
<rss version="2.0">
<channel>

<title><![CDATA[Nuansa Biru]]></title>
<link>http://www.geocities.com/mahansa/index.html</link>
<description><![CDATA[Apakah ada yang lebih dalam dari hati?
Dan, apakah ada yang lebih biru dari hati yang terluka?]]></description>
<language>en-us</language>
<lastBuildDate>Tue, 21 Nov 2006 12:01:09 GMT</lastBuildDate>

<item>
<title><![CDATA[Customer Center IM3 Payah]]></title>
<link>http://www.geocities.com/mahansa/index.html?p=16</link>
<description><![CDATA[<p><font size="3" face="Times New Roman">Pelayanan pelanggan di negeri ini memang masih payah. Barusan saja aku berhubungan dengan contact center IM3—setelah bergumul selama sejam lebih—dan hasilnya cuma bisa mengurut dada.</font></p><br />
<p><font size="3" face="Times New Roman">Masalahnya sepele. Aku mengutak-atik setting di call forward ponselku dan hasilnya aku kehilangan setting untuk mentransfer telepon masuk ke voice mail kalau ponselku sedang tidak aktif atau tidak menjawab. Sekadar informasi, selama ini voice mail itu berjalan dengan baik sejak pertama kali aku menggunakan nomor IM3 ini. Jadi, setiap panggilan masuk yang tidak terjawab atau saat ponselku mati, otomatis dialihkan ke voice mail.</font></p><br />
<p><font size="3" face="Times New Roman">Mimpi buruk dimulai ketika nomor contact center yang tersedia susah sekali dihubungi. Menurut situs web IM3, ada beberapa nomor yang bisa dihubungi, yaitu 300 (melalui ponsel) atau 021-30003000 dan 021-39855888 melalui telepon PSTN. Cara lain adalah menggunakan SMS (ke nomor 300) atau melalui email (via website).</font></p><br />
<p><font size="3" face="Times New Roman">Barangkali ada seratus kali aku mencoba sebelum akhirnya bisa menembus nomor 300 di ponsel. Yang melalui PSTN, sampai pegal aku mencoba, jawabannya cuma: “Nomor yang Anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi.”</font></p><br />
<p><font size="3" face="Times New Roman">Aku lupa dengan siapa aku berbicara, tapi mimpi buruk kedua terjadi saat berkomunikasi dengan salah satu officer IM3. Pertanyaannku sederhana saja, nomor berapa yang harus aku isikan pada setting voice mail sehingga panggilan-panggilan masuk yang tak terjawab tadi bisa masuk ke voice mail. Ternyata, menurut sang officer, voice mail-ku harus diaktifkan terlebih dahulu.</font></p><br />
<p><font size="3" face="Times New Roman">Aku pun bertanya, lha wong selama ini sudah berjalan dengan normal, apanya lagi yang harus diaktifkan? Apakah aku tidak bisa mendapatkan nomor setting-an itu saja? Tetapi officer yang “sabar” itu tetap keukeuh sumeukeuh bahwa aku harus mengaktifkan voice mail-ku terlebih dahulu. Okelah, aku menyerah. Terus aku bertanya, apa yang harus dilakukan untuk mengaktifkannya. Dia menjawab, aku harus diverifikasi dulu. Lantas, sebagai bagian dari verifikasi, dia bertanya, berapa sisa pulsaku (berhubung aku pakai prabayar).</font></p><br />
<p><font size="3" face="Times New Roman">Aku bilang, aku tidak ingat. Dia dengan bijaksananya lantas menjelaskan cara untuk mengetahui sisa pulsa. Dan, hal ini membuat aku langsung meradang. Pasalnya, nenek-nenek juga tahu cara untuk mengecek sisa pulsa. Aku tidak perlu diajarin soal itu! Tapi kan untuk itu aku harus memutuskan dulu hubungan telepon dengan si officer, mengecek pulsa, baru menghubungi dia lagi… Apakah dia cukup memahami bahwa aku sudah hampir membanting telepon gara-gara sulitnya menghubungi dia?</font></p><br />
