Rumah Adat Karo

Beri Komentar & Saran Anda Tentang Halaman Ini

Ke halaman depanTentang KamiLayanan KamiHubungi KamiEmail GratisRuang NgobrolMilis TanahkaroDownload ProgramLinks

 

Dirambah Orang, Hutan Lindung Kawasan TAHURA
Mencapai 10 Hektar Lebih

Dikutip dari Harian Analisa, 06 Mei 2001

Kabanjahe (Analisa)

Sejak bebarapa hari terakhir ini, telah dirambah orang Hutan Lindung di kawasan TAHURA Bukit Barisan mencapai sepuluh hektar lebih di sebelah Timur Simpang Daulu, Kecamatan Berastagi. 

Lokasi perambahan hutan lindung tersebut jelas terlihat para penumpang bus umum terutama yang duduk disebelah kanan sekitar 100 Km menjelang pos polisi Simpang Daulu/lau Debuk-debuk, dari arah Berastagi menuju Medan.

Diduga keras perambahan hutan lindung diatas lahan kemiringan tanahnya 30 sampai 45 derajat itu, menggunakan dormal sehingga dari atas bus umumpun nampak jelas seluruh kayu yang tumbuh bertumbangan namun belum sempat dibakar oleh penggarapnya.

Wartawan Analisa yang turun ke Medan Rabu lalu sempat mendengar dialog khusus tentang perambahan hutan lindung tersebut antara sesama penumpang bus Sinabung Jaya 125.

PRO DAN KONTRA

Mengkonfirmasikan ludesnya hutan lindung dimaksud kepada Ir. R. Hutauruk Kacab V Kehutanan Karo lewat telepon Kamis (3/5) Kepala Kehutanan Hutauruk tugas-luar sesuai penjelasan piket/penerima telepon Analisa. 

Dialog antar tiga penumpang yang duduk didepan Analisa, seorang di antaranya bermarga Sembiring seakan pro perambah sementara yang dua orang sebagai kontra perambah satu di antaranya Bere Pandia (63) warga Kelurahan Gung Negeri Kabanjahe. 

Biarin saja orang merambah, lokasinya masih jauh dari jalan raya perusak lingkungan di kawasan Bandar Baru arah ke Berastagi pun tidak ada pejabat pemerintah yang peduli, tegas Sembiring.

Perambahan itu berdampak negatif, selain menimbulkan erosi atau longsor, mata air Lau Kaban akan kering, karenanya perlu para pejabat terkait turun tangan, jelas Bere Pandia.

Biarin kering, lagi pula mana ada satu senpun keuntungan Tirtanadi Medan untuk Pemerintahan Kabupaten Karo, tapi bagi penggarap atau perambah hutan itu jelas ada gunanya tambah Sembiring bernada emosi. 

Kita jangan lupa, bila kelak jalan raya ini runtuh akibat perusakan lingkungan termasuk di kawasan Bandar Baru itu, warga Karo juga yang kelabakan hasil buminya pada busuk tak terjual tambah Bere Pandia optimis. Dialog mereka berakhir setelah Analisa membenarkan tanggapan Bere Pandia yang pensiunan guru itu. (ps)

Copyright ©2001 Sibayak.Org
Tanah Karo Simalem Home Page

Hosted by www.Geocities.ws

1