![]() ![]() |
||||
|
|
||||
|
JANGAN TERUSKAN PENYIMPANGAN NEGARA Pemerintah
Indonesia di bawah pimpinan Gus Dur benar-benar malang. Selain punya utang
–luar maupun dalam negeri-- sekitar Rp. 1.280 trilyun (Kompas,23/10/2000),
kini pemerintahan yang baru berumur setahun itu sedang mengalami krisis
legitimasi. Banyak sekali tuntutan mundur. Kalau menjelang sidang tahunan MPR
beberapa bulan lalu hanya segelintir elit politik yang tergabung dalam poros
tengah yang ingin melengserkan Gus Dur, kini banyak pihak, kecuali PKB dan
PDIP serta PBNU tentunya, sudah mulai tidak bisa diam melihat Gus Dur
berkuasa. Ada kalangan DPR, ada kalangan mahasiswa, bahkan para pengamat
politik maupun ekonomi. Pasalnya, terlalu
banyak kesalahan yang dibuat Gus Dur yang membuat banyak pihak merasa perlu
bersuara menentang presiden yang semakin ke sini merasa semakin berkuasa dan
merasa kedudukannya semakin kuat. Di tengah-tengah orang kesal kepada Tommy,
dia malah menemuinya di sebuah hotel. Di tengah tengah kebencian masyarakat
terhadap konglomerat yang merampok uang negara, dia malah meminta penangguhan
tiga konglomerat yang total kredit macetnya sekitar 55,9 trilyun. Di tengah
marahnya umat kepada Israel atas kasus pembantaian sekitar 120 orang muslim
Palestina dan 4000 lainnya luka-luka, Gus Dur malah bersikap netral terhadap
konflik Israel-Palestina, bahkan merasa yakin akan kebaikan keberadaannya di
Yayasan Yahudi Shimon Peres! Di tengah kemarahan rakyat terhadap Dubes negara
imperialis AS yang sangat sombong, Robert S Gelbard, Gus Dur malah
dengan nada tinggi membela dubes AS yang gemar mencampuri urusan dalam negeri
Indonesia itu. Seolah Gus Dur menganggap bodoh orang yang meminta agar
Gelbard di-personanongrata-kan. Ya, seolah orang Indonesia dianggap
oleh Gus Dur tak tahu apa-apa tentang hobi negara imperialis seperti AS dalam
melakukan spionase, menyulut konflik, dan membuat konspirasi di berbagai
belahan dunia demi kepentingan politik luar negerinya yang imperialis itu.
Dan di tengah seruan mundur mahasiswa, Gus Dur justru dengan arogan
menjawabnya: “Kalau saya tak mau mundur, mau apa?”. Mundur dan tidak sama saja Rupanya
pemerintahan yang baru setahun dan disinyalir oleh BPKP telah menyimpangkan
APBN 1999-2000 sebesar 165,85 trliyun (70,93% dari total realisasi anggaran
Rp 233,816 trilyun yang diperiksa BPK, Kompas, 27/10/2000) ini bakal
menghadapi goyangan-goyangan yang lebih keras. Sebab, sebagaimana sunnatullah
jatuhnya sebuah kekuasaan, jika suatu kekuasaan telah merasa aman dan
memiliki dukungan kuat, dia akan semakin arogan, manakala dia semakin arogan,
dia akan lupa diri. Saat dia lupa diri, dan mulai ditinggalkan bahkan
dikhianati oleh kawan-kawannya –yang baik maupun yang buruk—di situlah
pemerintahan akan jatuh. Namun sebagai
kaum muslimin yang menghuni negeri ini, yang tentunya lebih berhak atas
negeri ini, persoalan kita bukanlah sekedar Gus Dur mundur atau tidak. Sebab,
sistem ketatanegaraan yang mendominasi dunia saat ini, yakni sistem demokrasi,
baik yang setengah-setengah maupun yang seratus persen, pada hakikatnya
adalah sistem yang rusak, bahkan sangat rusak sekali. Sehingga wajar sekali
kalau dalam tempo setahun saja ada penyimpangan 165,85 trilyun. Di mana pun,
sistem pemerintahan yang dibangun oleh asas demokrasi akan korup,
birokrasinya bobrok. Bahkan pepatah pakar politik Barat mengatakan, “kekuasaan
itu cenderung korup, sedangkan kekuasaan yang absolut itu pasti korup”.
