![]() ![]() |
||||
|
|
||||
|
EVOLUSI PASAR MENURUT AL GHAZALI oleh: Adiwarman A. Karim/ 5 September 2000 Bayangkan jika aktivitas perdagangan hanya mengandalkan
pola barter atau kehidupan ekonomi terlalu banyak diatur penguasa.
Kemungkinan tidak berkembang dan terjadinya berbagai distorsi harga tentu
sangat besar. Karena itulah pemikiran tentang perlunya aktivitas perdagangan
yang ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran-jauh sebelum munculnya
pemikiran ekonomi modern-telah diungkapkan oleh para pemikir Islam. Salah satunya adalah pandangan Abu
Hamid al Ghazali (1058-1111). Mungkin cukup mengejutkan jika dia menyajikan penjabaran
yang rinci akan peranan aktivitas perdagangan dan timbulnya pasar yang
harganya bergerak sesuai kekuatan permintaan dan penawaran. Maklum, ia
dikenal sebagai ahli tasawuf. Bagi Ghazali, pasar merupakan bagian dari
" keteraturan alami" . Secara rinci dia juga menerangkan bagaimana evolusi
terciptanya pasar. Simak saja
ucapannya. " Dapat saja petani hidup di mana alat-alat pertanian tidak
tersedia. Sebaliknya pandai besi dan tukang kayu hidup dimana lahan pertanian
tidak ada. Namun secara alami mereka akan saling memenuhi kebutuhan
masing-masing. Dapat pula terjadi tukang kayu membutuhkan makanan, tetapi
petani tidak membutuhkan alat-alat tersebut atau sebaliknya. Keadaan ini
menimbulkan masalah. Oleh karena itu, secara alami pula orang akan terdorong
untuk menyediakan tempat penyimpanan alat-alat di satu pihak dan tempat
penyimpanan hasil pertanian di lain pihak. Tempat inilah yang kemudian yang
didatangi pembeli sesuai kebutuhannya masing-masing sehingga terbentuklah
pasar. Petani, tukang kayu, dan pandai besi yang tidak dapat langsung
melakukan barter, juga terdorong pergi ke pasar ini. Bila di pasar juga tidak
ditemukan orang yang mau melakukan barter, ia akan menjual pada pedagang
dengan harga yang relatif murah untuk kemudian disimpan sebagai persediaan.
Pedagang kemudian menjualnya dengan suatu tingkat keuntungan. Hal ini berlaku
untuk setiap jenis barang. "(Ihya Ulumuddin, III:227). Imam Ghazali juga secara eksplisit menjelaskan
perdagangan regional. Kata Ghazali, " Selanjutnya praktek-praktek ini
terjadi di berbagai kota dan negara. Orang-orang melakukan perjalanan ke
berbagai tempat untuk mendapatkan alat-alat makanan dan membawanya ke tempat
lain. Urusan ekonomi orang akhirnya diorganisasikan ke kota-kota di mana
tidak seluruh makanan dibutuhkan. Keadaan inilah yang pada giliran
menimbulkan kebutuhan alat transportasi. Terciptalah kelas pedagang regional
dalam masyarakat. Motifnya tentu saja mencari keuntungan. Para pedagang ini
bekerja keras memenuhi kebutuhan orang lain dan mendapat keuntungan dan makan
oleh orang lain juga. (Ihya, III:227). Jelaslah Imam Ghazali menyadari kesulitan sistem barter,
perlunya spesialisasi dan pembagian kerja menurut regional dan sumber daya
setempat. Ia juga menyadari pentingnya perdagangan untuk memberikan nilai
tambah dengan menyediakannya pada waktu dan tempat di mana dibutuhkan.
Ghazali tidak menolak kenyataan bahwa keuntunganlah yang menjadi motif
perdagangan. Lebih jauh Ghazali menjabarkan pentingnya peran
pemerintah dalam menjamin keamanan jalur perdagangan demi kelancaran
perdagangan dan pertumbuhan ekonomi. Akhirnya ia juga memberikan definisi
yang jelas tentang etika bisnis. (Ihya, II:75, 78, 79). Walaupun Ghazali
tidak memjelaskan permintaan dan penawaran dalam terminologi modern, beberapa
paragraf dari tulisannya jelas menunjukan bentuk kurva penawaran dan
permintaan. Untuk kurva penawaran yang "naik dari kiri bawah ke kanan
atas" dinyatakan oleh dia sebagai "jika petani tidak mendapatkan
pembeli dan barangnya, maka ia akan menjualnya pada harga yang lebih murah.
"(Ihya, III:227). Sementara untuk kurva permintaan yang "turun dari
kiri atas ke kanan bawah" dijelaskan oleh dia sebagai "harga dapat
diturunkan dengan mengurangi permintaan. "(Ihya, III:87). Untuk zamannya,
agak mengejutkan bahwa Ghazali telah pula paham akan konsep elastisitas
permintaan. "Mengurangi margin keuntungan dengan menjual pada harga yang
lebih murah akan meningkatkan volume penjualan dan ini pada gilirannya akan
meningkatkan keuntungan. "(Ihya,II:80). Bahkan ia telah pula
mengidentifikasikan produk makanan sebagai komoditas dengan kurva permintaan
yang inelastis. "Karena makanan adalah kebutuhan pokok, perdaganga
makanan harus seminimal mungkin didorong oleh motif mencari keuntungan untuk
menghindari eksploitasi melalui pengenaan harga yang tinggi dan keuntungan
yang besar. Keuntungan semacam ini seyogyanya dicari dari barang-barang yang
bukan merupakan kebutuhan pokok. "(Ihya,II:73). Imam Ghazali dan juga para pemikir pada zamannya ketika
membicarakan harga biasanya langsung mengaitkannya dengan keuntungan.
Keuntungan belum secara jelas dikaitkan dengan pendapatan dan biaya. Bagi
Ghazali keuntungan adalah kompensasi dari kepayahan perjalanan, resiko bisnis,
dan ancaman keselamatan diri si pedagang (Ihya,IV,110). Walaupun ia tidak
setuju dengan keuntungan yang berlebih untuk menjadi motivasi pedagang. Bagi
Ghazali keuntunganlah yang menjadi motivasi pedagang. Namun bagi Ghazali
keuntungan sesungguhnya adalah keuntungan di akhirat kelak (Ihya, II:75-6,
84). al Ghazali: Ahli Tasawuf
Islam, pengarang buku Ihya Ulumuddin Sumber : www.muamalat-institute.com |
||||
|
[HOME] [TENTANG KAMI] [INFO FSQ] [ARTIKEL] [DUNIA ISLAM] [DAKWAH] [LINKS] [FREE EMAIL] [BUKU TAMU] FORUM STUDI AL QURAN Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Sekretariat: Musholla Ulul Albab FE Jl. H. Hasan Basri, Kayutangi Banjarmasin Email: [email protected] |
||||