xQ (Execution Quotient)

 


[Kembali]

 

 

Dr. Covey akan datang ke Jakarta untuk bertemu para CEO papan atas Indonesia serta mempresentasikan surveynya mengenai execution quotient.

 

Dr Covey telah menulis dua buku tambahan yaitu First Things First dan Living the 7 Habits. Buku terakhir ini merupakan kompilasi dari cerita beragam nara sumber termasuk para praktisi manajemen dan CEO dalam kegiatan sehari hari mereka menghadapi tantangan hidup dan menjalankan perusahaan secara lebih efektif.

Dalam dua tahun terakhir pun Franklin Covey Co – perusahaan konsultasi global hasil dari merger Covey Leadership Center dengan Franklin Quest pada tahun 1998 – telah membuat berbagai riset dalam melihat faktor apa yang mengurangi keberhasilan sebuah institusi. Riset ini antara lain dilaksanakan melalui sebuah survey rinci yang dinamakan xQ survey (Execution Quotient) survey.

Dr Covey akan memaparkan hasil riset tersebut dan mengajukan anjuran terapan untuk mengatasi masalah yang dihadapi institusi pada umumnya dalan sebuah seminar publik yang telah sold out dengan judul " Leadership, Focus and Execution : Transforming Your Organization into an OASIS". Pada siang harinya Dr Covey akan berbicara dihadapan para CEO dan Directors dengan fokus pelaksanaan tata kelola yang baik dengan judul "Good Governance and Principle Centered Leadership".

 

Multi Kecerdasan

Execution Quotient akan menjadi salah satu pendekatan kecerdasan lain, setelah emotional quotient, spiritual quotient, adversity quotient dan sejenisnya. Inilah berbagai pengukuran kecerdasan paska intelligent quotient (IQ), yang kini banyak diterapkan setelah para pakar manajemen melihat keberhasilan seorang CEO tidak semata-mata karena kecerdasan IQ-nya. Bahkan beberapa pakar juga melihat para pemusik, penari, dan olahragawan memiliki kecerdasan sendiri yang disebut kecerdasan musical, kecerdasan kinesika, dan kecerdasan bergerak.

Kafi Kurnia, pakar manajemen, misalnya, melihat para pebisnis dan CEO yang berhasil merubah ancaman SARS menjadi peluang bisnis sebagai orang-orang yang memiliki adversity quotient yang tinggi. "Orang-orang seperti ini mempunyai kemampuan untuk membalikan krisis menjadi peluang yang sangat menguntungkan," ujar Kafi dalam sebuah seminar yang diadakan Warta Ekonomi beberapa waktu yang lalu.

Sementara masalah kecerdasan spiritual kini banyak diserap oleh banyak perusahaan-perusahaan Indonesia untuk mengembalikan para karyawan perusahaan ke arah "jalan yang benar". Demikian juga soal emotional quotient (EQ) – yang dicetuskan oleh Daniel Goleman – yang pusat-pusat pelatihannya sudah menyebar sedemikian rupa.

Melihat banyaknya cara mengukur kecerdasan dan semakin kompleksnya masalah yang dihadapi para pemimpin bisnis, maka konsep qX ini tampaknya akan menjadi sebuah diskusi yang menarik. Yang pasti, para CEO sering menghadapi masalah ketika akan mengeksekusi suatu strategi. Artinya, membuat perencanaan adalah satu hal, sementara mengeksekusinya adalah hal yang lain.

 

Siapakah Dr. Covey?

Dr. Covey merampungkan kesarjanaannya dari University of Utah, kemudian dilanjutkan dengan MBA dari Harvard Universtity serta menyelesaikan program doktor di Brigham Young University. Penghargaan-penghargaan yang pernah diraih oleh Dr. Covey adalah Thomas More College Medallion dalam upayanya melayani masyarakat, penghargaan seven honorary doctorate degrees, Sikh's 1998 International Man of Peace Award, International Entrepreneur of the Year Award (1994), dan national Entrepreneur of the Year Lifetime Achievement Award for Entrepreneurial Leadership (1996).

 

Cukup banyak pujian yang diberikan kepada Dr. Covey. Di antaranya adalah dari Sam Walton, pemimpin Wal-Mart Stores inc. "Falsafah Covey untuk menciptakan hubungan dan keberhasilan yang lebih berarti di tempat kerja adalah salah satu yang kami harus usahakan untuk dilaksanakan di seluruh bisnis dan indistri, di rumah dan di tempat lainnya, kalau kami ingin mendapatkan kebahagiaan dan masa depan yang terpenuhi," ujar Walton.

Sementara pengarang buku In Searh of Excellence (yang kini sedang diserang oleh buku In Search of Stupidity), Tom Peters mengomentari Covey ketika membaca bukunya Principle-Centered Leadership dengan kata-kata, "Hanya sedikit mahasiswa manajemen dan organisasi – dan orang biasa – yang memikirkan prinsip-prinsip pertama selama dan sekeras Stephen Covey. Ini buku yang bagus sekali yang bisa mengubah kehidupan Anda."

Yang juga menarik adalah komentar Rosabeth Moss Kanter, pengarang buku When Giants Learn to Dance, yang mengatakan, "Pada waktu organisasi Amerika sangat perlu membangkitkan energi anak buahnya dan menghasilkan pemimpin di semua tingkat, Covey memberikan falsafah pemberian kekuasaan untuk kehidupan yang juga merupakan jaminan terbaik bagi keberhasilan dalam bisnis …. campuran sempurna antara kebijaksanaan, belas kasihan, dan pengalaman praktis."

Di Indonesia service pelayanan Covey dipegang oleh Dunamis Organization Services yang antara lain dikomandani oleh Nugroho Supangat beserta partner & associates Dunamis lainnya. Muhammad Ihsan [Warta Ekonomi]


 

 

Effectiveness Library > Professional & Organization > Stephen R. Covey Akan Jelaskan xQ (Execution Quotient)

Hosted by www.Geocities.ws

1