Sehingga, korupsi penguasa sebenarnya sudah kecenderungannya dalam sistem
demokrasi. Dan korupsi itu tak bakal bisa diberantas. Bagaimana mungkin
Soeharto yang dilengserkan oleh rakyat dua tahun yang lalu lantaran KKN yang
gila-gilaan, ternyata diputus bebas! Dan begitu ringan hakim yang memutus
bebas membalas komentar Presiden terhadapnya dengan ucapan: Silakan Presiden
cari, tak akan ada hakim yang bersih sama sekali. Presiden Gus Dur toh tak
membalasnya lagi, sebab proyek Paiton hasil KKN Orde Baru yang hendak
dibatalkan oleh PLN sendiri, malah dibela presiden hingga Dirut PLN harus
mundur. Itulah kisah nyata yang dramatis dari sebuah bangsa yang sedang lupa
terhadap ajaran Allah yang menjadi keyakinannya sendiri, dan sedang terbuai
oleh lamunan bakal hidup sejahtera di bawah naungan demokrasi. Padahal
demokrasi adalah paham yang dasar ideologisnya adalah sekularisme, yakni
paham memisahkan agama dari kehidupan, paham yang menjauhkan diri dari aturan
Allah SWT bagi manusia dalam menempuh perjalanan kehidupannya di dunia. Oleh karena itu,
tulisan ini tidak akan melibatkan diri dalam pro kontra pelengseran Gus Dur.
Karena, siapa saja yang menggantikan Gus Dur, hasilnya kurang lebih sama.
Yakni, penguasa dalam sistem demokrasi seperti sekarang dan dalam konstelasi
politik dunia seperti sekarang hanya akan tunduk kepada kemauan IMF, World
Bank, dan tuan-tuan mereka di AS sana. Penguasa bukanlah menjadi wakil umat,
tapi menjadi wakil bangsa asing untuk menghadapi umat. Jika umat banyak
terbunuh dan banyak menderita, penguasa seolah-olah tidak mendengar dan belum
mendapatkan laporan. Jika ada segelintir bangsa asing terbunuh atau bahkan
sekedar tidak nyaman, mereka akan mengutuk keras tindakan anak bangsanya
bahkan melakukan penangkapan-penangkapan. Terlalu banyak kasus yang bisa
dipaparkan sebagai contoh. Oleh karena itu, siapapun yang ingatannya tidak
pendek akan dapat melihat bagaimana perilaku para penguasa dari masa ke masa
selama negara ini tidak mandiri, yakni berada di bawah bayang-bayang
kekuasaan bangsa asing, sejak zaman penjajahan model lama sampai penjajahan
model baru sekarang. Hentikan Penyimpangan? Penyimpangan
kepala negara dan para pejabat bawahannya sebagaimana perkataan pakar politik
Barat di atas, dalam sistem demokrasi akan senantiasa ditutupi oleh sebuah
kekuasaan yang biasanya berkolusi dengan pemegang harta dan penegak hukum.
Oleh karena itu, berdirinya berbagai lembaga dalam sistem demokrasi pada
hakikatnya adalah untuk mencari kekuasaan dan dukungan untuk menutupi
berbagai penyimpangan yang dilakukan. Merekalah lingkaran-lingakaran yang
senantiasa melakukan tindakan korupsi dan kolusi dan kospirasi. Sehingga
lingkaran-lingkaran itu terkadang saling membantu terkadang pula saling
memusuhi dan mengkhianati. Oleh karena itu ada pameo, tidak ada kawan abadi
dan tidak ada musuh abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Sunggung cara
hidup seperti itu, adalah cara hidup jahiliyah sebelum Islam datang, dimana
setiap yang kuat akan memakan yang lemah di antara komunitas yang ada. Oleh karena itu,
jika umat ini ingin menghentikan berbagai penyimpangan yang ada, harus
dilakukan sebuah rekonstruksi pemikiran, agar umat ini kembali memformat
ulang pikirannya dengan pemikiran Islam yang bersumber dari wahyu Allah SWT.
Umat harus berani melepaskan demokrasi yang dasarnya adalah maksiat kepada
Allah, yakni sekularisme, dan menggantikannya dengan sistem politik Islam,
yakni sistem Khilafah Islamiyyah 'ala minhajin nubuwwah, sistem yang
menjalankan ajaran dan teladan Nabi Muhammad saw. Yang selain sebagai Rasul
penyampai risalah juga sebagai penguasa (hakim) yang menjalankan
pemerintahan dengan hukum yang diturunkan oleh Allah SWT tatkala beliau
menjadi kepala negara di Daulah Islamiyyah yang beribukota di Madinah Al
Munawwarah. Rasulullah saw.
Telah mengajarkan bagaimana menjalankan pemerintahan dan mengatasi pejabat
yang menyimpang. Tatkala ada seorang yang menyampaikan hasil pekerjaannya
kepada beliau saw. Dalam mengambil pungutan dari suatu daerah, seraya berkata:
Ini untuk anda, dan ini hadiah yang mereka berikan kepadaku, maka Rasul
menolak tindakan pejabatnya itu dengan mengatakan: “Kenapa anda tidak
duduk saja di rumah orang tua anda sampai hadiah itu datang kepada anda?”.
