Merpati
Utusan
01/09/00
Merpati putih
Bermata merah
ruby
Mengendap
di tepi jendela
Tidak berganjak
memerhati si tua
Yang wujud
tubuh badannya
Tetapi telah
hilang dirinya
Di dalam bicara
dan doa.
Seorang tua,
Melipat kaki
diatas tikar
Berzikir tanpa
putus di dalam dada.
Menyujudkan
diri kerdilnya
Semangkin
dekat rasa
Ketika berhadapan
dengan Yang Maha Esa
Wanita berserba
putih,
Melangkah
dalam kamar
Menuju kearah
si tua,
Berhenti memerhati...
Di tatap wajah
yang ditelah zaman,
Semangkin
dingin suasana subuh hari
Terasa sayu
jiwa raga
Terus memerhati
tanpa berkata-kata
Di dalam sanubari
dia hanya merasa
Budi yang
tidak terbalas
Rindu yang
tidak terlafaz
Pada si tua,
bila tiba masa dijemput olehNya.
Di rebahkan
punggungnya
Bersebelahan
insan tua
Di hulurkan
tangannya
Mengucup di
atas lapisan kedutan,
Yang masih
selembut sutera.
Hangat air
mata mula terasa
Melilir tidak
terhingga.
Di dakap erat
bonda tercinta.
Ketika wajah
di angkat,
Mata terlihat..
Pada merpati
putih
Yang masih
memerhati
Kemesraan
bonda bersama anakandanya.
Jauh tidak
tersangka,
Kehadiran
merpati
Utusan dari
Ilahi
Bagi insan
pilihan
Sebagai petanda
Jatuh sudah
antara dedaun di pohon sana
Di mana nama
si tua tertera
Kini,
Harinya dalam
kiraan
Senja semangkin
cerah kelihatan
Hanya tinggal
masa
Menunggu kunjungan...
Rose's
Web Directory
| Poetry
Lane | Music
Box | Inner
Voices| Personal
Corner | Web
Links | Guest
book | Mail
Post