Rumah Adat Karo

Beri Komentar & Saran Anda Tentang Halaman Ini

Ke halaman depanTentang KamiLayanan KamiHubungi KamiEmail GratisRuang NgobrolMilis TanahkaroDownload ProgramLinks

 

Pertanian Karo Perlu Tatanan Baru

Dikutip dari Harian SIB, 22 Mei 2001

Karo (SIB)

Ir. Fachri Djas, Dosen Fakultas Pertanian USU mengatakan, wahana sektor pertanian di Karo perlu dirubah. Karena kita melihat pertanian di Karo selama ini belum memiliki pola tanam yang baik, sehingga banyak petani yang menanam koomoditi dengan sesuka hatinya saja, dan setelah tiba masa panen harganya pun anjlok akibat banyaknya komoditi yang sama di pasar, sedangkan pangsa pasar yang menampung komoditi tersebut masih terbatas.
"Jadi untuk itu perlu dibentuk suatu tatanan baru yakni dengan menciptakan koordinasi yang baik antara Pemkab, pedagang dan petani Karo, agar anjloknya harga komoditi pertanian yang membuat petani menderita dapat terpoteksi atau petani itu mendapat perlindungan dari segi harga," sarannya.

Hal tersebut diucapkannya ketika menjawab pertanyaan SIB, Jumat (18,5), saat mengkoordinir sekitar 200-an mahasiswa USU mengadakan field trip di Tanah Karo.
Dijelaskannya, dari study banding yang pernah dilakukannya di luar negeri, untuk menanam setiap jenis komoditi pertanian, petani luar negeri lebih dulu menanyakan Pemerintah. Selanjutnya pemerintahnya menjelaskan prospek dan memberi perlindungan harga dari komoditi yang ditanam petani tersebut. Sehingga sebelum ditanam petaninya sudah mengetahui lebih dulu hasil yang diperolehnya. Demikian juga dengan pemakaian jenis pupuk dan obat-obatan, kalau di Inggris bukan petani yang menyemprot pestisida atau memberi pupuk tanaman, tapi sudah diserahkan kepada konsultan yang dididik selama enam bulan dan mendapat gaji dari pemerintahnya. Sehingga batas-batas kandungan pestisida produk pertanian mereka tetap berada di bawah batas yang ditolerir.

"Sedangkan di Indonesia hal tersebut belum pernah dilakukan, sehingga yang paling sering dirugikan itu petani kita, yakni mulai dari jenis obat-obatan dan pupuk palsu, dan tidak mendapat perlindungan harga dari komoditi yang dipanen," ujarnya lagi.

Sementara itu, Ir. Sidharta Pinem, Kadis Pertanian Karo kepada SIB beberapa waktu lalu, mengatakan masih banyak petani yang tidak mau bergabung dalam suatu kelompok, sehingga penyuluhan yang diberikan petugas PPL banyak yang tidak diketahui petani, disamping itu, ada juga petani yang sudah mengetahui cara bercocok tanam yang baik tapi tidak mau memberikan ilmunya kepada petani yang lain.

"Jadi kesan yang kita peroleh dari kondisi ini yaitu moral petani kita masih rendah, yang membutuhkan pembinaan yang lebih matang. Namun demikian kita tetap berupaya agar sektor pertanian yang menjadi andalan Karo ini dapat diberdayakan semaksimal mungkin," ujar Pinem.

Lain dari masalah itu, dalam mengikuti pelajaran dasar perlindungan tanaman, sekitar 200-an Mahasiswa USU Fakultas Pertanian semester IV melaksanakan praktek lapangan (Field Trip) ke Tanah Karo, Jumat (18/5).

Ir. Fachri Djas, dosen pertanian USU yang mengkoordinir mahasiswa tersebut mengatakan, tujuan program field trip itu untuk melihat secara langsung jenis gulma/hama dan cara pengendalian yang dilakukan pada setiap jenis komoditi yang ada di Karo.

"Selanjutnya, bahan yang diperoleh dari lapangan tersebut dijadikan sebagai bahan study komperatif, gunanya untuk mengetahui keadaan lapangan yang sebenarnya, lalu bila dibandingkan dengan pelajaran/materi perkuliahan, apakah sesuai atau tidak," ujar Fachri. (C19/p) 

Copyright ©2001 Sibayak.Org
Tanah Karo Simalem Home Page

Hosted by www.Geocities.ws

1