Jelas, pejabat publik dilarang menerima hadiah dari masyarakat yang
dilayaninya, apalagi dari pihak asing! Dalam masalah
suap, Rasul menyatakan : “Laknat atau ku tukan Allah akan menimpa orang
yang menyuap dan yang disuap”. Dalam hadits lain disebut juga: ”dan
yang menjadi mediator antara penyuap dan yang disuap”. Sedangkan untuk
mencegah korupsi, Rasul memberikan fasilitas yang secukupnya bagi para
pejabat atau pegawai pemerintah dalam melaksanakan tugasnya. Beliau
mengatakan: “Siapa saja yang kami tugaskan (untuk melaksanakan tugas
negara), sedangkan dia tidak memiliki isteri, hendaknya dia mencari isteri,
jika dia tidak punya rumah hendaknya dia mencari rumah, dan bila dia tidak
punya kendaraan hendaknya dia mencari kendaraan, dan bila dia tidak punya
pembantu, hendaknya dia mencari pembantu – tentu di bawah tanggungan negara—dan
barang siap yang mengambil selain itu, maka itu adalah kecurangan”. Dalam masalah
kecurangan ini, Allah SWT berfirman: “Siapa saja
yang curang (berkhianat dalam harta), maka ia akan datang pada hari kiamat
dengan membawa apa yang dia korup...” (QS. Ali Imran 161) Penyimpangan terbesar di masa kini Sistem kehidupan
kita saat ini, diakui atau tidak amat jauh bahkan bertentangan dengan sistem
kehidupan dan sistem hukum Islam. Padahal kita –kaum muslimin- telah
diperintahkan oleh Allah SWT Maha Pencipta, dan Dzat Yang Maha Adil untuk
terikat menjalankan sistem hukum yang berasal dari Allah SWT. FirmanNya : “Maka
putuskanlah perkara (peradilan/pemerintahan) atas mereka menurut apa yang
Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan
meninggalkan kebenaran (hukum Allah) yang telah datang kepadamu.” (QS.
Al Maidah 48). Bahkan secara
tegas Allah SWT. menganggap setiap orang –terutama kepala negara- yang
tidak mau merujuk dan menjadikan sistem pemerintahan/peradilan pada sistem
Islam, bisa terjerumus dalam kelompok orang kafir, karena telah menerapkan
sistem pemerintahan/peradilan kufur, bukan berdasarkan Islam. FirmanNya : “(Dan) Siapa
saja yang tidak memutuskan perkara (pemerintahan/peradilan) dengan apa yang
telah Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (QS. Al
Maidah : 44) Dengan demikian,
penyimpangan terbesar Gus Dur sebenarnya bukan karena bertemu dengan Tommy
Soeharto, atau sikap pengistimewaannya kepada tiga orang konglomerat, atau
skandal Brunaigate maupun Buloggate, dan seabrek lagi urutan 'dosa lainnya'.
Dosa terbesarnya justru tidak diterapkannya sistem hukum Islam dalam seluruh
aspek kehidupan masyarakat (termasuk pemerintahan, peradilan, politik,
ekonomi, sosial, pendidikan, militer, politik luar negeri dll). Padahal ia
adalah seorang muslim, yang –katanya-- juga bergelar 'kiyai' lagi, memiliki
kekuasaan untuk menerapkan sistem hukum Islam. Padahal juga mayoritas
penduduk negeri ini adalah muslim. Juga banyak desakan untuk diterapkannya
sistem hukum Islam sekarang juga. Maka, apa yang
akan dikatakannya kelak di hadapan Allah SWT, pada hari dimana manusia tidak
dapat lagi berdusta dan berkilah? Apakah takutnya kepada manusia lebih tinggi
dari pada rasa takutnya
kepada azab Allah yang dahsyat ? Disamping itu,
kaum musliminpun harus tetap memahami dan menyadari konsekwensi dari
kemusliman dan ketundukannya terhadap perintah-perintah Allah SWT. Yang,
antara lain, mengharuskan kita terikat dan menjalankan seluruh sistem hukum
Islam. Ini adalah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar, apapun kondisinya.
Sebab Allah SWT berfirman : “(Dan)
Tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan
yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan sesuatu ketetapan,
akan ada pilihan (lain) tentang urusan mereka” (QS. Al Ahzab : 36). Khatimah Jadi, kewajiban
kaum muslimin sekarang adalah berjuang mewujudkan terlaksananya sistem hukum
Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Dan siapa saja yang lalai,
atau tidak peduli dengan seruan Allah itu, sama artinya dengan melawan azab
Allah SWT, yang amat dahsyat. Na'udzubillahi min dzalik! Sumber: www.al-islam.or.id (Al islam 31) |
||||
|
[HOME] [TENTANG KAMI] [INFO FSQ] [ARTIKEL] [DUNIA ISLAM] [DAKWAH] [LINKS] [FREE EMAIL] [BUKU TAMU] FORUM STUDI AL QURAN Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Sekretariat: Musholla Ulul Albab FE Jl. H. Hasan Basri, Kayutangi Banjarmasin Email: [email protected] |
||||