<p><font size="3" face="Times New Roman">Aku pun mendebat, apa tidak bisa dicek langsung dari sistemnya dia. Tapi, si officer lagi-lagi menjelaskan tentang cara mengecek pulsa yang-nenek-nenek-juga-tahu itu tadi. “Cukup tekan *388# saja, Pak,” ujarnya seakan-akan aku ini orang paling idiot. Sejenak aku terpikir, jangan-jangan aku bisa mengecek pulsa sembari tetap terhubung dengannya. Mengapa tidak? Aku pun langsung menekan tombol yang dimaksud dan sekejap aku pun sukses memutuskan hubungan telepon dengannya. Aku sempat berharap cemas dalam hati, jangan-jangan dia mengira aku bete dan memutuskan hubungan telepon saat dia berbicara. Ah, aku kan tidak ingin dikira tidak sopan begitu :P padahal, aku betul-betul sudah gondok.</font></p><br />
<p><font size="3" face="Times New Roman">Akhirnya aku pun tahu sisa pulsaku tinggal berapa. Dengan semangat tersisa, aku mencoba menghubungi lagi contact center keramat itu. Untungnya, kali ini aku tidak perlu sampai setengah jam lebih seperti sebelumnya. Kira-kira pada usaha kesepuluh, aku berhasil tersambung. Dengan suara yang di-sabar-sabar-kan, aku menjelaskan ulang pada officer yang lain tentang masalah yang kuhadapi. Agar tidak membuang waktu untuk mendengar penjelasannya yang tidak perlu, aku langsung bilang bahwa menurut officer sebelumnya aku harus diverifikasi dengan menyebutkan sisa pulsaku. Dan, aku langsung bilang bahwa sisa pulsaku adalah Rp 21.845. Tapi, pertanyaannya berikutnya nyaris membuatku melompat: “Masa aktif pulsa sampai tanggal berapa?”</font></p><br />
<p><font size="3" face="Times New Roman">Terus terang aku mungkin ceroboh karena tidak mencatatnya. Tapi, aku langsung protes, kalau aku harus mengecek lagi sampai kapan masa aktif pulsaku, mungkin baru besok lagi aku bisa menghubunginya. Aku bilang saja kesulitanku menghubungi nomor tersebut. Dia masih menanyakan sejumlah pertanyaan lain yang lumayan bikin perut mulas menahan amarah, sampai akhirnya dia bilang bahwa voice mailku akan diaktifkan dan butuh waktu paling cepat dua jam untuk berfungsi dan paling lama 1 x 24 jam. Okelah, aku tidak mau berdebat lagi. Aku iyakan saja.</font></p><br />
<p><font size="3" face="Times New Roman">Aku bertanya lagi soal “voice mail” yang selama ini bisa aku pergunakan. Dia tidak tahu, “voice mail” yang mana yang aku maksud, karena satu-satunya informasi yang dia tahu bahwa voice mailku belum aktif. Sudah lah, aku pikir enggak guna untuk memperpanjang diskusi yang tidak produktif tersebut. Tapi, aku masih punya complain lain. Kenapa begitu sulitnya masuk ke nomor telepon contact center tersebut. Apakah tidak ada nomor telepon lain yang bisa dihubungi?</font></p><br />
<p><font size="3" face="Times New Roman">Dengan “bangga” sang officer menjawab bahwa mereka memang hanya punya satu nomor dan selama ini semua orang yang mau berbicara dengan contact center memang harus mencoba menelepon berulang-ulang. Aku membatin, luar biasa, sungguh jawaban yang benar-benar aku butuhkan. Dengan bijaksana, aku bilang: oke, tidak ada hal lain yang ingin aku ketahui. Selesailah percakapan.</font></p><br />
<p><span style="font-size:12pt; font-family:'Times New Roman'; ">Terus terang, saat menutup telepon, aku spontan menghela napas lega. Wah, benar-benar pengalaman yang “mengharukan”, berurusan dengan contact center IM3. Hebat… hebat… Jadi, kalau besok-besok ada di antara pembaca sekalian kebetulan terhubung dengan voice mail-ku, ketahui lah bahwa untuk mengaktifkan voice mail itu aku harus berusaha keras dan stres habis-habisan.</span></p>]]></description>
<pubDate>Tue, 21 Nov 2006 12:01:09 GMT</pubDate>
</item>

<item>
<title><![CDATA[Lagi-lagi percobaan]]></title>
<link>http://www.geocities.com/mahansa/index.html?p=15</link>
