![]() ![]() |
||||
|
|
||||
|
STRATEGI AMERIKA MENGUASAI DUNIA oleh: Sayyid Abu Ghazi Muhammad Salim Setelah perang
dingin berakhir, komunis runtuh, Uni Soviet pudar dan blok komunisme hancur,
secara riil AS menghadapi musuh barunya: negara-negara Eropa. Kelompok
politik dan ekonomi ini telah menjadi musuh baru AS, sebab di satu sisi
mereka memang mempunyai kemampuan untuk menyaingi AS dalam perdagangan dunia.
Di sisi lain, negara-negara Eropa itu telah mulai bergerak untuk
menggabungkan negara-negara Eropa Timur ke dalam Uni Eropa, setelah
negara-negara itu berpindah dari sosialisme ke sistem kapitalisme. Pergeseran dan
perubahan konstelasi politik internasional itu telah mendorong AS untuk
mengumumkan kelahiran Tata Dunia Baru. Prinsip utama Tata Dunia Baru di
bidang ekonomi, tak lain adalah perdagangan bebas dan pasar bebas. Prinsip
ini dimaksudkan untuk menjamin terbukanya pasar dunia bagi perdagangan dan
pendapatan AS. Untuk mewujudkan
strategi ekonominya ini, AS berupaya memperlemah dan memperlambat gerak pasar
bersama Eropa dengan membentuk blok-blok perdagangan baru, menghidupkan
kesepakatan-kesepakatan lama dan mengaktifkannya kembali, mendirikan NAFTA
–beranggota Kanada, AS, dan Meksiko-- dan juga, membentuk APEC. Pada bulan
Nopember 1992, atas undangan Presiden Clinton, telah diadakan pertemuan
puncak untuk membentuk organisasi kerjasama ekonomi bagi negara-negara Asia
Pasifik itu (APEC). Pendirian organisasi ini bertujuan untuk mewujudkan
kawasan perdagangan bebas, membuka pasar-pasar, dan menekan bea masuk. Pendiriannya
tidak dimaksudkan untuk mewujudkan kesatuan ekonomi dan mata uang sebagaimana
pasar bersama Eropa. Pendirian APEC justru untuk tetap mengamankan pasar Asia
Pasifik bagi AS dari persaingannya dengan pasar bersama Eropa Dari segi politik,
untuk mewujudkan kepentingannya itu AS telah merekayasa krisis Balkan dan
mengobarkan perang-perang di sana. AS mengupayakan langkah tersebut tidak
melalui PBB, tetapi AS ingin tetap mengendalikan krisis itu sendiri secara
politis, dan memaksakan suatu solusi politik serta berupaya merealisasikannya,
melalui NATO. Dengan demikian, kawasan Balkan --termasuk Yunani, Makedonia,
Cyprus, Turki-- terus dapat dipertahankannya sebagai bara api yang siap
berkobar dan bergolak setiap saat. Ini akan merepotkan dan menyibukkan Eropa. AS melakukan itu
untuk mengacaukan stabilitas Eropa, sebab sudah menjadi aksioma politik yang
tak bisa dibantah lagi, bahwa suatu orientasi ekonomi tak akan dapat berjalan
stabil dan mantap, kecuali bila didukung oleh stabilitas politik yang mantap
pula. AS mempunyai beberapa alasan untuk itu; AS melihat bahwa Uni Eropa
merupakan saingan kuat untuk menantang dan menyaingi AS di bidang ekonomi. Alasan-alasan AS
itu adalah:Pertama, Kesatuan Eropa secara politik dan ekonomi
hampir terwujud. Kedua, Eropa memiliki kemampuan bersaing di
bidang perdagangan, sebab Eropa mempunyai kemampuan tinggi dalam produksi
barang dan jasa. Ketiga, Setelah berakhirnya perang dingin dan
hancurnya Uni Soviet, lenyaplah momok komunisme yang sebelumnya digunakan AS
untuk mengancam Eropa. Eropa seluruhnya lalu berkonsentrasi dan bersiap-siap
dengan serius untuk terjun ke dalam kancah ekonomi internasional. Di antara
persiapan Eropa nampak dari fakta bahwa seluruh Eropa --yang merupakan
negara-negara industri yang produktif-- telah menghilangkan hambatan bea
masuk di antara mereka, membuka tapal batas negara masing-masing untuk
memudahkan perpindahan tenaga kerja, dan berusaha mewujudkan kesatuan mata
uang. Hal ini yang kemudian mendorong Eropa untuk memasuki pasar-pasar di
Asia dan Afrika, di samping faktor utama bahwa Eropa memang mempunyai
