![]() ![]() |
||||
|
|
||||
|
PEMERINTAHAN BARU KELUAR DARI KRISIS ? Pergantian
pemerintahan bisa berarti pemindahan masalah dari pemerintahan lama kepada
pemerintahan baru. Pemerintahan Indonesia yang telah berganti tiga kali dalam
tempo tiga tahun, menyusul krisis moneter yang berlanjut kepada
multidimensional. Fenomenanya hampir serupa, pemerintahan silih berganti,
namun krisis belum teratasi. Soeharto diganti Habibie pada bulan Mei 1998.
Walau berprestasi menurunkan dolar dari kurs 15.000 menjadi 7500 perdolar —sekaligus
melahirkan BLBI demi penyelamatan perbankan— Habibie toh diganti. Lalu naiklah
pemerintahan Gus Dur sebagai kuda hitam di antara persaingan Habibie dan
Megawati. Ketua Umum PBNU yang prodemkokrasi ini sangat diharapkan banyak
kalangan mampu memperbaharui kondisi politik yang carut marut. Namun, baru
100 hari masa pemerintahannya tanda-tanda perbaikan tidak kunjung tampak. Gus
Dur malah menabur angin menuai badai. Hingga akhirnya di SI-kan setelah TNI/Polri
sepakat mendukung parlemen dan menentangnya. Gus Dur pun jatuh. Kini, di tengah
euforia kubu Mega merayakan kemenangannya, ada satu pertanyaan yang tak boleh
dilupakan, mampukah pemerintahan Megawati yang kini ini tengah bernegosiasi
dengan berbagai parpol untk pembentukan kabinet membawa bangsa dan negara
Indonesia ini keluar dari krisis yang telah mendera selama 4 tahun itu? Di tengah
optimisme dan pesimisme masyarakat terhadap pemeritahan baru ini, pertanyaan
itu memang wajar. Apalagi, para pengamat kelihatannya tidak ingin mengulang
pengalaman pahit pemerintahan Gus Dur –dimana Megawati adalah Wapresnya.
Sehingga mantan Menteri Pertambangan Prof. M Sadli mengatakan bahwa bulan
madu pemerintahan Mega lebih pendek, yakni tidak 100 hari lagi melainkan Cuma
50 hari. “Megawati harus segera menyadari bahwa bulan madu
pemerintahannya sangat singkat. Untuk itu, ia harus mengambil langkah-langkah
riil guna mengatasi berbagai persoalan bangsa segera setelah kabinet
terbentuk”, kata ekonom senior itu menjawab pertanyaan ANTARA (Republika,
30 Juli 2001). Bila dilihat
persoalan bangsa yang paling mendesak adalah krisis ekonomi yang belum
kunjung usai dan ancaman disintegrasi bangsa yang kian menjadi-jadi. Dua
permasalahan inilah yang nampaknya menjadi PR besar yang dihadapi bangsa ini. Krisis Ekonomi, Kapan Berakhir? Menurut wapres
Hamzah Haz, prioritas pemerintahannya adalah stabilitas. Langkah kebijakan
Hamzah ini wajar. Sebab, berkaca pada pengalaman rezim Orde Baru yang berjaya
selama 32 tahun, kunci keberhasilan pembangunan ekonomi di masa Orba adalah
stabilitas yang terjaga. Hanya saja, Hamzah dan para politisi lain lupa bahwa
keberhasilan pembangun selama PJPT I dan beberapa tahun PJPT II itu boleh
dikatakan keberhasilan semu. Sebab, laju pertumbuhan ekonominya yang luar
biasa—bahkan sempat dipuji-puji IMF dan Bank Dunia sebagai calon 'Macan
Asia' dan diramalkan bakal memindahkan arus ekonomi di Eropa ke Asia Tenggara,
dengan pertumbuhan pada tahun 1996 sebesar sekitar 6 %, ternyata menyimpan
bom waktu. Yakni, hutang Luar Negeri (LN). Dan pada tahun 1997 itu meledak!
