Ketika Sang Maut Datang Menyapa





Ketika Sang Maut Datang Menyapa

Hidup itu sepenggal kata,
maut adalah titik di belakangnya...


Saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang ke Magelang. Berboncengan dengan Mbak Henno, waktu menunjukkan pukul 18.30 saat berangkat dari kos Mbak Henno. Awan mendung menaungi Merbabu-Merapi. Dalam hatiku bergumam, semoga di perjalanan kami tidak terhalang hujan. Dan memang tidak hujan, angin juga tidak bertiup terlalu kencang, tapi hawa udara terasa dingin menyentuh jemari. Entah kenapa dengan perasaanku waktu itu, semenjak siang merasa gelisah, Ah pasti karena tadi siang aku baru saja nengok teman yang kecelakaan, pikirku. Tapi ada apa di balik rasa gelisah itu? Lama-lama semakin mempengaruhi pikiranku, tapi aku berusaha membuang jauh-jauh pkiran jelek. Konsentrasi pada lalu-lintas, dan berdoa dalam hati. Hingga sampailah kami di sekitar pertigaan Medari, Sleman. Motor kupacu di sekitar 70-80 km/jam. Menjelang pertigaan, aku mengurangi kecepatan sedikit, di sekitar 20 meter ke depan ada motor yang sedang akan menyeberang(Sepintas terlihat seperti Kawasaki Kaze dengan stripping hijau), posisinya melintang persis di atas marka jalan, lalu kuarahkan motor agak ke kanan, biasanya dengan begitu si penyeberang sudah paham, kalau aku mengarah ke kanan, berarti aku akan lewat di sebelah belakangnya, dan dia bisa menyeberang. Dan kenyataannya ia memang menyeberang, tetapi...
Ternyata di belakang Kaze itu ada satu motor lagi (belakangan diketahui adalah Honda Astrea Star), dan aku sudah kelewat membuka gas lagi alias menambah kecepatan. Anehnya si pengendara Astrea Star itu tidak ikut pengendara Kaze menyeberang (Biasanya kan yang belakang ngikut yang depan). Dia cuma berjalan sebentar lalu berhenti lagi. Lebih anehnya lagi, meskipun aku bisa melihat bahwa waktu itu di depanku ada motor yang melintang, tapi aku merasa seluruh tubuhku tidak mampu bereaksi, memang sekilas terpikir, "Ahh.. ini sudah tidak bisa dihindari.." Lalu tubuh rasanya kaku, nafas tertahan, bersiap menghadapi benturan, dan.....
"BRRAKK..!!!"
aku mendengar suara keras, tubuhku ringan seperti melayang, pikiranku kosong... selanjutnya yang aku rasakan adalah benturan bahu kanan ke tanah dan pelipis kanan terbentur dan bergesekan dengan aspal, suara kulit yang sobek karena aspal terdengar ngeri...., Sedetik kemudian aku langsung berdiri, melihat sekeliling, saat itu entah bagaimana helm sudah terlepas, yang aku rasakan hanya panas di pelipis sebelah kanan, dan seperti ada cairan yang mengalir di pipi, lalu jatuh membasahi jaket. Lalu terdengar teriakan Mbak Henno memanggil-manggil aku, aku hanya bisa melihat kakinya, rupanya badannya tertindih motor. Lalu aku angkat motor, dan dia bisa keluar, berjalan ke tepi, motorku didorong orang-orang ke tepi lalu aku menghampiri mbak henno yang duduk di trotoar, memastikan tidak ada luka parah, syukurlah dia hanya tergores pergelangan kanannya. Lalu aku menghampiri orang yang aku tabrak. Karena tadi sempat digotong ke tepi jalan, aku takutnya dia sampai meninggal, tapi syukurlah dia masih bernafas(rupanya bapak-bapak sudah seumuran separuh baya) hanya terbaring, dan wajahnya seperti shock... Lalu aku duduk di samping mbak henno, perut rasanya aneh (seperti rasa mual bercampur lapar) kepala terasa berat, pandangan mulai berkunang-kunang (aku tidak ingat apakah waktu itu juga ada burung-burung kecil yang terbang berputar-putar di kepalaku)Lalu aku hanya ingin berbaring. Orang-orang membawaku ke RSUD Sleman yang berjarak sekitar 300 meter. dari suster yang merawat aku tahu kalau pelipis kananku robek, dan harus dijahit. Malamnya tidur di rumah mas deddy, sebelum tidur aku sempat minta maaf sama mbak henno. Paginya waktu ngecek HaPe, di menu Outbox ada pesen :"Sesuk meneh sing ngati-ati, Allah masih sayang sama kita." Rupanya dari Mbak Henno.
Selang beberapa hari, aku masih berpikir tentang pesan itu. Bila dibandingkan dengan beberapa kejadian yang pernah aku lihat, sangat mungkin aku berpotensi untuk lebih dari sekedar mendapat luka gores di pelipis kanan. Mengingat posisi jatuhku ada di tengah jalan, sangat mungkin waktu itu ada mobil yang menyambar tubuhku. Tapi bersyukur, waktu itu lalu-lintas sepi. Tampaknya Mbak Henno ada benarnya juga, Allah masih sayang pada kami, entah apa yang Dia ingin tunjukkan pada kami selanjutnya...



Last updated: 19/01/05
A R C H I V E S
Hosted by www.Geocities.ws

1