![]() ![]() |
|||||||||||||||||||||
|
|
|||||||||||||||||||||
|
SPEKULASI MATA UANG DAN DAMPAKNYA BAGI PEEKONOMIAN Pengantar
Krisis nilai rupiah terhadap US dolar yang terjadi sejak pertengahan
tahun 1997 sampai sekarang sangat berdampak bagi perekonomian Indonesia.
Krisis mata uang ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga menimpa
beberapa negara Asia lainnya seperti Thailand, Korea Selatan, Malaysia dan
Filipina. Salah satu sebab utama jatuhnya nilai rupiah tersebut adalah utang
luar negeri yang jatuh tempo dalam jumlah puluhan milyar dolar yang harus
dibayar dengan US dolar yang tidak diimbangi dengan ketersediaan cadangan
dolar yang memadai sehingga rupiah kelebihan supply sedangkan demand-nya
relatif tetap bahkan menurun, di sisi lain demand US dolar terus bertambah
dengan sangat cepat dan tinggi dan supply-nya terbatas, akibatnya sesuai
mekanisme pasar uang maka nilai rupiah jatuh dengan sangat mencolok. Kurs rupiah pada awal Agustus 1997 mencapai Rp 2.500–Rp 2.600 per
US dolar, kemudian turun dikisaran Rp 5.000–Rp 6.000 per US dolar pada
bulan Desember 1997. Kurs Rupiah paling rendah terjadi bulan Mei 1998 yaitu
Rp 16.900 per US dolar. Sekarang rupiah berada pada pergerakan antara Rp
10.000 – Rp 10.500. Selain faktor utang luar negeri yang jatuh tempo, masih banyak lagi
faktor lain yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi fluktuasi
nilai rupiah baik faktor ekonomi maupun non ekonomi. Faktor ekonomi misalnya
fundamental ekonomi Indonesia yang sangat rapuh. Faktor non ekonomi antara
lain kondisi politik, sosial dan keamanan yang tidak stabil. Selain itu ada
satu hal yang harus kita cermati bahwa kejatuhan nilai rupiah terhadap mata
uang dunia merupakan suatu rekayasa dari kegiatan spekulasi mata uang yang
semata-mata bertujuan mengeruk keuntungan materi belaka dalam waktu singkat.
Tulisan singkat ini mencoba mengupas permasalahan spekulasi mata uang dengan
mengurai fakta yang selama ini terjadi. Motif Spekulasi
Dalam sistem ekonomi kapitalis, Keynes mengemukakan permintaan akan
uang dilandasi oleh 3 motif, salah satunya adalah motif spekulasi. Permintaan akan uang dengan motif spekulasi, menurut Keynes
disebabkan oleh ketidakpastian masa depan (uncertainty) dan harapan yang
ingin diraih (expectation). Seberapa banyak permintaan akan uang ini
ditentukan oleh tingkat suku bunga (interest) (Boediono : 1985). Semakin
tinggi tingkat suku bunga semakin sedikit permintaan akan uang dengan motif
spekulasi, sebaliknya semakin rendah tingkat suku bunga maka semakin besar
permintaan akan uang dengan motif spekulasi. Artinya jika suku bunga tinggi
(tentu saja berkaitan dengan sektor finansial) dimana keuntungan yang akan
diraih berinvestasi di sektor finansial diharapkan lebih besar dari pada
sektor lain, maka permintaan akan uang dengan motif spekulasi menjadi turun.
