|
Medan (SIB)
Kabupaten Tapanuli Utara, Karo dan Dairi berpotensi menghasilkan madu lebah terbaik di Sumatera Utara. Di 3 kabupaten tersebut bunga kaliandra yang merupakan sumber madu lebah yang berkwalitas tinggi dapat mekar sepanjang hari.
Ketua Badan Kerjasama Pengembangan Peternak Lebah (BKPPL) Sumut Drs M Achir saat ditemui di komplek Yayasan Bina Bersaudara Jalan Tritura 10 Titi Kuning Medan, Selasa (6/3) mengatakan, madu lebah berasal dari macam-macam nectar (manisan) bunga pohon, seperti pohon kapuk, karet, rambutan, mangga, kopi, durian, jambu air, kaliandra, mahoni dan jenis pepohonan lainnya.
Berdasarkan penelitian para ahli dan konsumen/masyarakat peminum madu, yang berasal dari nectar bunga kaliandra merupakan jenis madu yang paling baik. Maka tak heran madu bunga kaliandra tersebut selalu dicari pembeli. Harganya pun lebih mahal dibanding yang lain, karena memang susah didapat. Madu bunga kaliandra bisa laku terjual Rp 120.000/Kg sedangkan yang lain hanya Rp 75.000/Kg.
Menurut Achir bunga kaliandra dapat tumbuh subur dan mekar sepanjang hari di daerah yang beriklim dingin, seperti Kabupaten Tapanuli Utara, Karo dan Dairi, sementara daerah lain di kawasan Sibolangit (Kabupaten Deliserdang) dan Seribudolok sekitarnya (Kabupaten Simalungun). Dengan udara yang sejuk, bunga berwarna merah tersebut dapat mekar sepanjang hari sedangkan di daerah yang iklimnya panas hanya mekar pada pagi hari dan sore hingga malam.
Di kabupaten Karo, kata Ketua Yayasan Bina Bersaudara itu, bunga kaliandra dimanfaatkan masyarakat sebagai penahan angin pada tanaman buah-buahan seperti jeruk manis agar bunganya tidak gugur. Dan biasanya ditanam di pinggir kebun sekaligus dimaksudkan sebagai batas.
Jika keberadaan bunga kaliandra tersebut dimanfaatkan untuk beternak lebah madu, menurut Achir, akan dapat membantu perekonomian petani. Di samping itu, juga dapat meningkatkan produksi buah jeruk melalui penyerbukan-penyerbukan yang dilakukan lebah peliharaan.
Achir yang sudah 10 tahun menikmati hasil lebah mengungkapkan, potensi tiga kabupaten tersebut sebenarnya sudah sejak lama disampaikan kepada masyarakat, tapi hingga kini mereka belum ada yang melaksanakan. Bahkan telah diberi peluang belajar beternak lebah madu secara gratis di Yayasan Bina Bersaudara, namun masyarakat belum ada yang tertarik mengikutinya. "Saya heran mengapa masyarakat tidak mau padahal beternak lebah merupakan bisnis yang menjanjikan," kata Achir.
Selain memperoleh keuntungan dari madu, ujar Achir lagi, tepung sari lebah dapat laku terjual Rp 500.000/Kg sementara royal jelinya lebih dahsyat, Rp 2,5 juta per Kg.
(C12/q)
|