|
Situs Rumah “PenA” Rumah singgah untuk para aktivis Pelayanan Anak |
|
|
|
|
|
|
Halo,
Selamat datang di Ruang Sekolah Minggu
|
[1] Kelas Bayi: latar belakang dan kebutuhannya secara spesifik [2] Diskusi
Kelas Bayi: berbagi ide materi dan susunan acara [3] Sharing
Kelas Bayi-1: ide perpustakaan dan klub baca [4] Sharing
Kelas Bayi-2: ide sharing bersama orangtua [5] Sharing
Kelas Bayi-3: ide aktivitas untuk orangtua [7] Hukuman
bagi anak 2 tahun? Hubungi saya di: [email protected] |
DISKUSI tentang KELAS BAYI Topik: Menciptakan Bayi Jenius? Deskripsi: tanggapan ttg maraknya ide
“menciptakan” bayi jenius Arsip: e-BinaGuru Juli 2003 Dari: Fiertra Cahya Well, pendidikan anak itu menurut hemat saya
HARUS selaras dengan umur & tumbuh kembang anak itu sendiri-sendiri. Kadang ada ortu yang "histeris" melihat
perkembangan zaman sekarang yang sangat "kompetitive" di segala bidang
(akibat kerjaan makin susah, pengangguran makin banyak, persaingan u/ kerja
makin ketat, sedangkan kebutuhan keuangan semakin tinggi...). Jadilah anak2 kita "pelampiasan" panic/
ketakutan ortu akan masa depan-nya (padahal belum tentu Tuhan Yesus belum
datang ke-2 kalinya). Dilain sisi, ortu merasa bangga diri/ terpuji
jika anak2nya mendapat "tempat kehormatan" atas prestasi
belajar-nya/ karya-nya, atau dipuji oleh orang lain yang kebetulan melihat-nya. ;o) Benar, Tuhan juga memberkati setiap orang yang
mau berusaha & bekerja keras. Tetapi saya percaya jika setiap anak itu
"uniq", dan perlu di-treat (baca: di-perlakukan/ dilatih) sebagaiman Tuhan
mau. Apa yang Tuhan mau ? Tuhan menaruh destiny & rancangan yg. Masing2
unit atas diri kita, termasuk anak2 kita. Untuk mengejar suatu keahlian/ jenjang tertentu,
porsi bermain anak2 .vs. belajar/ berlatih harus tetap proporsional. Arti-nya, harus selaras dengan umur &
kesiapan sang anak. Mosok, baru umur 2-3 tahun sudah di-suru les
"piano" atau "gitar", kan gak benerr.r.... Struktur tulang & tubuh-nya saja belum
"memadai" u/ memaikan alat2 musik tsb. Secara penuh (mis. Jangkauan kaki/
tangan-nya yang kurang panjang, jari-jemari-nya yang masih lembut). Demikian juga latihan sempoa, aritmetika, les
bahasa, dst... Kalaupun OK, yah dengan cara belajar anak2, TIDAK
dipaksakan dengan cara belajar-nya anak SMP/ SMA. Kalau anak2, belajar dengan menghitung jumlah buah2an,
sedangkan yang sudah besar bisa di-hadapkan langsung dengan
angka2. Saya sangat amat percaya, seorang anak yang cukup
masa BERMAIN-nya, akan memiliki kesempatan yang cukup besar u/ berhasil
& BERBAHAGIA di masa mendatang, daripada hanya melulu setiap padi s/d
malam di-cekoki segala macam les/ latihan. ** batasan "sukses"/
"bahagia" tsb tentu-nya tidak melulu di-lihat dari kacamata (tuntutan,red) orang tua-nya sendiri
|