Swara
edisi 12
tahun XIII
komunikasi.ugm
Pl@net Jakarta

Jakarta itu mengerikan. Orang-orangnya mirip monster, tapi bodoh kaya' bebek. Pandangannya kosong. Pokoknya persis unggas. Sayangnya mereka 'gak bisa bertelur.

Sebelumnya; aku lahir di Jakarta untuk kemudian memutuskan untuk pergi darinya. Tujuh belas tahun aku di Jakarta dan aku 'gak pernah terbiasa dengannya. Tapi bukan berarti karena itu aku benci dan me'monster-monster'kan orang-orangnya, atau karena aku putus asa. Aku bisa survive di sana, aku bisa bertahan, mereka tidak bisa membuatku menyerah. Yang membuatku risih adalah bagaimana sistem yang dikembangkan membuat orang-orang di Jakarta jadi lucu, tidak logis sekaligus mengesalkan. Mereka berjalan sangat cepat seperti ada yang dikejar, sangat bersungguh-sungguh seperti ada yang hendak dituju. Di beberapa tempat mereka berdandan dengan serta berpakaian dengan cara yang sama. Bayangkan kekuasaan seperti apa yang bisa membuat mereka begitu. Tuhankan? Tampaknya bukan, terlalu tidak kreatif.

Maka demikianlah, tiga tahun lebih aku sudah tinggal di Yogya, jauh dari hiruk pikuk yang menyesatkan. Sampai suatu waktu acara Studi Perspektif XII tahun 2001 yang lalu memaksaku melongok kembali kota bermonas itu. Seperti kata ungkapan: "Carilah ilmu sampai ke negeri Cina", kalau belum bisa, yaa ke Jakarta cukuplah.

Perjalanan saat itu lain dari biasanya, karena aku terikat dengan komunitas yang aku bawa. Ketika mereka - yang kebanyakan bukan berasal dari Jakarta - tergagap, entah karena kagum atau jijik melihat Jakarta, aku hanyut di dalamnya. Akan berbeda jika seandainya perjalanan aku lakukan sendiri, maka aku akan bersikap sebagai orang yang telah tujuh belas tahun di sana dan tak ada yang berubah; monas tetap di tempatnya, jalan-jalan tol tetap macet di jam-jam tertentu atau disepanjang hari, gedung-gedung tetap tinggi, rumah-rumah tetap berhimpitan, fly over tetap bertumpuk-tumpuk, waria-waria tetap berdiri di pinggir jalan tertentu tiap malam, anak-anak jalanan tetap berserakan, mal tetap penuh dengan gaya hidup gemerlap, dan Jakarta tetap Jakarta yang tujuh belas tahun aku di sana, menjadi bagian daripadanya.

Tapi bedanya, saat itu aku tidak sendiri. Aku bersama komunitas yang mengikatku. Sehingga Jakarta tidak lagi sama; monas tetap di tempatnya, tapi entah apa makna di baliknya, jalan-jalan tol yang macet menjadi aneh, karena seharusnya ia bebas hambatan, gedung tinggi jadi kelihatan tambah tinggi dan angkuh, rumah-rumah semakin berhimpitan dan bertumpuk-tumpuk tidak rapi, fly over makin bergulung-gulung melintir dan memusingkan, waria di pinggir jalan menjadi mencengangkan, anak-anak jalanan makin tersebar membuat resah sekaligus mengibakan, masuk ke dalam mal seperti masuk ke negeri antah berantah - twilight zone. Dan Jakarta memang tetap Jakarta yang tujuh belas tahun aku menjadi bagian daripadanya, tapi seandainya aku tiidak besar di sana, Jakarta adalah kota yang mengerikan.

