Belajar pada Paku dan Pagar
oleh Muhammad Budi Perkasa pada 23 Mei 2010 jam 17:55
Suatu ketika, ada seorang anak laki – laki yang bersifat pemarah. Untuk
mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberi sekantong paku
dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang
setiap kali dia marah.
Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar tiap kali dia
marah. Tapi secara bertahap jumlah itu berkurang. Anak itu medapati
bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya dari pada memakukan paku
ke pagar.
Tibalah saat anak itu bisa mengendaliakan amarahnya
dan dengan segera ia menberitahukan kepada ayahnya.
Ayahnya lalu mengusulkan kepadanya untuk mencabut
satu paku kali dalam sehari dimana dia tidak marah.
Hari – hari pun berlalu dan anak itu memberitahukan
kepada ayahnya bahwa semua paku telah di cabut.
Lalu sang ayah berkata pada anaknya sambil menuntunya ke pagar . “Kamu
telah berhasil anakku. Tapi lihatlah, lubang – lubang di pagar ini.
pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Ketika kamu
mengatakan sesuatu dalam kemarahan, kata – katamu meninggalkan bekas
seperti lubang ini, dihati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau pada
seseorang , lalu mencabut pisau itu. Tapi tidak perduli berapa kali
kamu meminta maaf, luka itu tetap akan ada. Tidak akan hilang oleh waktu”