<description><![CDATA[<p>rasa-rasanya aku sudah berusaha mengikuti perkembangan yang ditawarkan oleh yahoo dan teman-temannya. dan, tetap saja aku merasa terlambat satu-dua langkah.</p>
<p>begitu cepatnya mereka melangkah. aku baru tergagap-gagap memahami teknologi RSS feeds, ternyata sekarang sudah diintegrasikan di yahoo mail. bukan cuma itu, cukup dengan meng-klik satu tombol, sebuah posting dapat di-link langsung di blog kita.</p>
<p>jadi, enggak usah bingung melihat posting sebelum ini soal wi-fi itu, kok cuma sebaris (apa pulak maksudnya ya?), karena itu percobaan nge-link menggunakan fasilitas di yahoo mail.</p>
<p>hebat, yahoo memang hebat. harus aku akui itu. entah kapan aku bisa memahami semua kerjaan orang-orang ini.</p>
<p>btw, ini seyogyanya menjadi hari pertama masuk kerja setelah libur Lebaran. tetap saja, masih banyak meja yang kosong karena penghuninya belum pada masuk. tapi, jalanan tadi pagi sudah macet--meski aku bisa menempuh perjalanan jatibening-kota kurang dari 1,5 jam.</p>
<p>sampai di kantor, setumpuk tugas sudah menanti. pusing bow...</p>
]]></description>
<pubDate>Mon, 30 Oct 2006 09:20:44 GMT</pubDate>
</item>

<item>
<title><![CDATA[Taking Wi-Fi power to the people]]></title>
<link>http://www.geocities.com/mahansa/index.html?p=14</link>
<description><![CDATA[<a href="http://news.com.com/2100-7351_3-6130059.html?part=rss&amp;tag=6130059&amp;subj=news">Taking Wi-Fi power to the people</a>]]></description>
<pubDate>Mon, 30 Oct 2006 09:16:13 GMT</pubDate>
</item>

<item>
<title><![CDATA[About Being Ordinary]]></title>
<link>http://www.geocities.com/mahansa/index.html?p=13</link>
<description><![CDATA[Dulu aku sangat terobsesi untuk tidak menjadi ordinary people. Belakangan akhirnya aku mengira aku "menyerah", karena faktanya sekarang aku adalah "ordinary people" yang bekerja dari pagi sampai malam, punya keluarga, anak-isteri, en so on, en so on lainnya... instead of being somebody, actually i'm nobody right now.<br />
Sampai kemarin itu aku membaca buku Zen Sex: The Way of Making Love... ssst, ini bukan masalah making love-nya lho, tapi bagaimana pandangan pengarangnya, Philip Toshio Sudo, about being ordinary. Tegasnya, there's nothing wrong about being ordinary.<br />
Dalam konteks seks, banyak orang begitu terobsesi untuk mendapat kenikmatan (seksual) dan hal itu diterjemahkan dengan aneka posisi aneh. Dalam bukunya, Sudo mengingatkan pembaca untuk tidak mengharapkan serangkaian posisi dan langkah praktis yang perlu ditiru. Menurut Sudo, yang perlu dibenahi terutama adalah sikap dan cara pandang kita terhadap seks.<br />
Dengan kata lain, posisinya sih boleh biasa-biasa saja, tapi cara pandangnya itu yang membuatnya luar biasa (he he, kayak copy iklan aja...).<br />
So, jangan asal berbeda demi perbedaan itu sendiri. Being ordinary actually not just being ordinary. Looks like being ordinary; but with different view.<br />
Bagaimana different view yang dimaksud, sorry, aku tidak akan menjelaskannya di sini. Beli aja bukunya :P]]></description>
<pubDate>Wed, 06 Sep 2006 00:37:22 GMT</pubDate>
</item>

<item>
<title><![CDATA[Soekarno dan Guevara]]></title>
<link>http://www.geocities.com/mahansa/index.html?p=12</link>
<description><![CDATA[<p>he he, semua yang aku pamerin foto ini langsung terperangah... busyet, dua mitos berfoto bersama: Soekarno dan Guevara. sungguh suatu momen yang langka, dan terlebih langka lagi benda yang mengabadikannya: selembar foto.</p>
<p>foto ini dibingkai dan disimpan oleh seorang bernama sofyan indra caya. aku bertemu dengan orang ini di gedung filateli pasar baru. dalam rangka apa dan bagaimana ceritanya, simak majalah NEA edisi agustus mendatang.</p>
