|
Situs Rumah “PenA” Rumah singgah untuk para aktivis Pelayanan Anak |
|
|
|
|
|
|
Halo,
Selamat datang di Ruang Training
|
MULTIPLE INTELLIGENCES MI-4: dongeng
Thomas Armstrong Ini ada sebuah "dongeng" menarik dari
Thomas Armstrong, Ph.D, pengarang banyak buku ttg pembelajaran. Armstrong disebut-sebut
sebagai PAKAR Multiple Intelligence karena prestasinya dalam usaha menerapkan
MI di dunia pendidikan (dengan bahasa yg mudah dicerna serta ide-ide
brilliant yg sangat applicable). Nah, coba simak "dongengan" si Pakar MI
ini. Syahdan, terbetiklah sebuah kabar yang
menggegerkan langit dan bumi. Kabar itu berasal dari dunia binatang. Menurut
cerita, para binatang besar ingin membuat sekolah untuk para binatang kecil.
Mereka, para binatang besar itu, berencana menciptakan sebuah sekolah yang di
dalamnya akan diajarkan mata pelajaran memanjat, terbang, berlari, berenang,
dan menggali. Anehnya, mereka tidak dapat mengambil kata
sepakat tentang subjek mana yang paling penting. Mereka akhirnya memutuskan
agar semua murid mengikuti seluruh mata pelajaran yang diajarkan. Jadi,
setiap murid harus mengikuti mata pelajaran memanjat, terbang, berlari,
berenang, dan menggali. Sekolah pun dibuka dan menerima murid dari
pelbagai pelosok hutan. Pada saat-saat awal dikabarkan bahwa sekolah berjalan
lancar. Seluruh murid dan pengajar di sekolah itu menikmati segala kebaruan
dan keceriaan. Hingga tibalah pada suatu hari yang mengubah keadaan sekolah
itu. Tersebutlah salah satu murid bernama Kelinci.
Kelinci jelas adalah binatang yang piawai berlari. Ketika mengikuti kelas
berenang, Kelinci ini hampir tenggelam. Pengalaman mengikuti kelas berenang
ternyata mengguncang batinnya. Lantaran sibuk mengurusi pelajaran berenang,
si Kelinci ini pun tak pernah lagi dapat berlari secepat sebelumnya. Setelah kasus yang menimpa Kelinci, ada kejadian
lain yang cukup memusingkan pengelola sekolah. Ini melanda murid lain bernama
Elang. Elang, jelas, sangat pandai terbang. Namun, ketika mengikuti kelas
menggali, si Elang ini tidak mampu menjalankan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
Akhirnya, ia pun harus mengikuti les perbaikan menggali. Les itu ternyata
menyita waktunya sehingga ia pun melupakan cara terbang yang sebelumnya
sangat dikuasainya. Demikianlah, kesulitan demi kesulitan ternyata
melanda juga ke diri binatang-binatan lain, seperti bebek, burung pipit,
bunglon, ular, dan binatang kecil lain. Para binatang kecil itu tidak
mempunyai kesempatan lagi untuk berprestasi dalam bidang keahlian mereka
masing-masing. Ini lantaran mereka dipaksa melakukan hal-hal yang tidak menghargai
sifat alami mereka. ***Dongeng ini terdapat dalam buku "In Their
Own Way: Discovering and Encouraging Your Child's Multiple
Intelligences" Nah … Bagaimana selama ini dengan "sepak
terjang" kita sebagai para pendidik? (sebagai orang tua maupun GSM).
Jangan-jangan kita termasuk salah satu jajaran guru sekolah di atas ....
Biarlah dongeng ini boleh menjadi bahan refleksi pribadi kita masing-masing. Selamat mengajar.
|
Saya tunggu tanggapan dan masukan Anda di: |