PERTEMUAN YANG SEMPURNA
16 Oktober 2003


Lengkap sudah kebahagiaanku seminggu ini ketika kemarin malam kita bisa duduk berjam-jam di pinggir jalan besar sambil menjilat es krim yang kita beli di toko yang hampir tutup es krimku rasa vanilla berlapis coklat dengan taburan kacang � Tropicana � punyamu entah apa sementara percakapan berjalan renyah tanpa tendensi lancar tanpa kecurigaan mulai tentang yang kau istilahkan eksistensimu dan atau juga tentang segala hal yang belum sempat kita bicarakan berbulan-bulan belakangan ini karena tidak ada kesempatan dan memang kita tidak pernah punya kesempatan untuk bicara berdua-duaan bukan dalam artian untuk bercumbu atau beromantis-romantisan tapi lebih untuk bicara tentang segala hal tentang kita tentang kamu dan aku karena hubungan kita memang bukan hubungan yang romantis kalau yang dimaksud dengan romantis adalah bercumbu hubungan kita jauh lebih dahsyat dari itu dan kata-kata dalam percakapan kita justru menyusun makna romantis itu sendiri tapi kita bukan kekasih karena bagiku kau lebih agung daripada seorang kekasih entah bagimu aku seperti apa tapi aku yakin kita nyaris selalu punya pendapat yang sama salah satunya jika ditanya tentang hubungan kita pun walau kita tidak pernah membicarakan tentangnya karena bagiku dan aku yakin juga bagimu ada hal-hal yang tidak perlu diungkapkan dengan pengertian seperti juga ada hal-hal yang akan lebih berarti ketika ia tidak dikatakan secara tersurat tapi memiliki tempat di dada kita masing-masing dan lengkap sudah kebahagiaanku beberapa hari terakhir malam itu sambil menyedot es krim rasa coklat.