kapabilitas untuk bersaing dalam pasar bebas. Ketiga alasan
itulah yang kemudian mendorong AS untuk mengacaukan stabilitas politik Eropa
dengan menyulut krisis Balkan. Di samping itu AS terdorong pula untuk
memperkokoh pasarnya di Asia dan Eropa dengan membentuk kelompok-kelompok
ekonomi seperti APEC. Dan patut dicatat, AS pun dalam hal ini telah sukses
pula menunggangi WTO (World Trade Organization) untuk semakin
melicinkan jalannya menguasai ekonomi dunia. Kalau kita
membicarakan organisasi-organisasi perdagangan internasional tersebut, perlu
kiranya terlebih dulu disinggung sekilas mengenai ASEAN dan APEC. ASEAN didirikan
pada tahun 1967 sebagai persatuan negara-negara di Asia Tenggara, dengan
tujuan membendung ekspansi pengaruh komunisme saat itu. Sejak itu,
keanggotaan ASEAN telah meliputi enam negara; Malaysia, Indonesia, Brunei,
Philipina, Thailand, dan Singapura. ASEAN merupakan kelompok ekonomi terbatas
namun dengan pengaruh luar yang luas. Dapat kita katakan, ASEAN merupakan
kelompok yang tidak berhasil merealisasikan tujuan-tujuannya semenjak ia
berdiri. Sedang APEC,
mulai muncul ke permukaan sejak tahun 1989 atas prakarsa Australia. APEC
menghimpun 17 negara yang berasal dari tiga benua; AS, Kanada, Meksiko,
Australia, Selandia Baru, RRC, Jepang, Hongkong, Papua Nugini, Taiwan,
Brunei, Malaysia, Indonesia, Singapura, Philipina, Korea Selatan, dan
Thailand. Organisasi ekonomi internasional ini menggabungkan keanggotaan dua
kelompok ekonomi besar; yaitu NAFTA yang beranggotakan negara-negara Amerika
Utara, dan ASEAN yang beranggotakan negara-negara Asia Tenggara. Negara-negara
anggota APEC menguasai 40 % dari keseluruhan volume perdagangan dunia,
sekaligus merupakan pasar yang jumlah konsumennya mencapai lebih dari 1
milyar jiwa. Dari seluruh
penjelasan tersebut, nampak bahwa AS telah berhasil mencapai target-targetnya
untuk merealisasikan prinsip-prinsip yang menjadi landasan ekonominya. AS
nampak terus mengembangkan dan membangunnya hingga stabil dan mantap, bahkan
menjadikan prinsip-prinsipnya itu sebagai realitas global yang tak bisa
dihindari lagi. Akan tetapi,
terwujud dan terbukanya pasar bebas secara internasional itu, niscaya akan
menambah semangat untuk bersaing secara internasional pula. Di samping itu,
produksi melimpah dari banyak negara dan blok ekonomi akan terus melestarikan
sikap saling bersaing, mendominasi, dan menguasai, yang didukung oleh
kekuatan militer dan perluasan pengaruh untuk melindungi
penimbunan-penimbunan produk yang melimpah. Kondisi ini
merupakan benih bencana dan bahaya besar. Fakta sejarah menunjukkan bahwa
Eropa sepanjang abad XIX adalah biang segala kerusuhan dan peperangan. Dari
Eropalah terlahir ide imperialisme yang kejahatannya menjangkau kawasan yang
amat luas di segenap sudut dunia dan menyeret umat manusia ke jurang
penderitaan dan malapetaka. Hingga akhir abad XX ini, penderitaan dan
melapetaka ini terus dijajakan kepada berbagai bangsa di dunia dengan kedok "pembangunan",
"kemanusiaan", "kemajuan", "kerja sama",
dan kedok palsu lainnya. Perlu dicatat pula, AS pun telah mengubah wajah
imperialisme lamanya. AS telah menutup-nutupi watak asli imperialisnya dengan
kedok kemanusiaan serta diberi label dan sifat internasional, dalam arti
tindakan-tindakan kriminalnya senantiasa dilegitimasi atas nama Undang-undang
Internasional, dan para pelakunya dilindungi dengan kekuatan militer
internasional atas nama bantuan internasional. Semua fenomena
ini tak lain bertolak dan berakar dari pandangan hidup Barat --yakni standar
manfaat dan kebebasan-- yang menjadi landasan ideologi kapitalisme Barat.