IMF yang didatangkan rezim Soeharto, ternyata lebih berperan sebagai juru
amputasi ketimbang juru selamat. IMF mengajukan pemotongan berbagai subsidi
sebagai persyaratan pertolongannya yang memang penuh pamrih itu—wajar
mengingat IMF itu entitas bisinis. Sekarang
pemerintahan baru ditantang untuk membebaskan bangsa ini dari kepungan krisis
ekonomi yang belum berakhir. Strategi apa yang bakal dikeluarkan Mega. Tak
jelas. Yang jelas selama bom waktu bernama utang LN itu masih dipasang, tentu
akan bisa meledak sewaktu-waktu. Dalam hal ini
nampak bahwa Mega belum memiliki strategi khusus. Mega hanya bilang utang
harus dibayar! Ini diucapkan saat Mega meresmikan enam mega proyek yang empat
proyeknya dibiayai dari peinjaman asing (utang LN) pada hari Sabtu lalu di
Sulawesi Selatan (Republika, 30 Juli 2001). Peresmian empat mega
proyek dari enam mega proyek itu dapat dibaca sebagai pemasang bom waktu yang
suatu ketika –bahkan bisa diprediksi—bakal meledak! Menurut catatan
Bank Indonesia, utang Indonesia (per Ianuari 2001) mencapai 140,2 miliar
dolar AS. Tediri dari 66 miliar (47,1 persen) utang swasta dan 80,2 miliar
(52,9 persen) utang pemerintah. Celakanya, kebanyakannya adalah utang jangka
pendek. Ibarat bom waktu tadi, pada tahun ini yang bakal jatuh tempo adalah
sebesar 26, 2 miliar, terdiri dari 22,1 utang pemerintah dan 4,1 miliar utang
swasta. Bagimana
pemerintahan baru bisa mengatasi? Sementara ini, cara pemerintah adalah
menjual aset BUMN dan aset-aset dari berbagai perusahaan bermasalah yang ada
di BPPN. Seandainya BPPN berhasil menjual aset-asetnya melebihi besar utang
yang jatuh tempo, barangkali bom tidak jadi meledak. Namun, sebenarnya
menjual aset BUMN atau perusaahan domestik sebesar 26,2 miliar dolar AS sama
artinya dengan mengundang pihak asing untuk menguasai berbagai macam aset
vital perekonomian bangsa. Jadi sebenarnya solusi ini adalah jawaban yang
mendatangkan masalah baru. Disintegrasi, Dampak dan Rekayasa Problem lain yang
teramat serius yang menghadang pemerintahan Mega-Hamzah adalah persoalan
disintegrasi bangsa atau separatisme. Timor Timur telah menjadi bukti kuat
disintegrasi adalah bahaya besar. Sementara kini Timor Barat sudah
mengumumkan keadaan siaga 1. Bukan tidak mungkin Timor Barat akan menuntut
pemisahan dari RI. Ini mungkin terjadi mengingat NTT, sebagaimana prop
Timtim, Irian jaya, dan Maluku, adalah daerah yang mayoritas penduduknya
adalah Kristen/Katolik! Disintegrasi ini
masih menyimpan bom waktu untuk daerah-daerah kaya seperti Aceh, Riau, dan
Kalimantan Timur. Dan sebagai daerah kepulauan Indonesia memang potensial
dengan disintegrasi. Pada awal kemerdekaan dulu, Indonesia pernah
terkerat-kerat menjadi banyak negara bagian yang tergabung dalam negara
Republik Indonesia serikat (RIS). Persoalan
separatisme ini, untuk Indonesia sebenarnya lebih kental nuansa rekayasa
luarnya. Hal ini bisa dilihat secara transparan pada kasus Loro Sae. Mantan
Gubernur Lemhanas Letjen. Sayidiman Suryohadiprojo menulis bahwa proses
integrasi Timtim ke Indonesia dilakukan beberapa jam setelah Presiden AS Ford
dan Menlu Hanry Kissinger berkunjung ke Indonesia. Sementara pelepasan Timtim
dari Indonesia adalah atas desakan AS melalui wakilnya di PBB dan Unamet.
Sayidiman menyayangkan proses integrasi yang tidak tuntas tersebut.
Ketidaktuntasan itu menurut Sayidiman adalah operasi Seroja yang dipimpin
Beny Murdani yang tidak menghabiskan kelompok Fretilin sampai ke
akar-akarnya. Kasus Maluku yang
sudah tiga tahun juga terasa sarat dengan rekayasa besar. Sebagaimana
diketahui penyerangan tersebut terjadi pada saat umat Muslim disibukkan
dengan hari raya Idul Fitri. Ironinya, tidak ada satupun pemimpin bangsa ini
yang mampu menghentikan kebrutalan orang-orang nasrani yang membumi hanguskan
kampung-kampung muslim. Baik Habibie ketika berkuasa, Gus Dur –yang bahkan
mengancam akan menangkapi Laskar Jihad yang mencoba berjuang membela umat
Muslim di sana. Dan Gus Dur tidak main-main dengan ancamannya. Jafar Umar
Thalib, Panglima Laskar Jihad Maluku sempat diciduk kepolisian. Solusi Solusi untuk
masalah krisis ekonomi itu sebenarnya ada dua; Pertama, pada
kondisi saat ini pemerintah harus meminta kepada negara-negara pemberi utang
untuk menghapuskan utang atau menghapuskan bunga hutang, atau bersikap
seperti Rusia yakni memakai politik 'pasang badan' terhadap negara-negara
pemberi utang. Kedua, kaum muslimin
harus memahami bahaya pinjaman maupun bantuan luar negeri yang secara riil
justru menjerumuskan kaum muslimin dalam cengkraman negara-negara kafir.
