Kenaikan
harga sayur-mayur diperkirakan akan terus berlangsung
dalam bulan ini disebabkan tingginya curah hujan serta
mahalnya harga pupuk.
"Dengan
kondisi riil yang sedang dialami petani lebih kurang dua
pekan ini, kenaikan harga sayur mayur ini diperkirakan
terus berlangsung," kata Ketua Kelsi Sosek Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Departemen Pertanian
Gedung Johor Sumut Ir. Elianor Sembiring, MSi kepada
Waspada, Rabu (31/1), di Medan.
Menurut
Elianor kondisi itu tidak sampai menyebabkan kelangkaan
pasokan sayur mayur di Sumut. Tetapi harus segera mendapat
perhatian dari pemerintah. Sehingga tidak sampai mengarah
pada memburuknya hasil pertanian di Sumut.
Kenaikan
harga sayur, menurutnya, cukup positif. Sebab selama ini
harganya selalu anjlok. Dengan kenaikan yang diperkirakan
berlangsung dalam bulan ini dianggap sebagai awal harga
sayur mulai membaik.
"Kenaikan
harga mencapai 95-150 persen/kg ini sebenarnya tidak
memberatkan masyarakat. Sudah saatnya kita membantu nasib
para petani yang selalu merugi setiap panen. Sebab, biaya
untuk mengelola tanamannya tidak sebanding dengan hasil
dari penjualan pertanian," katanya.
Untuk
mengatur pertanian, Pempovsu diminta turun tangan sehingga
produksi pertanian aman. Selain itu, pemerintah harus
mengatur pemasaran hasil produksi petani sekaligus
mengangkat nasib petani.
Dengan
adanya keterlibatan pemerintah dalam hal pemasaran maka
petani dapat mengetahui harga pasar. "Persoalannya
sama dengan gabah. Kenaikan harga gabah justru dirasakan
para tengkulak bukan petani," katanya.
Sementara
harga tomat dan sejumlah sayur mayur seperti sawi, kol,
bawang pre/daun sop masih belum turun setelah naik 95-150
persen/kg.
"Rabu
sore ini harga tomat belum turun juga, masih tetap Rp.
4.000 - 4.500 per kg begitu juga dengan sejumlah sayur
mayur," kata pedagang. (cmt)