|
[Kutipan Sdr. Victor Sinulingga]
Perkembangan pertanian di
Tanah Karo khususnya sayur mayur dan bunga-bungaan dimulai sejak terbukanya pantai timur
Sumatera/Tanah Deli menjadi perkebunan yang sangat banyak memberikan keuntungan bagi
Belanda. Terbukalah Tanah Karo khususnya Berastagi sebagai kawasan peristirahatan bagi pemilik ataupun staff perkebunan tersebut disamping untuk pegawai pemerintah, perkapalan, pertambangan dsb. Dengan berdirinya hotel, villa dan tempat peristirahatan lainnya, membutuhkan pemasokan sayuran dan buah-buahan yang banyak.
Hal seperti ini juga terjadi di Irian Jaya sekitar Tembaga Pura/Freeport yang sedang berkembang menjadi suatu lingkup pemukiman yang sangat besar dan modern dalam menunjang pengembangan tambang tembaga Freeport lainnya. Satuan pemukiman transmigrasi disekitar Timika dan Wamena yg berhawa dingin berkembang menjadi petani sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan mereka yang sebelumnya harus didatangkan dari Jawa Timur atau import dari Australia dan Singapura.
Pada awal tahun 50-an sebagian sayur mayur dan bunga-bungaan Karo telah memasuki pasar Singapura dan Malaysia, namun sejak saat itu sering terlihat hasil pertanian tertumpuk di pasar dan kebun karena tidak terjual akibat produksi berlebihan. Terutama sejak tahun 60-an masalah pemasaran sayur mayur hasil produksi
Tanah Karo setiap saat muncul khususnya dibidang pemasaran dan harga yg belum terpecahkan.
Kondisi hasil sayur mayur
Tanah Karo semakin parah dengan munculnya wilayah lain yang juga mengembangkan komoditi sejenis seperti kab. Dairi, Simalungun,
Tapsel, serta Riau dan Jambi. Sedangkan kebutuhan
Singapura yang jumlah penduduknya tak lebih 3 juta orang juga dipasok dari Thailand dan RRC yg mampu menjaga kualitas dan kuantitas produksi krn ditunjang dgn pusat-pusat penelitian dan pengembangan (R&D). Thailand memiliki kelebihan dibidang pertanian, karena hubungan yg erat sejak lama dengan Denmark, sebuah negara terkemuka di Eropa dibidang pertanian.
Saat ini produksi pertanian mereka setiap hari diterbangkan ke Eropah dgn pesawat kargo SAS atau Thai airlines dan tiba dalam keadaan segar maupun yg sudah dikalengkan. Keadaan ini semuanya perlu menjadikan perhatian kita dalam mengembangkan pertanian di
Tanah Karo. Memang secara insidentil ada saatnya petani diberikan
harapan-harapan besar, mis. penanaman cengkeh, jahe dan terakhir vanili. Namun krn tidak ditunjang dengan penelitian, kesejahteraan atau keuntungan itu hanya sebentar, lalu menjadi buntung. Namun hal ini tidak berarti bahwa Tanah Karo tidak cocok untuk dikembangkan pertanian sebab itu berarti, kesuburan daerah ini sebagai berkah dari adanya 2 gunung berapi, Sibayak dan Sinabung kita ingkari.
Masalahnya adalah bagaimana mengembangkan pertanian daerah ditunjang dengan kegiatan penelitian dan pengembangan dan produksinya tidak tergantung dari musim, tapi rumah kaca. Pasar global telah didepan kita dengan munculnya jeruk sunkis, anggur, pear, dan apple yg melimpah dipasar dengan harga yg relatif murah berasal dari RRC, Australia, Israel/Jaffa, USA/California dan negara laiinya sedangkan kita tetap berjalan di tempat.
-uqte-
Tapi jangan lupa, pengembangan industri pertanian harus dibarengi dengan pengembangan sektor lainnya sehingga masyarakat luas juga menikmati hasilnya, mis. wisata, budaya, agama dsb.
|