Rumah Adat Karo

Ke halaman depanTentang KamiLayanan KamiHubungi KamiEmail GratisRuang NgobrolMilis TanahkaroDownload ProgramLinks

 

Ada Usaha Sistimatis Mengkucilkan Tanah Karo

Sumber: Milis Tanah Karo
Dikutip dari Sibayak Post oleh M.U. Ginting

 

Berastagi (Sibayak Post)


Mungkin judul diatas dianggap terlalu mengada-ada. Benarkah ada usaha sistimatis meng-kucilkan Tanah Karo? Suatu pertanyaan yang sukar dijawab, namun perlu dianalisa, dan jawabannya juga cukuplah disimpan dalam hati saja.

Bermula dari Satu Pertanyaan


Adalah dalam suatu hari, penulis bertanya kepada Sdr. Martin Luther Munthe, salah seorang anggota DPRD Kab.Karo sbb: Bagaimana menurut saudara tentang perambahan hutan sepanjang perbatasan Tanah Karo-Deli Serdang menjelang desa Bandar Baru? Oleh beliau dijawab: "Pernah saya katakan ada usaha sistimatis meng-kucilkan Tanah Karo, namun tidak ada yang menanggapi". Penulis tertegun sebentar, dalam belum dapat menyimak apa maksud saudara Luther, ada teman yang memanggil dan pembicaraan terputus disitu saja. Sejak itu penulis belum bertemu dengan saudara tsb, dan jawaban atas pertanyaan saya selalu menggelitik dan saya coba mencari sendiri jawabannya.

Tanah Karo Dikelilingi Oleh Ketidak Nyamanan

Tanah Karo bertetangga dengan 4 Kabupaten yakni Aceh Tenggara, Dairi, Simalungun dan Kab Karo Deli Serdang. Kita lihat malah transportasi berupa jalan yang mulus hanya dari Deli Serdang atau Medan. Jalan raya dari Simalungun menuju Tanah Karo amburadul, kopak kapik bagaikan rempeyek, sedangkan jalan ini adalah menghubungkan Tanah Karo dengan kota terbesar dedua di Sumut. Demikian juga jalan raya Dairi tidak jauh berbeda, hanya saja tidak berpengaruh terhadap kunjungan ke Tanah Karo, demikian juga dari Aceh Tenggara atau Kotacane. Yang terpenting adalah jalan raya dari Deli Serdang atau kota Medan. Dan jalan terpenting kedua adalah yang menghubungkan Tanah Karo dengan Pematang Siantar. Apabila jalan Pematang Siantar Tanah Karo mulus maka para turis manca negara dapat mempergunakan jalan tersebut sebagai jalan lingkar Medan-Parapat-Berastagi atau sebaliknya.

Akibat jalan buruk maka turis yang pergi ke Parapat akan langsung pulang ke Medan tanpa singgah di Berastagi. Padahal hanya menambah jarak tempuh kira-kira 40 km, yaitu dari Siantar langsung ke Medan 126 km. Demikian juga sebaliknya, apabila jalan Tanah Karo Siantar mulus, maka perjalanan wisata para turis akan lebih nikmat melalui Medan-Berastagi-Siantar-Parapat, ketimbang Medan-Siantar-Parapat, karena mereka akan menikmati udara pegunungan dan hijaunya pepohonan atau istirahat sebentar di Berastagi baru lanjut ke Parapat.

Kini kita tinjau pula jalan yang menghubungkan Tanah Karo-Medan diatas telah kita sebutkan bahwa jalan yang mulus hanya dari Deli Serdang atau Medan. Jadi apa yang menyebabkan ketidaknyamanan? Memang jalan mulus, tetapi ada kendala lain yang menyebabkan orang malas mengunjungi Tanah Karo. Setiap hari berlapis-lapis polisi menanti kendaraan yang melintasi jalan tersebut dengan alasan atau dalih razia, operasi rutin dll, yang ujung-ujungnya adalah fulus. Suatu kejadian yang menyedihkan pernah terjadi terhadap seorang mahasiswa yang menuntut ilmu di Medan. Pada suatu hari sang mahasiswa pulang ketempat orang tuanya di Berastagi karena telah kehabisan biaya dikantongnya hanya ada Rp.3000 dia mengendarai sepeda motornya, yang bahan bakarnya juga hanya pas-pasan sampai Berastagi. Ditengah jalan antara Pancur Batu Sembahe, di stop polisi yang mengendarai zeep putih dan menanyakan kelengkapan kenderaan Sim dan sebagainya, namun walaupun apa yang diminta semuanya lengkap dengan dalih dan uang yang Rp.3000 itu terpaksa diserahkan si mahasiswa kepada oknum yang bermotto pengabdian terbaik itu.

Kalau memang pengawasan mereka murni demi ketertiban, mengapa mobil penumpang yang diatas atapnya penuh "berbunga penumpang" yang setiap hari melalui jalan tersebut tidak ditertibkan? Kalau kita keluar dari kota Medan menuju Pematang Siantar atau Binjai bahkan Belawan, pengawasan polisi tidak seketat ke Tanah Karo. Segala jenis mobil dan sepeda motor menjadi sasaran. Saat Polres Tanah Karo dipimpin Jacky Uli, dalan suatu pertemuan dengan tokoh masyarakat di kolam renang Berastagi, Jacky menyatakan akan mengumumkan setiap polisi mengadakan razia di jalan menuju Tanah Karo terutama pada hari libur.

Kemudian ada masalah lain yang mungkin orang enggan datang ke Tanah Karo, yakni sering ditemukan mayat di sekitar Bandar Baru dan Sibolangit. Walaupun secara geografis kedua tempat tersebut merupakan bagian dari kabupaten Deli Serdang, namun karena berbatasan dengan kabupaten Karo, maka orang langsung berpikiran ke Karo. Yang menjadi pertanyaan mengapa mayat itu dibuang ke jalan menuju Tanah Karo.

Kembali Kepada Jawaban Saudara Martin Luther SH

Setelah menganalisa dan menjabarkan hal tersebut diatas, kembali kepada jawaban saudara Martin, pertanyaan yang diajukan adalah perambahan hutan tapi dijawab dengan pengucilan Tanah Karo. Jika direnungkan memang ada benarnya. Dengan maraknya perambahan tersebut akan sering terjadi longsor, sehingga arus trasnsportasi akan terkendala dan Tanah Karo akan terisolir dari Medan. Tapi mengapa perambahan hutan seakan dibiarkan saja. 


Tanah Karo dalam menjalankan otonomi daerah mengandalkan pariwisata sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD). Sudah pasti daerah ini mengharapkan wisatawan, baik lokal atau manca negara. Oleh karena itu semua pintu masuk ke Tanah Karo diharapkan mulus tanpa kendala. Untuk itu Pemdakab Karo harus menghapus rintangan.rintangan guna meningkatkan kunjungan wisatawan serta mampu memperlama tinggal turis di daerah ini. (Abdi Noor Tambun)

Copyright ©2001 Sibayak.Org
Tanah Karo Simalem Home Page

Hosted by www.Geocities.ws

1