Jika suku bunga rendah dan diperkirakan investasi di sektor finansial lebih
kecil keuntungannya dibandingkan dengan investasi di sektor lainnya sehingga
permintaan akan uang dengan motif spekulasi menjadi lebih tinggi. Yang dimaksud pernyataan di atas bukan berarti jika suku bunga
tinggi maka tidak ada spekulasi. Tetapi
kita harus membedakan antara permintaan akan uang dengan motif spekulasi
dengan spekulasi itu sendiri. Spekulasi merupakan suatu kegiatan yang
dilakukan di tengah ketidakpastian untuk meraih keuntungan yang
sebesar-besarnya. Berkaitan dengan masalah mata uang, maka spekulasi mata
uang merupakan usaha meraih keuntungan yang sebesar-besarnya dari selisih
kurs jual dan kurs beli mata uang suatu negara terhadap mata uang negara
lainnya dengan mengutak-atik sisi supply dan demand
nilai mata uang tersebut. Spekulasi Mata Uang dan Jatuhnya Rupiah
Kita
mengetahui bahwa jatuhnya nilai rupiah terhadap mata uang asing terutama US
dolar disebabkan oleh utang luar negeri yang jatuh tempo dalam jumlah besar
yang tidak diimbangi oleh supply US dolar yang cukup sekaligus didukung
kondisi perbankan nasional yang sangat bobrok. Jatuhnya nilai rupiah tersebut
juga didorong dengan semaraknya aktivitas para spekulan yang ingin mencari
untung. Tatkala rupiah sudah mulai goyah karena tidak seimbangnya antara
supply dan demand rupiah
terhadap US dolar sehingga kurs rupiah sering berfluktuasi tinggi dan timbul
ketidakpastian posisi rupiah yang sebenarnya, maka banyak spekulan-spekulan
baru bermunculan yang mereka itu sebelumnya adalah spekulan yang bermain di
pasar modal, ataupun para pengusaha yang mengalihkan investasinya dari sektor
riil beralih menjadi investor di pasar uang. Juga pedagang valuta (money
changer) yang pada awalnya mereka hanya menjadi mediator penukaran valuta
menjadi spekulan yang aktif bermain valas. Para spekulan lokal di atas pada dasarnya mempunyai modal yang tidak
terlalu besar, sehingga mereka baru berspekulasi bila para spekulan besar
kelas dunia mulai mengobo-obok pasar uang dalam negeri. Spekulan kawakan dunia George Soros (Yahudi kelahiran Hungaria) yang
memimpin Quantum Fund memiliki andil yang cukup besar dalam krisis moneter
yang berlanjut menjadi resesi ekonomi Asia termasuk Indonesia. Dengan
kekuatan modal raksasa yang dimilikinya, dia bisa dengan begitu mudahnya
mempermainkan kurs mata uang terutama mata uang negara-negara yang memiliki
fundamental ekonomi yang lemah serta hanya memiliki cadangan devisa yang
kecil. Bahkan secara terang-terangan Soros mengakui perannya dalam
menghancurkan mata uang negara-negara Asia. Dia sangat jeli dalam menjalankan usahanya. Ketika utang
negara-negara Asia yang jumlahnya sangat besar mulai jatuh tempo tahun 1997
dengan kondisi perbankan yang rapuh dan fundamental ekonomi yang lemah, maka
mulailah Soros mengobok-obok mata uang negara-negara Asia sehingga rupiahpun
tersungkur dan Soros untung milyaran US dolar. Tindakan Soros ini tentu saja
diikuti para spekulan domestik dan lokal yang semakin menambah keterpurukan
rupiah. TABEL KURS TENGAH RUPIAH TERHADAP US DOLAR
DI BANK INDONESIA TAHUN 1997
Sumber : dikutip dari HU Republika (Senin, 2 Nov. 1998) &
Statistik
Ekonomi – Keuangan Indonesia Juni 2000 (Bank Indonesia) Sebab-sebab Terjadinya Spekulasi Mata Uang
Aksi para spekulan valas yang mengutak-atik rupiah tidak terjadi
dengan sendirinya, tetapi ada unsur-unsur yang sangat mendasar menjadi
penyebabnya atau pendorong orang melakukan spekulasi, antara lain : 1. Sistem ekonomi moneter Indonesia dan
dunia yang membuka selebar-lebarnya kesempatan untuk melakukan spekulasi. Dalam perekonomian kapitalis yang mendominasi sistem perekonomian
dunia dalam abad sekarang, berlaku prinsip time value of money atau uang
berbunga uang akibat dengan berlalunya waktu. Keynes menungkapkan bahwa suku
bunga uang hanyalah pengaruh angan-angan manusia saja. Manusia dipaksa untuk
menganggap wajar dan baik akan adanya suku bunga, padahal kenyataannya
tidaklah ada. Lebih jauh suku bunga sebenarnya akan melahirkan inefisiensi
dan ketidakproduktifan masyarakat. Sebagian akan berprilaku malas, spekulatif
dan eksploitatif terhadap manusia lainnya. Bahayanya lagi, akan terlepasnya
keterkaitan antara sektor moneter dengan sektor riil. Artinya fungsi uang
dijadikan komoditi perdagangan, sehingga keberadaan uang yang diperdagangkan
tersebut tidak disertai barang dan jasa. Akibatnya sektor moneter berkembang
sangat cepat sedangkan sektor riil jauh tertinggal dibelakangnya (Majalah
Dialog CSIC, No. 5 1998). Hal ini tentu saja akan menyebabkan bubble economy
yang sewaktu-waktu akan meletus jika perekonomian tidak mampu lagi menahan
lajunya tekanan pertumbuhan sektor moneter. Sehingga besarnya angka transaksi
dalam perekonomian yang sebagian besar ditopang transaksi-transaksi di sektor
moneter tidaklah menunjukkan angka yang sebenarnya dari nilai aset
transaksi-transaksi barang dan jasa (sektor riil) tetapi hanya bersifat maya,
artinya sebagian besar dari transaksi tersebut dilakukan di atas meja
spekulasi. Menurut Mauris Alais (peraih Nobel bidang ekonomi berkebangsaan
Perancis), perputaran uang di negara-negara G-7 mencapai 429 milyar US dolar
per hari. Namun hanya 12 milyar US dolar yang digunakan di sektor riil.
