Tentang Organisasi Kami

Info Tentang Kegiatan FSQ, dan Organisasi Islam Lainnya

Dapatkan Artikel-Artikel KeIslaman dan Ekonomi

Informasi Tentang Dunia Islam

Seputar Dakwah Islam

Links ke Situs-Situs Islam

Anda Dapat Memperoleh Email Gratis dan Login di Sini

Saran dan Kritik untuk Kami

Lihat Isi Buku Tamu

Sekretariat FSQ Musholla Ulul Albab

SEPUTAR KONSPIRASI IMF

opini Republika, Kamis, 19 Juli 2001

oleh: Sunarsif Staff Pengajar Konsultan Tenaga

 

Belum lama ini, Menteri Keuangan Rizal Ramli mengatakan IMF gagal mengatasi krisis ekonomi di Indonesia. Pernyataan ini menunjukkan betapa Rizal sangat kecewa dengan IMF. Betapa tidak. Kehadiran Anoop Singh (IMF), yang diharapkan bisa menghasilkan kesepakatan definitif (tentunya diwujudkan dengan penandatanganan LoI), ternyata hanya menghasilkan kesepakatan sementara.

Sementara itu, penandatanganan LoI sendiri baru bisa dilakukan pada September. Padahal, kita semua tahu bahwa prediksi paling mutakhir saat ini, kabinet ini akan "habis" pada Agustus. Itu artinya, LoI boleh jalan terus, tapi tidak dengan Rizal.

Sejak Rizal masuk kabinet, hubungan IMF dengan pemerintah memang sudah tidak harmonis. Rizal dari dulu memang tetap konsisten dengan sikapnya bahwa keterlibatan IMF dalam perekonomian kita akan cenderung mubazir. Mungkin karena konsistensi Rizal inilah maka para penasehat ekonomi pemerintah (yang notabene mantan ekonom Orde Baru) akhirnya mengundurkan diri. Ini mengingat, para penasehat ekonomi pemerintah tersebut memiliki hubungan yang sangat dekat dengan IMF.

Standar ganda IMF
Pertanyaannya, adakah yang keliru dari sikap Rizal tersebut? Sikap Menkeu tidaklah keliru. Selama ini, sering muncul komentar bahwa IMF sudah tidak percaya lagi kepada pemerintah. Namun sayangnya, ketidakpercayaan IMF ini selalu mengarah kepada penilaian bahwa pemerintahlah yang keliru. Sementara itu, IMF selalu dipandang sebagai pihak yang selalu benar.

Tentunya kita tidak bisa menilai dengan kaca mata seperti ini. Harus dilihat pula, mengapa pemerintah menolak keinginan IMF dan apa sebenarnya keinginan IMF yang ditolak itu. Ini karena biasanya, ketidakpercayaan IMF terhadap pemerintah selalu diawali oleh ketidaksetujuan pemerintah untuk mengikuti saran IMF.

Sikap IMF yang tidak bersedia menandatangani LoI bersama Rizal sebenarnya bisa pula bermakna: IMF ikut berpolitik dengan menggunakan instrumen ekonomi. Perlu diketahui, tidak sekali ini saja IMF melakukan hal seperti ini. Sebagai contoh, ketika BJ Habibie menjadi Presiden, IMF (melalui Hubert Neiss) mengatakan bahwa dana pinjaman baru bisa dicairkan jika penyelesaian skandal Bank Bali selesai.

Tapi, ketika Habibie lengser dan Abdurrahman Wahid menjadi presiden, Hubert Neis mengatakan proses pencairan bantuan IMF tidak harus menunggu penyelesaian skandal Bank Bali selesai (1/11/99). Terlihat sekali bahwa kalau tidak bisa disebut sebagai permainan politik untuk mejatuhkan Habibie, IMF telah menerapkan standar ganda dalam memandang kasus Bank Bali.

Terdapat kemiripan antara ketidaksediaan IMF menandatangani LoI bersama Rizal dengan ketidaksediaan IMF untuk mencairkan pinjaman di masa Habibie. Muaranya satu: ingin menjatuhkan pemerintah yang sedang mengalami krisis legitimasi.

