|
Situs Rumah “PenA” Rumah singgah untuk para aktivis Pelayanan Anak |
|
|
|
|
|
|
Halo,
Selamat datang di Ruang Sekolah Minggu
|
[1] Kelas Bayi: latar belakang dan kebutuhannya secara spesifik [2] Diskusi
Kelas Bayi: berbagi ide materi dan susunan acara [3] Sharing
Kelas Bayi-1: ide perpustakaan dan klub baca [4] Sharing
Kelas Bayi-2: ide sharing bersama orangtua [5] Sharing
Kelas Bayi-3: ide aktivitas untuk orangtua [7] Hukuman
bagi anak 2 tahun? Hubungi saya di: [email protected] |
DISKUSI tentang KELAS BAYI Topik: Diskusi Kelas Bayi Deskripsi: membicarakan ide materi
dan susunan acara Kelas Bayi Arsip: e-BinaGuru Maret 2003 Dari: meilania Dear Riani, Terima kasih untuk tanggapan Anda. Sore ini saya baca-baca lagi buku
"Perkembangan Anak" karangan Elizabeth B. Hurlock (memenuhi janji
saya pada Anda untuk mem-posting beberapa materi ttg tumbuh kembang bayi /
anak). Ada hal menarik yg saya dapatkan, yaitu tentang
"Perkembangan Pengertian". Berikut saya kutipkan sebagian: Hal. 45 (kotak 13-2) Hal-hal yang penting dalam Perkembangan Konsep - Kemampuan untuk melihat adanya hubungan Untuk mampu menangkap arti, anak itu harus
mampu melihat hubungan antara pengalaman baru dan lama. Kemampuan ini
bahkan mulai berkembang sebelum bayi berusia satu tahun dan selanjutnya
berkembang dengan cepat. Pada tiap usia, melihat hubungan secara tetap lebih
mudah bila materi baru mempunyai persamaan dengan pengalaman masa lampau. ------------------------------------------------------------------- Intinya, bila kita ingin mengajarkan sesuatu pada
bayi, usahakan untuk "masuk" dengan apa yg sudah mereka KENAL baru
kemudian kita ajarkan / kenalkan mereka dg hal baru. Bila kita langsung
mengajarkan sesuatu yg BARU sama sekali, dhi. yg tidak ada
sangkutpautnya dengan hidup mereka sehari-hari, tentulah mereka akan sulit
memahaminya. Saya sependapat dg Anda, bahwa saat kita
menyampaikan Firman Tuhan pada bayi, kita melakukannya dg IMAN. Ada 1 bagian
di Alkitab yg menyatakan bahwa "Firman Tuhan tidak akan kembali dg
sia-sia", bukan? Meski demikian, bukan berarti kita tidak perlu MEMILIH
bagian alkitab yg mana yg sebaiknya kita sampaikan / perkenalkan pada anak /
bayi.
> nah, di sini justru kita mengajar orangtua,
untuk bercerita pada anak, > bukan kita (GSM) yang bercerita pada anak.
untuk itu, materi bercerita > untk bayi, perlu ada kalimat atau kata kunci
yang akan > diekspresikan/didikte oleh orangtua pada
anak. Benar. Saya lebih setuju bila cerita Alkitab
diberikan oleh para orang tua melalui aktivitas sehari-hari bersama bayi.
Misal: sebelum tidur malam, di pagi / sore hari, dsb sehingga timbul
kebiasaan dalam diri anak untuk "membaca Alkitab". Idealnya dg
menggunakan Buku Alkitab Bergambar untuk bayi / anak batita (gambarnya
sederhana, warna cerah, kalimat paling cuma 1-2 saja tiap halamannya).
> dan tidak seperti kelas lainnya, orangtua
(atau suster) yang membawa > anak ke kelas bayi di bawah 1 tahun ini,
punya PR untuk menceritakan > yang sama selama 1 minggu pada anak. > saya sih beriman, anak2 akan senang dan
ingat cerita itu. Cerita yg diulang-ulang pastilah membekas dalam
ingatan anak. Anak saya yg pertama pun sudah saya ajak "membaca
Alkitab" sedini 3 bulan :-) Setelah melewati usianya yg pertama (saat
mulai pinter ngomong), barulah saya sadar, bahwa dia sudah "hapal"
cerita yg ada di alkitabnya. TAPI, kemudian saya juga sadar, bahwa
pengetahuan dia HANYA sebatas TAHU cerita, TANPA mengerti maknanya apalagi
bila dikaitkan dg kehidupannya pribadi. Memang sebegini-lah level pemahaman
anak batita. Contoh: Kisah Zakheus naik pohon ara untuk
melihat Tuhan Yesus. Anak batita mengerti bahwa ada orang namanya
Zakheus, naik pohon, disuruh turun oleh Tuhan Yesus, kemudian Tuhan Yesus
"main" ke rumah Zakheus. Selesai. Bahwa Zakheus adl seorang pemungut cukai
(pengkhianat bangsanya sendiri dg memihak penjajah, berlaku tidak jujur dan
menindas orang lain) anak tidak memahaminya. Bahwa dg "main" ke
rumah Zakheus, Tuhan Yesus "dirasani" orang-orang sebangsanya, anak
juga tidak paham. Bahwa inti cerita di atas adl. keselamatan diberikan pada
orang berdosa (bahkan pada orang se-"buruk" Zakheus), anak juga
tidak mengerti. Saya kutipkan lanjutan Kotak 13-2 di atas: - Kemampuan untuk menguasai arti yang tersirat Anak-anak menangkap hal-hal berdasarkan
apa yang terlihat dan tidak menangkap arti yang tidak terlihat. Bila
artinya halus atau kiasan, anak yang lebih besar pun biasanya tidak menangkapnya.
Anak itu menginterpretasikan pepatah "Anda tidak dapat mengajarkan seekor
anjing tua ketrampilan baru" secara harafiah, sesuai dengan arti tiap kata. ------------------------------------------------------ Ini baru kisah Zakheus yg sederhana dan merupakan
kisah nyata. Sudah tentu cerita-cerita perumpamaan (penabur benih, talenta,
orang pandai dan bodoh membangun rumah, dsb) DAN arti-arti simbolik (penjala
ikan menjadi penjala manusia, garam dan terang dunia) KURANG BERMAKNA
bila disampaikan pada anak batita. Saya sependapat dg rekan Riani, anak-anak tentu
SENANG dan INGAT, meski tidak memahami dg baik arti sesungguhnya yg dimaksud
oleh cerita Alkitab tsb. Sehingga timbul 2 pemikiran dalam diri saya: [1] Pikirkan baik-baik, materi Firman Tuhan apa
yg cocok untuk bayi dan anak batita, serta tentukan
cara yg tepat untuk menyampaikannya. Kalaupun dg segala keterbatasan yg ada dalam diri
kita, kita merasa kesulitan .... [2] Ceritakan saja ... paham atau tidak paham,
toh benih Firman yg tertanam suatu saat kelak pasti akan
"memberikan buah"nya. Yg sanggup membukakan mata rohani anak adl. Tuhan
sendiri. Bagaimana menurut rekan-rekan? Moderator (meilania). |