![]() ![]() |
||||
|
|
||||
|
HUBUNGAN EKONOMI DAN POLITIK DALAM PEMBANGUNAN SERTA PERMASALAHAN YANG DITIMBUKANNYA oleh: Hidayatullah Muttaqin Pembangunan
Ekonomi dan Masalahnya “Para ahli di negara-negara Barat memandang kegiatan ekonomi akan selalu berhadapan dengan problema ekonomi, yaitu seluruh masyarakat manusia, meskipun berbeda-beda taraf dan kemajuannya, semuanya menghadapi faktor fundamental yang disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan mereka yang melebihi sumber-sumber yang tersedia. Problema inilah yang dikenal dengan problema kelangkaan.”1 Pandangan para ahli Barat inilah yang sedang menguasai pandangan
masyarakat dunia saat ini. Masyarakat dunia telah dicekoki dengan sikap hidup
materialisme, karena problema kelangkaan dan prinsip “bagaimana
dengan pengorbanan sekecil-kecilnya mendapatkan keuntungan yang
sebesar-besarnya” menjadi dasar kegiatan ekonomi dunia, sehingga setiap
individu, masyarakat, bahkan pada tingkat bangsa/negara berlomba-lomba untuk
memperebutkan sumber-sumber yang menurut mereka terbatas untuk memenuhi
kebutuhan yang menurut mereka tidak terbatas. Keadaan tersebut berakibat pada
"siapa yang kuat merekalah yang menguasai sumber-sumber ekonomi", akhirnya mereka yang lemah, baik
sebagai individu, masyarakat, bangsa/negara, menjadi tertinggal serta berada
dalam posisi miskin dan tertindas. Inilah yang menyebabkan distribusi ekonomi
(barang dan jasa) yang tidak adil. Distribusi ekonomi yang tidak adil yang ditopang oleh sikap hidup
materialisme akan membawa dampak yang negatif bagi pembangunan, yaitu
kesenjangan sosial dan ekonomi, korupsi, gejolak sosial, dan lain-lainnya. Di Indonesia, pada masa Orde Baru kebijaksanaan pembangunan lebih
terfokus kepada pembangunan ekonomi. Dalam pembangunan ekonomi ini pun
kebijaksanaan pemerintah kurang memihak rakyat kecil dan tidak mendorong
tumbuhnya ekonomi rakyat. Pemerintah lebih sibuk dengan usahanya untuk
mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi agar PDB (Product Domestic Brutto)
dapat ditingkatkan sebesar-besarnya, sehingga pendapatan perkapita dapat
ditingkatkan.2 Untuk itu pemerintah
berusaha membangun industri-industri baru secepat-cepatnya dan
sebanyak-banyaknya dengan perhatian yang kurang pada aspek sosial, pendidikan,
kesehatan, lingkungan, dan lain-lain. Pembangunan industri dengan cara tersebut hanya dapat dilakukan
dengan membawa masuk investor asing dan memperbolehkan swasta meminjam dana
kepada kreditor asing untuk membiayai pembangunan industri-industri baru
tersebut. Agar industri-industri baru tersebut dapat berjalan dengan baik
maka pemerintah memberikan fasilitas monopoli serta perlindungan tarif dan
non tarif yang diberikan kepada konglomerat dan kolega asingnya.3 Di sisi lain pemerintah kurang memperhatikan pembangunan di sektor
pertanian dan pendidikan yang berlandaskan agama (dalam hal ini agama Islam)
serta kesehatan. Padahal sektor pertanian merupakan urat nadi kehidupan
rakyat, karena sebagian besar rakyat Indonesia bekerja di sektor ini. Selain
itu pembangunan memerlukan manusia yang memiliki SDM (Sumber Daya Manusia)
yang berkualitas dan beriman serta sehat jasmani. Dengan cara penanganan pembangunan yang timpang tersebut, membawa
akibat pada penguasaan sumber-sumber ekonomi dalam jumlah yang besar oleh
konglomerat, juga korupsi yang merajalela, pelayanan kesehatan yang buruk. Permasalahan lain akibat pembangunan ekonomi yang tidak adil adalah
kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi yang sangat lebar. Pada masa
sebelum krisis ekonomi, dua belas konglomerat di Indonesia menguasai 35% PDB.
