|
Dikutip
dari Harian SIB,
13 November 2001
|
Medan (SIB)
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan (Kapuslibang THH) DR Ir A Ngaloken Gintings MS memperkirakan, kerusakan hutan Indonesia sebesar 1,6 juta per hektar/tahun, baik tebangan resmi maupun tidak. Oleh karenanya pemerintah dan masyarakat hendaknya bersama-sama membangun kesepahaman akan pentingnya peranan hutan bagi kehidupan dan kesejahteraan rakyat.
"Jika tidak dibuat rencana yang baik dari pemerintah, kemusnahan hutan tidak terkendali," ujar Gintings kepada wartawan di sela-sela Seminar Hasil-Hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Pematang Siantar, di Hotel Dirga Surya Medan, Senin pagi (12/11).
Seminar tersebut dibuka Staf Ahli Menteri Kehutanan II Ir Siswanto dengan moderator Kepala Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli Simalungun Ir Basuki Karya Atmaja.
Selanjutnya Ngaloken Gintings menyebutkan, luas hutan Indonesia mencapai 121 juta hektar, di antaranya sekira 44 juta hektar mengalami kerusakan parah. Diperkirakan setiap tahun 1,6 juta hektar hutan musnah ditebang, ujar Gintings.
Musnahnya hutan, katanya, akan membuat "efek rumah kaca" yang pada gilirannya kondisi lingkungan memanas dan tidak cocok lagi untuk habitat sejumlah flora maupun fauna.
Yang perlu direhabilitasi dengan cepat adalah hutan sekunder dan kesadaran semua masyarakat terhadap betapa pentingnya hutan untuk lingkungan hidup.
Menurut Gintings, pengikisan humus merupakan salah satu faktor utama musnahnya hutan. Di Sumut, tepatnya Medan sekitarnya mengalami kebanjiran karena humus di areal hutan Sibolangit dan Karo habis dikikis penduduk. Padahal, ujarnya, humus mampu menahan air sampai 5-10 kg dalam lokasi tertentu.
Mengenai kayu ilegal, katanya, juga merupakan masalah pelik yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Makanya, kayu ilegal (ilegal loging) jangan disalahkan pihak kehutanan saja, tapi perlu adanya kesadaran masyarakat.
Ia mengambil contoh seperti di Jambi kedapatan 1 truk kayu, namun disayangkan aparat di sana tidak segera menangkapnya, termasuk juga Pemda setempat. Ini juga salah satu penyebab hutan kita musnah, ujarnya.
Pihaknya kini tengah meneliti pemanfaatan sumber hutan non kayu, artinya hutan itu tidak cuma kayunya saja yang harus ditebang melainkan juga non kayu.
Ditambahkan, kini tanaman bambu sudah dimanfaatkan seperti kayu. Sedangkan tanaman obat seperti Mengkudu di Malaysia 60 tablet harganya 26 dolar AS, kalau dijus mencapai Rp 50.000 per botol.
Hutan, katanya, bisa dimanfaatkan sebagai obyek wisata seperti yang terjadi di Amazone. Di sana ada 5 obyek yang ditawarkan yakni kayu besi, rotan, penderes karet alam, air sungai yang bertemu tapi tidak pernah menyatu dan ikan piranha. Untuk melihat semua obyek yang ditawarkan ini, katanya, dikutip 50 dolar AS.
Di Indonesia, terdapat obyek wisata hutan yang dapat dimanfaatkan seperti Batu Ampar berjarak 40 Km dari Balikpapan. Ada jembatan di atas kayu bangkara yang besarnya mencapai 100 meter. Dari situ Pemda setempat memperoleh Rp 400 juta per tahun. Dan di lokasi ini terdapat sejumlah bungalow tempat turis beristirahat.
Sementara itu Staf Ahli Menteri Kehutanan II Ir Siswanto menyinggung banyaknya hutan yang rusak. Katanya, pihaknya akan menindak pengrusak hutan. Pihaknya tetap berpegang pada RKT (Rencana Karya Tahunan) para pemegang HPH.
Kepala Balai Penelitian Kehutanan Pematang Siantar Ir Basoeki Karyaatmadja MSc dalam laporannya mengatakan para peneliti BPK (Balai Penelitian Kehutanan) Pematang Siantar sangat antusias dan penuh ketekunan meneliti potensi dan pengelolaan sumberdaya hutan khususnya di Sumut, guna menghasilkan produk berupa hasil hutan kayu dan non kayu serta jasa hutan yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.
Diharapkan seminar sehari berthemakan "Optimalisasi Nilai Sumberdaya Hutan Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat" yang diikuti 200 peserta dari instansi pemerintah, para kepala daerah, praktisi kehutanan, pakar kehutanan, perguruan tinggi, LSM dan tokoh-tokoh masyarakat tersebut membuka cakrawala baru karena banyak nilai hutan yang belum dimanfaatkan secara baik.
Hutan bukan sekedar kumpulan kayu yang mati, tapi nilai dan fungsi hutan yang dinamis sangat dibutuhkan sebagai penyangga kehidupan biologis dan makhluk Tuhan lainnya, ujarnya.
(A5/p)
|