PEREMPUAN YANG MENGAJARIKU
MENATAP MATA


Banyak puisi yang terlanjur aku buat untuk dia. Dia tahu itu. Dia tahu kalau aku sangat memujanya. Mengaguminya lebih dari siapapun, bahkan dari dirinya sendiri. Dia cinta pertamaku di kota ini.
*****
Dari teras depan ini kulihat mereka berpamitan di pintu gerbang. Gelap sudah menjalari tanah pekarangan. Hanya cahaya lampu di atas gerbang yang berserakan di dedaunan dan rumput yang masih basah karena gerimis sore tadi.
�Terima kasih ya, buka puasanya seru�. Perempuan itu lalu menstarter motornya.
�Iya, tahun depan kita harus adain lagi nih�. Perempuan yang lain ikut naik motor itu. Lalu motor-motor lainnya dihidupkan. Suara mereka jadi sayup-sayup. Aku mengamati dari kejauhan. Suara adzan Isya menenggelamkan semuanya. Sekarang aku hanya bisa melihat  mereka bersalaman, berpelukan dan mengucapkan salam-salam perpisahan. Satu per satu deru motor meninggalkan pintu gerbang hingga suaranya menjauh dan hilang sama sekali, meninggalkan sisa-sisa alunan adzan yang juga telah habis. Tak ada apa pun selain sunyi.
Pintu gerbang itu sudah tidak ada siapa-siapa. Sesekali sisa air di daun yang merambat di pagar menetes pelan memantulkan sinar lampu, lalu jatuh ke genangan air di tanah yang becek. Kesunyian merayap pelan di dadaku. Kota ini selalu terancam sunyi ketika lebaran di depan mata. Seperti ribuan lebaran yang telah aku lewati di kota ini, sekarang dadaku sesak dengan keriuhan senyap, seperti ada yang menggumpal di dalamnya. Ugh,�gumpalannya merayap pelan ke arah kepala, lalu berusaha menerobos celah-celah mata menjadi air mata, tapi tak keluar apa-apa.
Dedaunan gemerisik, sejurus kemudian kurasakan desir angin malam yang basah. Kudekap erat lututku, duduk meringkuk di atas kursi. Sisa adzan masih menggantung di udara. Aku ingat teman-temanku, aku ingat keluarga dan adik-adikku. Aku ingat seorang teman perempuan, ia yang mengajariku menatap mata ketika aku bicara; Perempuan cinta pertamaku di kota ini.
*****
Hari itu tepat setahun yang lalu, kami bertemu untuk kesekian kalinya. Aku menggandeng tangannya, mengambilnya dari teman-teman. Hh, �sungguh malam harinya aku sudah minta izin mencuri waktunya untuk satu hari itu, dan walaupun dia ingat itu, aku masih tetap harus menyeretnya dengan tanganku sendiri. Aku rindu keangkuhannya.
Maka di bawah tangga di sebuah bangku batu aku mulai menikmati kesempatanku. Tidak lain kecuali bicara. Dia sama sekali belum berubah. Dalam beberapa kesempatan aku merasa sangat mengenali dirinya. Kau tahu? Ketika kita merasa seseorang sangat tidak asing bagi kita, telah menjadi bagian yang melekat, seperti saudara atau malah seperti diri kita sendiri. Pernahkah kita bertemu di kehidupan yang lain?
Aku menatap wajahnya seperti yang selama ini dia ajarkan. Matanya seperti langit yang biru, bening dan sungguh dalam. Angkasa tersembunyi di baliknya, menyembul-nyembul berusaha ingin keluar.
�Apa kabar?�. Batinku. Dari kedalaman matanya aku tahu ia baik-baik saja. Dulu ia sering memakai istilah �bahagia�; �Jangan khawatirkan aku, aku sedang bahagia�, ujarnya suatu kali.
�Aku hanya ingin bertemu, tak lain�. Aku memang hanya ingin bertemu. Musim hujan  saat itu membuatku terserap ke masa lalu, mengalami dejavu-dejavu yang sungguh nyata. Hujan seperti bau parfum yang mengingatkanku pada dia. Tak bisa kututupi , sungguh aku rindu.
�Aku ingat kamu,�kau tahu aku selalu belajar menatap lawan bicaraku sekarang. Tapi kadang sulit, sungkan. Susah melepaskan kebiasaanku untuk menghindari tatapan orang di depanku. Jadi kadang aku berhasil, tapi lebih sering tidak. Kadang malah aku lupa aku menatap atau tidak. Kalau itu yang terjadi berarti aku tidak menatap. Jadi bukannya aku lupa menatap atau tidak, pasti aku benar-benar tidak menatap. Karena ada sisa-sisa di diriku yang bilang tak ada masalah dengan itu. Dan memang tentu tak ada masalah dengan itu. Bahkan dirimu � yang pernah bilang bahwa ketika bicara harus menatap � pun pasti tak mempermasalahkan itu. Namun tetap kau beri kesan �tetapi� di akhir kalimat seperti itu. Aku tak tahu apa artinya, kau pun ternyata juga tidak tahu. Lalu aku melihat orang-orang, aku menyaksikan percakapan, aku menonton film, dan coba tebak! Mereka semua saling menatap ketika bicara. Sehingga aku makin yakin � tidak hanya karena kamu � pasti ada makna di balik �tetapi� tadi. Dan sejak itu aku mulai lari dari masa kecilku, aku mulai menatap mata orang yang bicara denganku, dan menjadikan kamu guruku untuk hal yang satu itu.�
