|
Medan (SIB)
Sejumlah investor dari luar negeri seperti Thailand, Taiwan dan Jepang siap berinvestasi dengan mengembangkan agro industri di Kabupaten Karo yang terkenal dengan kesuburan tanahnya.
Bupati Karo Sinar Perangin-angin kepada SIB baru-baru ini di Kabanjahe menyebutkan, sebenarnya banyak penanam modal asing yang ingin mengembangkan bisnisnya di Sumut terutama di Karo, tetapi harus ada jaminan dan kepastian harga.
"Banyak investor sudah menyatakan kesiapannya berinvestasi, dan Thailand pada 25 Maret sudah memastikan akan berkunjung ke Tanah Karo," katanya.
Selama ini, katanya pertanian di Karo tidak begitu berkembang karena teknologi pertanian yang masih kurang dikuasai. Hasil tanaman petani berupa holtikultura, sering harus dijual murah karena takut busuk. Dalam situasi tersebut, banyak pihak menekan harga, dan petani harus menjual.
Menangani permasalahan tersebut, sebutnya saat ini Pemkab Karo sedang mengusahakan pengadaan Cold Strage. Dengan Cold Strage, diharapkan hasil tani masyarakat dapat bertahan lama serta segar dan tidak mendesak untuk dijual.
Mendukung peningkatan kualitas hasil pertanian di Tanah Karo, lanjutnya masyarakat juga harus berupaya mendapatkan hasil terbaik dengan penggunaan bibit unggul serta perawatan insentif. Khusus mengenai pemupukan, kepada masyarakat juga diharapkan lebih memperhatikan penggunaannya, apalagi dengan banyaknya peredaran pupuk palsu.
"Saat membeli pupuk, masyarakat hendaknya tidak hanya melihat harga termurah, tetapi kualitas yang diutamakan," sebutnya.
Sesuai dengan perkembangan kata Peranginangin, luar negeri saat ini lebih menyukai hasil pertanian yang menggunakan pupuk alamiah seperti kompos. Mereka ingin hasil pertanian yang alamiah dan jauh dari unsur kimiawi.
Sementara itu, menangani maraknya peredaran pupuk palsu di Tanah Karo, Ketua DPRD Karo Bon Purba menyebutkan, semua itu sebenarnya tergantung masyarakat. Pupuk palsu tidak akan merusak hasil tani masyarakat bila masyarakat teliti. Walaupun begitu, lanjutnya peran tim pengawas peredaran pupuk di daerah Sumut tetap diharapkan.
"Orang-orang yang melakukan penipuan, harus diproses secara hukum karena sangat merugikan masyarakat terutama petani," imbuhnya.
Dikatakan Bon, memang untuk mengungkapkan penipuan-penipuan orang yang tak bertanggung jawab dalam peredaran pupuk palsu butuh waktu yang lama. "Untuk memperoleh hasil terbaik, tidak semudah membalik telapak tangan," sebutnya.
(A15/C19/s)
|