|
Situs Rumah “PenA” Rumah singgah untuk para aktivis Pelayanan Anak |
|
|
|
|
|
|
Halo,
Selamat datang di Ruang Sekolah Minggu
|
[1] Kelas Bayi: latar belakang dan kebutuhannya secara spesifik [2] Diskusi
Kelas Bayi: berbagi ide materi dan susunan acara [3] Sharing
Kelas Bayi-1: ide perpustakaan dan klub baca [4] Sharing
Kelas Bayi-2: ide sharing bersama orangtua [5] Sharing
Kelas Bayi-3: ide aktivitas untuk orangtua [7] Hukuman
bagi anak 2 tahun? Hubungi saya di: [email protected] |
DISKUSI tentang KELAS BAYI Topik: Hukuman bagi Anak 2 Tahun? Deskripsi: pro dan kontra jenis
hukuman “pukulan” pada anak Arsip: e-BinaGuru Juli 2003 Dari: Fiertra Cahya Usul, Sebelum kita menghukum, coba di-pertimbangkan/
dibedakan, mana karena "kelalaian" sang anak (menolak
didikan), atau mana yang karena "ke-kanak-kanakan-nya" (bawaan-nya
seorang anak kecil yah pgitu itu). Misal-nya, kalau dia menjatuhkan makakan sewaktu
dia masih/ baru belajar berjalan, tentu saja itu masuk kategori
"Childy" (memang bawaan-nya seorang anak2 yang masih bertumbuh/ belum siap).
Tetapi, jika sewaktu sudah bisa mengendalikan diri, dan saat si anak
marah2 karena makanan-nya kurang enak (atau jumlah-nya kurang
dari yang diharapkannya, alias serakah) lalu di-buang dengan
sengaja, nach baru deh "tongkat didikan"-nya jalan. Sebaik-nya pukulan di "pantat", tidak
di daerah lain/ tungkai, karena pukulan di pantat cederung tidak melukai karena ada
lapisan "tebal" (lemak) yang sedikit meredam. Tetapi rasa
sakit-nya, tentu saja tetap akan terasa... Kadang2 alat disiplin tersebut bisa menimbulkan
trauma pada si anak kelak, setiap kali mereka melihat benda tsb.
Karena itu, tidak disarankan menggunakan tangan, suatu saat mereka
akan "menolak"/ enggan kita peluk atau kita belai karena mereka trauma
dengan tangan kita (dulu pernah kena pukul, sekarang membelai...). Betul, banyak-nya pukulan dan kekerasan-nya harus
di-perhatikan. Target-nya pukulan dari tongkat didikan adalah
membuat "kebodohan lari dari si anak" (bertobat), jadi harus
di-bedakan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Tuhan kan menciptakan
setiap orang UNIK, jadi mungkin ada anak yang di-pukul ringan saja sudah
bertobat, ada yang harus cukup keras (sebaik-nya di-coba dulu ke
diri si pemukul, batas mana yang cukup) baru bertobat, ada juga yang
baru liat ortu pegang tongkat didikan sudah bertobat, nangis
ter-pipis2... Saat sang anak melanggar, sebaik-nya secepat2nya
dilakukan "langkah bijaksana" (disiplin,red), jangan ditunda
terlalu lama, dilakukan di tempat yang "tersembunyi" (tidak
di-lihat orang lain, bahkan kakak/ adik-nya sendiri), karena tongkat disiplin bukan
u/ "mempermalukan" sang anak, tetapi menegur karena kasih. Segera lakukan,
jangan sampai kita sudah terlanjur emosi, sehingga keras-nya pukulan
bisa saja tidak lagi terkontrol, nanti malah melukai sang anak. Setelah dilakukan pen-disiplin-an, ada baik-nya
dilakukan penjelasan kenapa sang anak harus di-pukul (kesalahan-nya,
tujuan tongkat didikan u/ mengingatkan, tanda kasih kita), lalu peluk
sang anak supaya mereka merasa tetap di-kasih-i. Jika si anak menangis, arahkan menangis yang
"terkontrol" (diam/ berbisik2) tidak keras2 menjerit/ teriak2 mencari
perhatian. Ortu jgn. ter-intimidasi dengan tangisan tersebut, pandang
mata anak tersebut dengan tenang/ tanpa gugup, temani dia dan jangan
biarkan mereka keluar sebelum tenang/ diam kembali, katakan
"kontrol diri kamu, tenang..! Setelah kamu tenang baru kita keluar dari
sini...!"). Ingat, tidak perlu sama sekali kata2
"penghinaan", apalagi kata2 kutukan (mis, dasar anak bego, gak tau di-untung, gak
bisa di-ajar, dst...). Ingat, apa yang kita "tanam" (melalui
kata2 berkat/ kutuk) akan tumbuh menghasilkan "tuaian" (prilaku/
kejadian) suatu hari nanti...!!! Inti-nya, keep cool & fully
under-control...!! Salam, FRC'03 ======= PS: ada semacam tongkat didikan, yang terbuat
dari seuntas rotan kecil (diameter 3-5mm) se-ukuran batang "kemonceng",
cukup lentur, tetapi juga cukup "perih" (tanpa meninggalkan
bekas), bisa di-cari/ dipesan di beberapa gereja. |