Pandangan saya tentang Singapura.
Antara Kekaguman dan Kekhawatiran
Oleh: Budi Faizal*

Sebelum membuat tulisan ini, saya menyempatkan diri bertanya pada beberapa teman tentang apa bayangan yang pertama kali muncul di kepala mereka ketika mendengar kata �Singapura�. Kebanyakan � kalau tidak bisa dibilang seluruhnya � menjawab secara spontan: �pusat perbelanjaan�. Mungkin jika saya diberi pertanyaan serupa, jawabannya juga akan sama. Karena memang untuk orang kebanyakan di Indonesia, Singapura selalu diidentikkan sebagai tempat pelesir dan � terutama � �tempat belanja�. Toh faktanya memang demikian. Siapa yang tidak tahu, paling tidak pernah mendengar tentang Orchard Road yang dinilai setara dengan Bond Street di London, lengkap dengan tempat-tempat perbelanjaan yang disajikan secara menarik, termasuk berbagai butik mewah dan toko-toko kelas dunia, mulai dari Marks & Spencer (Inggris), Toys  �R�  Us (Amerika), Galeries Lafayette (Perancis) sampai Takashimaya dan Istetan (Jepang). Bagi masyarakat kelas menengah ke atas yang gila belanja, Singapura tentu adalah surga dunia.
***
Jika saya harus memberi jawaban lain dari pertanyaan awal tadi, mungkin akan saya ungkapkan juga tentang kekaguman saya (adakah orang yang tidak kagum?) tentang kemajuan Singapura dalam segala hal menyangkut pembangunan suprastruktur dan infrastruktur negara itu, terutama dalam hal teknologi yang bukan saja diakui oleh bangsa-bangsa di Asia, tapi juga oleh dunia. Sebagai salah satu tolak ukur tingkat modernitas sebuah negara dalam era global adalah keberadaan Bandara. Jika ini diyakini, maka siapa yang bisa meragukan Singapura dengan Bandara Changi-nya � yang selama tujuh tahun berturut-turut terpilih sebagai bandara terbaik di dunia. Kemajuan Singapura digambarkan secara ekspresif oleh John Naisbitt sebagai sebuah kota yang dibangun di atas �rawa-rawa malaria�, yang telah berkembang menjadi sebuah model efiesiensi, dengan jalan-jalan yang dikontrol secara elektronik, lalu-lintas yang lancar dan sedikit tanda-tanda adanya polusi. (Saya tak pernah mendapatkan referensi tentang daerah lain selain ibukota Singapura. Apakah tidak ada pedesaan di sana?). Dari kenyataan itu dalam beberapa data, saya dapatkan bahwa banyak ahli tata kota negara lain yang belajar dari kemajuan Singapura. Bahkan pemimpin besar China, Deng Xiaoping,  karena terkesan dengan Singapura, memprakarsai dibangunnya kotapraja Suzhou (kawasan pantai 50 mil sebelah barat Shanghai) sebagai semacam �miniatur Singapura�.
***
Ketika bicara Singapura, kita juga tidak bisa menyembunyikan kekaguman kita tentang bagaimana negara ini mengatur kedisiplinan warganya sehingga tercipta Singapura yang teratur dengan taman-taman kota yang terpelihara, perumahan yang tertib, jalan-jalan yang bersih serta udara perkotaan yang minim polusi. Sepanjang pengetahuan saya, hal ini terkait dengan kebijakan pemerintah Singapura dalam melakukan �rekayasa sosial� dalam usaha mengelola perilaku warganya. Dasar pelaksanaannya berangkat dari kata �disiplin�. Seperti pernah dikatakan Lee Kuan Yew: �... saya yakin bahwa yang perlu dikembangkan oleh suatu negara adalah disiplin lebih daripada demokrasi.�
Aplikasinya adalah dengan pemberlakuan berbagai peraturan yang sangat ketat sampai hal-hal yang paling sepele sekalipun. Bahkan ketika kita kedapatan menjual permen karet pun, sudah harus kena denda, jangan lagi ditanya tentang masalah regulasi yang mengatur kebebasan pers, misalnya. Ugh, pasti sangat ketat. Naisbitt mengutip lelucon Jose T. Almente, Penasehat Keamanan Presiden di Filipina mengatakan: �Everything here in Singapura is �fine�. � (fine bisa berarti denda).
***
Sehingga dalam bermacam kekaguman sebenarnya ada juga terselip � saya putuskan memakai kata � �kekhawatiran� : apakah kemakmuran seperti yang terjadi di Singapura harus dicapai �selalu� dengan mengorbankan kesempatan bagi warganya untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan potensi mereka?
Yogyakarta, 5 Oktober 2003

Referensi:
Naisbitt John. Megatrends Asia. Delapan Megatrend Asia Yang Mengubah Dunia, (terj. Penerbit). PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 1997.
Naisbitt John. Global Paradox. Nicholas Brealey Publishing, 1994.
Hosted by www.Geocities.ws

1