]]></description>
<pubDate>Thu, 27 Jul 2006 09:03:10 GMT</pubDate>
</item>

<item>
<title><![CDATA[Tentang Gereja]]></title>
<link>http://www.geocities.com/mahansa/index.html?p=11</link>
<description><![CDATA[<p><span style="font-family:Gautami; "><font size="3" face="Times New Roman, Times, serif">Radio jerman (deutchewelle?) pagi ini menyiarkan laporan tentang berkurangnya pengunjung gereja di negeri itu yang berakibat banyaknya gereja yang tutup dan dijual. Bahwa pengunjung gereja berkurang di negara barat, khususnya Eropa, rasanya bukan hal yang baru. Pendeta Tohom dalam kotbah Minggu di GKI Palipo kemarin bahkan mengatakan bahwa sekarang dibutuhkan penginjil-penginjil dari Asia untuk melayani di Eropa.</font></span></p>
<p><span style="font-family:Gautami; "></span><span style="font-family:Gautami; "><font size="3" face="Times New Roman, Times, serif">Fakta bahwa banyak gereja yang tutup cukup mengecilkan hati. Namun, demikian lapor radio Jerman, apa yang dilkakukan gereja untuk mengatasi kondisi tersebut yang jauh lebih mengagetkan.</font></span></p>
<p><span style="font-family:Gautami; "></span><span style="font-family:Gautami; "><font size="3" face="Times New Roman, Times, serif">Intinya, di tengah zaman yang semakin rasional dan mengelu-elukan teknologi seperti sekarang, gereja memang telah menjadi 'barang antik'. Namun, sebenarnya, hal-hal yang berbau spiritual tetap dicari. Hanya saja bentuknya mungkin jangan seperti gereja yang selama ini dikenal.</font></span></p>
<p><span style="font-family:Gautami; "></span><span style="font-family:Gautami; "><font size="3" face="Times New Roman, Times, serif">Gereja kemudian diperbandingkan dengan organisasi-organisasi semisal partai politik atau serikat buruh. Dikatakan, gereja harus bisa menampung aspirasi dan keinginan masyarakat, apabila tidak mau pengunjungnya menjadi sepi dan pendapatan berkurang. Sungguh luar biasa!</font></span></p>
<p><span style="font-family:Gautami; "></span><span style="font-family:Gautami; "><font size="3" face="Times New Roman, Times, serif">Dicontohkan, ada gereja-gereja yang dibuka di jalan bebas hambatan, untu 'menjemput bola', menyediakan tempat bagi orang-orang yang sedang dalam perjalanan untuk beribadah. Sayangnya, tidak dijelaskan apakah dari segi penhajaran juga ada 'penyesuaian' atau tidak.</font></span></p>
<p><span style="font-family:Gautami; "></span><span style="font-family:Gautami; "><font size="3" face="Times New Roman, Times, serif">Fakta ini dengan jelas dab nyata-nyata menggenapi nubuatan Alkitab bahwa menjelang akhir zaman, orang-orang lebih mencintai diri sendiri dan hanya mau mendengar apa yang ia sukai.</font></span></p>
<p><span style="font-family:Gautami; "></span><span style="font-family:Gautami; "><font size="3" face="Times New Roman, Times, serif">Dari sisi lain, aku melihat kenyataan ini sebagai 'penghinaan' kepada isi ajaran agama (dalam hal ini kekristenan) dan lebih-lebih kepada Tuhan--kalau kita memahami gereja sebagai representasi dan perwujudan Tuhan di muka bumi.</font></span></p>
<p><span style="font-family:Gautami; "></span><span style="font-family:Gautami; "><font size="3" face="Times New Roman, Times, serif">Aku terlalu percaya bahwa Allah itu maha kuasa dan tidak perlu dibela. Justru kitalah yang senantiasa membutuhkan pembelaan dari-Nya. Oleh karena itu, jika ada upaya-upaya 'menyelamatkan' gereja sebatas menjaga agar gereja tidak kosong (dan pendapatan berkurang), hal itu berarti penyelewengan dari alasan keberadaan gereja. Bahkan--kalau boleh aku menambahkan--gereja model begini berarti motifnya uang, bukan lagi menjala jiwa bagi Tuhan.</font></span></p>
