KATA PENGANTAR
Ada metafor mengharukan yang diambil dari hikayat rakyat India dengan tajuk “Tempayan Retak”. Lazimnya suatu hikayat, pengarangnya tidak diketahui dengan pasti, tapi inti ceritanya adalah kesedihan mendalam sebuah Tempayan Retak yang tidak pernah bisa membawa air dengan utuh sampai di rumah. Sedangkan teman lainnya, yakni tempayan yang tidak retak selalu berhasil membawa air tetap penuh hingga di rumah, setelah diisi oleh tuannya dari sebuah sendang dan dipikul bersama-sama. Tempayan Retak merasa tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik, sehingga sering menyesali dirinya dan merasa tak berguna. Tapi tuannya punya kebanggaan khusus pada Si Tempayan Retak. Justeru karena retaknya, tuannya telah menanami biji-biji bunga sepanjang jalan di sisi tempat Si Tempayan Retak selalu dipikulnya. Dan hasilnya di sebelah sisi sepanjang jalan yang dilalui tumbuh bunga-bunga indah yang subur bermekaran, karena selalu tersiram air. Nampaknya cerita ini banyak mengilhami pelaku manajemen untuk selalu kreatif menyiasati keterbatasan-keterbatasan yang menelikungnya, sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang lebih bermanfaat dan produktif. Tidak ada institusi yang sempurna, sebagaimana tidak ada pula individu yang steril dari keterbatasan. Kita, atau kebanyakan dari kita sebenarnya adalah adalah Si Tempayan Retak itu. Yang penting adalah adanya kesadaran dan “semangat untuk menjadi lebih baik”.
Sebagai bagian dari sebuah keluarga besar litbang kehutanan, sering sekali hati dan pikiran ini tergelitik oleh performa, citra dan posisi litbang kehutanan yang tidak terlalu menggembirakan. Menyelami telaga persoalan di litbang adalah awal yang bijak untuk sebuah proses refleksi, review dan revisi. Problem seringkali justeru menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering. Catatan ini sebenarnya hanyalah merangkum dan merangkai berbagai gagasan, ide, pemikiran, disamping tentu saja kegelisahan, “kerisauan” yang menyeruak dan berkembang di seputar litbang kita tercinta. Ketika kemudian pemikiran itu ditarik lebih dalam dan diberi basis filosofi, sandaran teori, metafor-metafor dan barangkali juga permenungan, maka sebenarnya juga masih dengan menyitir pendapat dari sana-sini. Oleh karena itu kita semua memang selayaknya berterima kasih, pada para pemikir, pekerja manajemen dan organisasi riset sejawat yang telah memudahkan kita untuk belajar, bercermin dan menyerap pengalaman berharganya. Sedangkan permenungan dari penulis tak lebih sebagai pelengkap. Permenungan itu kadang tertuang dalam gagasan yang tak terkoordinasi, sehingga agar tidak hanyut begitu saja, dan dengan hembusan harapan maka terekspresilah dalam wujud tulisan, meskipun tidak lebih sebagai catatan kecil. Catatan yang “masih liar “ dan terpisah itu dicoba untuk dikumpulkan dalam buku kecil-sederhana dalam bahasa dan nada yang lebih tenang.
Litbanghut adalah institusi riset yang menghadapi banyak keterbatasan-keterbatasan. Adakalanya keterbatasan itu masih dalam wilayah yang bisa dijangkau oleh kewenangannya untuk direkonstruksi. Tapi tak sedikit konstrain itu di luar aras kekuasaanya, sehingga cara bijak yang harus dilakukannya adalah kreatif menyiasati kekurangan menjadi tantangan, sebagaimana kias pada tuan Si Tempayan Retak.
Tentu saja kumpulan tulisan ini mempunyai resiko besar untuk tidak koheren dan secara substansial kurang mendalam, namun sebagaimana cerita “Tempayan Retak”, mudah-mudahan ada sisi yang bermanfaat. Pujangga India, Rabindhranat Tagore, pernah menghibur: tak ada pengorbanan yang sia-sia. Betatapun kecilnya. Semoga.
Makassar, Oktober 2002