|
Situs Rumah “PenA” Rumah singgah untuk para aktivis Pelayanan Anak |
|
|
|
|
|
|
Halo,
Selamat datang di Ruang Sekolah Minggu
|
[1] Kelas Bayi: latar belakang dan kebutuhannya secara spesifik [2] Diskusi
Kelas Bayi: berbagi ide materi dan susunan acara [3] Sharing
Kelas Bayi-1: ide perpustakaan dan klub baca [4] Sharing
Kelas Bayi-2: ide sharing bersama orangtua [5] Sharing
Kelas Bayi-3: ide aktivitas untuk orangtua [7] Hukuman
bagi anak 2 tahun? Hubungi saya di: [email protected] |
DISKUSI tentang KELAS BAYI Topik: Hukuman bagi Anak 2 Tahun? Deskripsi: pro dan kontra jenis
hukuman “pukulan” pada anak Arsip: e-BinaGuru Juli 2003 Dari: meilania Ardianto wrote: > Tentang disiplin saya pikir sampai seorg
anak belum dewasa dan masih > tinggal dg ortunya hrs tetap diterapkan. Saya pernah tukar pikiran dg seorang ibu yg
anak-anaknya sudah dewasa namun belum ada yg menikah. Ibu ini seorang yg
cinta Tuhan, rajin belajar Alkitab, dan aktif pelayanan. Dalam pergumulannya
mendidik anak-anak, ibu ini berpendapat bahwa ANAK -berapa pun usianya- tetap
harus taat dan hormat pada orang tua. Lihat Ef 6:1-2 Jadi, Firman Tuhan yg mengatakan: "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di
dalam Tuhan ...." "Hormatilah ayahmu dan ibumu ...." BERLAKU seumur hidup anak, bukan pada saat si
anak masih dinilai belum dewasa (baik dari segi usia maupun status). Namun, ini bukan berarti si anak harus jadi
"yes man" atau "pasrah" pada setiap keputusan orang tua
untuk hidupnya. Yg dimaksud adalah, orang tua akan tetap punya OTORITAS untuk
MENDIDIK anak-anaknya, dan anak-anak tetap punya KEWAJIBAN untuk TAAT dan
HORMAT pada orangtuanya DI DALAM TUHAN. Saya kira apa yg dikemukakan rekan Fiertra baik sekali
(dg istilah "coach" & "counselor").
> Permasalahannya adl apabila anak itu sdh > beranjak remaja (SMU) - Ini keponakan saya,
org tuanya yg tdk bisa > menegakan disiplin kpdnya sedari dia
beranjak remaja, akhirnya ortu > tdk mempunyai wibawa. Justru di sinilah letak permasalahannya. Bila anak tidak di-disiplin SEJAK DINI, jangan
harap orang tua akan bisa melakukannya saat anak beranjak dewasa. Untuk
inilah DR. James Dobson menulis bukunya "Kendalikan Selagi Mampu"
... karena memang bila masanya telah terlewati, orang tua tidak akan sanggup
lagi "mengendalikan" anaknya :-( ... sad but true ...
> Permasalahannya yg semula kecil krn dia tahu > ortunya ngak akan pernah berani menghukum
fisik (dari kecil) membuat > dia berani utk menegakan kepala thd ortunya
dan ortunya semakin > takut. Apakah dlm hal ini tdk perlu
dikeluarkan cara pamungkas itu. > Menghajar dengan rotan utk membuat dia patuh
!! Tentu saja kemungkinan itu ada ... tapi saya agak
pesimis mengenainya. Sedikitnya ada 2 pertimbangan: [1] Hukuman fisik lebih tepat diterapkan pada
anak yg masih kecil (balita) [2] Anak remaja yg masih menerima hukuman fisik
dikuatirkan akan mengalami sakit hati dan
dendam pada orang tuanya, jadi hukuman justru tidak efektif malah
menimbulkan luka batin dan permusuhan dalam keluarga Beberapa waktu lalu, ada seorang ibu (anaknya
adalah teman segereja saya dulu sewaktu kami masih remaja) ... yg curhat pada
saya. Ibu ini menceritakan bagaimana kedua anaknya benar-benar tidak bisa
diatur / dikendalikan. Mereka kalau berkelahi bisa saling hantam beneran,
pernah sampai salah satu harus dirawat di RS. Salah satu anaknya setelah
lulus kuliah tidak mau kerja, malah berani mengambil uang papanya. Tidak
hanya itu, anak tsb malah ikut temannya terlibat dg kuasa gelap. Padahal ibu
ini dan suaminya adalah orang kristen yg baik, bahkan aktif pelayanan dan
"dikenal" di gereja, mereka juga punya pekerjaan serta reputasi
sosial yg baik. Anak-anaknya pun sejak kecil aktif mengikuti SM serta
berbagai aktivitas gereja. Bila menengok ke belakang, mulanya sederhana saja
... Si ibu dan ayah TIDAK PERNAH sungguh-sungguh
mendisiplin anak-anak mereka. Saking "cintanya", anak-anak ini
menjadi raja-raja kecil di rumah yg segala kemauannya HARUS dituruti. Si anak
dg seenaknya memuntahkan makanan yg dimasak ibunya bila dirasanya tidak enak,
sambil mencaci maki si ibu. Tingkah laku seburuk apa pun tidak pernah
mendapat disiplin yg patut, bahkan dari ayahnya pun tidak. Saya turut sedih mendengar penuturan si ibu,
bahkan saya sama sekali tidak membayangkan bahwa teman saya tsb bisa berlaku
"seburuk" itu di rumahnya. Akhirnya saya hanya coba memberi sedikit masukan
untuk menjadi bahan pertimbangan si ibu .... Karena anak tsb sudah dewasa dan sebenarnya mampu
mandiri (bekerja dan menghidupi diri sendiri), maka anak tsb HARUS keluar
dari rumah, bila perlu diberi modal untuk kerja. Tidak ada jaminan bahwa cara
ini akan berhasil, tapi paling tidak si anak perlu di-PAKSA untuk mulai
bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Bagaimana menurut rekan-rekan? Mungkin ada yg punya pendapat lain? Moderator (meilania). kembali Ž |