<p><span style="font-family:Gautami; "></span><span style="font-family:Gautami; "><font size="3" face="Times New Roman, Times, serif">Aku masih terlalu percaya bahwa kekristenan tetap menjadi jawaban bagi persoalan-persoalan aktual masyarakat modern; sama sahihnya seperti pada zamannya Yesus. Persoalannya, mungkin orang-orang atau organisasinya saja yang kurang tanggap memahami kebutuhan spiritual jemaat.</font></span></p>
<p><span style="font-family:Gautami; "></span><span style="font-family:Gautami; "><font size="3" face="Times New Roman, Times, serif">Fakta menarik lain, setelah abad-abad pertama mencatat kejayaan gereja, hingga akhirnya menjadi agama negara pada zaman Konstantin, kini dunia barat mengalami kemunduran yang amat sangat. Sebaliknya dengan Asia, yang dulu tidak mengenal Terang itu, kini mencatat pertumbuhan yang sangat luar biasa, terutama di China, Korea, dan juga Indonesia. Genap pula ayat yang mengatakan bahwa yang pertama menjadi yang terkemudian, sedangkan yang belakangan menjadi yang utama.</font></span></p>
<p><span style="font-family:Gautami; "></span><span style="font-family:Gautami; "><font size="3" face="Times New Roman, Times, serif">Ah, dunia ini memang semakin tua...</font></span></p>
<p><span style="font-family:Gautami; "></span><span style="font-size:12pt; font-family:Gautami; "><font face="Times New Roman, Times, serif">Palmerah, 27 Juli 2006</font></span></p>
]]></description>
<pubDate>Thu, 27 Jul 2006 08:18:47 GMT</pubDate>
</item>

<item>
<title><![CDATA[Lagi, Tentang Kematian]]></title>
<link>http://www.geocities.com/mahansa/index.html?p=10</link>
<description><![CDATA[<p><font size="2" face="Times New Roman, Times, serif">Seorang </font><a href="http://www.friendster.com/6929424"><font color="#000000" size="2" face="Times New Roman, Times, serif">teman</font></a><font size="2" face="Times New Roman, Times, serif">, mengutip salah satu kolom Sindhunata saat Piala Dunia baru lalu, bertanya dalam </font><a href="http://nigarpandrianto.blogspot.com/"><font color="#000000" size="2" face="Times New Roman, Times, serif">blog</font></a><font size="2"><font face="Times New Roman, Times, serif">-nya:</font></font></p>
<p><font size="2"><font face="Times New Roman, Times, serif">“<span style="color:#333333; font-family:'Trebuchet MS'; "><font color="#000000">mungkinkah seorang manusia berbuat benar dan baik tanpa mempertimbangan, tanpa memikirkan dimensi-dimensi metafisik yang ilahi, yang hanya didapat dalam nuansa kematian, terutama bagi kaum theis. Jawabannya, ‘ya’!”</font></span></font></font></p>
<p><font size="2"><font face="Times New Roman, Times, serif"><span style="color:#333333; font-family:'Trebuchet MS'; "></span></font></font><font size="2" face="Times New Roman, Times, serif">Dan inilah komentarku:</font></p>
<p><font size="2" face="Times New Roman, Times, serif">agak kurang sependapat sobat... semuanya akan sangat bergantung pada bagaimana kau memandang kematian. demikianlah kau akan menjadi kecewa, sakit hati, marah, atau justru berpengharapan.</font></p>
<p><font size="2" face="Times New Roman, Times, serif">memang, mungkin saja orang dapat berbuat baik dan tetap benar dalam hidup ini tanpa mempertimbangkan dimensi metafisik. namun, tanpa memperhitungkan atau mempercayai dimensi metafisik, sangat mungkin untuk kita tercebur dalam pandangan--yang kau kutipkan sebagai--epikurian itu. sekurang-kurangnya, pertimbanganmu hanya moral belaka. jadi ingat pelajaran waktu kuliah dulu, menyoal moral... dosen kita yang terhormat mengatakan bahwa ada alasan untuk mempercayai moralitas di luar agama--sesuatu yang disebut nilai-nilai moral yang berlaku secara universal.</font></p>
