|
Dikutip
dari Harian SIB,
27 November 2001
|
Medan,
(SIB)
Sekitar 700 ekor lembu mati mengenaskan di peternakan tradisional Desa Mbalmbal Petarum Kecamatan Mardingding Tanah Karo dalam sepekan terakhir ini. Masyarakat peternak lembu itu kini sangat cemas apalagi penyebab kematian ternak mereka diduga karena terkena virus yang sangat ganas. Sebab kata H. Perangin-angin, salah seorang peternak setempat kepada wartawan, gejala terserang penyakit hanya dua atau tiga hari sebelum mati.
Peristiwa itu baru pertama kali terjadi di daerah itu. Sebab sejak puluhan tahun lalu peternakan di Desa Mbalmbal Petarum yang memelihara seribuan belum pernah
terjangkit virus sebahaya itu, ujar Sembiring. Untuk menghindari penyebaran virus yang mematikan itu sebagian petarnak mulai mengalihkan lokasi
pemeliharaannya ke daerah lain sekitar Tanah Karo.
Tetapi sebagian yang dialihkan tersebut juga mengalami nasib yang sama, sehingga kecemasan peternak lembu kian cemas dan sangat gelisah.
Diperoleh keterangan, sebagian peternak mulai menjual ternaknya dengan harga lebih murah dari harga pasaran. Hal itu dilakukan untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Melihat penjualan ternak terjangkit virus yang belum jelas
akibatnya sejumlah warga kota Kabanjahe dan Berastagi mulai was-was mengkonsumsi daging lembu. Beredar isu, daging lembu yang terserang virus itu beredar di pasaran kedua kota itu.
Kasubdis Peternakan Karo Ir. Iskandar Sembiring, MM yang dikonfirmasi SIB di ruang kerjanya, Senin (26/11) membernarkan sejumlah ternak lembu terserang virus yang mematikan di Desa Mbalmbal Petarum, wilayah peternakan terluas di Tanah Karo. Tetapi dia membantah ternak yang mati mencapai 700 ekor dan dalam penyelidikan sementara hanya sekitar 100 ekor. Pihaknya masih melakukan
pemantauan di lapangan namun terkendala memperoleh data akurat karena lokasi peternakan terbentang luas.
Iskandar Sembiring juga membantah peredaran luas daging terserang virus tersebut di Karo, karena pengawasan terus menerus dilakukan secara intensif. Tim masih di lapangan baik untuk mengawasi peredaran daging di kamar potong hewan dan di daerah yang dianggap terserang virus tersebut, katanya.
(D5/-e)
|