Rumah Adat Karo

Komentar & Saran
Kirim ke:
[email protected]

Ke halaman depanTentang KamiLayanan KamiHubungi KamiEmail GratisRuang NgobrolMilis TanahkaroDownload ProgramLinks

 

Investor Kesulitan Lahan Pengembangan Agribisnis di Tanah Karo
Butuh Minimal 100 Ha untuk Perluasan Bisnis Ulat Sutera

Dikutip dari Harian SIB, 24 Jan 2001

Medan (SIB)

Kalangan investor dalam dan luar negeri saat ini mengalami kesulitan memperoleh lahan untuk pengembangan sektor agribisnis, khususnya bisnis ulat sutera di daerah dataran tinggi Tanah Karo.

General Manager Sericulture Silk Industries dari Group PT. Ira Widya Utama Medan Samsul Hadi mengemukakan, pihaknya saat ini membutuhkan sedikitnya 100 hektar lahan kosong dengan kondisi dataran yang standar untuk budidaya ulat sutera berkualitas ekspor dan bermutu tinggi.

"Kita membutuhkan minimal 100 hektar lahan untuk pengembangan bisnis ulat sutera ini, tapi sangat sulit diperoleh. Kalaupun ada, harganya tak cocok. Ada harga yang cocok, lokasinya tak sesuai karena tingkat kedatarannya terlalu curam," ungkap Samsul Hadi kepada SIB di Medan, Senin (21/1).

Dia mengemukakan hal itu sehubungan terjadinya kendala perluasan perkebunan ulat sutera yang telah direalisir di beberapa daerah Sumut belakangan ini, yaitu kawasan Desa Kacinambun Tanah Karo dan kawasan Desa Tanah Jawa di Simalungun. Soalnya, ujar Samsul, perolehan tanah itu sangat diperlukan untuk menunjang stok bahan baku produksi yang akan diolah dalam pabrik yang juga telah direalisir di kawasan itu.

Salah satu bentuk kesulitan memperoleh lahan potensial itu, ujar Samsul, adalah harga tanah yang sangat tinggi ditawakan masyarakat setempat. Dia menggambarkan pihaknya hanya mampu membeli tanah dengan harga dibawah Rp. 10 juta per hektar. Sementara para pemilik tanah pada umumnya menawarkan harga diatas angka tersebut.

Saat ini, lanjut Samsul Hadi, kapasitas produksi pabrik ulat sutera itu masih terbilang kecil pada kisaran 10-15 persen. Dia membantah adanya indikasi bahwa proyek ulat sutera itu macet. "Kita masih terus berupaya mencari lahan tersebut, khususnya di kedua daerah (Tanah Karo dan Simalungun) itu," katanya optimis tanpa menyebutkan kemungkinan suplemen investasi perusahaan yang dibiayai Jepang itu.

Sementara itu, pengamat bisnis pertanian Tanah Karo yang juga Wakil Ketua Koperasi Agricultura Jaya di Medan Ir Budi Mulia Barus menyebutkan, pencarian lahan untuk segala jenis komoditi pertanian sebenarnya tidak sulit disamping banyaknya pilihan lokasi. "Banyak lahan kosong atau lahan potensial di Tanah Karo. Tapi bagaimana mungkin masyarakat mau melepaskannya kalau dengan harga obral. Pihak investor selalu menginginkan harga murah, tapi kepada orang-orang dibilangnya harga beli tanah itu tinggi. Itu yang terjadi selama ini," katanya kepada SIB di kantornya.

Dia menggambarkan selama ini ada dua pola yang terjadi dalam pengelolaan lahan pertanian di Tanah Karo. Pola pertama adalah jual beli tanah, dan pola kedua adalah kontrak lahan dengan sistem bagi hasil. (A1/b)

Copyright ©2001 Sibayak.Org
Tanah Karo Simalem Home Page

Hosted by www.Geocities.ws

1