<p><font size="2" face="Times New Roman, Times, serif">tapi hal itu hanya berlaku pada tataran ideal dan kau akan berhadapan dengan persoalan ketidakadilan dalam hidup ini. mungkinkah kau tetap 'baik dan benar' dan tetap punya alasan untuk secara keras kepala melakukannya manakala keadilan terhadap dirimu diinjak-injak? bagiku, begitu tidak adilnya hidup ini sehingga dibutuhkan 'sebentuk keadilan lain yang melampaui hidup ini' sehingga semuanya lebih terlihat masuk akal...</font></p>
<p><font size="2" face="Times New Roman, Times, serif">ini baru jawaban misteri kematian dari sisi keadilan. aku percaya, masih terlalu banyak alasan untuk percaya dimensi metafisik ketimbang sekadar menganggap bahwa "yang ada" dan "yang berarti" hanya hidup ini.</font></p>
<p><font size="2" face="Times New Roman, Times, serif">justru, aku sudah sampai pada pandangan bahwa hidup ini tidak (begitu) berarti dibanding apa (yang aku percaya) ada di sisi sebalik kematian. kau mungkin bertanya, lantas apa alasanku masih berada dalam kehidupan ini?</font></p>
<p><font size="2" face="Times New Roman, Times, serif">justru, begitu pentingnya yang ada di sisi sebalik kematian itu, sehingga hidup ini (hanya) berfungsi sebagai arena latihan untuk mempersiapkan kita masuk dalam hidup di sisi sebalik kematian itu.</font></p>
<p><font size="2" face="Times New Roman, Times, serif">aku kutipkan kembali pernyataan yang sangat aku suka menyoal kematian: "Di sini, kematian bukanlah yang paling buruk..."</font></p>
<span style="font-size:12pt; font-family:'Times New Roman'; "><font size="2" face="Times New Roman, Times, serif">have a very nice dead then...</font></span>]]></description>
<pubDate>Fri, 21 Jul 2006 01:13:00 GMT</pubDate>
</item>

<item>
<title><![CDATA[tentang dosa]]></title>
<link>http://www.geocities.com/mahansa/index.html?p=9</link>
<description><![CDATA[<p>entah mengapa, topik yang banyak kudengar beberapa hari ini di radio menyoal dosa.</p>
<p>aku jadi ingat--rasanya setiap anak SMA I Medan era 80-an juga ingat--bagaimana guru kita yang gayanya sedikit militer, namely st av manalu dan anaknya, joster manalu (cmiiw), dengan gagah berani menjelaskan tentang konsep dosa dalam mata pelajaran agama kristen. dijelaskan, dengan istilah 'luncas' atau tidak kena sasaran, dosa adalah kegagalan dalam mengikuti perintah atau kehendak Allah.</p>
<p>dulu aku menganggap konsep-konsep semacam itu sebagai pelajaran yang tidak penting, meski menentukan nilai ujian :P tapi, sekarang aku sadar, betapa hal itu adalah sesuatu yang khas orang kresten.</p>
<p>dosa pertama-tama bukanlah 'kesalahan'--seperti diistilah seorang pembicara di radio heartline fm (100,6 MHz) semalam. waktu kecil kita sering bergurau, mencuri uang itu dosa, tidak peduli berapa banyak yang kau curi. jadi, mencuri rp 50 sama dosanya dengan mencuri rp 5.000.000. so, kalau gitu, udah aja kita mencuri yang lebih besar. toh, dosanya sama.</p>
<p>dosa dalam pengertian seperti itu membawa kita pada ketakutan terhadap sanksi--meski pandangan ini tidak sepenuhnya keliru. bukankah alkitab berkata: upah dosa adalah maut?</p>
<p>tapi, dengan menempatkan dosa semata-mata kesalahan yang patut dihukum, kita menurunkan 'derajat bahaya' dosa. nyatanya--mestinya aku menyertakan penjelasan secara etimologis, sayang sekali aku tidak memilikinya saat ini sehingga bisa dibagikan, tapi memang suatu kali aku pernah membacanya. pengertian dosa--aku kutip kembali pengajaran anak-beranak manalu dan hamba Tuhan yang menjadi narasumber di radio semalam--adalah pertama-tama ketidakmampuan kita menuruti perintah atau kehendak Allah, melenceng, atau meleset dari tujuan.</p>
