia, hanya terdapat dua makam pahlawan yakni di Surabaya dan di Kabanjahe. Kenyataan ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Karo dan sebagai bukti bahwa masyarakat Karo sangat gigih dalam mempertahankan haknya," ujar Sinar Perangin-angin. 

Dia juga mengatakan, masyarakat Karo pada umumnya sangat bangga dengan dilaksanakannya pemugaran rumah pengasingan Bung Karno. Karena hal ini merupakan bukti sejarah bahwa di Kabupaten Karo pernah seorang pemimpin besar dan proklamator diasingkan. Untuk itu ungkapnya, dalam mewujudkan rasa kebanggaan akan diupayakan pada masa mendatang nama besar Bung Karno diabadikan dengan mendirikan suatu bentuk yayasan," Bung Karno Center." Menurutnya yayasan ini nantinya dapat dijadikan sebagai pusat kajian ajaran Bung Karno, tempat para pelajar dan mahasiswa belajar ajaran dan mengetahui perjuangan Bung Karno bagi bangsa Indonesia. 

Tidak Pernah Memberontak 

Bung Karno yang oleh masyarakat Karo dijuluki sebagai "Bapa Rayat Sirulo" yang artinya Bung Karno pemimpin yang membawa kemakmuran rakyat dan itulah sebabnya, sejak tahun 1945 sampai 2001, rakyat Karo tidak pernah memberontak kepada pemerintah yang sah. Malah rakyat Karo pernah berjasa membasmi pemberontakan DI/TII di Aceh dan pemberontakan PRRI dan Permesta. Ini semua dilakukan katanya, karena rakyat Karo, batinnya menyatukan dengan ajaran Bung Karno. Malah di masa orde baru terdapat dua juta rakyat Karo di Indonesia sengaja ditindas karena jika rakyat Karo bangkit baik di eksekutif, legislatif, yudikatif, BUMN, BUMD termasuk parpol, ormas, LSM dan OKP, maka mereka beranggapan identik bangkitnya ajaran marheinis Bung Karno. 

Sinar Perangin-angin menegaskan, Bung Karno bukan milik Parpol, LSM, Ormas atau OKP. Tetapi Bung Karno adalah milik aset nasional. Justru katanya, selesai pemugaran ini diharapkan akan melahirkan Soekarno-soekarno kecil yang akan meneruskan cita-cita bangsa dan ini merupakan awal pertobatan bangsa kita yang durhaka karena tidak menghormati "Bapak Pendiri Bangsa". 

Ketua umum panitia perayaan satu abad Bung Karno, DR. Rudolf Pardede yang juga merupakan ketua DPD PDIP Sumatera Utara ketika menyampaikan kata sambutannya mengatakan, dalam suasana perayaan hari lahir ke 100 seorang pemimpin besar negeri ini yakni, Bung Karno kita melakukan aksi dimulainya pemugaran bangunan tempat dimana dahulu sekitar kurang lebih 53 tahun lalu tiga orang pemimpin besar bangsa ini yaitu, Soekarno, Haji Agus Salim dan Sutan Syahrir pernah ditahan di tempat ini. 

Dikatan Rudolf Pardede, sejarah telah mencatat, bahwa sejak ibukota republik Yogyakarta jatuh ketangan Belanda pada waktu agresi militer tahun 1948, para pemimpin bangsa ditangkap dan diasing ke berbagai daerah. Dimana tiga orang diantaranya yakni Bung Karno, Haji Agus Salim dan Sutan Syahrir diasingkan ke Berastagi sebelum akhirnya dipindahkan ke Prapat. 

Bangunan ini, kata Rudolf Pardede hanyalah benda mati, sudah rusak ditelan perjalanan waktu. Tetapi dia telah menjadi saksi sejarah, saksi bisu selama lebih dari 50 tahun yang selama ini ditelantarkan, seolah-olah hendak dilupakan oleh penguasa republik ini pada massa lalu. Padahal katanya, sebagai orang yang bijak kita seharusnya menghargai sejarah termasuk semua bukti baik itu merupakan saksi bisu sekalipun. 

Sebelum acara peletakan batu pertama pembangunan monumen dan pemugaran rumah tempat pengasingan Bung Karno di Berastagi, Guruh Soekarno Putra didampingi ketua DPD PDIP Sumatera Utara, DR. Rudolf Pardede, anggota DPRD Tingkat I Sumatera Utara, Ketua DPRD Karo, Bon Purba, Bupati Karo, Sinar Perangin-angin, wakil Bupati, Djidin Sebayang SH, unsur Muspida Karo, tokoh adat, tokoh masyarakat, ormas, LSM, OKP dan sejumlah pelajar SMU sempat melakukan peninjauan ke dalam rumah bersejarah, tempat pengasingan Bung Karno, Haji Agus Salim dan Sutan Syahrir oleh Belanda sekaligus menyaksikan foto dan barang sejarah lainnya yang ada di dalam rumah itu. 

Acara peletakan batu pertama pembangunan monumen dan pemugaran rumah tempat pengasingan Bung Karno di Berastagi, dihibur dengan tarian tradisionil Karo yakni tarian lima serangkai, tarian gundala-gundala dan diakhiri dengan menari bersama. (css/a.26/rel) 

Copyright ©2001 Sibayak.Org
Tanah Karo Simalem Home Page

Hosted by www.Geocities.ws

1