Rumah Adat Karo

Beri Komentar & Saran Anda Tentang Halaman Ini

Ke halaman depanTentang KamiLayanan KamiHubungi KamiEmail GratisRuang NgobrolMilis TanahkaroDownload ProgramLinks

 

Sejumlah Hotel Berbintang di Berastagi "Pindah Tangan" 

Dikutip dari Harian SIB, 09 April 2001

Berastagi (SIB)

Sejumlah hotel berbintang di daerah tujuan wisata (DTW) Tanah Karo, khususnya di kota turis Berastagi, ternyata telah ‘pindah tangan’ kepada pihak ketiga menyusul penurunan pasokan tamu dari kalangan wisatawan mancanegara (Wisman) dalam 3-4 tahun belakangan ini.

Pengamat pariwisata Sumut Drs Mulia Sembiring yang juga wakil ketua PHRI Sumut menyebutkan, rekan bisnisnya siap membeli Hotel Rose Garden Berastagi yang telah vakum beberapa waktu belakangan ini dengan harga Rp3,6 miliar dari harga Rp4,5 miliar yang ditawarkan pihak pemilik.

"Beberapa hotel berbintang di kota Berastagi ini terpaksa dialihkan kepada pihak ketiga, bahkan ada yang dijual langsung seperti Hotel Berastagi Mega View yang kini jadi Hotel Miki Holidays," katanya kepada SIB di Berastagi, Sabtu (7/4).

Berbicara di sela-sela Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PHRI, Sembiring mencontohkan peralihan usaha Hotel Rudang Berastagi dari pengusaha Suranta Ginting SE kepada Drs Layari Sinukaban MBA berupa sewa hotel 15 tahun pada tahun lalu. Dia juga menyebutkan perkembangan volume usaha hotel di daerah-daerah resor seperti Berastagi saat ini memang tak seimbang dengan volume pasokan tamu akibat pengaruh krisis moneter dan kondisi keamanan selama ini.

Sebelumnya, Bupati Karo Sinar Perangin-angin melalui Kepala Dinas Pariwisata Tanah Karo Maja Wijaya SH menyebutkan volume perusahaan hotel di Tanah Karo saat ini mencapai 56 hotel yang meliputi 11 hotel berbintang dan 45 hotel melati.

"Sektor pariwisata dari perhotelan di Tanah Karo selama ini masih menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp840 juta rata-rata per tahun. Ini jauh masih kecil dibanding PAD sektor pariwisata di Bali," katanya sembari menambahkan pihak Pemda Karo juga siap mendorong gerakan investasi baru.

Gerakan investasi baru itu, katanya, upaya mendorong para calon atau mitra investor untuk membangun dermaga wisata di tepian Danau Toba Tongging. Soalnya, pembangunan dermaga itu akan menunjang transportasi untuk berbagai aksi wisata tirta sepanjang Tongging-Haranggaol atau Tongging-Samosir. Pembangunan dermaga ini dinilai lebih ideal saat ini dibanding pembangunan hotel yang terkesan mubajir.

Hal senada juga dicetuskan Ketua PHRI Tanah Karo Lido Hutabarat bahwa saat ini tak ada lagi yang menarik untuk diangkat soal pariwisata Karo sehubungan tingkat hunian (okupensi) hotel yang hanya 30-35 persen rata-rata. Kondisi serupa juga terjadi di DTW Simalungun-Parapat dengan okupensi rata-rata 37,5 persen sebagaimana disebutkan Ketua PHRI Simalungun Husin Tony.

"Hotel-hotel di kawasan resor seperti Berastagi ini hanya penuh pada saat liburan atau week end seperti Sabtu-Minggu saja dengan okupensi bisa 100 persen. Kalau di luar itu, tak ada apa-apanya," katanya datar.

Oleh karena itu, menurut para pengusaha hotel anggota PHRI, pemerintah hendaknya dapat membantu para pengusaha hotel untuk memperoleh bantuan kredit dengan bunga ringan dari bank-bank. Selain untuk mempertahankan operasional hotel, juga untuk mempertahankan investasi maupun melaksanakan ekspansi hotel. (A14/e)

Copyright ©2001 Sibayak.Org
Tanah Karo Simalem Home Page

Hosted by www.Geocities.ws

1