Sedangkan koperasi yang beranggotakan 31 juta orang hanya menguasai 8% PDB.
Aset seluruh KUD saat itu sama dangan aset perusahaan besar seperti Djiwi
Kimia. Juga aset non-KUD sama dengan aset yang dimiliki Gadjah Tunggal.4 Bila masalah kesenjangan ini dan masalah pembangunan lainnya tidak
cepat ditangani, maka “kekecewaan dan tekanan mental masyarakat bawah yang
tersisihkan ini berubah menjadi kebencian yang bisa mewujud dalam bentuk
kerusuhan sosial”5
yang pada akhirnya akan mengakibatkan kekacauan ekonomi, politik, sehingga
tujuan pembangunan gagal dicapai. Politik, Masalah serta Sumber Permasalahannya “Pada umumnya polotik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu
sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan
dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu.”6
Dalam pandangan sekularisme, politik merupakan cara untuk mencapai
tujuan-tujuan duniawi.7
Dalam Kamus Modern Bahasa Indonesia karya St. Muh. Zain (penerbit : Yayasan
Dharma), politik (Belanda) adalah siasat, atau tipu muslihat.8 Dengan cara pandang seperti itu,
maka politik hanya akan melahirkan permasalahan-permasalahan baik di dalam
negeri maupun di luar negeri. Selama setengah abad lebih Indonesia merdeka, sejak zaman revolusi,
zaman Orde Lama, zaman Orde Baru,9
dan zaman Reformasi sekarang ini, selalu dilalui dengan huru hara politik.
Perubahan politik terjadi karena adanya kekuatan politik baru yang ingin
berkuasa dengan memanfaatkan penderitaan rakyat, yang selanjutnya
menumbangkan rezim lama dan menggantikannya dengan rezimnya, sehingga kita
dapat memperkirakan permasalahan politik tidak akan terus berhenti sebab
setiap rezim penguasa akan ditumbangkan rezim baru lagi dan begitu seterusnya. Seperti rezim Soekarno pada masa Orde Lama yang condong kepada
komunis ditumbangkan oleh rezim Soeharto penguasa Orde Baru yang condong
kepada kapitalisme. Setelah itu rezim ini tumbang seiring dengan
mengguritanya KKN dan penumpukan kekayaan rezim Orba dan kroni-kroninya (konglomerat)
dan digantikan rezim Habibie yang sangat singkat karena hanya sekedar
pemerintahan transisi saja. Sekarang rezim Gus Dur memegang kendali negara
ini. Berlainan dengan rezim Soekarno, rezim Soeharto, apalagi rezim
Habibie, rezim Gus Dur ini sangat condong kepada sekularistik, bersifat
sinkritis, pro Zionis, pro Barat, pro PKI, pro Kristen, tak bernurani, tak
bermoral, dan suka menebar fitnah.10
Dengan melihat kondisi politik yang dijalankan rezim-rezim tersebut, terutama
rezim Gus Dur, kita harus siap menghadapi gejolak-gejolak politik yang selalu
membayangi perjalanan negara dan pembangunan. Memang selama ini perubahan politik di negara kita hanya berkisar
kepada pergantian rezim saja sehingga esensi politiknya tetap saja berada
pada nilai-nilai sekularisme baik komunis maupun kapitalis yang menjadikan
politik sebagai tujuan dan kendaraan untuk memperoleh kekuasaan, kedudukan,
kekayaan dan kehormatan. Hal inilah yang menjadi sumber biang permasalahan
politik selama ini. Sekularisme yang menjadi dasar kehidupan politik tidak hanya
merambah rezim penguasa saja tetapi hampir seluruh komponen yang ada di dalam
negara ini terjerat tali sekularisme. Bahkan sekularisme juga sudah mengikat
leher dan menguasai pemikiran-pemikiran para ulama dan para pemimpin Islam
sehingga mereka tunduk terhadap rezim penguasa yang seharusnya menjadi vionir
dalam memberangus paham sekularisme untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.
