|
Media-media internasional melaporkan
bahwa selama dua hari terakhir perang Afghanistan, untuk pertama kali
tentara Amerika tewas. Padahal fakta dari lapangan, menurut laporan azzam.com,
sejak AS mulai melancarkan perang di Afghanistan, hingga hari ini, telah
ratusan tentara Amerika yang jadi korban.
Hanya
satu kemungkinan dibalik angka resmi korban tewas yang dikeluarkan
Pentagon, bahwa hanya satu tentara AS yang terbunuh di Afghanistan. Yakni
pemerintah AS berupaya keras menutupi jumlah tentara AS yang mati di
Afghanistan, untuk menghindari munculnya kepanikan publik Amerika.
Berdasarkan catatan azzam.com, sampai
saat ini sejak perang itu dikobarkan AS 7 Oktober lalu, AS kehilangan
tentaranya kira-kira 500 orang. Ini berarti setiap hari, kira-kira 10
tentara AS yang mati. Angka ini hampir sama jika dibandingkan dengan apa
yang diderita Rusia ketika mereka mulai masuk dan menjajah Chechnya untuk
kedua kalinya pada tahun 1999.
Di bawah ini rincian data korban di pihak
AS berasal dari sumber-sumber otentik dari dalam kawasan Afghanistan.
Sebanyak 72 tentara AS terbunuh dalam
serangan kilat pertama kali oleh Mujahidin dekat Kandahar. Mayat-mayat
mereka kini disimpan di kamar-kamar mayat di pangkalan udara Jacobabad,
Pakistan.
Selain itu 82 tentara tewas dalam
operasi-operasi antara Spin Boldak dan Kandahar. 50 lainnya terbunuh
dalam operasi-operasi dekat pangkalan udara Kabul. Sementara 120 tentara
AS yang beroperasi sekitar Kandahar juga dilaporkan tewas.
Selanjutnya, sebelum Taliban menarik
pasukannya dari Kabul, 8 tentara AS tewas dalam operasi dekat Kabul. 40
tentara AS dinyatakan tewas dalam operasi di pegunungan Badaghis, serta
95 lainnya terbunuh dalam suatu serangan di Hotel Zabul, dekat perbatasan
Iran.
Dalam
perkembangan lainnya di sekitar Afghanistan, menurut azzam.com, provinsi
Kunar masih berada di bawah kontrl Komandan Jandad, yang pro Taliban.
Sebelumnya pada pekan ini, sejumlah Mujahidin Taliban syahid selama
serangan udara AS dekat kota Takhta Pul pada jalan raya antara Kandahar
dan perbatasan Pakistan. Kemudian 160 mujahidin lainnya tertangkap, lalu
dieksekusi mati dengan cara sadis. Cara-cara eksekusi itu difilmkan oleh
tentara AS.
Jelas, dunia tidak bisa menutup atas
pelanggaran HAM berat yang dipertontonkan tentara AS ini. Pada hari Kamis
(30/11), pasukan Taliban ditangkap di Takhta Pul setelah perang yang
kejam itu dikobarkan AS.
Namun di provinsi Bamiyan, suatu konvoi
faksi syi'ah, Shiite Hizbu Wahdah diserang dan dihancurkan oleh pasukan
Taliban. Hal itu dikonfirmasi oleh penasehat militer Jendral Dostum asal
Turki.
Rumor yang berkembang, bahwa jurubicara
Al Qoidah, Sheikh Sulaiman Abu Ghaits diisukan tewas, adalah tidak benar.
Tidak juga ada perang antara Mujahidin asing dan Taliban. Mereka kini
justru bersatu untuk melawan para penjajah dan sekutu-sekutunya.
Pihak Taliban telah mengkonfirmasi bahwa
penarikan pasukan mereka dari kota-kota di Afghanistan hanya suatu
strategi untuk melindungi kota dan warga sipil dari pemboman brutal
Amerika. Isu yang menyebutkan sejumlah besar Mujahidin telah ditangkap
penjajah AS adalah tidak benar. Taliban telah mengkonfirmasi bahwa tak
lebih dari 7 prajuritnya yang tertawan pihak musuh.
Moral musuh sebetulnya makin down karena
sudah banyak korban yang jatuh di pihak mereka. Tapi sebaliknya, moral
pasukan Mujahidin asing dan pasukan Taliban kian naik. Karena mereka
selalu berhubungan dengan Allah yang menjadi suplai semangat perjuangan,
serta dukungan dari kaum Muslimin seluruh dunia. (stn/azm)
|