|
Medan (SIB)
Petani sayur-mayur, khususnya petani kol belakangan ini mengeluh lagi akibat harga pasar kol di Tanah Karo anjlok mencapai Rp.200,- per kilogram, padahal modal per pohon mencapai Rp.700,- termasuk pupuk, pestisida dan upah pekerja.
Radjin Ginting, salah seorang petani di Desa
Jaranguda Kecamatan Berastagi mengaku rugi puluhan juta rupiah akibat anjloknya harga kol tersebut.
Kepada SIB, Rabu (2/5) di Medan, Ginting mengeluhkan nasibnya karena tidak ada harapan pulang modal.
"Sekilo pe la kutiga, nak," katanya dalam bahasa Karo, yang artinya
sekilo pun tak laku kol yang ditanamnya.
Lebih
menyesalkan dia, kol yang "tidak" laku itu tidak dapat digunakan untuk keperluan lain. Kalau seandainya yang ditanamnya itu sayur putih, katanya, mungkin masih dapat digunakan untuk bahan paku pupuk.
Dengan menunggu selama 3,5 bulan sampai menjelang panen jantungnya
berdebar, harap-harap cemas dengan kondisi harga sekarang. Padahal tanaman kolnya seluas sekitar satu hektar tinggal beberapa hari lagi akan dipanen.
Hanya itulah harapanku setelah selama ini absen bertani karena trauma
bangkrut pada masa kemarau lalu katanya. (C1/p)
|