Terlepas bahwa pemerintahan saat ini memang tidak efektif untuk bisa menyelesaikan persoalan bangsa (terutama karena faktor presiden yang banyak bermasalah), sikap IMF ini sangat disayangkan. Justeru dalam kondisi ekonomi negara yang terpuruk akibat kemelut politik ini, IMF seharusnya bisa menjadi penolong agar negara ini tidak terseret ke dalam krisis yang lebih parah.

Kalau ternyata peran IMF seperti saat ini, itu artinya IMF ikut membantu menciptakan kekacauan ekonomi. Dengan harapan, kalau ekonomi ini kacau, maka kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan jatuh. Dengan terbentuknya kondisi ini, maka hasil akhirnya adalah terbentuknya pemerintahan baru, yang diharapkan bisa diajak "kompromi" oleh IMF. Inilah bentuk konspirasi IMF.

"Blunder-blunder" IMF
Kalau kita mencermati berbagai saran yang disampaikan IMF kepada pemerintah, sebenarnya saran-saran itu tidak begitu istimewa. Bahkan, IMF justeru sering melakukan blunder dalam hal kebijakan yang didesakkan kepada Indonesia. Bisa dicatat bahwa sejak IMF terlibat dalam menangani krisis ekonomi kita pada tahun 1997, setidaknya terdapat tiga jenis blunder yang dibuat IMF.

Pertama, saran agar BI menghapus pita intervensi (band intervention). Pada 14 Agustus 1997, BI akhirnya mengikuti saran IMF tersebut. Pita intervensi dihilangkan dan menyerahkan nilai tukar rupiah kepada pasar. Tapi apa yang terjadi? Dilepasnya pita intervensi justeru semakin membuka Indonesia terhadap tindakan para spekulator untuk mempermainkan kurs rupiah. Akibatnya, kurs rupiah terus merosot terhadap dolar AS.

Padahal, jika mau, pemerintah sebenarnya masih memiliki banyak pilihan yang justeru lebih realistis. Rizal sendiri (1997) mengusulkan agar rupiah didevaluasikan hingga 50 persen. Namun, tampaknya pemerintah lebih mempercayai IMF. Ditambah dengan kebijakan moneter yang super ketat, dimana tingkat suku bunga SBI mencapai 30 persen (Agustus 1997), maka semakin timbullah suasana panik di kalangan keuangan dan bisnis.

Kedua, IMF pernah menyarankan untuk melikuidasi 16 bank swasta (1/11/1997) tanpa lebih dulu mempersiapkan infrastruktur penjaminan. Akibat likuidasi 16 bank itu, kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan nasional menjadi runtuh. Situasi panik yang luar biasa ini kemudian berbuntut menjadi rush di mana-mana. Situasi yang sama, meski dalam tensi yang lebih rendah, juga terjadi di masa berikutnya, ketika BI menyerahkan 54 bank bermasalah kepada BPPN (27/2/1998) dan BPPN mengambilalih manajemen tujuh bank swasta dan membekukan sebanyak tujuh bank swasta (4/4/1998).

Ketiga, IMF menyarankan pemerintah menerapkan kebijakan fiskal yang super kontraktif. Seperti yang disarankan IMF, pemerintah perlu menghapus subsidi BBM agar beban keuangan pemerintah menjadi ringan. Pada 4 Mei 1998 kemudian saran tersebut dimanifestasikan dengan menaikkan harga BBM sebesar 40 sampai 90 persen. Dalam kasus penghapusan subsidi BBM ini, tampak sekali bahwa IMF sangat strict pada kaidah-kaidah ekonomi untuk beban keuangan pemerintah. Mereka agaknya mengabaikan bahwa rasionalitas ekonomi saja tidak cukup digunakan sebagai pisau analisis, namun juga diperlukan sensitivitas sosial politik.