<p>sebut saja, di Alkitab dikatakan bahwa hendaklah kita kudus, karena Bapa adalah kudus. maka, ketidakkudusan dalam pengertian apa pun adalah dosa. tidak ada tawar-menawar.</p>
<p>lalu, bagaimanakah kita memandang taurat Tuhan, seperti bangsa Israel di perjanjian lama? sekali-sekali semua hukum itu tidak membawa perbaikan bagi manusia. taurat hadir bukan untuk membimbing orang supaya mampu melakukannya, tapi--alih-alih--merupakan cara untuk semakin membuktikan ketidakmampuan manusia menuruti perintah dan kehendak Allah. kejam dan mengerikan bukan?</p>
<p>tapi itulah keadilan Allah. ketidakmampuan manusia menuruti perintah dan kehendak-Nya bukan membuat Allah menghukum kita.</p>
<p>kalau kita menerima penghukuman, itu bukan dari Allah, tetapi akibat dan konsekuensi logis dari perbuatan-perbuatan kita. sedangkan Allah, apa yang dilakukannya adalah menawarkan solusi gratis berupa karya penyelamatan oleh Yesus Kristus. sungguh anugerah yang luar biasa buat para pendosa. kita tidak dituntut untuk berbuat macam-macam, dengan persyaratan ini-itu, yang semuanya itu jelas-jelas tidak mungkin kita lakukan (hayo, siapa yang dapat mengatakan dirinya tidak berdosa--jika konsep dosa adalah ketidakmampuan manusia menuruti perintah dan kehendak Allah?). apa yang Tuhan tuntut dari kita hanyalah percaya. titik.</p>
<p>perdebatan lebih lanjut dari orang-orang yang tidak suka dengan cara pandang ini: kalau begitu, orang kristen bebas dong berbuat dosa? toh sudah diselamatkan dan ditebus oleh Yesus di kayu salib. sejujurnya, aku ingin berkata bahwa argumentasi ini sangat naif.</p>
<p>ketika aku berkata 'percaya', yang dibutuhkan di situ adalah ketaklukan dan kerendah-hatian, sebentuk pengakuan bahwa kita tidak berdaya dan membutuhkan pertolongan dan uluran tangan dari Allah agar kita diselamatkan dan dapat keluar dari keberdosaan kita. mungkinkah seseorang yang melewati fase itu akan demikian mudah, atau malah dengan sengaja, berbuat dosa lagi? aku rasa tidak. betapa pun, aku sadar, bahwa orang-orang demikian masih mungkin (jika kita berbicara soal kemungkinan) untuk jatuh dalam dosa. tapi, sewajarnya, dia akan bertobat kembali, mohon ampun, dan (berusaha dan terus berusaha) berbalik dari jalannya yang sesat.</p>
<p>itu sebabnya, kekudusan hidup yang aku pahami sekarang adalah sebuah proses, bukan hasil akhir. ketika dikatakan, hendaklah kamu kudus, bukan berarti de facto kita (telah) kudus, melainkan secara de jure kita dikuduskan (oleh darah Yesus) dalam suatu proses yang terus-menerus.</p>
<p>meleset dan pelanggaran</p>
<p>tapi, aku juga mendapat aksentuasi yang berbeda dari uraian di radio semalam. benar bahwa pada umumnya dosa dimengerti sebagai ketidakmampuan atau meleset dari tujuan yang ditetapkan Tuhan. tapi, nyata-nyata ada bentuk dosa yang merupakan 'pelanggaran' dari kehendak Tuhan.</p>
<p>dalam pengertian ini, bukan lagi kita sekadar melenceng, tapi kita sudah menabrak, dan melakukan sebaliknya dari apa yang dituntut Tuhan. mestinya--aku saat ini tidak memiliki rujuan ayatnya--jenis 'dosa' ini lebih berat akibatnya (aku tidak mau terjebak pada relasi dosa-hukuman). karena, sebenarnya, perasaan bersalah adalah 'hukuman' dosa yang pertama-tama kita terima, di samping kemungkinan hukuman-hukuman lain. belum lagi akibat seperti stres, murung, tidak sukacita, dll--yang tidak mesti hukuman fisik--bukankah merupakan hukuman yang tidak kalah berat?</p>
<p>gambar yang aku sertakan adalah lukisan seven deadly sins yang disebut-sebut di dalam da vinci code. so, have a very nice day then... GBU</p>