****

Radio baru saja mengalunkan kalimat bernada yang berbunyi �Let�s make a night to remember� yang memancingku untuk kembali meneruskan menulis karena kata-kata itu kembali mengajakku mengangankan tentang malam kemarin yang dimulai dari sore harinya ketika awalnya aku ragu untuk bertemu karena aku bilang aku grogi yang kamu kira hanya bercanda padahal sungguh aku grogi sampai ketika aku dengar lirik bernada lain di udara yang aku kabarkan juga ke kamu yang kira kira bunyinya �lalu aku rayu bulan aku rayu bintang aku rayu mentari lalu aku sapa mereka aku ajak bicara aku jujurkan hati� yang meneguhkan hatiku untuk menjujurkan hati bahwa aku juga ingin bertemu kamu malam itu malam yang kita buat untuk kita ingat selalu setidaknya bagiku tapi aku yakin bagimu juga karena ini salah satu hal yang termasuk dalam kategori �selalu dalam pendapat yang sama� walau aku tidak mau terlalu yakin tapi paling tidak kita memang telah bertemu kemarin malam ketika secara tidak sengaja pada sore harinya aku melihat namamu dibawa angin seperti juga kamu melihat namaku meliuk dalam angin dan siapa yang bisa menghentikan angin seperti kata Seno: siapa yang bisa menyensor angin sehingga aku melihat namamu dan kamu melihat namaku dan kita buat janji-janji untuk bertemu dan kau akhirnya datang menjemputku dengan roda dua dan kita berlalu di jalan raya kamu di depan aku di belakang seperti biasa seperti dulu bertahun-tahun yang lalu saat kita masih bertahun-tahun lebih muda dan lebih sering berpapasan tanpa harus memperalat angin untuk mengabarkan keberadaan kita untuk membuat kita bersama-sama seperti malam kemarin di jalan raya di atas dua roda kamu di depan aku di belakang dengan tujuan awal yang pasti untuk makan yang di antara beragam pilihan darimu kita putuskan untuk menyantap nasi goreng aku pete kamu babat yang diselingi obrolan ketika menunggu hidangan ketika kita makan pun ketika sudah selesai dengan semprotan hawa pete dan babat dan kita kembali mengalir di jalan raya di atas dua roda kamu di depan aku di belakang sekarang dengan tujuan yang tidak pasti selain menyusuri jalan dan pulang yang menjadi lebih tidak pasti ketika pada saat-saat kelokan terakhir menuju rumah kita sama-sama ragu apakah memang sudah waktunya pulang sampai-sampai kau lewatkan kelokan paling terakhir menuju rumah untuk menunjukkan sikap bahwa malam masih panjang dan kita sudah terlalu lama tidak punya kesempatan seperti saat ini yang harus kita manfaatkan sampai tetes-tetes terakhir hingga kesempatan itu nanti bakal menutup lembarannya dengan gerak lambat lambat lambat seperti roda dua yang kita naiki di atas jalan raya yang mengalir menuju ke depan entah kemana sampai kita putuskan untuk sama-sama bingung menentukan tempat duduk-duduk saat kita sadari bahwa semakin ke depan jalan semakin gelap dan semakin jarang kendaraan yang lewat dan walaupun menyusuri jalan pasti akan membawa kita ke suatu tempat tapi tetap kita putuskan untuk menentukan tujuan hingga saat kau belokkan roda dua ketika bayang-bayang es krim melintas lagi di kepalamu seperti beberapa saat yang lalu pernah kau bilang yang tentu tak ada masalah denganku bahkan aku terkagum-kagum dengan ide-idemu yang tidak terduga untuk membuat pertemuan menjadi berkesan seperti saat itu di mana tiba-tiba kita sudah kembali berkata-kata diselingi menjilat es krim yang kita beli di toko yang tahu-tahu tutup saat kita baru mulai duduk di meja kosong tepat di depan toko itu agak ke kiri di atas trotoar yang tak jauh di bawahnya kau parkir motormu dengan helm kuning yang bergelantungan di kaca spion sementara helm merah yang kau pinjamkan dari temanmu masih melekat di kepalaku hingga saat-saat terakhir percakapan kita malam itu sambil menyeruput as krim yang kadang-kadang juga kita gigit kruwes kruwes meninggalkan dingin agak ngilu di gigi dan lembut di bibir seperti kelembutan cerita-cerita kita yang hinggap di dada bersarang di kepala keluar masuk lewat mulut dan telinga bersama sisa-sisa pete dan babat menciptakan binar cahaya di mata simpul senyum di sudut-sudut bibir sumringah memerah di pipi helai rambut yang tersibak saat kita tertawa sampai bergoncang-goncang tanpa takut alas duduk kita yang berupa tisu tipis akan sobek dan membuat celana kita kotor terkena debu yang menempel di atas meja karena apa yang tidak berdebu di atas trotoar di pinggir jalan raya yang kalau siang panas pasti penuh dengan kendaraan yang menyemburkan bahan dasar polusi sampai malam sekalipun walau seperti malam ini dimana kendaraan hanya jarang-jarang saja menyediakan ruangannya untuk kita berdua bicara sampai berjam-jam mengalir sampai kering menggenapkan pertemuan kita menjadi sungguh sempurna sampai malam bertambah malam walau belum terlalu benar malamnya sampai kita memutuskan sudah saatnya untuk pulang dan apa yang tidak diakhiri dengan pulang kecuali sebuah kesimpulan dimalam itu bahwa ternyata kau belum menemukan apa yang kau cari dan aku malah bahkan belum tahu apa yang aku cari namun paling tidak kita telah menyimpulkan sesuatu malam itu pada sebuah pertemuan yang sungguh sempurna antara dua tokoh dalam dua cerita dengan kamera dimana-mana.



Yogyakarta, 17 Oktober 2003



Original Sound Track :
Let�s Make a Night to Remember
Bryan Adams

Planet-Z
(I Hate) Mondayz

I�m Still Haven�t Found What I�m Looking For
U-2
Hosted by www.Geocities.ws

1