Perempuan Yang Hilang

         Pagi ini sengaja aku lewat jalan memutar dengan langkah lambat-lambat. Ach, halte bus itu tinggal satu kelokan lagi, tapi belum juga aku lihat perempuan itu. Aku tahan-tahan langkahku, siapa tahu di kesempatan terakhir dia muncul turun dari bus yang berhenti di seberang jalan. Tetap tak ada, dan aku sudah di bawah atap halte. Kecewa.
         Sudah bertahun-tahun aku mengakrabi aspal dan debu jalan dari rumah sampai ke halte itu. Jejak-jejakku mungkin sudah sukses menjadi fosil di tiap bgian jalan. Dan pagi ini - seperti pagi-pagi beberapa hari belakangan - aku gagal lagi menemui perempuan itu. Ia tak pernah muncul lagi. Ia hilang justru saat aku putuskan nuntuk mulai menyapanya. Sementara sebelumnya ia rutin berseliweran di depan mataku. Kadang saat aku menuju halte, ia baru turun dari bus. Kadang kita berpapasan dalam arah yang berlawanan. Kadng kita seareah tapi dia lebih dulu di depanku. Kadang aku yang lebih dulu di depannya. Kadang aku menyalib langkahnya.
        Dan dari seringnya kadang-kadang itu aku tak pernah menganggapnya lebih dari sekedar pejalan kaki lain yang sering kutemui saat aku keliling dunia tiap harinya. Apalagi kota ini punya potensi jadi kota besar, dimana tiap hari orang selalu bertemu tapi selalu tak ada wajah-wajah yang diingat. Tiap hari selalu memunculkan wajah-wajah yang berbeda, bukan karena orangnya berbeda, hanya karena kita dituntut untuk tidak harus mengingat mereka, apalagi menyapa.
        Kejadian dan peristiwa lewat begitu saja, dialami untuk kemudian terbang entah kemana ditelan waktu dan jarak. Ketika kita demikian lelah untuk mengejarnya, maka kita terpaksa hanya mengalami saja. Berpapasan tanpa ada keinginan untuk menyapa. Untuk apa tegur sapa kalau kita beda ruang. Buat apa kalau akhirnya nanti rentang waktu dan jarak menggilas semua menjadi basa-basi. Uh,... sedemikian lelah aku terjebak di dalamnya. Dan perempuan itu sempat tidak menjadi apa-apa selain hanya pejalan kai yang kadang terjebak dalam padatnya bus, seperti juga aku dan berjuta-juta pejalan kaki lain.
        Sampai ketika di suatu malam yang sangat malam aku tidak bisa tidur. Bukan karena perempuan itu, melainkan karena siangnya adalh hri yang melelahkan buatku; Tujuh kali aku memutari bumi satu harian. Eh, bukannya mengantuk karena kelelahan, aku malah menikmati pegal-pegal di segala sendi dengan mata yang segar, merah tapi sungguh tak bisa terpejam. Yang ada saat itu adalah pemandangan putih langit-langit kamar, sementara di beberapa titik di kaki sampai selangkangan ada perasaan nyeri yang besok paginya ternyata tambah parah.
        Malam itu akhirnya menjadi saat dengan gambar-gambar di langit-langit kamar. Terbayang apa yang aku temui di perjalanan panjangku. Ada ide-ide baru di ruang kuliah. Ide tentang deregulasi, dehumanisasi, restrukturisasi, pokoknya yang serba konstruksionis, katanya. Sementara di beberapa perempatan jalan muncul wajah-wajah baru generasi anak jalanan. Mungkin mereka baru dilahirkan tadi malam oleh lampu-lampu merah. Ada tukang pos bersepeda yang sedang menuju ujung dunia mengantarkan surat untuk seseorang bernama Alina. Mmh, kemana tukang pos itu sepuluh tahun terakhir ? Aku berpapasan dengan jutaan pejalan kaki lain yang tak pernah aku tahu namanya. Ada yang berpakaian resmi lengkap dengan dasi, ada yang berkaos oblong saja, ada yang berseragam olah raga. Tapi yang pasti mereka semua membawa tas. Entah itu koper atau tas kerja atau yang modelnya lebih sportit. Entah model apa, mereka pasti membawa tas.