Sisanya sekitar 417 milyar dolar (97,2 %) diputar dalam transaksi-tarnsaksi
spekulatif yang meliputi bisnis jual beli mata uang (Republika, 31 Juli
2000). Sistem mata uang kertas yang tidak dijamin dengan cadangan emas
artinya uang kertas yang dicetak negara yang tidak mempunyai nilai intrinsik
sedikitpun. Sistem tersebut juga mengharuskan masyarakat untuk menerima uang
tersebut dalam transaksi-transaksinya. Hal ini menunjukkan bahwa bank sentral
berhak menerbitkan uang baru sesuai kehendaknya untuk merealisasikan
keinginan dan politik negara. Akibat semakin mudahnya bank sentral mencetak
uang yang tidak mempunyai nilai intrinsik, maka secara matematis nilai
nominal uang yang beredar dalam genggaman pemerintah dan masyarakat semakin
bertambah besar yang tidak menggambarkan angka riil dari nilai barang dan
jasa yang diproduksi atau yang beredar di masyarakat, sehingga mempunyai
potensi yang sangat besar bagi kegiatan spekulasi. Seperti kasus yang terjadi di Indonesia semasa awal krisis moneter
dan ekonomi, yaitu terjadinya rush besar-besaran yang menimpa pebankan
nasional sehingga bank kekurangan likuiditas yang memaksa BI mencetak uang
baru dalam jumlah besar untuk menerbitkan BLBI. Akibatnya jumlah rupiah yang
beredar semakin banyak dan menyebabkan nilainya turun sehingga terjadi
inflasi. Keadaan ini sangat menguntungkan para spekulan untuk mempermainkan
rupiah (Majalah Dialog CSIC, No. 5 1998). 2. Faktor ketidakpastian (sustainable
uncertainty). Ketidakpastian ini meliputi politik, ekonomi, sosial, hukum, dan
keamanan yang sangat mempengaruhi sentimen pasar. Sentimen ini lahir dari
kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi dalam negeri Indonesia terhadap ke
lima aspek tersebut. Aspek politik, misalnya. Pertikaian di antara elit poltik – baik
itu berada dalam tataran wacana saja, maupun dengan segenap pengerahan massa
masing-masing pendukung elit politik – telah menimbulkan kegalauan di
kalangan pasar. Mereka khawatir apakah pemerintahan Gus Dur tetap bertahan
atau terdongkel di tengah jalan. Setting inilah yang dinamakan wait and see
yang kemudian berubah menjadi wait and worry dan terakhir malah menjadi no
more waiting but running. Artinya ketakutan dan kekhawatiran terhadap kondisi
politik dalam negeri mengakibatkan pelaku pasar yang terdiri dari pengusaha
dalam negeri dan investor asing memindahkan dananya ke luar negeri sehingga
terjadi peningkatan permintaan US dolar yang menyebabkan melemahnya rupiah
(Elvin G Massassya ; 2000). Ketika Gus Dur menuduh anggota DPR sebagai biang
kerok kerusuhan, rupiah yang semula Rp 8.700 per US dolar bergerak turun
menjadi Rp 9.000 yang pada hari berikutnya lagi rupiah turun ke titik Rp
9.350 (Republika, 17 Juli 2000). Parade politik nasional saat ini seperti
kasus Brunaigatte dan Bulogatte yang melahirkan memorandum DPR terhadap
presiden Abdurrahman Wahid, dan ancaman para pendukung Gus Dur untuk
“berjihad” melawan musuh-musuh politiknya menciptakan instabilitas bagi
rupiah. Faktor-faktor ketidakpastian dari beberapa aspek di atas yang secara
langsung maupun tidak langsung menyebabkan rupiah terpuruk, akan melahirkan
suatu tanda tanya bagi kita, bahwa siapakah yang memanfaatkan situasi yang
serba tidak pasti di Indonesia untuk mengeruk keuntungan ? Tidak ada jawaban
lain, yaitu para spekulan. Selama ini, telah menjadi rahasia umum bagi kalangan
pasar domestik, bahwa tidak stabilnya kondisi dalam negeri Indonesia