Aku lihat Yogya, aku sempat pula ke Bandung, Solo dan Semarang, andai aku bukan besar di Jakarta wajar jika memandang Jakarta sebagai kota yang angkuh, yang duhidupi oleh mimpi penghuninya. Dan aku kira memang itu intinya: 'Mimpi !' Yang terakumulasi dari sugesti. Jakarta memang pusat pemerintahan, ia adalah ibukota negara, perputaran uang bergerak di sana. Namun sayangnya ia dijadikan mutlak, bahwa dengan anggapan demikian maka di Jakartalah segala keberhasilan dan kesuksesan bisa diraih. Sistem selama ini telah mendukung anggapan-anggapan itu yang intinya mengatakan bahwa Indonesia adalah Jakarta.

Mitos seperti itu bukan hanya lantas menghadirkan masalah kependudukan seperti urbanisasi, tapi lebih krusial dari itu adalah mengenai cara pandang orang tentang Jakarta. Jakarta menjadi sangat agung di mata masyarakat kita. Hidup di Jakarta bagai hidup di kolam kemakmuran yang gemerlap. Banyak hal yang mengggambarkan kalau orang Jakarta pasti mewah dengan gaya hidup tinggi. Mungkin benar dan memang tidak bisa disalahkan. Tapi mungkin orang dengan gaya hidup mewah itu pun sebenarnya sudah termakan sugesti yang dibangun, bahwa orang Jakarta mesti mewah dan gemerlap.

Kesan tentang Jakarta makin dirasakan orang masyarakat di luar Jakarta ketika mereka menerima informasi tentang Jakarta melalui media, entah televisi atau media cetak. Untuk media cetak, misalnya di harian KOMPAS pada rubrik metropolitan yang menampilkan berita-berita yang terjadi di ibukota. Kalau mau dicermati berita yang ditampilkan di rubrik tersebut selalu menyoroti kinerja pemda yang kurang baik termasuk gubernurnya, juga tentang buruknya sarana dan prasarana umum seperti jalan raya yang rusak serta angkutan umum yang makin semrawut dan tidak berperikemanusiaan, serta tidak ketinggalan berita-berita kriminal yang makin ganas; hampir tiap hari pasti ada berita tentang diketemukannya mayat orang yang tergolek di semak-semak atau mengambang di kali, dan sebagainya. Kesemuanya menggambarkan Jakarta dengan sisi kesemrawutannya sebagai sebuah kota besar termasuk kesadisan dalam hal kriminalitas.

Dalam hal membangun gambaran tentang Jakarta media pasti punya pengaruh, dan realitas media kadang lebih dahsyat dari apa yang sebenarnya ada, sehingga Jakarta menjadi tambah mengerikan.

Selama kurang lebih tiga tahun di yogya, sebenarnya satu hal yang ingin aku tegaskan, bahwa Jakarta adalah kota biasa dan Jakarta itu luas. Maksudku, mungkin ada bagian Jakarta yang memang diliputi kemegahan, dimana anak mudanya bergaya funky, kebarat-baratan, tapi tidak semua. Mereka sebenarnya hidup dalam mitos yang - sayangnya - dilengkapi dengan panduan gaya hidup modern beserta fasilitasnya yang menuntun mereka dalam hal berpakaian, mengatur cara bicara bahkan dalam hal bersikap. Itu semua mereka ikuti, sehingga hadirlah di Jakarta komunitas unggas berjenis bebek.

Tapi seperti aku bilang tidak semua, karena aku rasa masih ada orang di Jakarta yang sepenuhnya adalah manusia-manusianya. Mereka punya keteguhan prinsip yang membuat mereka bisa bertahan. Aku kagum, salut sekaligus kasihan tapi juga penuh harapan terhadap mereka. Dan untuk saudara-saudaraku sebangsa setanah air yang tinggal di luar Jakarta, mudah-mudahan bisa ditangkap makan tulisan ini: jangan pernah memimpikan tentang Jakarta, karena ia tidak patut dijadikan mimpi, iia hanyalah kota biasa seperti halnya tempat kamu tinggal. Suatu saat kita bisa membuktikan itu: "Mimpi tentang Jakarta harus dihancurkan !"



Faizal's Literature Properties' (FLiP)
Hosted by www.Geocities.ws

1