Selanjutnya kaum muslimin harus menyadari bahwa pinjaman dan bantuan LN
dilakukan dengan muamalah ribawi yang haram secara syar'i. Oleh karena itu
dengan fakta ini tidak bisa tidak kaum muslimin harus berjuang untuk
mendirikan negara Islam yang hanya dengan negara itulah kaum muslimin mampu
menjamin kepentingan mereka sendiri, disamping Allah Ta'ala mengharuskan
demikian. Inilah solusi
ekonomi yang harus diambil oleh kaum muslimin saat ini. Adapun persoalan
disintegrasi dan separatisme sebenarnya problem ini adalah merupakan problem
derivatif dari penerapan sistem negara nasional. Oleh karenanya solusi final
problem separatisme dan disintegrasi adalah mengubah bentuk nation-state
menuju negara yang menyatukan seluruh kaum muslimin, bukan berdasarkan
ras-keturunan-warna kulit, maupun letak geografis, tetapi negara yang
didirikan berdasarkan asas yang menjadikan umat ini sebagai umat yang satu:
akidah Islam. Daulah khilafah. Inilah solusi pertama yang harus diambil umat
Muslim. Kedua, kaum muslimin
harus mengeliminir seluruh bentuk upaya yang menyebabkan orang-orang kafir
imperialis menguasai, mendominasi, mengontrol mereka maupun negara mereka
dalam bentuk apapun. Allah SWT. telah menjelaskan hal ini dalam al-Quran
surat an-Nisa ayat 141. “Dan Allah
sekali-kali tidak akan menjadikan orang-orang kafir menguasai orang-orang
mukmin” Himbauan Dengan
memperhatikan realitas problem yang dihadapi kaum muslimin Indonesia saat
ini, maka adalah merupakan suatu hal yang utopis mengharapkan pemerintahan
baru atau yang akan datang – siapapun mereka– untuk menyelesaikan
berbagai problematika yang bersifat multidimensional saat ini. Hal ini
dikarenakan realitas problem itu sendiri tidak semata-mata bersumber dari
para penguasa kaum muslimin, tetapi di balik itu semua terdapat berbagai
rekayasa politik, ekonomi dan militer yang secara sistematis dirancang oleh
AS dan negara-negara Eropa. Lebih parah lagi, para penguasa tersebut
menjadikan para pembuat problem tersebut sebagai 'penolong'. Bukankah Allah
SWT. telah memberikan isyarat pada kita bahwa menjadikan selain Allah sebagai
wali adalah ibarat membangun rumah laba-laba. Allah berfirman: “Perumpamaan
orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti
laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah
rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”(Al Ankabut:41)
Oleh karena itu
tidak layak bagi seorang mukmin yang mengharapkan kehidupan akhirat sebagai
tujuan akhir hidupnya meninggalkan atau bahkan mengingkari isyarat yang
dengan sangat tegas Allah sebutkan di atas. Sebagaimana tidak layaknya
seorang mukmin yang meyakini Al Qur'an dan sunah seakan-akan dalam hidup ini
layaknya orang yang di tengah hutan belantara, tanpa kompas. Bukankah
rasulullah saw. telah menegaskan: “…sungguh aku
tinggalkan kalian dalam keadaan terang benderang yang seakan-akan malam hari
sebagaimana siang..”(HR. Ibnu Majah). Dalam hadits ini jelas sekali bahwa dalam Islam tidak ada hal yang tidak jelas, apapun persoalannya. Karenanya sebagian kaum muslimin yang menganggap Islam kurang atau tidak sempurna, rasanya perlu meresapkan makna hadits di atas. Kalaulah memang mereka masih meyakini kebenaran Al Qur'an dan sunnah. Selanjutnya sebagai seorang mukmin, kita menatap masa depan semantap kita menatap masa kini dan masa yang lalu. Bagi seorang mukmin masa depan identik dengan kemenangan sebagaimana janji Allah dalam surat An Nur ayat 55. ( http:// www.al-islam.or.id ) |
||||
|
[HOME] [TENTANG KAMI] [INFO FSQ] [ARTIKEL] [DUNIA ISLAM] [DAKWAH] [LINKS] [FREE EMAIL] [BUKU TAMU] FORUM STUDI AL QURAN Fakultas Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Sekretariat: Musholla Ulul Albab FE Jl. H. Hasan Basri, Kayutangi Banjarmasin Email: [email protected] |
||||