| Sense of Lost setelah membaca Unbearable Lightness of Being pada kali ke-2 Aku baru bisa lancar mengerti novel Unbearable Lightness of Being-nya Milan Kundera pada kali ke-2 aku baca itu novel setelah aku endapkan beberapa bulan. Kalau dibayangkan filmnya bakal kaya apa ya ?: Film-film Eropa dengan latar belakang PD II � tidak terlalu kentara tentang latar perangnya, paling banter cuma suara pesawat terbang dan tank Rusia yang lewat di jalan-jalan kota, itu juga cuma pada malam-malam tertentu, termasuk juga demonstrasi massa (dsb) yang tidak dominan. Ceritanya lebih menampilkan watak beberapa gelintir pemerannya (tipikal novel sejenis � Kundera, Sartre, Eropa (?)) yang terlibat dalam kisah cinta yang saling sengkarut (saling gundik-menggundik, selingkuh-menyelingkuh, jadi ada istilah kekasih, ada istilah gundik, ada istilah istri). Nah kita tahu latar perang (politis) juga dari perwatakan tokoh-tokohnya (ada yang apolitis, ada yang terlibat, ada yang terjebak untuk terlibat, ada yang�.). Jadi kalau novel ini jadi film, mungkin (/pasti) bakal membosankan karena tokohnya main watak lewat percakapan dan kita mesti baca sifat dan sikap mereka dari makna percakapan mereka, bahkan mungkin makna di balik sebuah metafora atau malah makna di balik makna-makna itu. Wuh pusing �gak sih ? Untungnya yang ada di depanku itu bentuknya novel, dimana Kundera jadi penulis dengan sudut pandang serba tahu, jadi kita diarahkan oleh beliau untuk menilai makna percakapan, mereka-reka apa yang ada di pikiran tiap tokoh dalam kata-katanya dan dalam mimik, gerakan, sikap, �ya ngelatih semiotik dikit-dikit lah. Misalnya gini nih� (gimana ya?), misalnya dalam film digambarkan (adakah filmnya?) Tomas dan Tereza yang suami istri pada suatu malam di atas tempat tidur, sama-sama belum bisa tidur tapi tanpa percakapan apa-apa. Tomas memandang ke langit-langit, Tereza posisi tidurnya miring ke arah sisi lain tempat tidur. Bagaimana coba film bisa menggambarkan makna dari situasi tertekan seperti itu. Mungkin kita bisa mereka-reka dengan merunut apa yang mereka alami seharian atau apa yang telah mereka alami selama masa perkawinan mereka. Tapi bagaimana, dengan hanya petunjuk yang sebegitu, film bisa menjelaskan apa yang ada dalam benak keduanya sejelas yang dipaparkan di novel. Kita hanya bisa menebak-nebak (mungkin justru ini asiknya menonton film seperti ini: �menebak-nebak� sambil merenung sendiri, merenung tentang makna, merenung apakah perenungan kita benar, merenung apakah yang dicari memang benar dan salah). Kalau di novel, adegan itu bisa terjadi selama beberapa halaman. Kundera bisa menggambarkan apa yang ada di bayangan Tomas dan Tereza saat itu. Yang mungkin masing-masing punya makna dan porsi kecemasan yang berbeda sama sekali. Persamaannya adalah bahwa keduanya saat itu mungkin butuh untuk diam. Tereza sedang memikirkan ide untuk pindah ke desa bersama Tomas, tapi ia saat itu tidak berani mengatakannya karena Tereza dalam keadaan yang lemah (Tereza telah selingkuh misalnya, siapa tahu Tomas bisa membaca ini, buktinya malam itu dia diam). Sementara Tomas pada saat yang sama berdiam diri karena takut Tereza akan mengucapkan sesuatu hal yang bisa memojokkannya, karena dalam pikiran Tomas, Tereza pasti sedang meragukan (lagi) kesetiaan Tomas yang memang dikenal punya banyak gundik�(apa selalu hal ini tentang kecemasan dan ketakutan?). Tiap percakapan mengandung makna, tiap peristiwa terkecil pun ada artinya, dan kita diajak untuk berdialog di antara berbagai kemungkinan pemaknaan dan pengertian tersebut. Ditambah lagi alurnya yang meloncat maju-mundur, maju untuk mundur sedikit lalu meloncat lagi, seperti alur telenovela yang terbagi dalam percakapan-percakapan berbeda dengan konflik berbeda dalam waktu yang bisa berbeda, bisa berbarengan, sehingga harus digambarkan bergantian dalam ikatan waktu yang tumpang tindih. Yang paling menyengat dari masalah alur ini buatku adalah bagaimana Tomas dan Tereza meninggal sebanyak tiga kali, dalam artian ada tiga bgaian adegan (seingatku) yang persinggungannya adalah peristiwa matinya dua orang itu dalam kecelakaan mobil. Pertama dipertengahan buku, saat Sabina (gundik Tomas) menerima surat dari Simon (anak Tomas) tentang kematian itu. Kedua, pada � terakhir bagian buku ketika Simon menemukan alamat Sabina untuk kemudian mengirimkan surat kepadanya mengabarkan kematian Tomas. Ketiga, lebih ke belakang lagi dari bagian buku itu: menceritakan pemakaman Tomas. Padahal di akhir dari buku ini (masih) menceritakan Tomas dan Tereza yang akhirnya hidup bahagia di desa (seperti impian Tereza). Lalu apa menurut kalian novel ini lantas kehilangan situasi klimaksnya ? Mungkin iya, tapi coba lihat sisi lainnya. Karena aku sendiri saat menyelesaikan kata terakhir dalam novel ini seolah ingin mengingatkan tokoh kita itu : �Hati-hati Tomas, sebentar lagi kamu bakal tewas dalam sebuah kecelakaan mobil !� 00:35, 23 Oktober 2003 |
||