|
|
|
|
|
|
Dari
tabel di atas diketahui bahwa mayoritas penduduk desa
ini merupakan buruh
perkebunan dan petani (55,44% dan 29,95%). Hampir
seluruh petani sawah di desa ini juga sekaligus sebagai
buruh harian lepas di perkebunan.
Dari
kedua jenis mata pencaharian ini, penduduk desa
Sidomulyo dapat dikategorikan pada desa miskin,
sebagai akibat dari rendahnya tingkat pendapatan sebagai
buruh dan petani. Untuk buruh harian lepas hanya
memperoleh Rp. 260.000,- per bulan atau Rp. 10.100,- per
hari jauh di bahwa upah minimum propinsi Rp. 14.900,-
per hari. Sementara, petani menghadapi tingginya harga
sarana pertanian, bencana banjir yang teratur setiap
tahun, hama wereng dan rendahnya nilai tukar hasil
pertanian.
Kondisi
ini diperkuat dengan gambaran desa yang didominasi jenis
rumah sangat sederhana, tidak sehat dan tanpa sarana air
bersih dan MCK yang memadai. Bahkan 2 (dua) dusun dari 5
dusun yang ada, tidak mendapat aliran listrik.
|
Kehidupan
Sosial
Kehidupan
sosial penduduk masing-masing desa, sesuai dengan
tatanan mayoritas
suku yang mendiami setiap desa atau dusun.
Secara
umum dapat dibedakan 2 (dua) tipe tatanan sosial di
kawasan ini. Desa yang penduduknya dominan Suku Jawa
beragama Islam, sistim kekerabatan Jawa dan Desa yang
penduduknya dominan Batak dengan sistim kekerabatan
Batak, beragama Kristen.
Interkasi
sosial antar etnis yang berbeda hanya terjadi pada saat
kerja di perkebunan dan sangat terbatas.
Etnis Jawa, lebih tergantung pada perkebunan. Hal
ini sesuai dengan sejarah kehadiran mereka sebagai
transmigrasi yang dating khusus untuk bekerja di
perkebunan.
Berbeda
dengan Etnis Batak, sebelum kedua perkebunan swasta ini
ada, mereka sudah terlebih dahulu dating ke wilayah ini
sebagai petani sawah. Hal itu juga membuat Etnis Batak
tidak terlalu tergantung dengan perkebunan.
|
Potret
Kemiskinan
Kesamaan
yang dapat terlihat secara nyata, bahwa kedua etnis ini juga
sama-sama miskin. Sama-sama tinggal di wilayah pedesaan yang
ramah banjir, kualitas air yang buruk dan tidak terlalu
beruntung secara ekonomi.
Kondisi
ini diperburuk lagi dengan minimnya sarana pelayanan publik,
seperti sekolah, sarana kesehatan dan sarana air bersih yang
menjadi tanggungjawab pemerintah daerah.
Sementara
itu, bersebelahan dengan kehidupannya, terlihat suatu tatanan
kehidupan yang lebih bersahaja—sejahtera, yang
dipertontonkan oleh perusahaan perkebunan.
Akumulasi
dari berbagai akar permasalahan ini, muncul berbagai penyakit
social yang seolah-olah sudah kewajaran dan tidak dapat
dirobah lagi.
Kecenderungan
kawin dini bagi remaja yang berpendidikan rendah secara
langsung berpengaruh pada kualitas keturunannya—anak.
Kualitas kesehatan anak yang dapat dilihat dari tingkat
pertumbuhan yang rendah, angka kematian bayi yang tinggi.
Selain, akibat rendahnya tingkat pengetahuan sang ibu untuk
merawat anak juga ditunjang lemahnya pelayanan kesehatan, jika
pun tersedia tetapi mahal.
BHL,
Tidak harus selalu kalah
Dalam
kompleksitas masalah sedemikian, sangat sulit untuk mencari
solusi.
Mengajak, komunitas yang selalu kalah membutuhkan
suatu upaya yang sangat serius dan berkesinambungan.
Pendekatan
pendidikan non formal dan pengorganisasian menjadi sangat
mendasar, seraya berupaya melibatkan partisipasi mereka untuk
memulai menggapai kemenangan kecil.
Langkah
pertama, bagaimana mendevaluasi rasa takut kolektif mereka
melalui upaya pembelaan dan pemulihan hak-hak mereka sebagai
manusia yang sangat menghargai
kehidupan. Yang pasti, mereka butuh teman.
Dimulai
dari sebuah tindakan nyata untuk suatu perubahan sistim
perkebunan yang lebih bersahaja, manusia dan berkeadilan.
Membangun
kesadaran kritis bersama, dalam ikatan solidaritas sesama
untuk menunjukkan bahwa rantai pemiskinan di perkebunan bisa
diakhiri, dengan mendekonstruksi bangunan sistim feodalisme
tanpa kekerasan.
BHL,
bersatulah…
Ditulis
oleh: Poltak Simanjuntak
|
|
Dukungan
finansial dikirimkan melalui :
|
| |
No.
Rekening : 106-0000082829
Bank
Mandiri Cab. Medan Balai kota
Jl.
Balai Kota No. 8-10 AB Medan
|
|
|
|
 |
|
