|
Kabanjahe
(Analisa)
Sejak bebarapa hari terakhir ini, telah dirambah orang
Hutan Lindung di kawasan TAHURA Bukit Barisan mencapai sepuluh hektar lebih di sebelah Timur Simpang Daulu,
Kecamatan Berastagi.
Lokasi perambahan hutan lindung tersebut jelas
terlihat para penumpang bus umum terutama yang duduk disebelah kanan sekitar 100 Km menjelang pos polisi
Simpang Daulu/lau Debuk-debuk, dari arah Berastagi menuju Medan.
Diduga keras perambahan hutan lindung diatas lahan
kemiringan tanahnya 30 sampai 45 derajat itu, menggunakan dormal sehingga dari atas bus umumpun
nampak jelas seluruh kayu yang tumbuh bertumbangan namun belum sempat dibakar oleh penggarapnya.
Wartawan Analisa yang turun ke Medan Rabu lalu sempat
mendengar dialog khusus tentang perambahan hutan lindung tersebut antara sesama penumpang bus Sinabung
Jaya 125.
PRO DAN KONTRA
Mengkonfirmasikan ludesnya hutan lindung dimaksud
kepada Ir. R. Hutauruk Kacab V Kehutanan Karo lewat telepon Kamis (3/5) Kepala Kehutanan Hutauruk
tugas-luar sesuai penjelasan piket/penerima telepon Analisa.
Dialog antar tiga penumpang yang duduk didepan
Analisa, seorang di antaranya bermarga Sembiring seakan pro perambah sementara yang dua orang sebagai
kontra perambah satu di antaranya Bere Pandia (63) warga Kelurahan Gung Negeri Kabanjahe.
Biarin saja orang merambah, lokasinya masih jauh dari
jalan raya perusak lingkungan di kawasan Bandar Baru arah ke Berastagi pun tidak ada pejabat pemerintah
yang peduli, tegas Sembiring.
Perambahan itu berdampak negatif, selain menimbulkan
erosi atau longsor, mata air Lau Kaban akan kering, karenanya perlu para pejabat terkait turun tangan,
jelas Bere Pandia.
Biarin kering, lagi pula mana ada satu senpun
keuntungan Tirtanadi Medan untuk Pemerintahan Kabupaten Karo, tapi bagi penggarap atau perambah
hutan itu jelas ada gunanya tambah Sembiring bernada emosi.
Kita jangan lupa, bila kelak jalan raya ini runtuh
akibat perusakan lingkungan termasuk di kawasan Bandar Baru itu, warga Karo juga yang kelabakan hasil buminya
pada busuk tak terjual tambah Bere Pandia optimis. Dialog mereka berakhir setelah Analisa membenarkan
tanggapan Bere Pandia yang pensiunan guru itu. (ps)
|