Mereka tidak berani menentang dan menghentikan kezhaliman dan
penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan rezim penguasa dan kroni-kroninya
sehingga pembangunan semakin jauh dari hasil yang ingin dicapai. Menurut Amin Rais, kelaliman yang dilakukan penguasa dalam bermain
politik, ketidakberanian masyarakat dan tokoh agama dalam memperbaiki
ketidakbenaran yang dilakukan penguasa, disebabkan oleh syirik politik,
syirik ekonomi, syirik sosial yang sudah melanda negeri ini. Yaitu
manusia dalam menjalankan kegiatan politik, ekonomi, dan sosial tidak lagi
berdasarkan tauhid tetapi lebih berdasarkan kepada nafsu semata.11 Kondisi politik dan
hakikat politik yang demikian di negara ini hanya melahirkan ketidakstabilan,
kesengsaraan rakyat, gejolak sosial dan kerusuhan yang mengakibatkan krisis
di negara ini, seperti krisis ekonomi, krisis moneter, krisis sosial, krisis
politik, krisis keamanan yang kita alami sekarang ini. Hubungan Politik dan Ekonomi dan Masalah yang Ditimbulkannya. Hubungan ekonomi dan politik adalah hubungan yang tidak dapat
dipisahkan dan keduanya saling mempengaruhi sehingga mempunyai pengaruh yang
luas terhadap pembangunan. Perkembangan hubungan politik dan ekonomi di Indonesia selama ini
sering tidak sinkron. Bila suhu politik di dalam negeri memanas maka kinerja
perekonomian pun menjadi turun. Juga kondisi politik dibentuk sedemikian rupa dengan maksud mengamankan
tujuan-tujuan tertentu pada bidang ekonomi
seperti yang dilakukan presiden Soeharto pada masa Orba. Menurut Didin S. Damanhuri : “munculnya Soeharto (baca : Pak Harto-pen.)
ke panggung kekuasaan tahun 1966 dilatar belakangi oleh beberapa teori, yaitu
: 1. Memberikan prioritas sangat kuat untuk pencapaian target
pertumbuhan ekonomi yang tinggi. 2. Membangun setting politik yang menempatkan presiden, ABRI (sekarang
TNI-pen.), birokrasi, dan Golkar sebagai mesin pencipta stabilitas politik
untuk mendukung suksesnya program-program ekonomi. 3. Menempatkan target
spesifik swasembada beras sebagai penyangga dasar stabilitas (stabilitas
harga-harga sebagai dasar stabilitas ekonomi dan politik). 4. Memberikan fasilitas
perlindungan tarif dan non tarif kepada group-group konglomerat sebagai
lokomotif pertumbuhan ekonomi. 5. Memilih langkah represif politik dan militer dalam menghindari
setiap halangan, gangguan dan ancaman terhadap semua instrumen ekonomi dan
politik yang diciptakan tersebut.”12 Presiden Soeharto tidak membiarkan keputusan-keputusan ekonomi dan
politik yang tidak disertai persetujuannya apalagi tanpa sepengetahuannya.
