Sepenggal Kisah Jembatan Tua
Oleh Vici Lucyta
Sang surya telah beranjak dari singgasananya dan mulai kembali keperaduannya di ufuk barat. Sinarnya memancar menimbulkan paduan warna yang memukau. Tepat diatas sebuah jembatan tua di pinggir kota itu, berdirilah seorang gadis cantik bersurai hitam panjang sepinggang dan mata hitamnya yang memukau. Buju hijau terusan yang dikenakannya tertiup perlahan oleh hembusan angin sore yang menenangkan jiwa. Indra pengelihatannya tak luput dari pemandangan matahari terbenam sore itu.
Nama gadis itu adalah Vega, seorang gadis cantik yang tengah memandang lurus kedepan dengan raut wajah yang tampak sedih dan terluka. Matahari tenggelam merupakan hal yang paling disukainya, dulu. Ya, itu dulu sebelum dia kehilagan orang yang berharga di dalam hidupnya. Orang yang telah menemaninya sehari-hari dan menjadi taman untuk mengungkapkan perasaannya. Tepat 365 hari yang lalu dia kehilangan orang itu, sahabat terbaiknya. Dia ingat betul saat pertama kali mereka bertemu di jembatan ini, saat mereka masih sangat kecil.
1 tahun yang lalu…
“ Kau tau Vega? Jembatan yang kita pijaki saat ini belum ada namanya. Bagaimana kalau kita menamainya saja?” kata-kata itu meluncur dari bibir seorang gadis cantik bersurai pirang kecoklatan yang panjangnya sudah mencapai punggung. Ester, itulah nama gadis ceria keturunan Indonesia-Inggris itu. Di sebelahnya berdirilah Vega yang tengah menatapnya bingung. “ Hey, untuk apa kau menamai sebuah jembatan tua yang bahkan tidak banyak yang mengetahuinya.” Dengus Vega dengan ketusnya. Dia bingung dengan jalan pikiran sahabatnya itu. “Hey! Kau tau? Jembatan tua ini sangat berkesan bagiku karena dia telah mempertemukan aku dengan gadis aneh dan ketus sepertimu lima tahun lalu.” Ucap Ester dengan santainya tanpa mrngetahui perubahan wajah sahabatnya yang tengah tertegun. Dia tidak menyangka sahabatnya itu akan mengingat hari dan tempat dimana mereka bertemu dulu.
Dulu Vega menyangka bahwa persahabatannya dengan Ester tidak akan berjalan dengan lancar mengingat kebudayaan dan sifat mereka yang jauh berbeda. Dia ketus sedangkan Ester ramah dan ceria setiap saat. Ester bisa membuat orang yang ada didekatnya merasa nyaman sedangkan Vega sendiri tadak memiliki banyak teman. Tapi sekarang mereka merasa sangat cocok satu sama lain karena mereka sadar bahwa perbedaan itu ada untuk melengkapi satu sama lain bukan untuk menjadi penghalang hubungan baik. “Ummm… bagaimana kalau nama jembatan ini ‘Jembatan Takdir’, karena takdirlah yang mempertemukan kita di jembatan ini” ucapan Ester membangunkan Vega dari lamunannya. “Aaa.. terdengar agak aneh, tapi terserah kau saja” ujar Vega. Ester tersenyum manis kearahnya sambil mengelus jembatan itu. Mereka terdiam karena terlalu fokus pada pandangan didepannya.
Ester menoleh kekanan dan didapatinya sebuah pisau tak jauh dari tempatnya berdiri. Entah pisau siapa itu dan dia mengambilnya tanpa sepengetahuan Vega. Tangan putih mulusnya bergerak untuk mengukir sesuatu yang entah itu apa di gagang jembatan. Vega baru saja menyadari apa yang dilakukan sahabatnya yang ternyata tengah mengukir sesuatu. ‘Ester dan Vega’ itulah yang dapat dilihat oleh indra pengelihatan Vega. Dia tersenyum tipis tanpa menanyakan lagi mengapa sahabat pirangnya itu mengukirnya. “Lucu kan.. ini untuk kenangan kita berdua karena mungkin saja aku tidak bias memberikannya kepadamu.”Vega mengernyit bingung dengan ucapan Ester, tapi dia tidak mengambil pusing dan terus mengamati ukiran tersebut. “ Apa kau percaya kalau persahabatan kita takkan berujung?” Tanya Vega. “Tentu saja, sebuah lingkaran sederhan saja tidak berujung. Kenapa kita tidak?” Vega terdiam dan kemudian dia memeluk Ester dengan erat. Ini adalah kali pertamanya dia tersentuh dengan ucapan seseorang. Dia sebenarnya tidak terlalu mempercayai ucapan Ester karena sesuatu itu pasti akan ada ujungnya, sama seperti umur manusia yang tidak akan hidup kekal. Dan saat itulah mungkin persahabatan mereka akan berujung. Dia punya firasat yang buruk tentang sahabatnya ini. “ Mungkin lusa aku akan kembali ke Inggris karena ayahku ditugaskan kerja disana, dan mungkin kita akan lama terpisah.” Ucapan Ester tersebut berhasil membuat Vega terkejut. Dia tidak menyngka kalau sebentar lagi Ester akan meninggalkannya. “ Kenapa mendadak sekali? Apakah kau tidak bias tinggal disini saja?” Tanya Vega. “Aku juga tidak tau mengapa mendadak seperti ini dan aku tidak mungkin tinggal sendiri disini tanpa adanya orang tuaku.” Vega tidak bias menerima begitu saja, dia sudah kecewa dengan Ester yang akan meninggalkannya. “Kau bias tinggal dirumahku kalau kau mau. Aku akan berbagi kamar denganmu dan ibuku pasti akan menerimamu.” Ucap Vega dengan air mata yang menggenang di kelopaknya. “Kau tau aku tidak akan bias melakukannya, karena orang tuaku pasti tidak mengizinkanku.” Mendengar itu Vega langsung melangkah mundur dan mulai berlari meninggalkan Ester yang menampakkan raut wajah sedih. “Maafkan aku.”
Dua hari kemudian, Vega mendapat kabar bahwa pesawat yang ditumpangi Ester mengalami kecelakaan dan dipastikan bahwa seluruh penumpangnya tidak ada yang selamat. Mendengar itu, air mata Vega tidak bias dibendung lagi. Dia tampak begitu sedih dan menyesal karena dia sempat marah dan kecewa pada Ester. Vega berlari keluar rumah dan menuju jembatan tua di pinggir kota tempat pertemuan dia dan Ester. Dia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu telah meninggalkannya untuk selamanya.
***********
Isak tangis mulai terdengar dari bibir mungil Vega. Tangannya mengelus ukuran yang dibuat Ester dihari terakhir sebelum kepergiannya. Ester meninggalkannya tanpa tau kesedihannya. Tidak, Ester pasti tau apa yang dirasakan Vega karena sesungguhnya dia juga merasakan sakit yang sama dengan Vega. Karena mereka adalah sahabat. Seorang sahabat tidak mungkin merasa senang saat yang lainnya sedih. “ Maafkan aku dan semoga kau bahagia disana. Jangan pernah kau lupakan aku, Ester.” Ucap Vega sembari menghapus jejak air mata dipipinya. Dia percaya suatu saat nanti dai akan menemukan sahabat yang sama seperti Ester. Karena persahabatan itu tidak akan berakhir meski dengfan orang yang berbeda.