yang menyebabkan ketidakpastian dimanfaatkan para spekulan yang bermarkas di
Singapura. Mereka melakukan transaksi dalam jumlah yang besar sehingga sangat
mempengaruhi posisi demand dan supply rupiah terhadap US dolar sehingga nilai
rupiah
berfluktuasi (Puji Wahono ; 2000). Bagi para spekulan, ketidakpastian
dan isu-isu merupakan senjata pelecut dalam kegiatan spekulasi mereka. Akibat Kegiatan Spekulasi
Sangat besarnya kegiatan spekulasi mata uang yang ditandai dengan
jumlah transaksi di sektor finansial (bidang moneter) berlipat ganda jika
dibandingkan dengan transaksi di sektor riil (sektor yang produktif
menghasilkan barang dan jasa) berakibat pada kekacauan ekonomi. Harga-harga
barang naik bukan karena hukum permintaan dan penawaran atas barang, tetapi
disebabkan turunnya nilai mata uang tersebut atas mata uang dunia. Korban-korban para spekulan sudah sangat banyak. Krisis di
negara-negara Amerika Latin, Asia, dan terutama di Indonesia sangat
memberikan penderitaan yang sangat berarti bagi rakyat. Sementara itu, para
spekulan internasional, domestik dan lokal berpesta ria menikmati keuntungan. Negara yang mendapat serangan badai para spekulan, bila tidak
didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat dan sektor finansial yang
tangguh, maka akan terjadi kehancuran ekonomi. Struktur ekonomi yang dibangun
dalam waktu yang lama dan memakan biaya yang banyak tiba-tiba hancur dalam
sekejab. Pengangguran dan kemiskinan menjadi meraja lela. Tentu saja keadaan
tersebut berimbas terhadap bidang-bidang kehidupan lainnya. Keadaan sosial
politik menjadi tidak stabil, keamanan dan integrasi nasional sangat rawan.
Sehingga akumulasi dari keadaan yang buruk tersebut akan menyebabkan negara
menjadi lemah dan mudah diintervensi/didikte pihak asing baik dari sisi
politik, ekonomi maupun keamanan. Penutup
Kegiatan spekulasi merupakan kegiatan yang tidak produktif dan
cenderung mempunyai sifat merusak perekonomian. Rata-rata kondisi ekonomi
negara di dunia sekarang, sektor moneter (finansial) tumbuh lebih cepat dan
besar jauh meninggalkan sektor riil. Akibatnya spekulasi menjadi suatu usaha
yang besar dan menguntungkan bagi banyak kalangan terutama para fund manager. Untuk menghilangkan atau paling tidak mengurangi kegiatan spekulasi,
maka negara-negara di dunia harus menutup segala celah yang menjadi dasar
pendorong timbulnya kegiatan spekulasi tersebut serta membuka lebar-lebar
kegiatan ekonomi sektor riil. Suatu negara yang ingin tetap bertahan dari aksi kegiatan para
spekulan, maka haruslah kondisi fundamental ekonomi dan struktur keuangannya
kuat dan stabil yang harus benar-benar ditopang oleh sektor riil, sehingga
perang yang dilancarkan “kaum spekulan” terhadap negara-negara di dunia
tidak dapat melumpuhkan ekonomi negara tersebut tetapi tetap berada dalam
kondisi yang sehat dan fit. b Banjarmasin, 25 April 2001
Hidayatullah Muttaqin Ketua Kelompok Studi Ekonomi Islam Forum Studi Al Quran
Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat
Dimuat di harian umum Kalimantan Pos Banjarmasin tanggal 14 Mei 2001
|
|||||||||||||||||||||
|
[HOME] [TENTANG KAMI] [INFO FSQ] [ARTIKEL] [DUNIA ISLAM] [DAKWAH] [LINKS] [FREE EMAIL] [BUKU TAMU] FORUM STUDI AL QURAN Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Sekretariat: Musholla Ulul Albab FE Jl. H. Hasan Basri, Kayutangi Banjarmasin Email: [email protected] |
|||||||||||||||||||||