Semua keputusan ekonomi dan politik harus mutlak berada dalam kontrolnya.13 Untuk mendukung setiap keputusan ekonomi dan politiknya agar dapat
berjalan sesuai rencana, “dia menciptakan kelompok loyalis dari lingkungan
keluarga, kroni sipil maupun militer dengan memberikan privillage (hak-hak
istimewa-pen.) dalam kesempatan bisnis, karir birokrasi, maupun militer.14 Kelompok loyalis, terutama dari pihak keluarga presiden Soeharto dan
pengusaha keturunan menggunakan menggunakan kesempatan yang diberikan
tersebut untuk memperkuat
kedudukan ekonominya. Mereka berusaha memperluas basis dan jaringan usahanya,
serta berusaha menguasai sumber permodalan (perbankan nasional) dan sumber
daya alam (kehutanan dan pertambangan). Karena itu mereka berani memasuki
wilayah politik. Dengan dalih turut serta menyukseskan pembangunan mereka merayu
presiden Soeharto, supaya pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan ekonomi
yang menguntungkan kerajaan bisnis mereka. Desakan kelompok ini menambah semangat pemerintah untuk melaksanakan
pembangunan dengan prioritas mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Pemerintah merasa yakin dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi maka teori trickle
down effect atau teori efek menetes ke bawah dapat diterapkan. Dengan
metode tersebut, pemerintah berharap akan tercipta pemerataan pendapatan
melalui proses tetesan kemakmuran ekonomi para konglomerat. Tetapi, realita
yang terjadi bukan trickle down effect melainkan trickle up (muncrat
ke atas), yaitu pemerasan dan penghisapan sumber-sumber ekonomi yang dimiliki
rakyat sehingga tersedot ke atas pangkuan kerajaan bisnis para konglomerat,15 akibatnya masyarakat golongan atas
semakin kuat, besar dan mahakaya dengan pertumbuhan mengikuti deret ukur
sedangkan masyarakat golongan bawah yang merupakan penduduk mayoritas di
negeri ini ekonominya tidak mendapatkan perbaikan yang berarti, kalaupun
tumbuh hanya mengikuti deret hitung dan akhirnya tertinggal jauh di belakang
masyarakat golongan atas apalagi jika dibandingkan dengan konglomerat.16 Pembangunan dengan prioritas mengejar pertumbuhan ekonomi yang
tinggi memerlukan stabilitas ekonomi yang mantap, karena itu pemerintah
berusaha memperkuat pondasi stabilitas tersebut dengan mengamankan harga
barang-barang kebutuhan pokok rakyat, juga tekanan fisik dan mental terhadap
pihak yang dianggap mengganggu stabilitas tersebut dengan menggunakan militer
di jalur keamanan dan Golkar di jalur politik.17
Penggunaan stabilitas dan keamanan secara berlebihan dan cenderung
menekan rakyat untuk menopang pertumbuhan ekonomi membawa dampak yang negatif
terhadap kehidupan sosial masyarakat karena hal itu sangat menghambat
partisipasi rakyat dalam segala program dan aktivitas pembangunan.18
Pembangunan yang dijalankan selama ini, telah mengalami
penyimpangan-penyimpangan berupa merajalelanya praktek KKN yang terjadi di
lembaga permerintah dari tingkat pusat sampai tingkat yang paling bawah
sehingga virus KKN ini telah mengakar di dalam kehidupan sosial, ekonomi dan
politik. Praktek KKN ini menyebabkan tersingkirnya ekonomi rakyat. Wewenang yang dimiliki pemerintah telah disalahgunakan antara lain
pemeberian hak monopoli dan hak monofsoni kepada para konglomerat dan
fasilitas-fasilitas lain yang sangat berlebihan sehingga menyeret praktek
diskriminasi terhadap rakyat dan pengusaha kecil juga terjadi penghamburan
dana pembangunan, perampasan tanah milik rakyat melalui penggusuran. Segala bentuk penyimpangan tersebut pada akhirnya menimbulkan
penderitaan rakyat. Kesenjangan sosial ekonomi semakin lebar. Tim peneliti
LIPI mengungkapkan bahwa 0,02 % atau sekitar 5000 orang menikmati sekitar 30
% pendapatan dari perekonomian Indonesia (Berita Ekonomi dan Keuangan,
27-02-1997).19 Sejak krisis ekonomi dan krisis moneter mulai menimpa negeri ini
pada pertengahan tahun 1997 yang lalu merembet kepada krisis politik dan
krisis sosial sehingga terjadi kerusuhan di berbagai kota besar di Indonesia,
akibatnya hasil-hasil pembangunan banyak yang hancur dengan sia-sia,
kriminilitas semakin meningkat, keamanan tidak terkendali, sedangkan para
konglomerat dan pengusaha-pengusaha lainnya yang selama ini mengeruk kekayaan
dengan menggusur ekonomi rakyat dan menguras dana BLBI begitu mudah pergi ke
luar negeri untuk menghindari badai krisis yang menimpa Indonesia. Nasi sudah menjadi
bubur, kehidupan sebagian besar rakyat yang serba kekurangan semakin berat
dengan adanya berbagai krisis tersebut. Saat akhir tahun 1998 inflasi
mencapai 85 %,20 sedangkan harga barang-barang
kebutuhan pokok melonjak tinggi sekali, seperti ; harga beras
mencapai Rp 5.000,-/kg dan harga minyak goreng sebesar Rp 8.000,-/kg.21 Kinerja perekonomian Indonesia saat itu sangat rendah dengan tingkat
inflasi 85 %,22
kurs rupiah sempat terjun ke titik Rp 17.000,- per US $ dan Indeks Harga Saham Gabungan
(IHSG) mencapai titik terendah pada 200 poin.23 Krisi moneter dan ekonomi yang terjadi merambat kepada krisis
politik. Mahasiswa dan masyarakat yang tidak tahan lagi dengan penderitaan
yang mereka alami sebagai akibat krisis tersebut, memberanikan diri mereka
untuk secara langsung beroposisi terhadap pemerintahan presiden Soeharto.