         Seperti perempuan itu, dia membawa tas punggung, semacam ransel kecil. Hm, tentang perempuan itu; Baru siang tadilah kau tidak bertemu dengannya. Kemana dia ? Tiap hari dia selalu berpapasan denganku. Tapi tidak siang itu. Entah di mana rumahnya, entah kemana tujuannya. Aku hanya bisa mereka-reka. Yang paling klise begini : Mungkin dia anak pertama dengan beberapa orang adik yang masih kecil-kecil. Bapaknya sudah meninggal dan ibunya sakit-sakitan. Beban keluarga tidak bisa tidak menjadi tanggungannya. Sehingga siang-siang selalu ia jalani dengan giat setiap hari. Bahkan mungkin saat aku tidak sedang keluar rumah, ia tetap beranjak jalan kaki keliling bumi. Tapi itu hanya sebuah kemungkinan . Bahkan itupun tetap tak bisa menjelaskan absennya dia siang itu. Aku tak pernah tahu latar belakang rekan-rekan pejalan kaki yang jutaan jumlahnya itu. Dan kita saling memaklumi. Bukannya kita sombong, kita hanya terjebak keadaan.
         Selepas itu langit kamar hanya berbayang sketsa wajahnya. Kemana dia ? Setelah bertahun-tahun kita selalu berpapasan, dia tahu-tahu hilang begitu saja. Ach,...aku harus cepat-cepat tidur - pikirku - agar esok cepat menjelang. Pagi-pagi aku harus mulai berjalan lagi, siapa tahu perempuan itu ada, aku ingin bertemu dengannya. Mungkin menyapanya.
          Dan hari ini sudah hari kesekian aku merasa kehilangan dia. Kenapa harus terasa seperti ini ? Butuh apa sebenarnya aku dengan perempuan itu ? Mungkin hanya sugesti. Ada bisikan entah darimana yang membuat sudut mataku selalu berusaha mencari sosoknya. Dan itu terus adsa seperti mengiang di kepala. Kadang aku pukul pelan kepalaku, tapi percuma, aku malah pusing.
          Dan sekarang sudah sangat jelas tidak bisa disangkal; Aku butuh bertemu dia, entah untuk apa. Sungguh sekarang aku sangat ingin menyapanya. Siapa sebenarnya dia ? Dimana rumahnya ? Apa bapaknya memang sudah meninggal ? Bagaimana mungkin selama bertahun-tahun kita selalu bertemu, tak ada satu hal pun yang aku tahu tentang dia ?
          Kadang aku menyalahkan bisikan-bisikan tadi, kadang aku membenci mlam ketika aku sangat kelelahan hingga tak bisa tidur, kadang - yang paling jahat - aku juga menyesali keberadaan diriku. Tapi tetap semua tak bisa dihindari. Penyesalanku yang masih tersisa adalah tentang perempuan yang tak pernah lagi berpapasan denganku. Kenapa tidak dari dulu aku menyapanya ?
         Kalau saja aku bisa kembali ke masa lalu. Atau malah itu memang sudah terjadi. Aku kembali ke masa lalu mengingatkan diriku untuk segera menyapa perempuan itu sebelum ia menghilang. Sepertinya hal itu memang sudah terjadi. Bisikan-bisikan itu,...ternyata mereka berasal dari diriku di masa depan. Tapi aku terlalu beku, terlambat untuk sadar bahwa ada hal-hal yang perlu dicermati sebelum ia hilang. Oh,...tak bisa kumaafkan diriku untuk hal ini. Kini, meski waktu telah berbalik, masih tetap ada penyesalan; diriku kembali ke masa kini dengan kekecewaan: ia telah gagal.
         Hingga kini hidupku hanya diisi harapan-harapan. Perempuan itu telah menjelma kebutuhan. Bola mataku selalu liar mencoba menangkap sosoknya. Dan sore hari kuhabiskan waktu menatap ujung jalan yang tenggelam di balik bukit. Berharap dari sana akan muncul sosoknya dengan latar langit senja yang merah, berjalan mendekat ke arahku.
         Tapi demi masa, perempuan itu tak pernah muncul lagi.

*****

           Buat kalian semua temanku, demi cinta dan demi waktu; Dengarlah bisikan-bisikan yang datang padamu, teliti mereka baik-baik, jangan-jangan slah satunya adalah suara dirimu dari masa depan, jangan kecewakan dia.


27 Februari 2003
Faizal's Literature Properties' (FLiP) Collection
Hosted by www.Geocities.ws

1