Hal yang sama kini terulang lagi. Untuk mengurangi beban subsidi pada APBN 2001, pemerintah kembali menaikkan harga BBM hingga 30 persen. Perlu diketahui, keputusan itu dibuat oleh Wapres Megawati Soekarnoputri setelah mendengar saran para penasehat ekonomi pemerintah (yang kini mengundurkan diri) untuk menuruti desakan IMF agar mengurangi beban subsidi BBM.

Kekeliruan konsep IMF
Saran IMF tidak istimewa karena secara konsep, pendekatan IMF dalam mengatasi krisis di berbagai negara memang sudah keliru. Dalam berbagai resep yang disarankan kepada negara yang mengalami krisis, IMF selalu berpegang pada empat prinsip: (1) kebijakan moneter dan fiskal yang ketat; (2) liberalisasi perdagangan dan penghapusan segala jenis proteksi; (3) privatisasi seluas-luasnya; dan (4) memperlancar arus investasi asing dengan fasilitas yang longgar. Keempat prinsip inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan sebagai program reformasi struktural a la IMF.

Sepintas, keempat prinsip itu tidak mengandung implikasi negatif apa pun. Namun jika dikaji, penerapan keempat prinsip tadi bisa menjerumuskan ekonomi kita ke dalam krisis yang terus berkelanjutan di masa mendatang. Bagaimana analisisnya?

Pada prinsip (1), IMF menghendaki kebijakan yang kontraktif. Dalam situasi krisis, kebijakan ekspansif yang mengumbar devisa memang harus dikurangi. Namun ironinya, di saat yang sama, IMF juga menawarkan resep yang sebenarnya kontraproduktif dengan semangat kontraktif. Sikap IMF ini terlihat pada prinsip-prinsip berikutnya. Sebagai contoh, pada prinsip (2) IMF menganjurkan agar kita meliberalisasi perdagangan. Itu artinya, kita harus bersikap terbuka terhadap masuknya barang impor. Padahal, dengan masuknya barang impor, itu berarti ada devisa yang harus dikeluarkan.

Sementara itu, pada prinsip (3) dan (4), hasil penelitian empiris di berbagai negara berkembang menunjukkan: semakin besar investasi asing masuk, maka biaya untuk melayani investasi asing semakin tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dari biaya utang (Sritua Arief, 1992). Di samping itu, semakin besar investasi asing masuk semakin tinggi pula intensitas "import boom"-nya. Seiring dengan ini, masuknya investasi asing telah makin mendesak kekuatan ekonomi domestik ke pinggir. Hasil akhir dari kesemua ini adalah likuiditas keuangan internasional yang semakin parah, penguasaan asing yang lebih intensif, dan buyarnya tujuan pemerataan.

Kesimpulan
Kesimpulan dari analisis ini adalah hendaknya kita perlu kritis terhadap berbagai sikap IMF. Terlebih lagi, kenyataan menunjukkan, kiprah IMF tidak lebih dari sekadar "agen Washington". Mengakhiri tulisan ini, satu hal yang patut dicatat, jika Rizal mengatakan IMF gagal mengatasi krisis kita, maka akan didapati bahwa itu memang sebuah realita.
Hasil riset Johnson dan Schaefer (1997) menunjukkan selama 1965-1995, perekonomian 48 dari 89 negara berkembang yang menerima bantuan IMF tidak menjadi lebih maju. Bahkan, 32 dari 48 negara tersebut justeru menjadi lebih miskin. Lebih menyedihkan lagi, negara-negara tersebut telah menjadi pasien IMF selama puluhan tahun.


Sumber: www.republika.co.id

[HOME] [TENTANG KAMI] [INFO FSQ] [ARTIKEL] [DUNIA ISLAM] [DAKWAH] [LINKS] [FREE EMAIL] [BUKU TAMU]

FORUM STUDI AL QURAN

Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat

Sekretariat: Musholla Ulul Albab FE Jl. H. Hasan Basri, Kayutangi Banjarmasin

Email: [email protected]

Hosted by www.Geocities.ws

1