|
Berastagi (Sibayak Post)
Mungkin judul diatas dianggap terlalu mengada-ada. Benarkah ada usaha
sistimatis meng-kucilkan Tanah Karo? Suatu pertanyaan yang sukar dijawab,
namun perlu dianalisa, dan jawabannya juga cukuplah disimpan dalam hati saja.
Bermula dari Satu Pertanyaan
Adalah dalam suatu hari, penulis bertanya kepada Sdr. Martin Luther Munthe,
salah seorang anggota DPRD Kab.Karo sbb: Bagaimana menurut saudara tentang
perambahan hutan sepanjang perbatasan Tanah Karo-Deli Serdang menjelang desa
Bandar Baru? Oleh beliau dijawab: "Pernah saya katakan ada usaha sistimatis
meng-kucilkan Tanah Karo, namun tidak ada yang menanggapi". Penulis tertegun
sebentar, dalam belum dapat menyimak apa maksud saudara Luther, ada teman
yang memanggil dan pembicaraan terputus disitu saja. Sejak itu penulis belum
bertemu dengan saudara tsb, dan jawaban atas pertanyaan saya selalu
menggelitik dan saya coba mencari sendiri jawabannya.
Tanah Karo Dikelilingi Oleh Ketidak Nyamanan
Tanah Karo bertetangga dengan 4 Kabupaten yakni Aceh Tenggara, Dairi,
Simalungun dan Kab Karo Deli Serdang. Kita lihat malah transportasi berupa
jalan yang mulus hanya dari Deli Serdang atau Medan. Jalan raya dari
Simalungun menuju Tanah Karo amburadul, kopak kapik bagaikan rempeyek,
sedangkan jalan ini adalah menghubungkan Tanah Karo dengan kota terbesar
dedua di Sumut. Demikian juga jalan raya Dairi tidak jauh berbeda, hanya
saja tidak berpengaruh terhadap kunjungan ke Tanah Karo, demikian juga dari
Aceh Tenggara atau Kotacane. Yang terpenting adalah jalan raya dari Deli
Serdang atau kota Medan. Dan jalan terpenting kedua adalah yang
menghubungkan Tanah Karo dengan Pematang Siantar. Apabila jalan Pematang
Siantar Tanah Karo mulus maka para turis manca negara dapat mempergunakan
jalan tersebut sebagai jalan lingkar Medan-Parapat-Berastagi atau
sebaliknya.
Akibat jalan buruk maka turis yang pergi ke Parapat akan langsung pulang ke
Medan tanpa singgah di Berastagi. Padahal hanya menambah jarak tempuh
kira-kira 40 km, yaitu dari Siantar langsung ke Medan 126 km. Demikian juga
sebaliknya, apabila jalan Tanah Karo Siantar mulus, maka perjalanan wisata
para turis akan lebih nikmat melalui Medan-Berastagi-Siantar-Parapat,
ketimbang Medan-Siantar-Parapat, karena mereka akan menikmati udara
pegunungan dan hijaunya pepohonan atau istirahat sebentar di Berastagi baru
lanjut ke Parapat.
Kini kita tinjau pula jalan yang menghubungkan Tanah Karo-Medan diatas telah
kita sebutkan bahwa jalan yang mulus hanya dari Deli Serdang atau Medan.
Jadi apa yang menyebabkan ketidaknyamanan? Memang jalan mulus, tetapi ada
kendala lain yang menyebabkan orang malas mengunjungi Tanah Karo. Setiap
hari berlapis-lapis polisi menanti kendaraan yang melintasi jalan tersebut
dengan alasan atau dalih razia, operasi rutin dll, yang ujung-ujungnya
adalah fulus. Suatu kejadian yang menyedihkan pernah terjadi terhadap
seorang mahasiswa yang menuntut ilmu di Medan.
Pada suatu hari sang mahasiswa pulang ketempat orang tuanya di Berastagi
karena telah kehabisan biaya dikantongnya hanya ada Rp.3000 dia mengendarai
sepeda motornya, yang bahan bakarnya juga hanya pas-pasan sampai Berastagi.
Ditengah jalan antara Pancur Batu Sembahe, di stop polisi yang mengendarai
zeep putih dan menanyakan kelengkapan kenderaan Sim dan sebagainya, namun
walaupun apa yang diminta semuanya lengkap dengan dalih dan uang yang
Rp.3000 itu terpaksa diserahkan si mahasiswa kepada oknum yang bermotto
pengabdian terbaik itu.
Kalau memang pengawasan mereka murni demi ketertiban, mengapa mobil
penumpang yang diatas atapnya penuh "berbunga penumpang" yang setiap hari
melalui jalan tersebut tidak ditertibkan? Kalau kita keluar dari kota Medan
menuju Pematang Siantar atau Binjai bahkan Belawan, pengawasan polisi tidak
seketat ke Tanah Karo. Segala jenis mobil dan sepeda motor menjadi sasaran.
Saat Polres Tanah Karo dipimpin Jacky Uli, dalan suatu pertemuan dengan
tokoh masyarakat di kolam renang Berastagi, Jacky menyatakan akan
mengumumkan setiap polisi mengadakan razia di jalan menuju Tanah Karo
terutama pada hari libur.
Kemudian ada masalah lain yang mungkin orang enggan datang ke Tanah Karo,
yakni sering ditemukan mayat di sekitar Bandar Baru dan Sibolangit. Walaupun
secara geografis kedua tempat tersebut merupakan bagian dari kabupaten Deli
Serdang, namun karena berbatasan dengan kabupaten Karo, maka orang
langsung berpikiran ke Karo. Yang menjadi pertanyaan mengapa mayat itu dibuang ke
jalan menuju Tanah Karo.
Kembali Kepada Jawaban Saudara Martin Luther SH
Setelah menganalisa dan menjabarkan hal tersebut diatas, kembali kepada
jawaban saudara Martin, pertanyaan yang diajukan adalah perambahan hutan
tapi dijawab dengan pengucilan Tanah Karo. Jika direnungkan memang ada
benarnya. Dengan maraknya perambahan tersebut akan sering terjadi longsor,
sehingga arus trasnsportasi akan terkendala dan Tanah Karo akan terisolir
dari Medan. Tapi mengapa perambahan hutan seakan dibiarkan saja.
Tanah Karo dalam menjalankan otonomi daerah mengandalkan pariwisata sebagai
sumber pendapatan asli daerah (PAD). Sudah pasti daerah ini mengharapkan
wisatawan, baik lokal atau manca negara. Oleh karena itu semua pintu masuk
ke Tanah Karo diharapkan mulus tanpa kendala. Untuk itu Pemdakab Karo harus
menghapus rintangan.rintangan guna meningkatkan kunjungan wisatawan serta
mampu memperlama tinggal turis di daerah ini.
(Abdi Noor Tambun)
|