Mereka dengan tegas mengkritik kebijakan-kebijakan presiden karena dinilai
sarat dengan KKN. Mereka menolak kepemimpinan presiden Soeharto, karena
menurut mereka penyebab segala biang krisis di Indonesia adalah presiden
beserta kroni-kroni KKN-nya sehingga jika presiden sudah lengser keprabon
maka krisis akan segera berakhir. Di tengah badai krisis dan penderitaan rakyat ini terjadi
pertarungan politik. Kelompok-kelompok politik tertentu memanfaatkan krisis
dan ketidak percayaan mahasiswa dan masyarakat terhadap pemerintah untuk
menjatuhkan lawan politiknya. Namun, ketika presiden Soeharto sudah turun
dari jabatannya krisis tetap berlanjut. Ketika presiden Habibie naik menggantikan presiden Soeharto kondisi
perekonomian sangat memprihatinkan. Untuk bulan Mei saja inflasi sudah
mencapai angka 22,42 %, sedangkan rupiah tersungkur pada angka Rp 16.500,-
per US $ dan suku bunga perbankan mencapai 70. %24 Naiknya presiden Habibie menjadi orang nomor satu di Indonesia tidak
mengurangi suhu politik nasional saat itu. Bahkan yang terjadi suhu politik
semakin panas, karena Habibie sangat tidak disukai oleh kelompok politik dari
kalangan sekular, ekstrim kanan (Kristen) dan ekstrim kiri (sosialis/komunis).
Mereka menganggap Habibie sebagai representasi dari kekuatan ideologi Islam
Indonesia di tampuk kekuasaan yang akan menghambat gerak mereka di Indonesia.
Mereka terus menggoyang kedudukan presiden Habibie melalui serangkaian isu
dan demontrasi dengan memperalat para mahasiswa yang masih lugu dalam
pemikiran politiknya. Keadaan politik saat itu sangat menghambat usaha pemerintah Habibie
untuk memulihkan kinerja perekonomian nasional yang tengah terpuruk padahal recoveri
ekonomi hanya bisa dilakukan jika kondisi stabilitas politik sudah pulih.25 Pada awal Orde Baru stabilitas politik mudah diciptakan karena
pemerintah berhasil menanamkan pengaruh pada masyarakat dengan menekankan
bahaya komunisme dan PKI yang saat itu sangat dibenci masyarakat khususnya
umat Islam sehingga rakyat menaruh simpati terhadap pemerintahan presiden
Soeharto serta mendukungnya. Dukungan juga diperoleh dari luar negeri (Barat)
karena saat itu sedang perang dingin antara Blok Barat yang dipimpin Amerika
Serikat (kubu kapitalis) dengan Blok Timur yang dipimpin Uni Sovyet (kubu
komunis/soisalis). Dukungan dari dalam dan luar negeri inilah yang membuat
keadaan politik dan ekonomi stabil. Sedangkan presiden Habibie kurang memiliki modal untuk menegakkan
stabilitas politik. Di pihak lain opini telah dibentuk oleh musuh-musuh
Habibie bahwa perpindahan kekuasaan dari presiden Soeharto ke prisiden
Habibie dianggap tidak sah, juga digembar-gemborkan bahwa Habibie serta
kabinetnya termasuk bagian Orde Baru yang pro status quo sehingga harus