Ide kapitalisme ini telah mendominasi dunia setelah sosialisme rontok dan
negara-negara pendukungnya bubar kiri kanan, karena sosialisme memang tidak
mampu memecahkan problem-problem manusia dan gagal mengatur urusan-urusan
mereka. Sesungguhnya,
dalam ide -ide kapitalisme itu sendiri terdapat unsur-unsur yang saling
memusnahkan satu sama lain. Benih kehancurannya pun secara inheren terdapat
dalam asas dan landasan peradabannya. Hal itu karena telah menjadikan imperialisme
sebagai thariqah (metode) penyebaran peradaban Barat ini. Sedang
cara-cara untuk mewujudkan tujuan-tujuan adalah saling bersaing, saling
mendominasi, dan saling menguasai. Di samping itu,
mereka pun senantiasa menilai perbuatan manusia dengan tolok ukur manfaat,
yang mereka anggap sebagai tolok ukur hakiki. Atas dasar tolok ukur ini,
penganut peradaban ini harus terus menjadi penindas bagi pihak lain serta
harus saling mendominasi dan bersaing satu sama lain. Pada gilirannya,
kapitalisme ini suatu saat nantinya juga akan runtuh dari dalam secara tragis,
sebagaimana sosialisme sebelumnya juga telah runtuh dengan cara yang seperti
itu. Mengingat akar
terdalam krisis ini bertumpu pada pandangan hidup Barat, oleh karenanya
problem dunia saat ini harus dipecahkan dengan tepat dan fundamental pula
dengan cara memusnahkan pandangan hidup Barat tersebut, menjelaskan
penyimpangan dan kekeliruannya, menghancurkan standar-standar dan nilai-nilai
yang digunakan untuk mengukur segala solusi masalah dan tindakan mereka --seperti
pembentukan blok-blok perdagangan yang ada saat ini-- yang akhirnya akan
dapat menyeret umat manusia ke jurang kehancuran. Kontra strategi
AS Untuk mengatasi
strategi AS itu, kaum muslimin harus menerapkan pandangan hidup Islam secara
nyata, dengan menjadikan Aqidah Islamiyah dan hukum-hukum yang trepancar
darinya sebagai metode pemecahan seluruh problem manusia dan pengatur segala
urusan mereka. Secara lebih
rinci, pemecahan problem tersebut harus meliputi pula hal-hal berikut : 1. Kembali kepada
sistem standardisasi mata uang emas secara internasional. 2. Memberikan
batasan-batasan terhadap kebebasan ekonomi dan kebebasan pemilikan, serta
menjelaskan kekejaman dan keharaman penipuan, penimbunan, dan riba. 3. Menjelaskan
bahaya kelompok-kelompok internasional, baik yang berbentuk pakta-pakta
militer maupun yang berbentuk blok-blok perdagangan. 4. Mengundurkan
diri dari PBB dan seluruh organisasi-organisasinya, serta menjelaskan bahwa
PBB adalah alat AS untuk memaksakan legalitas dari berbagai dominasi yang
kuat atas yang lemah, dan penindasan yang kaya atas yang miskin. Tentu saja,
kontra strategi di atas hanya bisa dilaksanakan dengan berdirinya negara
Khilafah Islamiyah. Dan negara Khilafahlah yang mampu secara sempurna
menetralisir dan memusnahkan pandangan hidup Barat yang sudah usang dan rusak
itu serta menghancurkan standar-standar dan nilai-nilai Barat yang
mendominasi dan menjajah dunia kini. Dengan penerapan
Islam oleh Khilafah, keadilan di tengah-tengah manusia akan terasa nyata,
bukan utopia lagi seperti saat ini. Dan bila negara Khilafah telah
mengumumkan jihad fi sabilillah dan menyebarluaskan risalah Islam ke
seluruh dunia, maka ide-ide dan hukum-hukum Islam serta dalil-dalilnya akan
dapat tersebar luas di segala penjuru dunia. Sehingga, ide-ide Islam pun akan
memenuhi benak para pemikir dan intelektual. Mereka akan ramai
membicarakannya, misalnya, pada berbagai seminar dan ceramah. Kemudian, bila
negara Khilafah telah menjalankan kewajiban jihadnya itu, seluruh mass media
dunia akan meliput dan menyiarkannya secara luas dan menyedot perhatian umat
manusia. Khatimah Maka, terbitlah
fajar Islam. Cahaya fajar itu akan menjadi terang bagi siapa saja. Panji
Islam akan berkibar tinggi dan manusia akan berbondong-bondong masuk ke dalam
agama Allah. Allah pun akan menyempurnakan agama ini hingga menjangkau segala
tempat yang dijangkau siang dan malam. Pada saat itu, orang-orang beriman
akan bergembira dengan pertolongan Allah. Dan Allah akan menolong siapa saja
yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Berkuasa dan Maha Penyayang. Sumber: www.al-islam.or.id (Al islam 24) |
||||
|
[HOME] [TENTANG KAMI] [INFO FSQ] [ARTIKEL] [DUNIA ISLAM] [DAKWAH] [LINKS] [FREE EMAIL] [BUKU TAMU] FORUM STUDI AL QURAN Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Sekretariat: Musholla Ulul Albab FE Jl. H. Hasan Basri, Kayutangi Banjarmasin Email: [email protected] |
||||