|
Situs Rumah “PenA” Rumah singgah untuk para aktivis Pelayanan Anak |
|
|
|
|
|
|
Halo,
Selamat datang di Ruang Training
|
Topik: Anak “bodoh”? Arsip: e-BinaGuru mei 2003 Oleh: meilania Tanpa bermaksud men-diskreditkan pentingnya
pendidikan formal, berikut saya ingin bagikan beberapa kisah nyata yg dicatat
oleh sejarah ... bagaimana institusi pendidikan dan masyarakat pada umumnya
BISA SALAH menilai keberadaan seorang anak. Siapakah anak-anak
"bodoh" yg dicatat oleh sejarah kita ini? Mari kita simak bersama. [1] Anak ini adl anak bungsu dari 7 bersaudara.
Pada usia 6 tahun ia mengerami telur ayam. Pada usia 7 tahun ia masuk
sekolah, tapi 3 bulan kemudian DIKELUARKAN karena gurunya berpendapat bahwa
anak ini tidak dapat menerima pelajaran apa pun. "Dia TERLALU
BODOH!", kata gurunya. Ibunya dg sabar mengajar anak ini membaca,
menulis, dan berhitung. Setelah dapat membaca, anak tsb membaca apa saja yg
dijumpainya, mulai dari Ensiklopedi, buku sejarah, kamus IPA, dan buku Ilmu
Kimia. Pada umur 12 tahun, anak "bodoh" ini sudah mulai suka
mengadakan eksperimen. Pada umur 29 tahun, si pemuda "bodoh" ini
sudah punya laboratorium riset untuk industri. Dalam waktu 13 bulan ia menemukan
400 macam penemuan. Jumlah total penemuannya semasa hidupnya sekitar 3000
macam. Salah satunya adalah: lampu listrik. Nama anak ini adalah: Thomas Alfa Edison [2] Di SD anak ini sama sekali tidak menonjol,
bahkan dikatakan termasuk anak yg "bodoh". Ia tidak suka mata
pelajaran hafalan seperti sejarah, geografi, dan bahasa. Ia tidak suka
menghafalkan fakta dan data. Ia hanya tertarik pada fisika dan matematika,
terutama bagian TEORI. Guru-gurunya menganggap anak ini PEMALU, BODOH, MALAS
BELAJAR, dan SUKA MENENTANG TATA TERTIB. Karena ia hanya mau mempelajari
fisika dan matematika maka ia tamat SMP TANPA MENDAPAT IJAZAH. Ketika
menempuh ujian perguruan tinggi, ia juga tidak lulus. Barulah setelah ujian
kali ke-2, ia berhasil "lolos". Tapi ia jarang ikut kuliah, ia
lebih suka membaca dan belajar sendiri FISIKA TEORI. Ia dapat lulus dari
Perguruan Tinggi karena "meminjam catatan" teman sekuliah. 2 tahun
ia menganggur, sebelum akhirnya mendapat pekerjaan di sebuah kantor paten. Di
sanalah pemuda "bodoh" ini mengutak-atik ilmu FISIKA TEORI hingga
akhirnya menghasilkan Teori Relativitas. Nama anak ini adalah: Albert
Einstein. [3] Anak ini lahir dari sebuah keluarga petani
miskin yg menanam buah-buahan untuk majikannya. Sejak kecil anak ini sudah
tertarik pada tanaman, bahkan pada saat dewasa, setelah ia memutuskan untuk
menjalani hidupnya sbg pastur, ia tetap bereksperimen dg tanaman di kebun
biaranya. Meski sudah jadi pastur, ia mengikuti ujian perolehan ijazah guru,
tapi GAGAL dan dapat angka TERBURUK dalam BIOLOGI. Tanpa mengantongi ijazah
guru resmi, ia hanya menjadi guru CADANGAN ilmu alam di sekolah sambil terus
mengadakan eksperimen. 34 tahun setelah ia meninggal, barulah penemuannya
mendapat pengakuan internasional dan dirinya disebut-sebut sbg BAPAK
GENETIKA. Nama anak ini adalah: Gregor Mendel. Nah ... semoga kisah 3 anak di atas dapat
dijadikan "ilustrasi" pada anak supaya tidak minder :-) terutama
"rasa minder" yg berkaitan dg prestasi atau penilaian akademik. Bagaimana dg "rasa minder" karena
faktor lain? Karena latar belakang keluarga yg "buruk", misalnya.
Mungkin kisah anak di bawah ini bisa mewakili: [4] Anak ini dilahirkan sebagai anak tidak sah
dari seorang notaris dan tuan tanah terkemuka (ayah) dengan seorang gadis petani
biasa (ibu). Ibu anak ini kemudian menikah dg seorang tukang batu. Ayahnya
sendiri, setelah menikah sampai 4 kali, barulah mempunya anak yang sah dari
hasil pernikahan yang sah. Nama anak ini adalah: Leonardo da Vinci. Prestasinya tentu sudah kita ketahui bukan?
Lukisannya yg paling terkenal adalah: Mona Lisa dan The Last Supper. Ia
adalah manusia serba bisa, ia seorang pelukis, pemahat, arsitek, penyair,
musikus, filsuf, pengarang, insinyur, ilmuwan, dan penasihat militer. [5] Anak ini lahir dari keluarga yg sangat
miskin, dan saking miskinnya pada umur 8 tahun ia sudah harus ikut mencari
nafkah dan pada umur 19 tahun ia BARU BISA masuk SD dan mulai belajar
membaca, menulis, dan berhitung (baru pada umur 19 tahun! bayangkan). Tapi ia
seorang pemuda pekerja keras, selain bekerja sbg tukang rem kerta batu bara
ia mencari nafkah tambahan dg jalan bekerja sbg tukang arloji, tukang lampu,
tukang sepatu, dan tukang jahir. Ia belajar SENDIRI dg rajin seluk beluk
mesin uap, sehingga menjadi "ahli", karirnya mulai menanjak, mulai
dari menjadi pengawas mesin, kemudian jadi kepala bagian mesin, hingga
membuat lokomotif. Ia kemudian dikenal sbg BAPAK KERETA API. Ia bukan lulusan
universitas tapi menjadi presiden Institut Teknologi Mesin. Nama anak ini
adalah: George Stephenson. Daftar ini masih akan bertambah panjang bila kita
menengok ke belakang, melihat catatan sejarah ttg anak-anak yg dianggap
"bodoh" atau "kurang beruntung" oleh masyarakat, tapi
ternyata PRESTASI mereka memberikan sumbangsih yg sangat besar dalam
kehidupan umat manusia. Masihkah kita akan menggunakan label
"bodoh" pada anak-anak tertentu? Moderator (meilania). Ü
kembali
|
Saya tunggu tanggapan dan masukan Anda di: |