Kami masih beku di bangku batu itu. Orang-orang berseliweran di sekitar kami sangat cepat seperti kaset video yang dipercepat dan berdenging. Dari langit mereka membentuk pola bulb tanpa cahaya, hanya bayang-bayang warna. Sementara kami dan bangku batu itu tetap di sana, tetap fokus dan bergerak lambat, tampak bukan bagian dari kaset video tadi.
Sekian lama kami berpegangan tangan, saling menatap satu sama lain. Bulatan hitam di bagian tengah selalu berwarna gelap; Hitam, hijau, coklat. Matanya coklat. Di bagian yang paling tengah dari yang coklat itu agak kebiruan kalau tidak hitam. Di antara yang biru dan coklat tersebar semacam mata-mata kipas seperti roda dengan  jari-jari yang indah, membesar dan mengecil sangat samar, menambah kesan jernih. Matanya sejernih embun pertama yang menetes di pagi hari dari ujung dahan dan untuk sesaat berkilauan diterpa satu garis sinar matahari yang masih belia. Embun itu tetap bening, pun hingga ia bergulir di tanah masih dalam bentuk gumpalan air yang sempurna. Sinar matahari terjebak dalamnya. Seperti juga mata di depanku yang menyimpan sejuta matahari. Seperti langit, di balik ketenangannya ada kedahsyatan semesta, ada planet yang berputar, bintang-bintang yang berpijar, bertabrakan dan meledak, meteor yang berseliweran, hampa udara yang sangat riuh.
Sungguh matanya sangat indah. Untuk sesaat aku punya kesempatan untuk ditelan ke dalamnya. Aku bisa meraba apa-apa yang ia rasakan. Aku tenggelam lebih ke dalam, aku melihat ada mata lain di sana, tidak lebih jernih. Ada kesunyian di mata yang kedua, ada setumpuk kerinduan di dalamnya. Hingga aku tatap lebih ke dalam,� ternyata itu mataku sendiri. Dan hari itu kita kembali menguras perasaan lewat mata.
�Kau belum melupakan aku ?�. Mata itu berkedip pelan, bergerak sangat anggun. Seperti sehelai daun yang terlepas dari dahannya lalu terjatuh dengan lambat, meliuk ke kanan, ke kiri,  lalu membalikkan diri untuk kemudian meliuk lagi mengikuti angin. Sesaat sebelum jatuh ia seperti melayang, pasrah pada gravitasi, melenggok ke kanan dan ke kiri lalu dengan sempurna tergeletak perlahan di atas tanah.
Sungguh aku memang tak bisa melupakan dia. Pernah suatu saat aku sempat lupa, tapi aku jadi sedih tepat di saat itu. Aku tak pernah sanggup membiarkan diriku dalam kesedihan. Kesedihan dalah perangkap yang membuat persendianku lemas dan tak bisa apa-apa.
�Aku tak bisa�. Akhirnya mataku menjawab.
�Siapa kekasihmu sekarang?�. Pertanyaan di matanya tidak cukup mengalihkanku dari keindahan dirinya. Matanya yang kembali berkedip, seperti memencet tombol refresh pada tampilan background layar komputer, ia berkedip lalu kembali dalam keadan yang lebih cemerlang. Angin kembali menyapa sekilas menggerakkan rambutnya. Dulu sekali saat pertama melihat dia, aku memperhatikan rambutnya yang pendek menampakkan lehernya, sementara bagian depan � dari tiap belahannya yang tepat di tengah � jatuh menutupi sisi kiri dan kanan dahi menyentuh alis.
�Tidak ada, kau tahu itu�.
�Aku tak tahu,� semoga bukan karena aku�.
Oh Tuhan, aku ingin bilang bukan karena dia, tapi aku takut kalau aku berbohong. Aku tak bisa menentukan tentang itu. Pernah aku putuskan bahwa bagaimanapun kita punya jalan masing-masing. Dia sudah menentukan pilihan pada �lelakinya� dan seperti apapun perasaan aku dan dia tetap tak bisa merubah apa-apa.
Yang kutahu sekarang bahwa masa kita telah lewat, dan tak ada lagi yang bisa diperbuat. Masa lalu sudah menjadi debu, bertumpuk-tumpuk seperti awan kelabu, berlapis seperti bebukitan, sama halnya dengan masa depan. Kita hanya bisa menikmati pemandangannya sambil duduk-duduk di pinggir semesta dengan secangkir kopi, bersandar di kursi malas. Mmh,�nyamannya hidup.
*****
Hari itu setahun yang lalu aku tak tahu kapan berakhirnya. Yang jelas setahun kemudian, saat ini, tiba-tiba aku sudah menekan enam nomor pada pesawat telepon dengan mata masih penuh dengan kerinduan. Aku butuh setetes suaranya.


Yogyakarta, 2003
Hosted by www.Geocities.ws

1