disingkirkan dan digantikan dengan orang-orang yang dianggap pro reformasi. Meskipun demikian, dengan segala kekurangan dan kesulitan yang
dihadapinya, pemerintahan presiden Habibie berhasil memulihkan stabilitas
ekonomi dalam waktu yang relatif singkat walaupun kondisi politik tidak
stabil.26 1 Ahmad Muhammad Al ‘Assal dan Fathi Ahmad Abdullah Karim, Sistem Ekonomi Islam, Prinsip-Prinsip dan Tujuannya (PT Bina Ilmu, Surabaya, 1980), hal. 1. 2 Secara teoritis pendapatan perkapita akan meningkat jika pertumbuhan PDB lebih besar dari pertumbuhan jumlah penduduk, tetapi tanpa pemerataan dan distribusi pendapatan yang adil, maka pada dasarnya sebagian besar masyarakat mempunyai pendapatan di bawah rata-rata pendapatan perkapita. 3 Didin S. Damanhuri, Paradigma Baru Proses Pengambilan Keputusan (HU Republika, Jakarta, 15-03-1999). 4 Pengantar Penyunting buku M. Amin Rais, Tauhid Sosial : Formula Menggempur Kesenjangan (Mizan, Bandung, Penyunting Okkie Muttaqie, 1998), hal 16. 5 Ibid, hal 17. 6 Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (PT Gramedia, Jakarta, 1977), hal. 8. 7 M. Amin Rais, op cit, hal 88. 8 Seperti yang dikutip H. Zainal Abidin Ahmad dalam buku: Ilmu Politik Islam I (Bulan Bintang, Jakarta, 1977), hal. 24. 9 M. Amin Rais, op cit, hal. 95. 10 Majalah Media Dakwah, Jakarta, Muharram 1421 H. 11 Lihat M. Amin Rais, Tauhid Sosial : Formula Menggempur Kesenjangan (Mizan, Bandung, Penyunting Okkie F. Muttaqie, 1998), hal. 95 12 Didin S. Damanhuri, Paradigma Baru Proses Pengambilan Keputusan (HU Republika, Jakarta, 15-031999). 13 Ibid. 14 Ibid. 15 AM. Saefuddin, Trickle Down, Trickle Up (HU Republika, Jakarta, 23-11-1996) 16 Ibid. 17 Didin S. Damanhuri, Paradigma Baru Pengambilan Keputusan (HU Republika, Jakarta, 15-03-1999) 18 M. Rusli Karim, Menuju Transformasi Masyarakat Abad ke-21, Menciptakan Trilogi Baru Pembangunan (HU Jawa Pos, Surabaya, 27-01-1997) 19 Sebagaimana dikutip oleh A. Gunadi dan R. Basuki Ruswanto dalam ; Kemitraan dan Demarginalisasi Ekonomi Rakyat (HU Jawa Pos, Surabaya, 16-07-79) 20 EKBIS (Suplemen Khusus HU Republika, Jakarta, 07-12-1997), hal. 3 21 Ibid, hal. 2 22 Ibid, hal. 3 23 EKBIS (Suplemen Khusus HU Republika, Jakarta, 04-10-1999), hal. 5. 24 EKBIS (Suplemen HU Republika, Jakarta, 07-12-1998), hal. 2. 25 Kacung Marijan, Dilema Pemulihan Krisis Ekonomi, (HU Jawapos, Surabaya, 28-09-1998). 26 ibid. Hidayatullah Muttaqin: Ketua Kelompok Studi Ekonomi Islam Forum Studi Al Quran FE Unlam dimuat di HU Kalimantan Pos pada 7-8 Februari 2001 |
||||
|
[HOME] [TENTANG KAMI] [INFO FSQ] [ARTIKEL] [DUNIA ISLAM] [DAKWAH] [LINKS] [FREE EMAIL] [BUKU TAMU] FORUM STUDI AL QURAN Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Sekretariat: Musholla Ulul Albab FE Jl. H. Hasan Basri, Kayutangi Banjarmasin Email: [email protected] |
||||