]]></description>
<pubDate>Thu, 20 Jul 2006 03:24:29 GMT</pubDate>
</item>

<item>
<title><![CDATA[Tentang Yahoo! 360]]></title>
<link>http://www.geocities.com/mahansa/index.html?p=8</link>
<description><![CDATA[<p>semakin banyaknya situs-situs yang menawarkan layanan seperti ini sebenarnya bikin bingung. kemarin-kemarin aku sangat menikmati friendster, dan harus aku akui, ide dan eksekusi ide friendster sampai sekarang masih yang terbagus.</p>
<p>yahoo! coba-coba muncul dengan layanan yahoo! 360. di dalamnya ada fungsi pertemanan dan blog, plus fitur-fitur yang sebelumnya sudah ada, diintegrasikan ke dalam satu layanan. entahlah, apa namanya, pokoknya di situ ada photos, (yang dulunya) geocities--tapi sekarang jadi yahoo!360, atau sebaliknya--dll. faktanya, layanan blog juga jadi yahoo! 360 atau geocities--enggak tahu deh. pokokna mah lieur...</p>
<p>gara-gara menumpuk berbagai fitur menjadi satu, aku kok melihat tampilan yahoo! 360 kacau balau. selain kaku karena desainnya yang penuh kotak, penataan fungsinya juga sama sekali enggak friendly. langkah-langkahnya juga enggak praktis--kecuali, mungkin, untuk mem-posting blog, yang cukup dilakukan melalui window kecil dari yahoo! messenger (seperti yang aku lakukan saat ini).</p>
<p>enggak tahu lah, ini kan katanya masih versi beta. siapa tahu versi finalnya nanti jadi lebih oke. kita tunggu saja.</p>
<p>yang jelas, meski sama-sama menawarkan fungsi blog, aku jadi lebih senang posting di sini, karena lebih praktis. selain itu, aku bisa langsung meng-attach foto dengan satu langkah praktis. misalnya saja pada posting ini, aku add foto waktu zaman kuliah dulu. sayang sekali, untuk satu posting cuma bisa meng-add satu foto (atau mungkin aku aja yang belum tahu caranya). tapi, untuk orang-orang yang tidak terlalu mengerti bahasa komputer yang rumit-rumit, semua ini juga sudah cukup mewah.</p>
]]></description>
<pubDate>Wed, 19 Jul 2006 11:50:57 GMT</pubDate>
</item>

<item>
<title><![CDATA[Reposting: Pernikahan Biru]]></title>
<link>http://www.geocities.com/mahansa/index.html?p=7</link>
<description><![CDATA[<p>ini gara-gara mau pindahin blog, dari geocities yang lama ke versi yahoo! 360. cuma karena enggak tahu caranya, file yang lama pada hilang. untung postingan soal pernikahan ini enggak hilang, tapi sebenarnya udah basi banget. aku selamatin saja, persis seperti aslinya. cuma, harusnya ada dua foto yang dipejeng. cuma aku juga enggak tahu bagaimana caranya mejengin dua foto sekaligus. jadi, aku pilihkan foto dengan busana adat ini.</p>
<p>berikut komentar yang aku tulis waktu itu... sori, tertulis masih ada dua foto, padahal sekarang cuma satu.</p>
<p>++++++++++++++++++++++++++ quote</p>
<p><span style="font-size:14px; ">Pernikahan adalah peristiwa sakral --mestinya-- sekali seumur hidup buat seseorang. Begitu juga buat aku. Begitu banyak pertaruhan untuk event yang kemudian berlangsung dua hari itu. Sedikit banyak cerita di balik layar dapat disimak di weblogku (nuansa-biru.blogspot.com). Dua foto ada di halaman ini, yakni waktu pemberkatan nikah di GKI Kebayoran Baru (11/4/2003) dan waktu pesta adat di Sasana Dhaya Sakti, Matraman (12/4/2003).<br />
<br />
Kini aku dan Icha --begitu nama mantan kekasih yang kini menjadi isteriku-- telah mulai mengayuh biduk rumah tangga kami, seperti miliaran pasangan yang telah ada sepanjang sejarah.<br />
<br />
Ke mana akhirnya, tidak penting. Tapi inilah awal dari pertautan cinta...</span></p>
]]></description>
<pubDate>Wed, 19 Jul 2006 11:21:07 GMT</pubDate>
</item>


</channel>
</rss>


